NovelToon NovelToon
Janda Muda Pilihan CEO

Janda Muda Pilihan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: REKAHAN LANDEPAN DAN SISA KETAKUTAN

Waktu berjalan merayap di atas lantai marmer kediaman Mahardika. Tiga bulan telah berlalu sejak malam terkutuk yang mengubah total garis takdir seorang Nazya Humaira. Pagi itu, suasana di taman belakang rumah terasa begitu menyegarkan. Sinar matahari pagi yang hangat menyiram deretan bunga krisan dan anggrek yang mekar dengan indah, menciptakan pemandangan yang menenangkan bagi siapa pun yang melihatnya.

Di tepi kolam renang yang airnya jernih kebiruan, Nazya berdiri dengan bertumpu pada sepasang tongkat penyangga ketiak (crutches). Gips tebal yang selama tiga bulan ini membelenggu kaki kanannya akhirnya resmi dilepas oleh tim dokter dua hari yang lalu. Kulit kaki kanannya tampak sedikit lebih pucat dan kurus akibat jarang digerakkan, namun struktur tulangnya dinyatakan telah menyambung dengan sempurna.

"Pelan-pelan, Nazya. Jangan dipaksa jika masih terasa kaku," suara bariton Dafa mengalun rendah dari arah belakang.

Pria itu berdiri hanya berjarak satu jengkal di samping Nazya. Pagi ini, Dafa sengaja mengosongkan jadwal rapat subuhnya demi menemani sang istri melakukan latihan berjalan pertama tanpa kursi roda. Ia mengenakan kaus polo kasual berwarna putih yang santai, namun sepasang mata elangnya tetap memancarkan kewaspadaan penuh, siap menangkap tubuh Nazya jika wanita itu mendadak kehilangan keseimbangan.

Nazya menarik napas dalam-dalam, mencengkeram pegangan tongkatnya hingga jemarinya memutih. Ia mengangkat kaki kanannya perlahan, lalu menapakkan telapak kakinya ke atas lantai kayu dermaga kolam renang. Begitu bobot tubuhnya bertumpu pada kaki kanan, rasa kaku dan sensasi seperti ditusuk jarum langsung menjalar ke otot-ototnya.

"Akh..." Nazya meringis lirih, tubuhnya sempat limbung ke arah kanan.

Sebelum tubuh ramping itu sempat terjatuh, sebuah lengan yang sangat kokoh dan hangat sudah lebih dulu melingkar di pinggang Nazya, menahan bobot tubuhnya dengan sempurna. Dafa menarik tubuh Nazya ke dalam dekapan dadanya yang bidang. Aroma maskulin cendana yang familier langsung merayap masuk ke indra penciuman Nazya, membuat jantung janda muda itu berdegup dua kali lebih cepat.

"Sudah kubilang jangan terburu-buru," bisik Dafa tepat di dekat telinga Nazya, suaranya sarat akan nada protektif yang tidak bisa dibantah. "Ototmu butuh waktu untuk mengingat kembali cara berjalan. Kita coba satu langkah lagi, sangat perlahan."

Nazya mengangguk kaku, buru-buru membetulkan posisi berdirinya agar tubuh mereka tidak terlalu menempel dekat. Rasa takutnya pada Dafa memang sudah jauh berkurang dibandingkan tiga month lalu, berkat kesabaran pria itu yang tidak pernah sekalipun membentak atau berbuat kasar di rumah. Namun, setiap kali ada kontak fisik yang tiba-tiba seperti ini, insting traumanya tetap saja memberikan sinyal waspada yang tidak bisa ia hilangkan begitu saja.

Dengan bimbingan sabar dari Dafa, Nazya berhasil mengambil lima langkah maju menuju kursi taman. Begitu mendudukkan dirinya di atas kursi kayu, napas Nazya tampak sedikit memburu, namun ada binar kebahagiaan kecil yang akhirnya terbit di sepasang mata jernihnya. Ia mulai bisa berjalan lagi, dan itu artinya, kebebasannya sudah berada di depan mata.

Siang harinya, setelah Dafa berangkat ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda, Nazya duduk di dalam kamarnya bersama Pak Handoko. Pria tua itu sedang sibuk memotong beberapa kain perca di lantai, mencoba membantu kesibukan putrinya yang sejak satu bulan lalu mulai menerima pesanan jahitan masker kain dan sapu tangan dari beberapa tetangga di sekitar kompleks lama mereka melalui ponsel.

"Nazya," panggil Pak Handoko pelan, meletakkan gunting kainnya. "Ayah lihat, persediaan benang dan jarum khususmu sudah mulai menipis. Kain perca yang bagus juga harus segera dibeli lagi ke pasar kalau kamu mau menyelesaikan pesanan minggu depan."

Nazya menghentikan gerakan jemarinya yang sedang menyulam. Ia melirik ke arah tas kecilnya yang diletakkan di atas meja rias. Di dalam tas itu, hanya tersisa beberapa lembar uang sepuluh ribuan. Uang hasil jerih payahnya dari menjahit kecil-kecilan selama di kursi roda kemarin hanya cukup untuk membeli kebutuhan pokok ayahnya yang tidak ingin ditanggung oleh Dafa karena rasa sungkan.

"Iya, Ayah. Nazya tahu... tapi uang Nazya belum cukup untuk membeli bahan-bahan baru ke pasar," jawab Nazya dengan suara yang mendadak melemah.

"Kenapa tidak minta pada suamimu, Nak? Dafa itu pria yang sangat kaya. Uang belanja yang dia berikan pada pelayan saja jumlahnya puluhan juta. Masa untuk kebutuhan istrinya sendiri, dia tidak memberikanmu uang pegangan?" tanya Pak Handoko dengan dahi berkerut heran. Selama tiga bulan ini, ia tahu Dafa membiayai semua pengobatan Nazya, namun ia tidak pernah melihat Nazya meminta uang saku sepeser pun pada suaminya.

Mendengar kata 'minta uang pada suami', wajah Nazya seketika berubah menjadi pucat pias. Sebuah ketakutan finansial yang amat pekat mendadak meremas dadanya tanpa ampun.

Memori kelam dari pernikahan pertamanya kembali berputar di dalam kepala dengan sangat kejam. Dahulu, setiap kali Nazya memberanikan diri untuk mendekati mantan suaminya demi meminta uang sekadar untuk membeli beras atau keperluan dapur yang habis, tanggapan yang ia terima selalu berupa malapetaka. Mantan suaminya akan melempar dompet kosong ke wajahnya, membentaknya di depan cermin, dan mencaci makinya sebagai wanita parasit yang tidak berguna dan hanya tahu cara menghabiskan uang lelaki.

“Kamu itu cuma janda miskin yang beruntung aku nikahi! Sadar diri! Jangan tuman minta-minta uang terus seperti pengemis!” Makian kasar itu seolah kembali berdengung keras di telinga Nazya, membuat sekujur tubuhnya gemetar halus.

Nazya menelan ludahnya dengan susah payah, menatap ayahnya dengan pandangan memelas. "Tidak, Ayah... Nazya tidak berani. Nazya tidak mau meminta uang pada Mas Dafa."

"Tapi Nazya, kamu itu istri sahnya sekarang—"

"Nazya mohon, Ayah! Jangan paksa Nazya," potong Nazya dengan suara yang tercekat menahan tangis. "Mas Dafa sudah terlalu baik membiayai operasi dan mengizinkan kita tinggal di rumah mewah ini. Nazya tidak mau dianggap sebagai wanita boros atau pengemis yang memanfaatkan kebaikannya. Nazya lebih baik tidak menjahit lagi daripada harus mengemis uang padanya."

Pak Handoko menghela napas panjang, menatap putrinya dengan rasa iba yang mendalam. Ia tahu, dinding trauma di kepala Nazya masih teramat tebal dan kokoh. Luka batin yang ditorehkan oleh pria di masa lalu itu telah merusak rasa percaya diri putrinya hingga ke titik terendah.

Malam harinya, jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Dafa memasuki kamar tidur Nazya untuk mengecek kondisi kaki istrinya sebelum ia beristirahat ke lantai dua. Suasana kamar sudah remang-remang, hanya diterangi oleh lampu tidur di sudut ruangan. Nazya tampak sudah berbaring di bawah selimut, namun matanya masih terbuka menatap langit-langit kamar.

Dafa berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. "Bagaimana kakimu? Apa rasanya sangat nyeri setelah latihan tadi pagi?" tanya Dafa dengan nada suara yang melembut.

Nazya menoleh perlahan, mencoba menyunggingkan senyum tipis untuk menutupi kecemasan hatinya. "Sudah agak mendingan, Mas Dafa. Hanya sedikit kaku saja."

Dafa mengangguk pelan. Namun, perhatian mata elangnya mendadak teralih pada sebuah buku catatan kecil dan beberapa gulungan benang yang terletak di atas meja nakas tepat di samping tempat tidur. Dafa yang memiliki ketelitian tingkat tinggi bisa melihat ada beberapa coretan angka pengeluaran dan tulisan 'kurang bahan' yang tertera di halaman buku yang terbuka.

Dafa terdiam sesaat. Pria cerdas itu langsung teringat laporan investigasi Mikael beberapa bulan lalu tentang bagaimana mantan suami Nazya menyiksa finansial wanita ini hingga kelaparan. Dafa sadar, selama tiga bulan pernikahan mereka, Nazya tidak pernah sekalipun meminta fasilitas, pakaian, atau uang saku padanya. Semua yang melekat di tubuh Nazya saat ini adalah pemberian dari ibunya, Kinanti.

Dafa merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah dompet kulit hitam miliknya. Dari dalam sana, ia mengeluarkan sebuah kartu kredit tambahan berwarna hitam mengilat (Black Card) yang memiliki batas tanpa limit. Ia meletakkan kartu mewah itu di atas meja nakas, tepat di atas buku catatan kecil Nazya.

Nazya tersentak, menatap kartu hitam itu dengan dahi berkerut bingung. "Mas Dafa... ini apa?"

Dafa menatap lurus ke dalam sepasang mata jernih Nazya dengan sorot mata yang penuh penekanan dominan namun sarat akan perlindungan. "Mulai besok, gunakan kartu itu untuk membeli apa pun yang kamu inginkan. Kain, benang, pakaian baru, atau apa pun keperluanmu dan ayahmu. Kartu itu terhubung langsung ke rekening pribadiku."

Nazya menggelengkan kepalanya dengan cepat, tubuhnya refleks bergeser mundur di atas kasur. "Tidak, Mas... Nazya tidak bisa menerimanya. Nazya tidak butuh apa-apa—"

"Terima, Nazya. Ini bukan tawaran, tapi perintah dari suamimu," potong Dafa dengan nada bariton yang tegas, tidak menerima penolakan. "Di rumah ini, kamu tidak perlu mengemis atau merasa takut untuk membelanjakan uang. Aku adalah suamimu, dan tugas utamaku adalah memenuhi semua kebutuhanmu tanpa kamu perlu memintanya terlebih dahulu. Mengerti?"

Nazya terpaku di tempatnya berdiri, menatap kartu hitam di atas meja dengan dada yang bergemuruh hebat. Kalimat Dafa yang begitu tegas namun penuh pembelaan itu seolah menghantam telak ketakutan lama di dalam kepalanya, menyisakan kebingungan yang mendalam di sudut hatinya yang mulai goyah. Pria ini... benar-benar berbeda.

1
miilieaa
halo kak, baru awal baca udah seru nihh
miilieaa: baik kakak, saya lanjut baca dulu lagi yaa kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!