NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG DOA

CINTA DI UJUNG DOA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / CEO / Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Cintapertama
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 24: Permintaan Maaf

Dua hari setelah ngobrol sama Siti, Zahra akhirnya memberanikan diri. Pagi itu—setelah Bapak tidur—dia ganti baju. Pake daster yang paling layak—warna biru muda yang udah pudar tapi masih lumayan rapi. Hijab putih yang dia setrika semalam. Sendal jepit yang solnya udah dialem pake lem kertas.

"Zahra... kamu mau kemana?" Bapak bangun. Liat Zahra lagi beresin diri.

"Zahra... Zahra mau ke pasar, Pak. Beli sayur sama obat Bapak."

Bohong. Lagi.

Zahra tau ini dosa. Tau ini salah. Tapi... tapi dia nggak punya pilihan. Kalau dia bilang mau ketemu Arkan... Bapak pasti marah. Pasti stress. Jantungnya bisa kambuh lagi.

"...oke. Hati-hati ya."

"Iya, Pak."

Zahra keluar kontrakan. Jalan cepet ke jalan raya. Naik angkot. Tujuan: kantor Arkan.

Sepanjang perjalanan, hatinya deg-degan. Tangan gemetar. Pikirannya kacau.

"Apa... apa yang mau Zahra bilang? Minta maaf gimana? Gimana kalau dia... gimana kalau dia udah nggak mau sama Zahra?"

Tapi dia harus coba. Dia nggak bisa terus kayak gini. Tersiksa. Kangen tapi nggak bisa ketemu.

---

Sampe gedung kantor Arkan—gedung tinggi berkaca yang bikin Zahra ngerasa kayak semut—dia turun angkot. Jalan pelan ke pintu masuk.

Satpam—yang sama kayak dulu—langsung ngeliatin dia.

"Mbak... mbak cari siapa?"

"Saya... saya mau ketemu Pak Arkan. Arkan Alexander."

"Ada janjian?"

"Nggak... tapi... tapi ini penting. Tolong... tolong sampaikan ke dia kalau Zahra Amanda mau ketemu."

Satpam ambil telepon. Nelpon ke lantai dua puluh delapan. "Halo? Ini resepsionis. Ada Mbak Zahra Amanda mau ketemu Pak Arkan... oh oke... baik."

Dia tutup telepon. "Mbak bisa naik. Lantai dua puluh delapan."

"Terima kasih, Pak."

Zahra masuk gedung. Naik lift. Jantungnya makin kenceng tiap angka lantai naik.

Sepuluh. Lima belas. Dua puluh. Dua puluh lima. Dua puluh delapan.

TING!

Pintu lift kebuka. Dan...

Arkan. Berdiri di depan lift. Pake kemeja putih rapi, celana kain hitam, dasi biru dongker. Rambutnya rapih. Tapi matanya... matanya berkantung. Kayak orang yang nggak tidur berhari-hari.

"Zahra..."

"Mas..."

Mereka berdua diem. Saling natap. Nggak tau harus ngomong apa.

"...masuk dulu. Ke ruangan aku." Arkan jalan duluan.

Zahra ikutin. Jalan lewat kantor yang rame—orang-orang pada sibuk sendiri. Sampe ke ruangan Arkan yang pintunya kaca bertuliskan namanya.

Arkan buka pintu. "Masuk."

Zahra masuk. Ruangan yang luas. Meja kayu besar. Kursi putar empuk. Rak buku. Jendela gede ngadep kota.

"Duduk." Arkan nunjuk sofa tamu.

Zahra duduk. Arkan duduk di seberang. Jarak... mungkin dua meter.

Hening.

Cuma suara mesin pendingin udara yang berbunyi lembut.

"Mas... maaf... maaf Zahra dateng tiba-tiba... Zahra... Zahra harus ngomong sama Mas..."

"Ngomong apa?"

"Minta maaf." Zahra nunduk. "Zahra... Zahra minta maaf karena... karena seminggu yang lalu Zahra bilang hal-hal yang... yang menyakitkan. Zahra bilang Mas nggak berhak peduli. Zahra bilang Mas... Mas ngeremehkan Zahra. Tapi... tapi itu semua salah. Zahra... Zahra nggak bermaksud kayak gitu..."

Arkan diem. Dengerin.

"Zahra cuma... cuma lagi emosi. Zahra takut. Takut kalau... kalau Mas pikir Zahra cuma manfaatin Mas. Takut kalau... kalau suatu hari Mas bilang Zahra terhutang budi. Dan... dan Zahra nggak mau kayak gitu. Zahra... Zahra mau hubungan yang... yang nggak dibangun atas hutang. Tapi... tapi Zahra salah. Zahra... Zahra nggak seharusnya marah. Karena Mas... Mas cuma pengen bantuin. Cuma... cuma sayang sama Zahra."

Air mata jatuh. Zahra lap cepet.

"Mas... maafin Zahra... Zahra... Zahra jahat... Zahra nyakitin Mas... padahal Mas... Mas udah baik banget sama Zahra..."

Arkan berdiri. Jalan ke jendela. Punggungnya ngadep Zahra.

"...Zahra, aku... aku juga minta maaf."

"Mas—"

"Aku nggak ngerti kamu. Aku nggak ngerti... nggak ngerti gimana rasanya jadi kamu. Orang yang... yang berjuang sendiri. Yang... yang nggak mau jadi beban. Dan aku... aku terlalu maksa. Aku bayarin hutang kamu tanpa izin. Aku... aku nggak pikir gimana perasaan kamu. Aku cuma... aku cuma mikirin aku nggak mau liat kamu susah. Tapi... tapi aku lupa... aku lupa kamu punya harga diri. Kamu punya... punya prinsip. Dan aku... aku ngelanggar itu."

Dia nengok. Natap Zahra. Matanya juga basah.

"Maaf, Zahra. Maaf aku... aku terlalu egois."

"Mas nggak egois..." Zahra berdiri. "Mas cuma... cuma sayang. Dan Zahra... Zahra seharusnya ngerti itu. Seharusnya... seharusnya Zahra nggak marah. Seharusnya Zahra bilang terima kasih. Tapi... tapi Zahra malah marah. Malah... malah nyakitin Mas. Zahra... Zahra yang egois..."

Mereka berdua diem. Saling natap.

Dan tiba-tiba...

TOK TOK TOK!

Ketukan pintu. Keras.

"Pak Arkan? Ini saya. Pak Eman."

Arkan langsung lap mata. "Iya, Pak Eman. Ada apa?"

Pintu kebuka. Pak Eman masuk. Pria tua—mungkin umur tujuh puluhan—pake seragam coklat office boy. Rambut putih. Punggung agak bungkuk. Tapi senyumnya ramah.

"Pak, saya mau beresin ruangan. Boleh?"

"Eh... sebentar Pak Eman. Saya lagi ada tamu. Bapak bisa pergi sebentar? Nanti saya panggilin lagi."

"Baik, Pak." Pak Eman keluar. Tutup pintu.

Arkan napas lega. "Maaf, Zahra. Pak Eman itu... dia agak budek. Jadi kadang—"

TOK TOK TOK!

Pintu kebuka lagi. Pak Eman masuk. Kali ini bawa nampan. Ada dua gelas kopi sama piring biskuit.

"Pak, ini kopi nya. Tadi Bapak suruh saya bikinin kan?"

Arkan bingung. "Hah? Saya nggak... saya nggak minta kopi, Pak."

"Lho? Tadi Bapak bilang 'Pak, tolong bikin kopi' kan?"

Arkan cengo. "Bukan, Pak. Saya bilang 'Pak, bisa pergi sebentar.' Bukan bikin kopi."

"Ooh..." Pak Eman garuk kepala. "Maaf, Pak. Telinga saya kurang jelas. Hehehe. Ya udah, kopi nya buat Bapak aja ya. Sama tamu Bapak." Dia taro nampan di meja. "Silakan dinikmati."

"Eh Pak Eman tunggu—"

Tapi Pak Eman udah keluar. Nutup pintu.

Arkan natap Zahra. Zahra natap Arkan.

Dan tiba-tiba... mereka berdua ketawa.

"Hahaha... Mas... ini... ini lucu banget..." Zahra ketawa sambil nangis.

"Iya... Pak Eman memang kayak gitu. Dia udah kerja dari jaman kakek aku. Tahun delapan puluhan. Dia karyawan paling senior. Dan... dan meskipun dia budek... kinerjanya bagus. Dia rajin. Baik. Makanya perusahaan tetep pertahanin dia." Arkan juga ketawa. "Tapi memang sering salah denger sih. Kemarin dia disuruh fotokopi dokumen. Eh dia malah beli kopi tujuh gelas. Katanya denger 'kopi tujuh' bukan 'fotokopi tujuh.'"

Zahra ketawa makin keras. "Ya ampun... Mas... itu... itu konyol banget..."

"Iya. Tapi... tapi dia baik. Semua orang di kantor sayang sama dia."

Mereka ketawa bareng. Dan... dan entah kenapa... suasana jadi lebih ringan. Lebih... lebih hangat.

"Mas... makasih... makasih udah bikin Zahra ketawa... Zahra... Zahra udah lama nggak ketawa kayak gini..."

"Sama-sama. Aku juga... aku juga udah lama nggak ketawa."

Mereka diem lagi. Tapi kali ini... nggak canggung. Cuma... cuma hangat.

"Zahra... aku... aku kangen kamu."

"Zahra juga kangen Mas. Kangen banget."

"Kita... kita baikan ya?"

"Iya, Mas. Zahra minta maaf... Zahra janji nggak bakal marah-marah lagi kalau Mas... kalau Mas bantuin Zahra. Zahra... Zahra janji bakal bilang terima kasih. Bakal... bakal hargain niat baik Mas."

"Aku juga janji. Aku janji nggak bakal ikut campur tanpa izin kamu. Aku bakal... bakal tanya dulu. Bakal hargain perasaan kamu."

Zahra senyum. "Makasih, Mas."

Arkan senyum balik. Terus... terus dia jalan deket. Peluk Zahra. Erat.

"Zahra... jangan pergi lagi... aku... aku nggak kuat kalau kamu pergi lagi..."

Zahra peluk balik. Nangis di dada Arkan. "Zahra nggak akan pergi... Zahra janji..."

Mereka pelukan lama. Di tengah ruangan kantor yang dingin. Tapi... tapi pelukan mereka hangat. Hangat banget.

"Mas... Zahra sayang Mas..."

"Aku juga sayang kamu. Sayang banget."

---

Tapi di hati Zahra... ada rasa bersalah yang nggak bisa dia ilangin.

Rasa bersalah karena... karena dia bohong ke Bapak. Lagi.

"Ya Allah... Zahra bohong ke Bapak... Zahra... Zahra dosa..."

---

Malem itu, setelah Bapak tidur, Zahra sholat isya. Terus sholat taubat. Dua rakaat.

Sujud lama.

"Ya Allah... hamba minta ampun... hamba... hamba bohong ke Bapak hamba... hamba bilang hamba ke pasar... padahal hamba... hamba ketemu Arkan... Ya Allah... hamba tau ini dosa... hamba tau... hamba tau ini salah... tapi Ya Allah... hamba nggak punya pilihan... kalau hamba bilang jujur... Bapak hamba bakal marah... jantungnya bisa kambuh... hamba... hamba nggak mau kehilangan Bapak..."

Air mata basahin sajadah.

"Ya Allah... hamba bingung... hamba sayang Bapak... tapi hamba juga sayang Arkan... dan hamba... hamba nggak bisa milih... tolong... tolong maafin dosa hamba... tolong... tolong beri hamba kekuatan buat... buat jujur suatu hari nanti... tolong Ya Allah..."

Dia sujud sampe punggung pegal. Sampe lutut kebas.

Tapi dia nggak mau bangun.

Karena di sujud ini... dia ngerasa deket sama Allah. Ngerasa... ngerasa Allah dengerin tangisannya.

"Ya Allah... hamba mohon... jangan biarkan kebohongan hamba... kebohongan hamba ini ngerusak hubungan hamba sama Bapak... tolong... tolong jaga Bapak hamba... dan tolong... tolong beri hamba jalan yang... yang nggak harus bohong lagi... tolong Ya Allah..."

Dan malam itu... Zahra tidur dengan hati yang masih berat.

Berat karena... karena dia tau dia bohong. Tau dia... dia jalan di jalan yang nggak sepenuhnya bener.

Tapi dia nggak punya pilihan.

Karena kalau dia jujur... dia bakal kehilangan Bapak.

Dan kalau dia ngejauh dari Arkan... dia bakal tersiksa.

"Ya Allah... tolong... tolong kasih hamba jalan... jalan yang... yang berkah... jalan yang... yang nggak bikin hamba harus bohong lagi..."

---

**BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!