Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali Ayah! 15
"Aruna, kamu di panggil Pak Bima ke ruangan kerjanya," Bi Asih memanggil Aruna yang baru saja keluar dari kamar dan susah siap dengan seragam sekolahnya. Aruna hanya menjawab dengan anggukan dan pergi menuju ruang kerja ayahnya melewati ruang makan. Dimana keluarga Tante Dewi sudah menunggu di sana. Mereka menunggu dengan setia Bima datang untuk makan bersama. Sedangkan Aruna tidak melihat keberadaan adiknya, Arkha.
"Anda memanggil saya Tuan?" tanya Aruna masuk ke dalam ruang kerja Bima dengan langkah tegap dan tatapan yang tegas.
"Apa kamu benar ingin ikut dalam misi besok malam?" tanya Bima dingin sambil memasukkan kedua tangan di saku celana bahan yang digunakan.
"Iya, berapa lama pengurangan waktu jika saya masih berhasil selamat dan tidak ma-ti dalam misi itu?" tanya Aruna membuat Bima merasa kesal.
"Satu bulan!" jawab Bima.
"Tiga bulan. Saya ingin waktu pengurangan tiga bulan. Setelah saya pelajari mereka bukanlah musuh yang ringan. Dan anda tahu betul akan hal itu!" jawab Aruna membuat Bima menaikkan sebelah alisnya.
"Dari mana kau tahu?" Tanya Bima.
"Saya salah satu calon Algojo tahap dua, Tuan. Sehingga saya sudah mulai belajar mengenai data statistik awal. Jika anda lupa!" jawab Aruna dingin.
"Baik, tiga bulan!" jawab Bima yang semakin melihat perubahan besar pada diri anak perempuannya.
"Ada lagi? Jika tidak saya harus segera pergi ke sekolah!" tanya Aruna.
"Apa benar kamu ingin tinggal di markas? Apa kamu tak takut di sana semuanya adalah pria?" tanya Bima kembali.
"Iya! Sama saja dimanapun saya tinggal. Tak ada tempat yang aman untuk saya, saya hanya ingin lebih fokus dan segera terbebas dari penjara yang anda buat untuk saya," jawab Aruna tenang.
"Aku tak mengizinkannya!" Ucap Bima tegas.
"Baik, saya mengerti. Permisi!" Aruna pergi dari sana tanpa mendebatnya lagi.
Semenjak kepergian ibunya, Aruna memang tidak terlalu banyak melakukan kepada dirinya. Bahkan rasanya Aruna semakin jauh dari jangkauan dia. Bukannya itu yang dia inginkan? Tapi kenapa ada sesuatu yang berdenyut di sudut hatinya.
"Kasihan banget deh ke sekolah harus jalan kaki. Gitu sih namanya anak ha-/ram. Nggak dapat fasilitas, kita dong sebentar lagi jadi anak tiri Om Bima tapi mendapatkan fasilitas banyak seperti ini!" ledek Kanya yang menyembulkan kepalanya di balik kaca mobil bersama dengan Rendra.
Aruna tak peduli dan bahkan tak melihat ke arah mereka. Membuat Rendra yang masih menaruh rasa kesal karena kejadian kemarin berusaha untuk menyerempet Aruna. Tapi sayangnya Aruna yang sudah terbiasa mulai mengasah refleksnya bisa menghindar dengan baik.
"Nggak usah kek bocah ingusan!" ucap Aruna menatap tajam ke arah Rendra dan berbelok menuju jalan tikus yang biasa dia lewati.
"Dia semakin ngelunjak saja. Aku kira anak itu sudah diusir oleh om Bima. tapi ternyata masih ada di rumah. Kenapa tidak di usir saja! Bukankah Mama sudah menghembus fitnah untuk ibunya dan dia! Kita semua tahu kalau Om Bima tak pernah suka kepada anak itu kerena dia perempuan!" kesal Kanya.
"Biarkan saja, tak lama lagi dia juga akan terusir dari Om Bima," jawab Rendra.
tiiiiiiiiinnnnnn
Aruna yang sedang berlari dibuat kaget oleh suara klakson motor di belakangnya. Bahkan Aruna sampai hampir terjatuh karena kaget. Aruna berbalik dan melihat siapa yang iseng kepadanya.
"Mau nebeng nggak?" tanya pria yang mengenakan celana abu-abu tapi tak melepaskan helm full face dari kepalanya.
"Tidak! Kita tak saling kenal!" jawab Aruna kembali berbalik dan berlari.
Tapi pria itu kembali mengikutinya dan kemudian menghalangi langkah Aruna membuat gadis itu kesal bukan main. Dia melihat jam di pergelangan tangannya. Kalau di ganggu terus dia akan telat tiba di sekolah.
"Kau akan telat ke sekolah walau berlari, naiklah!" pintanya lagi.
"Siapa kau?" tanya Aruna dengan tatapan tajamnya.
"Xavier. Kakak kelasmu! Ada lagi?" tanyanya membuka kaca pada helm full face yang hanya memperlihatkan kedua bola matanya saja.
"Baiklah, aku ikut. Ini bukan karena aku yang meminta, tapi karena kamu yang mengajakku!" jawab Aruna membuat Xavier tersenyum di balik helmnya.
Aruna naik ke atas motor besar milik Xavier. dia duduk di belakang dan menahan jarak antara mereka dengan kedua tangannya di punggung Xavier. Xavier terlihat iseng sekali karena mengemudikan motornya dengan sangat kencang dan membuat Aruna kaget dan tersentak. Tapi dia masih mampu menjaga keseimbangan sehingga tidak membuatnya menabrak punggung Xavier.
"Loh Xavier sama siapa itu? Bukannya itu anak kelas sepuluh kemaren yang mendorong anak baru di kelas kita ya?" tanya teman Xavier, Aldo.
"Asem tuh anak! Diam-diam dia lebih dulu mendekati Aruna! Awas saja kalau dia hanya ingin bermain-main dengan Aruna! Aku tak akan memberikannya maaf!" Kesal Rexa, yang masih satu sahabatan dan satu geng dengan Xavier.
"Dia mencuri start!" kekeh Gani.
"Dasar kurang asem! Kemarin saja dia diam-diam tidak berkomentar apapun. Ternyata diamnya itu adalah memperhatikan dan juga memutar otak untuk mendekati Aruna!" kesal Rexa.
"Diam-diam dia sudah curiga start," tawa Aldo.
Mereka menunggu Xavier datang, sedangkan Aruna masuk ke dalam kelasnya setelah turun dari motor Xavier. Bahkan dia tidak tahu pasti dan jelas wajah Xavier.
"Astaga! Lo ternyata emang dasar! Udah tau kalau tu cewek gebetan gue malah lo embat!" kesal Rexa.
"Siapa yang mau sama dia? Gue gak sengaja liat dia jalan kaki makanya gue bawa dia sekalian!" jawab Xavier.
"Alasan aja Lo! Mana mungkin Aruna jalan kaki. Dia kan anaknya Pak Bima Rahardian!" tanya Aldo heran.
"Ya mana gue tahu!" jawab Xavier santai dan duduk di bersama dengan mereka.
"Apa dia meluk Lo erat? Kan cewek-cewek pada mau tuh di bonceng sama Lo dan ngebayangin bisa meluk Lo dari belakang?" tanya Gani penasaran membuat Rexa mantap tajam ke arahnya.
"Nggak ada. Dia sok jual mahal! Padahal tadi gue udah coba isengin dia dengan cara ngebut," jawab Xavier.
"Felling gue berarti nggak salah milih dia jadi gebetan. Karena dia bukan cewek mura-han! Thanks, jangan dekati dia lagi. Lo kasih tahu gue tadi lewat mana, biar besok gue aja yang bawa dia!" jawab Rexa tersenyum lebar. Xavier menatap ke arah temannya itu.
"Lo yakin mau sama dia?" tanya Xavier ragu.
"Iya lah!" jawab Rexa.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/