NovelToon NovelToon
Kembalinya Permaisuri Yang Terlupakan

Kembalinya Permaisuri Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Dokter Genius
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: prasetiyoandi

Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.

Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.

Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.

​Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.

Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.

​Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: KAPAL HANTU

​Kegelapan di tengah Samudra Hindia terasa begitu absolut, seolah-olah dunia telah berakhir dan hanya menyisakan sekoci baja kecil ini sebagai saksi bisu.

Suara desis mesin elektrik sekoci taktis yang beroperasi dalam mode senyap menjadi satu-satunya melodi yang menemani kecemasan mereka.

Alana menatap layar navigasi yang berpendar redup, di mana sebuah titik hijau kecil berkedip lambat—koordinat pertemuan yang diberikan Leo sebelum ajal menjemputnya.

​"Satu mil lagi, Mummy," bisik Lukas. Wajah bocah itu tampak kuyu dengan lingkaran hitam di bawah matanya, namun jemarinya tetap stabil pada tuas kendali. "Kapal kargo MV Asteria seharusnya ada di sana. Tapi... aneh."

​Arlan, yang sudah mampu duduk tegak meski wajahnya masih sepucat kertas, mengerutkan kening. "Apa yang aneh, Lukas?"

​"Kapal itu tidak memancarkan sinyal, radar pasifku menangkap siluetnya, tapi kapal itu tidak memiliki tanda-tanda kehidupan elektronik. Tidak ada radio, tidak ada transmisi, bahkan lampu navigasinya mati total," jelas Lukas dengan nada cemas.

​Alana merasakan firasat buruk merayap di tengkuknya. Botol Formula Teratai di sakunya kembali berdenyut, memberikan sensasi dingin yang tajam ke tulang rusuknya. Intuisi sensoriknya yang baru saja terbangun seolah memberikan peringatan: ada sesuatu yang salah dengan MV Asteria.

​"Lukas, bawa kita mendekat dari sisi buritan. Gunakan periskop optik, jangan gunakan sonar aktif," perintah Arlan dengan suara serak yang penuh otoritas.

​Saat sekoci perlahan muncul ke permukaan, air laut mengalir turun dari kaca pelindung, menyingkapkan pemandangan yang mengerikan. Di depan mereka, berdiri tegak sebuah kapal kargo raksasa yang berkarat, terombang-ambing tak berdaya di bawah cahaya bulan yang pucat.

Kapal itu tampak seperti raksasa besi yang mati. Tidak ada suara mesin, tidak ada asap dari cerobongnya, hanya suara ombak yang menghantam lambung kapal dengan bunyi dentum yang menggema hampa.

​"Ini kapal hantu," gumam Luna sambil memeluk lengan Alana erat-erat.

​"Bukan hantu, Sayang. Hanya kapal yang tidak lagi memiliki kapten," Alana mencoba menenangkan putrinya, meskipun ia sendiri merasa dadanya sesak.

​Arlan meraih senjata laras pendeknya dan memeriksa magasin. "Leo bilang kapal ini adalah jalur pelarian paling aman yang dia siapkan bersama kontak rahasianya di The Sovereign. Jika kapal ini dalam kondisi seperti ini, artinya Ouroboros mungkin sudah sampai di sini lebih dulu."

​Alana bangkit, mengenakan rompi taktisnya kembali. "Kita harus naik. Oksigen di sekoci ini sudah hampir habis. Kita tidak punya pilihan lain kecuali menghadapi apa pun yang ada di atas sana."

​Proses menaiki kapal menggunakan tali peluncur bertenaga gas berlangsung dengan penuh ketegangan. Arlan, meskipun terluka, tetap memimpin di depan dengan pistol di tangan. Begitu kaki mereka menyentuh dek logam MV Asteria, bau itu langsung menyergap.

​Bau anyir darah yang bercampur dengan aroma logam dan bahan kimia yang tajam.

​"Tutup hidung kalian!" perintah Alana kepada Lukas dan Luna. Ia segera mengeluarkan senter taktis dan menyalakannya.

​Cahaya senter menyapu permukaan dek. Pemandangannya lebih buruk dari medan perang di pulau semalam. Tiga mayat berseragam pelaut tergeletak di dekat sekoci penyelamat yang belum sempat diturunkan.

Tidak ada tanda-tanda baku tembak besar. Tidak ada lubang peluru di dinding atau bekas ledakan. Para pelaut itu tewas dengan posisi yang aneh; tangan mereka mencengkeram leher sendiri, dan wajah mereka membiru dengan mata yang melotot ngeri.

​Alana berlutut di samping salah satu mayat. Sebagai dokter, instingnya langsung bekerja. Ia memeriksa pupil mata dan kuku mayat tersebut.

​"Mereka tidak ditembak," Alana berdiri dengan wajah tegang. "Ini serangan gas saraf dosis tinggi. Sarin atau sesuatu yang lebih canggih. Mereka mati dalam hitungan detik setelah menghirupnya. Serangan ini sangat presisi dan dilakukan untuk membunuh seluruh kru tanpa merusak struktur kapal."

​Arlan menatap lorong gelap menuju anjungan. "Jika ini ulah Ouroboros, kenapa mereka meninggalkan kapal ini begitu saja? Kenapa tidak membakarnya?"

​"Mungkin mereka tidak meninggalkannya," sahut Alana. "Mungkin mereka masih di sini, menunggu kita masuk ke dalam jebakan."

​Mereka bergerak perlahan menyusuri koridor interior kapal. Cahaya senter mereka memantul di dinding-dinding baja yang berkarat. Setiap langkah kaki mereka di atas lantai logam menciptakan gema yang membuat suasana semakin mencekam.

Mereka melewati ruang makan kru, di mana piring-piring makanan masih tersaji di atas meja, menunjukkan bahwa kematian menjemput mereka di tengah aktivitas normal.

​Lukas tiba-tiba berhenti di depan sebuah terminal komputer di lorong menuju ruang mesin. "Mummy, tunggu. Aku bisa meretas sistem internal kapal dari sini. Jika aku bisa menyalakan generator cadangan, kita bisa melihat apa yang terekam di CCTV."

​"Lakukan dengan cepat, Lukas," kata Arlan sambil berjaga di sudut lorong.

​Jari-jari Lukas bergerak cepat di atas keyboard yang berdebu. "Sistemnya dipasangi malware penghancur, tapi aku bisa mengisolasi bagian memori cadangannya... masuk! Aku menyalakan lampu darurat dalam tiga... dua... satu!"

​KLIK!

​Lampu-lampu darurat berwarna oranye redup menyala di sepanjang koridor, memberikan pemandangan yang lebih jelas namun semakin menyeramkan. Lukas menatap layar tabletnya dengan mata membelalak.

​"Mummy... Paman Arlan... kalian harus lihat ini."

​Lukas memutar rekaman CCTV dari sepuluh jam yang lalu. Di layar yang bergetar, mereka melihat seorang pria berpakaian kasual masuk ke ruang anjungan.

Pria itu tidak memakai masker gas. Ia membawa sebuah koper kecil. Saat kru kapal mendekatinya, ia membuka koper tersebut dan sebuah kepulan asap tipis keluar. Dalam sekejap, semua kru di ruangan itu tumbang.

​Pria itu berbalik ke arah kamera. Alana dan Arlan tersentak secara bersamaan.

​"Adrian?" bisik Alana. "Tidak, itu bukan Adrian. Wajahnya... dia mirip sekali dengan Adrian, tapi lebih tua dan lebih dingin."

​"Itu Alfred Mahendra," suara Arlan terdengar berat dengan kebencian. "Ayah Adrian. Saudara laki-laki kakekmu yang seharusnya sudah tewas dalam kecelakaan pesawat dua puluh tahun lalu."

​Alana merasa dunianya berputar. Ayah Adrian masih hidup? Dan dia adalah orang yang membantai kru kapal ini?

​"Jika dia masih hidup dan bekerja untuk Ouroboros, artinya seluruh konflik keluarga Mahendra selama ini adalah skenario yang jauh lebih besar," kata Alana.

Ia teringat bagaimana Adrian selalu merasa terobsesi dengan warisan kakek. Ternyata, dia bukan hanya bergerak atas ambisinya sendiri, tapi di bawah bayang-bayang ayahnya yang mengerikan.

​Tiba-tiba, suara tepuk tangan menggema dari arah anjungan di atas mereka. Suara itu berasal dari sistem intercom kapal yang baru saja diaktifkan oleh Lukas.

​"Selamat datang di MV Asteria, Aura. Atau haruskah aku memanggilmu Dr. Alana?" Suara itu berat, tenang, dan sangat mirip dengan suara Adrian, namun dengan otoritas yang jauh lebih besar. "Aku terkesan kau bisa bertahan dari serangan Kael di pulau. Keponakanku tercinta, kau memiliki darah Mahendra yang sangat kuat. Sayangnya, kau menggunakan pemberian ayahku untuk bersekutu dengan orang seperti Syailendra."

​Arlan segera mengangkat senjatanya ke arah speaker. "Alfred! Keluar kau! Jangan bersembunyi di balik sistem radio!"

​"Tuan Syailendra, kau sedang terluka. Jangan terlalu banyak membuang energi," suara Alfred tertawa dingin. "Aku tidak ada di kapal ini sekarang. Aku sudah mengambil apa yang kubutuhkan dari catatan rahasia Leo yang tertinggal di brankas kapten. Tapi jangan khawatir, aku meninggalkan hadiah untuk kalian di ruang mesin."

​Lukas segera memeriksa data radar.

"Mummy! Ada penghitung waktu mundur yang terhubung ke katup bahan bakar di ruang mesin! Kapal ini akan meledak dalam lima menit!"

​"Kita harus keluar dari sini!" teriak Arlan.

​"Tidak bisa!" Lukas berteriak panik. "Pintu palka otomatis sudah dikunci secara elektronik oleh Alfred! Kita terjebak di dalam koridor ini!"

​Alana merasakan denyutan di botol perak itu menjadi sangat kuat, hingga sakunya terasa panas membara. Ia memejamkan mata, mencoba mengakses kembali "penglihatan" sensoriknya.

Di dalam kegelapan pikirannya, ia melihat struktur kapal—kabel-kabel listrik, pipa gas, dan mekanisme pengunci pintu.

​"Lukas, berikan aku tabletmu!" perintah Alana.

​"Mummy, apa yang mau kau lakukan?"

​"Aku tidak akan meretas kodenya, aku akan menghancurkan jalurnya!" Alana mengambil tablet itu, dan secara ajaib, jarinya bergerak dengan insting yang bukan miliknya. Ia tidak mengetik kode; ia memanipulasi frekuensi sinyal wifi tablet tersebut untuk mengirimkan lonjakan arus elektromagnetik ke modul pengunci palka.

​DZZZTTTT! KLAK!

​Pintu palka baja di ujung lorong terbuka dengan suara keras.

​"Lari! Menuju sekoci penyelamat di sisi kanan!" Alana menarik Luna dan Lukas.

​Mereka berlari sekuat tenaga melewati mayat-mayat pelaut yang kini tampak semakin mengerikan di bawah lampu oranye yang berkedip.

Arlan menahan rasa sakit di kakinya, berlari paling belakang untuk memastikan keluarga itu aman. Begitu mereka mencapai dek luar, mereka melihat sekoci penyelamat yang masih tergantung.

​"Masuk! Cepat!" Arlan mendorong mereka masuk.

​Lukas dengan cekatan memotong tali pengikat dengan sistem hidrolik darurat. Saat sekoci itu jatuh menghantam air, suara ledakan pertama terdengar dari perut MV Asteria.

​BOOOOOMMMM!

​Ledakan itu sangat besar hingga mengangkat bagian belakang kapal kargo ke udara. Api membumbung tinggi ke langit malam, menerangi laut dengan warna merah darah.

Sekoci mereka terlempar menjauh oleh gelombang kejut, terombang-ambing di tengah kobaran api yang memantul di air.

​Alana menatap kapal yang tenggelam itu dengan napas tersengal. Ia baru saja menyadari bahwa musuh yang ia hadapi bukan lagi sekadar mantan suami yang haus harta, melainkan hantu dari masa lalu keluarganya sendiri yang memiliki kekuatan untuk menghancurkan negara.

​"Alfred Mahendra..." bisik Alana. "Jika kau masih hidup, maka aku akan memastikan kau mati untuk kedua kalinya, dan kali ini, tidak akan ada sisa yang tertinggal."

​Arlan memegang tangan Alana di tengah guncangan sekoci. "Kita masih hidup, Alana. Itu satu-satunya hal yang penting sekarang. Alfred baru saja menyatakan perang terbuka, dan kita akan menjawabnya dengan cara Syailendra."

​Di kejauhan, sebuah kapal selam hitam muncul sesaat ke permukaan sebelum menyelam kembali, meninggalkan keluarga itu sendirian di tengah lautan yang membara.

1
Nor Azlin
semoga mereka menjadi keluarga yang utuh yah ...aku harap si Arlan pun mencuba formula teratai juga agar mereka bisa membantai para musuh-musuh mereka dengan mudah ...semoga mereka selamat sampai ke tujuan nya yah ...Alana kembali lagi deh di mana Pulau rahsia mu kan masih ada yah ...di sana kalian bisa membentuk satu Tim yang lebih baik lagi juga setia yah ...lanjutkan thor
Nor Azlin
kasihan Leo kerana terpaksa di berkhianat pada Alena namun pada akhirnya dia berkorban demi Alena sama anak2 nya ...semoga mereka semua terselamat dari musuh2 mereka yah ...lanjutkan thor
Nor Azlin
siapa agak nya yang berkhianat yah tidak mungkin si Leo tapi siapa yah🤔🤔🤔 semoga cepat ketahuan orang nya deh...lanjutkan thor
Osie
eh msh continue yaaa...waah lg seruuu ini..moga msh ada lanjutannya 🙏🙏🙏
Lili Inggrid
lanjut
Osie
waaw makin kesini makin kompleks alur nya...kereeeennn
Osie
fuuuiiihh deg deg an aku bacanya..alana n anak anak nya best banget dah
Osie
balas dendam yg sangat apik👍👍👍👍👍
Osie
siapa atlan hingga dia terlalu ikut campur urusan hidup alana
Osie
hmmm menarik..tapi aku kok curiga ya kalau anak alana bukan anak Adrian tapi anaknya arlan syeilendra....bisa jd kan..siapa tau ada insiden di masa lalu yg bikin Alan tidur dgn arlan..
Osie
waaaaawww amazing...kereeenn abiizzzz😍😍😍
Osie
mampir nih..ku baca sipnosisnya..sepertinya bagus walau diawali menyakitkan tp ku suka kelanjutannya aura bangkit jd wanita tangguh dan moga gak menge menye..dan kalau lht judul soti cerita transmigrasi ya🙏🙏
Nor Azlin
dasar orang gila ni semua demi harta sanggup membunuh darah dagingnya demi merebut warisan yang Aura dapat dari kakek nya ...kalau begitu hancurkan usaha nya itu biar hancur lebur deh biar jadi pengemis & terlunta2 di jalan2 biar dia tau rasa ... lanjutkan thor
Nor Azlin
sudah tentu dia lah kerana ingin saham2 yang kakek nya berikan pada Aura harta bisa membuat orang jadi gila ...bukan nya sisca sama Andrian itu pacar sedari mula yah kerana ancaman juga saham2 itu dia pura2 menerima pernikahan itu setelah kakeknya meninggal ini lah masa nya mereka berbuat onah kembali kan sudah tidak ada halangan untuk menjalin kasih kembali kan ancaman nya sudah tidak ada ertinya lagi kerana sudah dikalang tanah ...orang yang sudah meninggal bisa apa jadi yang hidup ini jadi masalah nya kalau dia pun mati nah tidak ada curiga di kalangan masyarakat kan 😂😂😂lanjutkan thor
shabiru Al
wow,, tanpa basa basi alana langsung menabuh genderang perang dengan adrian
shabiru Al
tdkah terlalu dini melibatkan anak kembarnya dalam misi balas dendam,, bagaimana pun adrian adalah ayah kandung sikembar
shabiru Al
kenapa aura di habisi... benarkah adrian ada dbalik kecelakaan aura ?
shabiru Al
mampir thor,, belum bisa komen banyak ya... nyimak dulu jalan ceritanya..😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!