Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suapan Pertama di Meja Panjang
Jam dinding baru saja berdentang delapan kali saat Ayranza, Angga, dan Arshen berjalan menuju ruang makan utama. Lorong luas itu diterangi lampu gantung raksasa yang memantulkan kilau di lantai marmer. Udara beraroma rempah masakan mahal, namun tak sedikit pun terasa hangat.
Di ujung meja makan sepanjang dua belas meter itu sudah duduk Mommy Xena dan Daddy Xavier. Pakaian mereka rapi dan berkelas, wajah penuh wibawa yang membuat siapa saja segan mendekat. Axel sudah ada di kursi utama sisi kanan, wajah dingin tanpa ekspresi. Leonardo berdiri diam di sudut ruangan, siap menuruti perintah kapan saja.
“Silakan duduk,” ucap Mommy Xena, suaranya halus namun menusuk. Matanya menyapu penampilan Ayranza dari atas sampai bawah. “Ingatlah tata cara makan yang pantas. Di sini kami tidak terbiasa dengan sikap sembarangan.”
Ayranza duduk persis di sebelah Axel, diikuti Angga dan Arshen di seberangnya. Napasnya tertahan saat pelayan mulai menyajikan hidangan satu per satu semuanya asing dan tampak rumit. Arshen sempat meliriknya bingung, tapi cepat ditegur tatapan tegas Angga.
“Axel bilang kau sudah setuju segala syaratnya,” ucap Daddy Xavier tiba‑tiba sambil memotong daging di piringnya dengan tenang. “Keluarga kami tidak suka kesalahan kecil yang bisa merusak nama baik. Kau mengerti, kan?”
“Ya, Tuan,” jawab Ayranza pelan sambil menunduk sedikit.
Axel bergerak sedikit ke arahnya, cukup dekat untuk berbisik rendah hanya terdengar olehnya. “Jawab dengan pandangan tegap. Istriku tidak boleh tampak takut di depan orang lain.”
Ayranza mendongak, menahan gemetar di dada. Ia kembali menjawab dengan suara lebih jelas: “Saya mengerti sepenuhnya.”
Mommy Xena tersenyum tipis tanpa hangat. “Bagus. Sekarang ceritakan sedikit soal dirimu dan kedua adikmu. Kami ingin tahu siapa yang tinggal di bawah atap kami.”
Pertanyaan itu terasa seperti ujian berat. Di bawah tatapan tajam seluruh orang di meja itu, Ayranza mulai bercerita dengan hati‑hati, takut salah kata sedikit saja. Sesekali Axel menambahkan penjelasan singkat yang mengubah nada pembicaraan, seolah menjaga batas agar tak ada rahasia yang terbuka terlalu jauh.
Di tengah percakapan itu, Arshen tak sengaja menjatuhkan sendoknya ke lantai. Suara nyaring menggema di ruangan hening seketika. Wajah Mommy Xena langsung berubah dingin, dan Daddy Xavier mengerutkan dahi.
Axel menatap tajam ke arah Arshen, membuat anak itu menunduk ketakutan. Namun sebelum sempat Axel bicara, Ayranza segera menunduk memungut sendok itu dan berkata tenang, “Maafkan adik saya, dia belum terbiasa.”
Keheningan berlangsung lama. Lalu Axel bersuara pelan, nada datar namun tak sekeras yang diduga,“Lain kali lebih berhati‑hati.”
Makan malam itu berlanjut dalam suasana berat dan penuh kewaspadaan. Ayranza sadar, setiap gerak‑gerik mereka diamati. Di sini, satu kesalahan kecil bisa berakibat besar dan Axel lah yang memegang kendali penuh atas nasib mereka.
Saat makan usai dan mereka kembali ke lorong menuju sayap timur, Angga berbisik pelan, “Ini baru permulaan, Kak. Rasanya makin berat saja.”
Ayranza menggenggam tangan adiknya erat. Ia tahu benar: malam itu baru sekilas gambaran betapa sulitnya hidup bersama keluarga Alexander. Dan di balik semua kemewahan itu, masih banyak ujian yang menanti mereka.
Setelah langkah kaki Axel hilang di ujung lorong, keheningan kembali menyesakkan ruangan. Angga langsung menutup pintu rapat‑rapat dan menguncinya pelan. Arshen duduk bersandar di tepi kasur besar, wajahnya berubah murung setelah sempat bersorak senang tadi.
“Kak, apa kita benar‑benar harus tinggal lama di sini?” tanyanya pelan, suaranya tertahan. “Saya takut salah bicara sedikit saja.”
Angga ikut duduk di sebelah adiknya, matanya menatap Ayranza tajam namun penuh kekhawatiran. “Dia bilang ini ada bayarannya, Kak. Apa yang sebenarnya dia inginkan darimu selain sekadar menjadi istri di depan orang tuanya?”
Ayranza berusaha tersenyum meyakinkan, meski dadanya sesak menahan tanya yang sama. Ia merogoh saku gaun, mengeluarkan surat kecil dari Mommy Anggun, lalu membacakannya lagi dalam hati, "Tetaplah kuat, kebahagiaan kalian lebih dari segalanya bagiku."
“Entahlah,” jawabnya pelan. “Yang pasti, utang lunas dan sekolah kalian terjamin. Sisanya biar aku yang pikirkan.”
Malam makin larut. Angga dan Arshen akhirnya tertidur lelap di kamar sebelah, namun Ayranza tak bisa memejamkan mata. Ia berjalan perlahan ke arah balkon kecil yang menghadap ke taman belakang. Udara malam Milan yang dingin menyapa wajahnya, membawa bau tanah basah dan bunga mawar yang layu.
Di kejauhan, di sisi lain kediaman itu, tirai jendela ruang kerja Axel sedikit terbuka. Sosok tinggi tegapnya tampak samar di balik cahaya lampu meja berdiri diam seolah juga tak bisa lepas dari bayang‑bayang perjanjian baru yang baru saja dimulai.
Di detik itu, keduanya sama‑sama sadar. Di balik kemewahan dan kekuasaan besar ini, ada ikatan yang perlahan menjerat makin erat. Dan tak ada satu pun yang bisa mundur sekarang.
Ayranza menyuruh Arshen beristirahat sebentar sementara ia dan Angga berkeliling sayap timur untuk mengenali jalan. Lorongnya panjang, berbelok‑belok, dan tiap persimpangan ada pintu tertutup yang tak ada keterangan tulisan.
“Lihat itu,” kata Angga berbisik sambil menunjuk satu pintu di ujung lorong. Pintu kayu berukir naga emas, kuncinya terpasang rapat. “Pasti ada rahasia di balik sana.”
Ayranza hanya menggeleng pelan. “Jangan disentuh apa pun. Leonardo sudah bilang, kita tak boleh sembarangan membuka pintu.”
Mereka kembali ke kamar saat langit makin gelap. Arshen sudah tertidur pulas sambil memeluk tas kecilnya yang berisi kenangan rumah mereka dulu. Ayranza duduk di meja rias kayu jati, membuka tas miliknya dan mengeluarkan barang‑barang sederhana: baju ganti, buku catatan harian, dompet tipis, serta amplop surat dari Mommy Anggun. Ia membacanya lagi perlahan:
Nak, jangan khawatirkan kami. Di sini kami berusaha sekuat tenaga. Yang penting kau dan adik‑adikmu selamat, bisa sekolah, dan makan cukup. Ingatlah pesan Ibu: jangan mudah menangis di depan orang yang ingin melihatmu lemah. Tuhan akan memberi jalan.
Air mata menetes perlahan di atas tulisan itu, namun Ayranza cepat menghapusnya kasar. Ia berjanji dalam hati takkan pernah menyerah sebelum waktu kontrak habis.
Tak lama kemudian terdengar ketukan halus di pintu. Angga yang membukakan, ditemukan seorang pelayan tua ramah bernama Nonna Giulia membawa nampan berisi teh hangat dan roti kecil.
“Tuan Axel titipkan ini,” ucapnya pelan sambil meletakkan di meja. “Beliau pesan, Besok pagi‑pagi sekali Nona dan adik‑adiknya bersiap. Tuan akan sendiri yang mengantar ke sekolah dan mengurus administrasi.”
“Terima kasih,” jawab Ayranza sopan. “Bolehkah kami tahu jam berapa harus siap?”
“Pukul enam pagi tepat. Tuan Axel tidak suka menunggu.” Nonna Giulia tersenyum tipis lalu berbisik pelan sebelum pergi, “Bersabarlah, Nona. Beliau memang dingin luarnya, tapi tidak seburuk yang orang katakan.”
Pintu tertutup kembali. Ayranza dan Angga saling pandang. Ada sedikit ketenangan mendengar kata itu, meski tak sepenuhnya hilang rasa was‑was.
Malam makin larut, angin malam Milan bertiup kencang mengguncang daun pohon besar di luar. Ayranza masih belum bisa tidur. Ia berjalan ke balkon sempit, melipat lengan karena dingin. Di kejauhan, lampu ruang kerja Axel masih menyala terang. Ia bisa melihat bayangan tinggi itu berjalan mondar‑mandir di balik kaca, seolah ada beban berat yang dipikulnya.
Di sisi lain kediaman, ruang kerja Axel terasa lebih pengap dari biasanya. Di mejanya menumpuk berkas perusahaan, laporan utang keluarga Geovan, dan surat dari Daddy Xavier yang isinya menegaskan: Pastikan pernikahan ini tak mengganggu nama baik keluarga. Segala risiko harus kau tanggung sendiri.
Axel melempar pulpennya ke meja, mendengus kesal. Ia sendiri tak mengerti kenapa setuju pada gagasan kontrak itu. Awalnya hanya ingin menyelesaikan masalah utang ayah Ayranza yang merugikan perusahaannya. Namun saat melihat wajah gadis itu, matanya yang tak berhenti memancarkan tekad meski takut, ada rasa aneh yang muncul sesuatu yang lama ia kubur dalam‑dalam.
Ia berjalan ke arah jendela, menatap balkon di sayap timur. Di sana sosok Ayranza berdiri diam, tampak rapuh namun kokoh. Axel menggeram pelan dalam hati, menepis rasa penasaran itu. Dia hanya alat perjanjian saja, batinnya keras. Jangan sampai perasaan bodoh merusak segalanya.
Di balkon itu pula Ayranza perlahan menyadari satu hal: di balik wajah dingin dan sifat kejam Axel Alexander, mungkin ada sisi lain yang tersembunyi rapat. Meski begitu, ia tahu itu bukan alasan untuk lengah. Besok hari pertama menjalani hidup baru di sini, dan pasti takkan mudah.
Ia masuk kembali ke kamar, menutup pintu balkon, lalu berbaring di tepi kasur lebar itu. Di sebelah kamar, terdengar napas tenang Angga dan Arshen. Itu kekuatannya. Demi mereka, ia sanggup menghadapi apa pun, bahkan Axel Alexander sekalipun.