SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!
Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.
Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.
Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.
Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.
Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22. AYAH DAN ANAK
Lorong rumah sakit itu tenang, terlalu tenang untuk dua pria yang duduk berdampingan di bangku besi dengan aura yang sama-sama berat.
Hans Morelli menyilangkan kaki, satu tangannya memegang tablet, sementara Theo duduk di sampingnya, bahu sedikit condong ke depan, alisnya berkerut. Layar tablet menampilkan diagram kompleks, alur data, arsitektur neural network, dan kode AI yang terlalu canggih untuk disebut sekadar proyek bisnis biasa.
"Helix Dynamic bergerak cepat," kata Theo, suaranya rendah. "Mereka tidak hanya meniru, Pa. Mereka menduplikasi. Arsitekturnya sama. Cara AI kita belajar, bahkan bug kecil yang hanya tim internal tahu, ada di sistem mereka."
"Jadi kau yakin sungguh Helix Dynamic menduplikasi projek kita?" tanya Hans, suaranya rendah namun tegas.
Theo mengangguk pelan. Matanya menatap lurus ke depan, ke ujung lorong yang tampak buram oleh jarak.
"Arsitektur kodenya terlalu mirip, Pa. Cara mereka menyusun neural mapping, bahkan error pattern-nya, itu bukan kebetulan. Mereka menyalin dari blueprint awal proyek Athena," jawab Theo.
Hans mendecakkan lidah pelan. "Proyek yang bahkan belum kita rilis secara internal."
"Itu yang membuatku yakin ada kebocoran," jawab Theo. "Atau ... seseorang yang tahu terlalu banyak."
Hans terdiam beberapa detik. Ia mengusap dagunya, kebiasaan lama setiap kali ia memikirkan sesuatu yang serius.
"Helix selalu licik sejak dulu, tapi ini sudah melewati batas persaingan bisnis. Mereka tidak sekadar mencuri ide, mereka meniru jantung sistemnya. Jelas ini melanggar etik perbisnisan," kata Hans.
Theo menarik napas panjang. "Athena bukan sekadar AI biasa, Pa. Kalau jatuh ke tangan yang salah-"
"Aku tahu," potong Hans pelan. "Karena itu kita harus berhati-hati. Dunia tidak butuh AI yang belajar tanpa moral, karena teknologi bisa menjadi senjata yang membunuh pembuatnya jika tidak dibuat dengan bijak."
"Benar sekal," setuju Theo.
Hans menghela napas pelan, matanya tidak lepas dari layar. "Berarti ada tikus di dalam. Atau seseorang yang terlalu pintar untuk dibiarkan hidup terlalu lama."
Theo melirik ayahnya. "Kadang aku lupa kau ini CEO ... atau mantan sesuatu yang jauh lebih berbahaya."
Hans tersenyum tipis. "Bisnis dan dunia gelap tidak pernah benar-benar terpisah, Son."
Theo hendak menjawab ketika sesuatu ... atau tepatnya seseorang membuat bulu kuduknya meremang.
Langkah kaki berat.
Bukan langkah biasa.
Langkah yang penuh tekanan.
Theo mendongak.
Dan jantungnya hampir berhenti berdetak.
Lucas Lorenzo berjalan mendekat dengan wajah yang bisa membuat ruang sidang internasional membeku. Rahangnya mengeras, bahunya tegap, dan matanya, tajam, dingin, penuh perhitungan.
Di sampingnya, Zane Lorenzo melangkah dengan santai berbahaya. Senyum kecil tersungging di wajahnya, tapi sorot matanya menyimpan ancaman yang tidak kalah tajam.
Theo refleks berdiri.
Hans juga bangkit, namun wajahnya justru tersenyum hangat, senyum seorang pria yang telah mengenal Lucas Lorenzo terlalu lama untuk takut padanya.
"Lucas," sapa Hans santai. "Kau sudah selesai bicara dengan Celina?"
"Sudah," jawab Lucas singkat.
Hans mengangguk kecil. "Bagaimana Celina?"
Pertanyaan itu membuat Theo menelan ludah.
Lucas mengalihkan pandangannya sejenak, ke arah pintu ruang rawat inap yang tertutup beberapa meter dari sana.
"Dia kuat," jawab Lucas datar. "Lebih kuat dari yang orang kira."
Hans tersenyum kecil. "Itu sudah jelas."
Namun suasana belum mencair.
Lucas kembali menatap Hans. Kali ini sorot matanya berbeda. Bukan sekadar dingin, ada sesuatu yang lebih personal di sana.
Lalu, tanpa basa-basi, Lucas berkata, "Zane bilang padaku ... kalau putramu sepertinya tertarik dengan putriku."
Lorong rumah sakit seakan membeku.
Theo membeku di tempat.
Hans berkedip sekali.
Lucas melanjutkan, suaranya datar namun penuh tekanan, "Apakah itu benar?"
Tatapan Lucas berpindah dari Hans ke Theo.
Seperti dua bilah pisau yang bergantian menguji ketahanan.
Hans terdiam.
Benar-benar terdiam.
Beberapa detik berlalu, cukup lama hingga Theo bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Ia menunggu reaksi ayahnya, entah penolakan, klarifikasi, atau mungkin kemarahan.
Namun yang terjadi justru di luar dugaan.
Hans ... tertawa.
Tawa lepas, rendah, dan tulus.
Hans menepuk pundak Theo dengan telapak tangan besarnya, seolah baru saja mendengar lelucon lama yang menyenangkan.
"Jadi ini maksud tatapanmu sejak tadi?" ujar Hans sambil tertawa.
Theo menoleh cepat, bingung.
Lucas melipat kedua lengannya di dada. Otot rahangnya menegang. "Ini bukan lelucon, Hans," katanya.
Hans berhenti tertawa, namun senyumnya belum sepenuhnya hilang. Ia menoleh ke arah Lucas.
"Aku tahu. Karena itu aku akan bertanya langsung," jawab Hans.
Lucas menatap Theo dengan ekspresi serius namun tidak mengancam. "Kau menyukai Celina?"
Pertanyaan itu ... terlalu langsung.
Theo terkejut.
Ia refleks menatap Lucas, lalu Zane, lalu kembali ke ayahnya.
Tenggorokannya terasa kering.
Zane mendengus pelan lalu berkata santai, "Jangan bilang kau tidak suka dengan adikku yang cantik dan baik itu. Walau kadang dia sedikit nakal dan keras kepala."
Theo membuka mulut, menutupnya kembali.
Lalu, tanpa sempat memikirkan diplomasi, ia berkata spontan, "Aku tidak bilang aku tidak menyukai Celina."
Kalimat itu baru saja keluar ... ketika dunia Theo seakan terbalik.
BRAKK!
Dalam sekejap, kerah baju Theo dicengkeram kuat.
Lucas Lorenzo berdiri tepat di depannya, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter. Tatapan pria itu tajam, berbahaya, dan penuh amarah terkontrol.
"Jadi benar," desis Lucas. "Kau menyukai putriku?!"
Theo menegang.
"Berani sekali kau menyukai putriku," lanjut Lucas dengan suara rendah namun menggigit. "Dia masih kecil."
Kecil? batin Theo.
Theo refleks memegang pergelangan tangan Lucas, bukan untuk melawan, tapi untuk menenangkan situasi. Matanya beralih ke arah Hans, meminta bantuan.
Namun Hans ... justru menahan tawa.
Seolah pemandangan putranya dicengkeram oleh seorang mafia legendaris adalah tontonan yang menghibur.
Lucas semakin mendekat.
"Berani kau mempermainkan putriku, bahkan menyentuhnya tanpa komitmen, akan kulempar kau ke laut di Alcatraz," ancam Lucas.
Theo menarik napas panjang.
Dalam.
Lalu ia bicara, suaranya tenang meski dadanya berdegup kencang. "Aku tidak pernah mempermainkan perempuan seumur hidupku," katanya.
Lucas terdiam sesaat, namun cengkeramannya belum mengendur.
"Orang tuaku melarang keras soal itu," lanjut Theo. "Jadi Anda tidak perlu khawatir aku akan mempermainkan putri Anda."
Theo menatap mata Lucas, tidak menantang, tapi jujur. Hanya berani dan tulus.
"Dan tidak mungkin aku mempermainkan gadis sehebat Celina," tambah Lucas.
Keheningan jatuh.
Lucas menatap Theo beberapa detik, seolah membaca sesuatu di balik kata-katanya.
Lalu ... tangan Lucas terlepas dari kerah Theo.
Lucas meluruskan jasnya, lalu menoleh ke arah Hans dengan ekspresi kesal.
"Berhentilah tertawa, Hans," tegur Lucas.
Hans tertawa kecil, bahunya masih bergetar.
"Aku lupa kalau kau ayah cinta anak," kata Hans. "Seorang mafia sepertimu terkadang bisa menjadi bodoh karena urusan putri kesayanganmu sendiri."
Lucas mendengus. "Tentu saja. Putriku terlalu berharga untuk mendapatkan pria sembarangan."
Lucas menatap Theo sekilas, lalu kembali pada Hans. "Kau jelas tahu seperti apa Lorenzo terhadap perempuan di keluarga," katanya.
Hans mengangguk. Ia tersenyum tipis. "Ya. Overprotective. Jelas. Aku tidak akan komentar karena aku juga seperti itu."
Lucas pun tahu akan hal itu, bahwa Hans dan ayahnya juga sangat menghormati perempuan.
Hans menepuk dada Theo sekali. "Tapi tenang saja. Putraku tidak akan berbuat hal memalukan jika berhubungan dengan perempuan. Jika dia berani, aku sendiri yang akan memukulinya sampai tulangnya patah."
Theo melirik ayahnya, setengah ngeri setengah pasrah. "Kau terkadang lebih menakutkan dibandingkan penjahat, Pa."
Hans tertawa keras.
Lalu, tanpa banyak bicara, ia Hans merangkul bahu Lucas.
"Ayo. Kita keluar sebentar. Ada kafe dekat lobi. Kita perlu bicara ... sebagai orang tua," kata Hans.
Hans melirik Theo dan Zane. "Kalian ikut," tambahnya.
Lucas berjalan lebih dulu bersama Hans, suara mereka mulai merendah menjadi percakapan dua pria tua yang terlalu keras kepala untuk mengakui kekhawatiran masing-masing.
Zane mendekati Theo, lalu meninju pelan lengannya sambil menyeringai.
"Ayo kita juga ikut mereka sebelum mereka merencanakan kudeta di pemerintahan," kata Zane. Ia menepuk bahu Theo dan melanjutkan, "Dan selamat. Kau aman dari ayahku kali ini."
Theo tertawa kecil, napasnya akhirnya lega. Ia berjalan menyusul mereka, menyadari satu hal; lorong rumah sakit itu baru saja menjadi saksi awal sesuatu
yang jauh lebih rumit dari pada sekadar urusan bisnis atau AI.
Dan jauh lebih berbahaya daripada Helix Dynamic.
Hubungan keluarga ....
semoga gak terlambat menyelamatkan twins
lo jual gw beli
maaf ye,bukan kita yg mulai, ini namanya mekanisme perlindungan diri.
kan..bukan aku yg mulai🤣🤣
mulut mu
tapi bener lah
dibully malah menikmati sensasi nya🫣
bagus
bagus
bagus
bagus thooorr...
q suka...q suka❤️❤️❤️❤️❤️