Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Lily
Satu bagian lain pasukan Kingdom Conqueror bergerak cepat menuju jantung kekuasaan Imperial Agartha, istana kekaisaran yang selama ratusan tahun tak pernah tersentuh musuh. Langit di atas ibu kota menghitam oleh asap dan debu. Dari kejauhan terdengar dentuman berat dan berulang.
Trebuchet… mesin perang raksasa dari Benua Barat itu berdiri seperti menara kematian. Lengan kayunya berayun dengan kekuatan yang belum pernah dikenal Agartha. Batu-batu besar dan bola api berlapis minyak pekat melayang di udara, lalu menghantam gerbang imperial dengan suara menggelegar yang mengguncang tanah. Benteng yang dibangun dengan kebanggaan leluhur retak, lalu runtuh. Gerbang Imperial Agartha jebol dengan mudah.
Dari celah asap dan puing-puing, ia muncul. Seorang pria tinggi, tegap, dengan bahu lebar dan langkah mantap. Rambut hitamnya disisir ke belakang, wajah tampan dengan rahang tegas dan mata biru dingin. Jubah panjang berwarna gelap keemasan berlambang elang bekepala dua melambai di belakangnya.
Dialah King Cristopher. Penguasa Kingdom Conqueror, kerajaan makmur dari Benua Barat. Negeri dengan kota-kota batu putih dan pelabuhan yang dipenuhi kapal perang. Kekayaan mereka mengalir dari perdagangan lintas benua, tambang logam langka, dan teknologi militer yang melampaui kerajaan mana pun di semesta ini. Mesin perang, zirah berlapis baja sempurna, juga formasi pasukan yang terlatih seperti satu tubuh. Conqueror bukan sekadar kerajaan, melainkan mesin penakluk.
King Cristopher berhenti tepat di depan istana. Suaranya menggema dingin, penuh perintah, dalam bahasa yang asing namun sarat ancaman.
“Empty the throne of Agartha!”
“Kosongkan singgasana Agartha!”
Pasukannya menyebar, mengepung istana dari segala sisi. Tombak diarahkan, pedang terhunus, busur ditarik setengah. Istana Imperial Agartha kini terperangkap dalam kepungan besi.
“Bagaimana ini, suamiku!” teriak Permaisuri Erivana, suaranya pecah oleh kepanikan.
“Ibunda…” Putri Aster gemetar, wajahnya pucat. Prajurit Agartha yang menjadi pertahanan terakhir satu per satu berjatuhan, darah mengalir di lantai istana.
“Bersembunyilah di ruang bawah tanah!” teriak Kaisar Alexius, masih mengayunkan pedangnya, melawan musuh hingga napasnya tersengal. “Sekarang!”
Belum sempat perintah itu dilaksanakan, seorang prajurit Agartha berlari tertatih-tatih masuk ke aula istana.
“Yang Mulia!” teriaknya dengan suara parau. “Bendera putih telah terangkat di medan perang! Mundur! Semuanya mundur!”
Pedang-pedang yang tersisa jatuh ke lantai. Prajurit Agartha berlutut.
“Apa yang kalian lakukan?!” jerit Erivana histeris. “Bangun! Lawan mereka!”
“Hentikan, Erivana!” bentak Alexius, suaranya penuh kelelahan. “Atau kau akan mati di tangan mereka.”
Ia menoleh pada putrinya. “Putri Aster… berlutut sekarang!”
“Ayahanda…” suara Aster bergetar.
“Bendera putih sudah terangkat,” lanjut Alexius tegas. “Keputusan ini demi rakyat Imperial Agartha.”
“Tidak… tidak…” Erivana menggeleng tak percaya, meski kakinya ikut goyah dan akhirnya berlutut.
“Aku tidak mau jadi tawanan miskin,” bisik Putri Aster sambil menangis, lututnya menyentuh lantai dingin. “Ini mimpi buruk… katakan ini mimpi buruk…”
Langkah sepatu baja terdengar di aula istana. King Cristopher berjalan lurus, menaiki anak tangga singgasana tanpa canggung. Kursi yang selama berabad-abad hanya diduduki darah Agartha, kini dibawah tubuhnya.
Ia menatap seluruh aula dengan pandangan penguasa.
“Kingdom Conqueror telah menaklukkan Imperial Agartha.” Suaranya menggema seperti ancaman kematian. “Setiap tindakan memiliki konsekuensi. Ini adalah hukuman atas pelanggaran batas wilayah yang dilakukan oleh anggota kerajaan Agartha”
Pedang-pedang Conqueror diangkat serempak.
“Hidup King Cristopher!”
“Hidup Kingdom Conqueror!”
“Hidup Kingdom Conqueror!”
Sorak kemenangan menggema di aula istana. Sementara Agartha, untuk pertama kalinya dalam sejarah berlutut di hadapan penakluk.
“Berlutut!”
Tawanan dari medan peperangan akhirnya tiba di istana yang telah jatuh. Pangeran Lian dan Pangeran Leo dipaksa berlutut di aula kekaisaran yang kini dipenuhi jejak kehancuran. Kedua pangeran itu tak lagi menyembunyikan air mata. Air mata untuk kepergian sang ibunda yang bahkan belum sempat mereka ratapi dengan layak.
Langkah kaki berat terdengar dari pintu utama. Lexus masuk ke dalam istana sambil menggendong tubuh Anastasia. Tubuhnya tegap, namun matanya kosong seolah jiwanya telah pergi lebih dulu bersama wanita di pelukannya.
Gaun Anastasia berlumur darah, wajahnya pucat membeku dalam ketenangan yang kejam. Permaisuri terdahulu Imperial Agartha, wanita yang dikenal berani, bijaksana, dan dicintai rakyatnya kini tak lebih dari tubuh dingin tanpa napas.
Prajurit Agartha yang tersisa menundukkan kepala. Beberapa mengepalkan tangan menahan tangis, beberapa terisak tanpa suara. Tidak ada ratapan lantang, hanya kesunyian berkabung yang menyesakkan dada.
Lexus melangkah ke tengah aula, berlutut dihadapan King Cristopher. Lutut yang tak pernah memohon sepanjang hidupnya, kini menghantam lantai istana yang telah direnggut.
“Saya, Lexus, kaisar terdahulu Imperial Agartha…” suaranya serak. Ia menunduk dalam, memeluk tubuh istrinya lebih erat. “…memohon belas kasihan Anda.”
Suaranya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena kehancuran jiwa.
“Izinkan pemakaman istriku dilakukan dengan cara yang terhormat.”
Hening menyelimuti aula.
“Setelah itu… aku akan menyerahkan diri secara sukarela.”
Penerjemah Kingdom Conqueror menyampaikan kata-kata itu dengan suara resmi. Namun bahkan lidah asing itu tak mampu menghapus kepedihan di dalamnya.
King Cristopher berdiri dari singgasananya. Ia tidak menoleh atau pun menatap Lexus, seolah pria yang berlutut di bawah kakinya hanyalah bayangan yang tak layak dipandang.
“Bawa mereka semua ke penjara bawah tanah!” perintahnya dingin.
Kata-kata itu jatuh seperti tombak tajam di hati semua orang.
“Tunggu…!”
Suara langkah kaki berlari memecah keheningan.
Seorang gadis berlari masuk ke dalam istana tanpa alas kaki. Gaun linen sederhana dengan ujung yang kotor oleh tanah kering. Rambutnya dikepang satu, berantakan, beberapa helai terlepas membingkai wajahnya. Namun langkahnya tegas. Pandangan matanya tajam, penuh kesadaran dan keberanian yang tak sejalan dengan penampilannya. Auranya membuat prajurit Kingdom Conqueror refleks mengencangkan genggaman senjata. Gadis ini tidak memiliki ketakutan di matanya.
“Hentikan!” Putri Lily berbicara dalam bahasa Kingdom Conqueror.
Prajurit-prajurit itu terperangah. Beberapa saling berpandangan tidak percaya. Buku bahasa mereka hanya beredar di Benua Barat, tak pernah dijual ke luar wilayah.
Siapa gadis ini?
Bagaimana ia bisa menguasai bahasa kami?
Mata Putri Lily menyapu aula, pada kakak kembarnya yang berlutut terikat. Lalu pandangannya berhenti pada sosok ayahandanya yang berlutut, dan pada tubuh ibundanya yang pucat dan tak bernyawa. Tubuh Lily menegang, jantungnya seolah meloncat tanpa aturan. Tak ada kata yang mampu mendefinisikan kehancuran hatinya saat ini.
“Ibunda…!”
Putri Lily berlari, berlutut di hadapan Anastasia. Tangannya gemetar saat membelai wajah ibundanya yang telah kaku.
“Ibunda…” suaranya pecah. “Bangun ibunda, putrimu sudah datang…”
Berkali-kali ia memanggil, namun tak ada jawaban. Lily memeluk Lexus, menenggelamkan wajahnya di lengan ayahandanya.
“Ayahanda…” isaknya lirih, penuh keputusasaan. “Ibunda…”
Air mata Lexus mengalir tanpa suara. Tubuhnya berdiri di dunia ini, tapi jiwanya telah pergi bersama Anastasia.
Pangeran Lian dan Pangeran Leo menatap pemandangan itu dengan air mata bercucuran.
“Ibunda…” desis keduanya bersamaan.
Permaisuri Erivana menegang, kata-kata gadis asing itu menggema di kepalanya.
Ibunda? Ayahanda? Dia… putri Lexus dan Anastasia?
Ia menggeleng pelan. Tidak, ini tidak mungkin.
nenek sihirny nanti Menjelma jdi Cinderelaa Loh CiLLLL🤣