Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?
Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.
Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.
Apakah Quinn mampu bertahan hidup?
Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?
୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
III. Terima Kasih, Papa
...୨ৎ──── Q U I N N ────જ⁀➴...
Saat aku terbangun, tepatnya sehari setelah operasi, kepalaku rasanya pusing banget.
Bayangan seorang pria tampan yang sedang berdiri di samping ranjang rumah sakit pun langsung muncul di pikiranku, sontak membuat dahiku berkerut.
Itu nyata … atau cuma mimpi, sih?
Aku masih ingat jelas wajahnya. Rambut hitamnya, bagian sampingnya cepak. Matanya cokelat muda dengan lingkaran hijau gelap di sekelilingnya. Hampir seperti mata kucing. Dia bahkan sempat menggeram kayak harimau.
...“Ginjal itu milik aku.”...
Mataku langsung membelalak saat kepikiran kalau jangan-jangan aku habis melihat hantu.
“Ahh ... Jangan konyol!” gumamku ke diri sendiri sambil berusaha menenangkan pikiran. "Mana mungkin hantu bisa setampan itu. Tapi kalau bukan hantu ... terus siapa? Hufft!"
Aku duduk pelan-pelan.
Perut dan bagian bawah perutku masih terasa nyeri karena bekas operasi, tapi sakitnya jauh lebih ringan dari yang aku bayangkan.
Aku bersandar ke bantal dan menghembuskan napas panjang.
Enggak lama kemudian, Papa pun masuk ke kamar. Begitu melihatku sudah bangun, senyum lega langsung muncul di wajahnya.
“Gimana perasaan kamu, Sayang?”
Sudut bibirku terangkat dan menjawab, “Udah jauh lebih baik, Pa.”
Papa mencondongkan badan, mencium keningku, lalu duduk di kursi di samping ranjang.
Sambil memegang tanganku, dia pun bertanya, “Hmm ... Masih sakit?”
Aku geleng-geleng kepala. “Oh ... Cuma sedikit enggak nyaman aja di bagian perut.”
“Bilang ya kalau sakit. Oke?”
Aku mengangguk sambil memandang Papa. Dia kelihatan jauh lebih muda tanpa semua kekhawatiran di wajahnya.
“Papa butuh istirahat, Papa butuh liburan! Papa udah kesiksa sama penyakit aku,” kataku setengah bercanda. “Maaf, ya udah bikin Papa khawatir. Maaf udah bikin Papa terjebak di rumah sakit ini. Maaf udah selalu ngerepotin papa selama ini. Aku benar-benar minta maaf, Pa. Aku sayang Papa. Sayang banget.”
Papa pum menghembuskan napas lega.
“Enggak ada yang perlu di sesali, Sayang. Ginjal kamu sehat. Kalau semua lancar, minggu depan Papa bisa bawa kamu pulang.”
Aku meringis sambil tertawa kecil. “Iya, aku juga udah muak sama rumah sakit.”
Tiba-tiba gelombang emosi menyerangku. Sadar kalau aku enggak jadi mati, membuat dadaku makin sesak.
Tapi aku benar-benar ingin bertemu dengannya. Pendonor ginjal itu. Karena tanpa dia, mungkin saja sekarang aku sudah berada di pemakaman.
Papa melangkah maju, merangkulku dengan erat. “Semuanya udah selesai, Sayang. Makasih ya, karena udah berjuang buat tetap sama Papa.”
Ingatan soal pengunjung semalam kembali muncul di kepalaku. Aku agak mundur dan bertanya, “Papa tahu siapa pendonornya?”
Papa geleng-geleng kepala. “Donasi anonim.”
Sial.
Alisku berkerut. “Menurut Papa, aku bisa nulis surat terima kasih enggak? Siapa tahu bisa di kasih ke orangnya.”
Sekali lagi Papa menggeleng.
“Enggak ada cara buat hubungin dia.”
Sebelum aku bisa bicara lagi, Papa menyibakkan rambut dari dahiku.
“Hemmm ... Sekarang kamu fokus istirahat. Biar tubuh kamu bisa nerima ginjal itu.”
Aku tarik napas dalam-dalam dan bersantai lagi di atas bantal.
Mustahil pria yang aku lihat semalam itu pendonor ginjal. Mana mungkin dia bisa berdiri sedangkan aku saja masih terbaring lemas begini. Aku yakin, dia pasti belum menjalani operasi seperti aku.
Iya … itu pasti cuma mimpi.
Tapi ... setidaknya otak aku berhasil membayangkan pria tampan.