SINOPSIS
Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(•‿•), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Kultivasi Nirwana dan Janji di Bawah Rembulan
Keheningan kembali menyelimuti distrik elit Kota Cahaya Bulan setelah mundurnya pasukan Garda Air Biru yang kocar-kacir. Namun, bagi mereka yang memiliki indra tajam, keheningan ini terasa mencekam—seperti tarikan napas panjang seorang predator sebelum melompat menerjang mangsanya. Bau hangus dari energi spiritual yang meledak di depan gerbang Paviliun Obat Seribu Tahun masih tertinggal di udara malam, bercampur dengan aroma harum kayu gaharu yang terus mengalir dari ventilasi bangunan megah tersebut.
Lin Xiao melangkah masuk kembali ke dalam aula Paviliun dengan langkah yang tetap tenang dan terukur. Namun, di balik ketenangannya, ia bisa merasakan aliran Energi Nirwana Hitam di dalam tubuhnya sedang mendidih hebat. Bertarung melawan kultivator Tahap Pembentukan Inti seperti Yan Zhen, meski hanya dalam satu pertukaran singkat yang tampak mudah, sebenarnya telah memberikan beban yang cukup besar pada nadinya yang baru saja dibersihkan.
"Kakak!"
Sebuah bayangan kecil berlari kencang dari arah tangga lantai dua dan langsung menghambur memeluk pinggang Lin Xiao. Yun'er menenggelamkan wajahnya di kain jubah abu-abu Lin Xiao yang kasar, tubuh kecilnya sedikit gemetar karena sisa-sisa ketakutan yang belum hilang. Air mata kecil membasahi kain jubah itu, menciptakan noda gelap yang hangat.
"Aku... aku sangat takut tadi. Saat aku melihat panah-panah itu terbang dari lantai atas, aku pikir mereka akan membawamu pergi dan menyakitimu lagi," isak Yun'er dengan suara yang teredam.
Lin Xiao tertegun sejenak, tangannya menggantung di udara sebelum akhirnya mendarat di kepala Yun'er. Di kehidupan sebelumnya sebagai Feng Ruxue, pelukannya biasanya hanya diisi oleh dinginnya gagang pedang atau pelukan palsu penuh pengkhianatan dari Long Tian. Merasakan pelukan tulus yang gemetar dari seorang anak kecil yang tidak memiliki kepentingan apa pun selain keselamatannya, membuat sesuatu yang membeku di dalam hati Lin Xiao perlahan mencair.
"Bukankah aku sudah berjanji padamu?" suara Lin Xiao melunak, kehilangan nada tajamnya sejenak.
"Tidak ada yang bisa menyentuhku di kota ini, apalagi membawaku pergi. Sekarang, hapus air matamu. Seorang pengikutku tidak boleh memperlihatkan kelemahan di depan musuh, bahkan setelah musuh itu pergi. Kekuatan sejati dimulai dari caramu menguasai emosimu sendiri."
Yun'er mendongak, menghapus air matanya dengan punggung tangan yang masih kotor oleh debu, lalu mengangguk dengan penuh tekad. "Aku akan menjadi kuat, Kak! Aku akan belajar agar suatu hari nanti, akulah yang berdiri di depanmu untuk melindungimu!"
Kepala Paviliun Gu mendekat dengan langkah pelan, wajahnya yang penuh keriput tampak sangat serius di bawah cahaya lampion kristal.
"Lin Xiao, kau telah menunjukkan kekuatan yang luar biasa malam ini. Tapi kau harus sadar, Yan Zhen hanyalah pion kecil. Kakaknya, Yan Feng, adalah Kepala Klan Yan yang sebenarnya. Pria itu dikenal sebagai penguasa yang bertangan besi dan memiliki Bunga Teratai Darah yang dia gunakan untuk memurnikan energinya hingga mencapai puncak Pembentukan Inti. Dia tidak akan membiarkan martabat klannya diinjak-injak oleh seorang gadis asing."
Lin Xiao melepaskan pelukan Yun'er dan menatap Gu dengan mata ungu yang berkilat tajam. "Aku tahu. Itulah sebabnya aku tidak bisa membuang waktu lebih lama lagi. Kepala Paviliun, aku membutuhkan ruangan meditasi yang paling terisolasi di tempat ini. Aku merasakan bahwa segel Mawar Hitam di tubuhku mulai bereaksi setelah benturan energi tadi. Aku harus menembus tahap berikutnya malam ini juga, atau aku tidak akan punya peluang saat Yan Feng datang sendiri."
Gu mengangguk mengerti tanpa banyak tanya. Ia membawa Lin Xiao menuju lantai bawah tanah paviliun, melewati lorong rahasia yang terbuat dari batu giok pendingin. Ruangan itu dikelilingi oleh formasi pelindung kuno yang mampu meredam fluktuasi energi paling kuat sekalipun agar tidak terdeteksi oleh mata-mata di luar. Di tengah ruangan, terdapat sebuah kolam kecil berisi air mineral spiritual yang memancarkan uap dingin.
"Gunakan ini sebagai bantuan," Gu menyerahkan sebuah botol porselen kecil berisi cairan hijau zamrud. "Ini adalah Cairan Pemurni Jiwa tingkat menengah. Ini akan membantumu menstabilkan Energi Nirwana Hitam agar tidak melukai organ dalammu saat kau mencoba mendobrak gerbang kultivasi yang lebih tinggi. Proses ini akan sangat menyakitkan, Lin Xiao. Pastikan pikiranmu tetap jernih."
Setelah Gu membawa Yun'er keluar, Lin Xiao melepaskan jubah luarnya dan duduk bersila di tengah kolam spiritual. Ia menelan Cairan Pemurni Jiwa tersebut dan seketika merasakan sensasi dingin yang sangat tajam, seolah-olah ia baru saja menelan sebongkah es abadi. Ia mulai memutar teknik "Nirwana Tak Berujung", menarik energi dari alam sekitar melalui pori-porinya dan mencampurnya dengan Energi Nirwana Hitam yang bersemayam di Inti Jiwanya.
Di dalam ruang kesadarannya yang gelap, Lin Xiao kembali melihat bayangan-bayangan masa lalu. Ia melihat Feng Meili yang tertawa saat mencabut tulang sumsumnya, dan ia melihat Long Tian yang menatapnya dengan jijik di atas singgasana emas. Kebencian yang membara itu muncul kembali, memicu Energi Nirwana Hitam untuk meledak dan mengalir liar di nadinya.
‘Darah harus dibayar dengan darah. Tahta harus dibayar dengan kehancuran total,’ batinnya bergema, menciptakan resonansi yang menggetarkan dinding gua.
Energi hitam mulai keluar dari tubuhnya, membentuk pusaran air yang berputar kencang di sekelilingnya. Tato mawar hitam di pipinya mulai bersinar dengan cahaya ungu yang pekat, dan secara ajaib, kelopak mawar pada tato itu tampak bertambah satu—tanda bahwa segel kekuatan klan ibunya telah terbuka ke tingkat yang lebih dalam.
Rasa sakit yang luar biasa mulai menghantam. Rasanya seperti ribuan pisau kecil sedang mengiris daging dan mematahkan tulangnya secara bersamaan dari dalam. Lin Xiao mencengkeram lututnya sendiri hingga kukunya menembus kulit, ia menggigit bibirnya hingga darah segar mengalir, bersumpah tidak akan mengeluarkan satu pun teriakan lemah. Ia tahu bahwa rasa sakit ini adalah harga yang harus dibayar untuk kekuatan yang ia butuhkan.
Jam demi jam berlalu dalam siksaan yang sunyi. Di luar paviliun, fajar mulai menyingsing di cakrawala Kota Cahaya Bulan, memberikan warna jingga pada langit yang kelabu. Di dalam ruang bawah tanah, sebuah ledakan energi yang terkendali akhirnya terjadi.
BUM!
Air di kolam spiritual itu seketika menguap menjadi kabut putih yang tebal. Lin Xiao membuka matanya, dan seberkas cahaya ungu memancar keluar dari pupil matanya, membelah kabut tersebut menjadi dua bagian. Tubuhnya kini terasa jauh lebih ringan, seolah-olah semua kotoran duniawi telah dibasuh habis. Auranya kini jauh lebih padat dan berbahaya. Ia telah berhasil mencapai Tahap Pembersihan Sumsum Puncak, hanya selangkah kecil lagi menuju Tahap Pembentukan Inti yang sesungguhnya.
Ia berdiri, mengenakan kembali jubahnya. Penampilannya kini berubah; wajahnya tampak lebih bercahaya, dan tato mawar hitam itu kini terlihat sebagai simbol agung yang memberikan kesan otoritas tinggi.
Saat ia keluar dari ruang meditasi, ia menemukan Yun'er yang tertidur di lantai depan pintu sambil memeluk botol air mineral, seolah-olah ia sedang menjaga pintu tersebut sepanjang malam tanpa berkedip. Lin Xiao menatapnya lama, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum yang murni tanpa kebencian. Ia menggendong gadis kecil itu dengan sangat lembut dan memindahkannya ke tempat tidur yang layak di ruang atas.
"Istirahatlah, Yun'er," bisik Lin Xiao sambil membetulkan selimutnya. "Mulai hari ini, dunia tidak akan lagi meremehkan kita. Aku akan mengambil Teratai Darah itu, dan aku akan membangun tempat di mana kau tidak perlu lagi merasa takut."
Lin Xiao melangkah menuju balkon atas Paviliun, menatap ke arah kediaman megah Klan Yan yang berdiri sombong di kejauhan. Matahari pagi mulai naik, menyinari sebilah pedang pendek hitam yang kini tersampir di pinggangnya—senjata yang baru saja ia ambil dari penyimpanan Paviliun.
"Yan Feng, aku harap kau sudah menyiapkan kata-kata terakhirmu," gumam Lin Xiao pada angin pagi. "Karena mawar ini tidak hanya mekar untuk keindahan, tapi untuk menghisap darah musuh-musuhnya."