Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Malam Minggu itu udara di rumah Pak Darma terasa lebih padat dari biasanya. Sejak sore Kirana, Rafka, dan Gita sudah tiba. Aroma bumbu tumis dan santan memenuhi dapur, bercampur dengan suara panci dan wajan yang beradu. Kirana berdiri sejak tadi, tangannya cekatan, kakinya mondar-mandir tanpa jeda. Ia tidak mengeluh mengerjakan itu semua.
“Ki, garamnya pakai agak banyak, biar mantap!” pinta Bu Maya dari ruang tengah, suaranya terdengar seperti perintah yang sudah terbiasa dilontarkan.
“Iya, Bu,” jawab Kirana cepat.
Padahal punggungnya sudah terasa panas, pergelangan tangannya pegal. Namun ia tetap tersenyum ketika Gita menghampiri, memeluk pahanya.
“Mama capek?” bisik Gita polos.
Kirana mengelus rambut anaknya. “Enggak. Mama kuat.”
Di ruang tengah, Kinanti baru datang. Pakaiannya rapi, wajahnya segar, rambutnya ditata. Ia duduk bersandar di sofa, Ara di sampingnya, sesekali melirik ke arah dapur. Tatapannya bukan ke Kirana, melainkan ke Rafka, yang sedang membantu Pak Darma mengangkat galon. Tatapan itu cepat. Tapi sarat makna.
Rafka merasakannya. Ia menunduk, berpura-pura sibuk. Di depan keluarga, ia suami dan menantu yang baik. Ia menjaga jarak, menjaga sikap. Namun, jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya.
“Tidak terasa besok usia Kinanti sudah tiga puluh lima tahun, ya, Yah?” ucap Bu Maya ketika mereka berkumpul di ruang keluarga menjelang malam.
“Iya,” sahut Pak Darma sambil menyalakan rokok. “Kinanti, ingat enggak anaknya Pak Supri?”
Kinanti mengangkat kepala. “Yang mana, Yah? Sandy atau Tomy?”
“Tomy. Yang jadi tentara itu.”
“Oh, iya. Kenal,” jawab Kinanti ringan.
“Dia lagi cari istri,” lanjut Pak Darma. “Pak Supri tanya sama Ayah, apa kamu mau dijodohkan sama Tomy.”
Kalimat itu seperti pisau tipis yang menggores udara. Rafka refleks menoleh ke Kinanti.
Kinanti juga menoleh ke arahnya. Mata mereka bertemu sesaat cukup lama untuk menyimpan ketegangan, cukup singkat untuk tak disadari orang lain.
Kirana yang baru selesai memasak tidak melihatnya, karena masih berada di dapur. Ia juga sibuk merapikan rambut Gita yang bergelombang dan sulit diatur, jadi harus diikat.
“Enggak, deh, Yah,” jawab Kinanti akhirnya. “Aku enggak mau punya suami dari kalangan tentara. Harus siap ditinggal, bahkan siap kehilangan di medan perang. Sekarang aku fokus mengurus Ara saja.”
Nada suara Kinanti terdengar dewasa, penuh pertimbangan. Padahal di dalam kepalanya, wajah Rafka muncul jelas. Lelaki yang ada, dekat, hangat, meski bukan miliknya secara sah.
Sebenarnya sudah sejak lama Kinanti ingin menikah lagi. Sebagai wanita muda yang penuh semangat dan hasrat, dia ingin dicintai dan disayangi. Namun, pria yang ingin dinikahinya itu adalah Rafka.
“Tuh, kan,” sahut Bu Maya cepat. “Ibu juga sudah bilang. Kinanti itu belum bisa move on dari Dipta. Mana ada laki-laki sesempurna Dipta.”
Kinanti tersenyum kecil. Senyum yang sopan. Senyum seorang anak yang tidak pernah membantah. Padahal hatinya selalu mengkerut setiap kali nama almarhum suaminya diagungkan.
Malam semakin larut. Setelah semua masuk kamar, rumah menjadi senyap. Namun, tidak bagi Rafka. Matanya terbuka. Tubuhnya lelah, tetapi pikirannya tidak. Sore tadi, ia sudah tertidur di hotel bersama Kinanti.
Mengingat kejadian di hotel tadi siang, tubuh Rafka meremang. Hatinya bergejolak kembali. Dia bangkit pelan, membuka pintu kamar. Lorong rumah remang. Lampu dapur redup.
Kinanti pun muncul dari kamar sebelah.Ia tidak memakai baju tidur biasa. Wanita itu memakai lingerie yang bahan kainnya terlalu tipis, sehingga Rafka bisa melihat apa yang ada dibalik kain itu. Rambut Kinanti tergerai, langkahnya pelan namun pasti.
“Tidak bisa tidur, Mas?” tanyanya lirih.
Rafka menelan ludah. “Iya.”
Kinanti mendekat dengan tatapan menggoda. Tangannya menyentuh lengan Rafka sekilas, seolah tak sengaja.
“Mas kelihatan gelisah,” kata Kinanti, suara mesra berlapis niat.
“Kita di rumah orang tua kamu,” jawab Rafka pelan, berusaha mundur.
“Itu yang bikin deg-degan,” balas Kinanti nyaris berbisik. Senyum nakal pun tercipta dari bibir ranum bergincu merah. “Beda rasanya.”
Rafka menggeleng. “Jangan.”
“Cuma sebentar,” Kinanti mendesak, wajahnya mendekat. “Aku kangen.”
Rafka ragu. Namun keraguan itu kalah ketika Kinanti mencium bibirnya. Pagutan bibir mereka liar, berani, dan penuh hasrat yang ditekan seharian.
Pintu kamar kembali terbuka. Bunyinya membuat kedua orang yang sedang diselimuti gelora nafsu, terkejut.
“Mama….”
Ara berdiri di ambang pintu, matanya setengah terpejam.
Keduanya langsung menjauh.
Kinanti tersentak. “Ara!”
Rafka mundur satu langkah, jantungnya nyaris pecah.
“Kenapa bangun?” tanya Kinanti cepat, berubah menjadi ibu penuh perhatian.
“Mama enggak ada,” gumam Ara.
“Maaf, Mama ke kamar mandi,” Kinanti menggendong anaknya, lalu menoleh sekilas ke Rafka.
Keesokan harinya rumah Pak Darma dipenuhi orang. Acara ulang tahun Kinanti digelar cukup meriah. Beberapa kerabat dekat datang. Keluarga Rafka juga diundang. Suasana rumah Pak Darma sangat ramai.
Seperti biasa, Kirana yang paling sibuk. Sejak jam tiga dini hari ia sudah bangun dan sibuk di dapur. Memotong, menumis, mengaduk. Tangannya bergerak otomatis. Matanya berat. Kakinya nyeri. Dia banyak masak makanan berat, sementara makanan ringan Bu Maya memesannya dari Bu RT.
“Ki, gulainya kurang asin,” kata Bu Maya tanpa menoleh.
Kirana mencicipi. “Baik, Bu.”
Padahal menurut Kirana rasa masakannya sudah pas. Namun, Bu Maya selalu saja minta untuk menambahkan sedikit lagi garamnya.
Rafka ikut membantu mencuci piring. “Kamu istirahat sebentar,” katanya lirih.
Kirana menggeleng. “Nanti saja.”
Kinanti? Ia duduk manis di ruang tamu, tertawa, menerima ucapan selamat, memamerkan tas barunya. Sesekali matanya melirik ke arah dapur. Takut ketahuan sama Rafka dan Kirana.
Tidak ada rasa bersalah di sana. Hanya kepuasan.
Sore hari, setelah semua tamu pulang, Kirana pamit lebih dulu.
Begitu juga dengan Bu Maya selaku tuan rumah. Tidak ada inisiatif untuk mencari seorang pekerja harian yang bisa membantu. Dengan alasan, buang-buang uang kalau mempekerjakan orang lain hanya untuk mencuci piring.
“Mas, jaga Gita, ya. Aku mau tidur,” kata Kirana lemah.
“Iya. Istirahatlah,” jawab Rafka, hatinya teriris melihat wajah istrinya pucat.
Rafka dan Gita pun bermain ular tangga. Keduanya tertawa ketika melihat pion lawan jatuh meluncur ketika di kotak ulat.
Malam itu Kirana tidur cepat. Tubuhnya terasa remuk.
Keesokan paginya, seperti biasa, ia menyapu dan mengepel. Rutinitas yang tidak pernah berhenti.
Saat mengeluarkan isi saku celana Rafka yang kemarin dipakai, jarinya menyentuh kertas kecil terlipat.
“Apa ini?”
Ia membuka perlahan. Itu selembar struk belanja.
Angka-angka tercetak rapi. Nama toko. Tanggal.
Jumlahnya membuat napas Kirana tercekat.
Tangannya bergetar. Itu bukan harga makan. Bukan belanja bulanan. Bukan sesuatu yang bisa dijelaskan dengan mudah. Dadanya terasa kosong.
Di saat itulah untuk pertama kalinya kepercayaan Kirana mulai retak. Bukan pecah. Akan tetapi, cukup untuk membuat darahnya terasa dingin.
bab sebelumnya kirana mendapatkan struk belanja dr saku celana..
bab lanjutan dia melihat struk teselip di bawah meja rias..
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏