Bukan salah Mika hadir dalam rumah tangga Naya sebagai orang ketiga. Karena hadirnya juga atas permintaan Naya yang tidak ingin punya anak gara-gara obsesinya sebagai model. Mika melawan hati dengan rela menerima tawaran Naya juga punya alasan. Sang mama yang sedang sakit keras menghrauskan dirinya untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Sedangkan Naya sendiri, karena rasa bersalah pada suaminya, dia rela mencarikan istri untuk si suami.
Bukan salah orang ketiga. Ini murni kisah untuk Mika, Naya, dan Paris. Tidak sedikitpun aku terlintas di hati untuk membela orang ketiga. Harap memakluminya. Ini hanya karya, aku hanya berusaha menciptakan sebuah karya dengan judul yang berbeda untuk kalian nikmati. Mohon pengertiannya. Selamat membaca. Temukan suasana yang berbeda di sini. Dan, ambil pelajarannya dari kisah mereka. Bisakah cinta segitiga berjalan dengan bahagia? Atau malah sebaliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*8
Mika yang baru mengangkat wajah juga dikejutkan oleh apa yang baru saja matanya lihat. Bibirnya kaku secara tiba-tiba. Ingin melepaskan kata-kata, tapi sayangnya tidak bisa.
"Kamu karyawan pindahan dari kantor cabang?"
"Ka-- kamu ... bos di perusahaan ini?" Mika malah balik bertanya. Sangking terkejutnya Mika, dia malah melupakan etikanya sebagai bawahan. Hal tersebut sontak membuat Rama yang sedang di serang perasaan bingung semakin membulatkan matanya.
"Mika." Rama memanggil dengan nada pelan. "Dia pak Paris, bos kita."
"Ah, m-- maaf. Saya ... maksud saya, maaf, anu, pak Paris. Saya ... itu .... "
"Kamu gak gagap 'kan?" Paris malah melontarkan pertanyaan yang jelas-jelas dia sendiri sudah tahu jawabannya. Karena, mereka sudah pernah bertatap muka sebelumnya.
"Apa? Sudah pasti saya tidak," jawab Mika dengan perasaan kesal yang susah payah dia bendung.
Hembusan napas berat Paris lepaskan. "Rama, kamu boleh keluar sekarang. Karyawan baru ini, biar aku yang bicara langsung dengannya."
"Baik, pak Paris. Permisi."
Rama meninggalkan ruangan Paris dengan membawa perasaan bingung juga rasa penasaran. Jika saja dia bisa tinggal di sana lebih lama, pasti rasa penasaran itu bisa ia hilangkan. Sayang, si bos telah meminta dia pergi. Bagaimana pula caranya agar dia bisa tetap bertahan?
Setelah kepergian Rama, Mika semakin merasa canggung berada di ruangan tersebut. Hatinya sangat tidak menginginkan Rama pergi. Tapi, dia tidak bisa mencegah kepergian Rama meninggalkan dirinya.
"Sudah berapa lama kamu bekerja di perusahaan cabang?" Pertanyaan yang seharusnya Paris sendiri sudah tahu jawabannya. Karena dari file pemindahan Mika, semua sudah tertulis dengan sangat jelas.
"Sudah-- " Mika menjawab dengan tenang apa yang Paris tanyakan tentang pekerjaan. Hingga akhirnya, pertanyaan Paris berubah arah.
"Kenapa kamu tiba-tiba kabur malam itu?"
"Ha? Ah, saya ... tidak kabur, Pak. Saya-- "
"Tiba-tiba pergi itu namanya kabur, nona. Bisakah anda sedikit bertanggung jawab sebagai penyelamat?"
"Apa? Saya sudah bertanggung jawab, Pak."
"Astaga." Mika mengeluh pelan. "Seharusnya aku tidak menyelamatkan dia malam itu. Andai saja aku tidak-- "
"Apa yang kamu bicarakan? Kamu menyesal memberikan bantuan pada saya?"
"Ah, ti-- tidak, pak. Tidak. Bu-- bukan itu maksud saya. Saya .... "
'Ya Tuhan, tolong aku,' ucap Mika dalam hati.
"Heh, lupakan saja. Terima kasih banyak sudah mau menolong aku malam itu. Siapa nama kamu?"
"Mika, Pak."
"Hm. Mika, selamat bergabung di perusahaan induk. Tapi ingat, di sini, kamu akan diperlakukan sama seperti yang lainnya. Jangan berpikir kalau kamu akan diperlakukan secara istimewa dengan jasa penyelamatan yang kamu berikan padaku."
Sangat mengundang rasa kesal apa yang baru saja Paris katakan. Jika saja dia bukan bos dari perusahaan tempat Mika bekerja, sudah pasti Mika akan mengeluarkan rasa kesal yang ada dalam hatinya. Sayang, dia sangat membutuhkan pekerjaan tersebut. Karenanya, dia hanya bisa pasrah.
Mika pun nyengir kuda dengan terpaksa. "Bapak tenang saja. Saya bukan tipe orang yang suka memanfaatkan orang lain. Selain itu, saya menolong juga bukan karena ingin mengharapkan imbalan. Saya tulus ingin membantu. Jika bukan bapak yang ada di saya, saya juga akan menolongnya, pak."
Secara tidak langsung, Mika melawan Paris yang berstatus sebagai atas. Sungguh, hati Paris langsung terusik. Tapi Mika terus mempertahankan senyum sandiwaranya dengan susah payah.
"Ada lagi yang ingin bapak bicarakan, Pak? Jika tidak ada, bolehkah saya keluar sekarang?" Dengan menahan perasaan kesal, Mika berucap dengan nada lembut.
Paris sontak memberikan Mika tatapan tajam. Namun, wajah cantik natural yang Mika miliki membuatnya tidak ingin terlalu banyak menyulitkan si gadis. Mika pun diizinkan pergi sekarang.
"Cukup menarik," ucap Paris setelah Mika meninggalkan ruangannya.
Entahlah. Entah apa yang sedang ada dalam pikiran Paris saat ini. Tiba-tiba saja, Paris merasakan ketertarikan yang sangat kuat dengan lawan jenis yang baru dua kali ia temui. Namun, Paris bukan pria bajingan yang mudah untuk berpindah hati. Ketertarikan yang dia rasakan, sebisa mungkin ia kubur dalam-dalam di lubuk hati terdalam.
...
Hari-hari berlalu dengan tenang. Mika yang sudah terbiasa dengan dunia kerja barunya, kini semakin merasa nyaman ada di tempat tersebut. Lalu Paris sebagai atasan, tetap bertindak sesuai karakter yang dia miliki sebelumnya.
Sementara untuk Naya yang sedang fokus menjalankan kariernya, semakin berkilau saja dengan melakukan pemotretan gaun di luar negeri. Semua berjalan baik hingga satu minggu kemudian.
Hari terakhir Naya berada di luar negeri, wanita itu tiba-tiba harus di larikan ke rumah sakit karena tubuhnya yang tidak kuat menahan padatnya kegiatan. Naya pingsan setelah merasa sakit pada perutnya. Kanaya pun harus di rawat inap selama seharian di rumah sakit tersebut.