Mawar adalah anak ke 2 yang di paksa harus selalu mengalah dengan adik nya, Mawar di bedakan oleh ibu nya.
Mawar harus selalu mengalah demi sang adik, Mawar di perlakukan seperti anak tiri. Penderitaan Mawar semakin pedih saat ayah nya meninggal dunia, sikap ibu nya semakin menjadi terhadap diri nya.
Untung saja kakak laki - laki Mawar bisa melindungi diri nya, sebagai sang kakak dia tidak rela melihat penderitaan sang adik.
Sang kakak bahkan rela menolak beasiswa nya di sebuah universitas ternama karena dia tidak ingin meninggal kan Mawar sendirian.
Ikuti kisah Mawar dalam mengarungi kehidupan di bawah tekanan sang ibu dab juga adik nya, bisa kah ibu nya Mawar menyayangi Mawar seperti dia menyayangi putri bungsu nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
"Mawar, cuci semua baju ku. Awas ya kalau ada yang rusak kau harus mengganti nya!" Indah melempar kan setumpuk baju - baju kotor milik nya pada Mawar yang sedang menyapu lantai.
"Tidak bisa kah kau mencuci nya sendiri, kau sudah besar dan punya kaki dan tangan yang lengkap!" Ujar Mawar dengan kesal.
"He Mawar, berani ya kau pada ku. Akan ku adukan kau pada ibu, biar tahu rasa!" Dengus Indah dengan kesal.
Tanpa Indah sadari Farhan yang baru saja pulang dari pabrik mendengar perdebatan antara adik nya, Farhan tidak melihat kehadiran ibu nya. Biasa nya jika bu Munah ada di rumah, dia akan langsung memarahi Mawar jika sampai menolak perintah dari Indah.
"Indah, kau bisa mengurus semua urusan mu sendiri, kenapa harus merepotkan Mawar. Apakah kau tidak bisa melihat bahwa Mawar sedang menyapu!" Farhan yang terlanjur kesal dengan Indah membentak adik bungsu nya itu dengan suara lantang.
"Kakak, kapan kakak pulang? Kak, lihat lah Mawar melempar kan semua pakaian ku!" Indah mulai menunjuk kan bakat akting nya dengan menyudut kan Mawar.
Mawar tidak perduli dengan apa yang di katakan oleh Indah, karena Mawar yakin Farhan tidak akan percaya begitu saja dengan apa yang di katakan oleh Indah.
"Cukup Indah, kau sendiri yang menghambur kan semua pakaian mu, jangan menyalahkan Mawar!" Ujar Farhan lagi.
Indah yang merasa kesal karena Farhan membela Mawar dan tidak percaya pada diri nya, akhir nya dia memungut semua pakaian nya yang berserakan di lantai. Dia pergi dari hadapan kedua kakak nya sambil menghentak- hentak kan kaki nya.
"Awas saja Mawar, aku akan membalas mu. Aku akan membuat kau di hukum oleh ibu!" Dengus Indah dengan kesal.
Indah tampak berfikir kerasa, bagai mana cara nya agar dia bisa membalas perbuatan Mawar lada nya. Dia bisa melakukan sesuatu jika Farhan tidak ada di rumah, tapi jika Farhan ada di rumah sudah pasti Farhan akan membela Mawar.
"Tunggu pembalasan ku Mawar, kau akan menyesal karena menolak perintah ku!" Indah berguman sambil mengepal kan tangan nya.
Saat ini bu Munah sedang bantu - bantu di rumah salah satu tetangga nya yang akan mengadakan hajatan, sehingga dia tidak tahu jika putri kesayangan nya di marahi oleh Farhan.
******
Mawar mengangkat jemuran yang sudah kering, dia berniat untuk merapikan semua pakaian itu. Tapi ketika dia membawa semua jemuran yabg sudah kering itu ke ruang keluarga, alangkah terkejut nya Mawar melihat ruangan itu tampak kotor dan berantakan.
"Kenapa bisa banyak pasir gini sih?" Mawar melihat ada banyak pasir bertebaran di lantai yang sebelum nya tanpa bersih itu.
Di ruangan itu tampak banyak sampah berserakan dan tidak hanya itu, ada banyak pasir juga di lantai.
Karena ruangan itu kotor, akhir nya Mawar mengambil sapu dan serok sampah. Dia mulai menyapu dan mengumpulkan semua sampah ke dalam serok sampah yang dia bawa tadi.
Baru saja Mawar selesai membersih kan dan mengumpulkan sampah itu, Indah datang dan dia meraih serok yang berisi sampah lalu menghambur kan nya ke lantai yang sudah di bersih kan oleh Mawar.
"Ya Allah Indah, apa yang kau lakukan?" Tanya Mawar dengan kesal karena ruangan yang sudah bersih kini kembali berantakan lagi.
"Aku mengotori tempat ini, kenapa? Kau mau marah?" Indah bertanya sambil meletakkan tangan nya di pinggang.
"Kau sangat keterlaluan Indah, aku baru saja membersih kan nya, tapi kau malah mengotori nya lagi!" Mawar kembali menyapu dan mengumpulkan sampah yang baru saja di hambur kan oleh Indah.
Setelah selesai Mawar bergegas membawa sampah itu ke belakang dan membuang nya di tempat sampah. Lalu Mawar melanjutkan kan pekerjaan nya melipat dan merapikan pakaian yang sudah kering.
Melihat Mawar yang hanya diam dan tidak menggubris nya, hal itu membuat Mawar kesal bukan main. Mawar pergi ke dapur dan dia mengambil sapu lalu dia kembali ke ruang tengah di mana Mawar berada.
Lalu dengan sekuat tenaga nya Indah memukul Mawar dengan sapu yang dia bawa dari dapur tadi.
"Indah, apa yang kau lakukan?" Mawar berusaha merebut sapu yang ada di tangan Mawar.
"Ini balasan untuk mu karena kau sudah membuat aku di marahi oleh kak Farhan!" Seperti orang kesetanan Indah terus memukuli Mawar.
Tanpa Mawar sadari, ibu nya pulang ke rumah setelah seharian membantu di tempat tetangga nya. Indah yang melihat ibu nya pulang langsung melepas kan sapu itu dari tangan nya dan memberikan nya pada Mawar.
"Ini kesempatan ku untuk membalas mu Mawar!" Batin Indah sambil tersenyum.
"Aduh sakit, tolong!!! Tolong!!!! Aku di pukuli oleh Mawar!" Teriak Indah dengan keras.
Tentu saja bu Munah yang sudah berada di depan pintu terkejut mendengar jeritan Indah, Bu Munah langsung berlari ke dalam rumah dan melihat Indah sedang terduduk di lantai sambil menangis dengan keras.
"Indah, ada apa nak?" Tanya Bu Munah pada anak nya.
"Mawar bu, Mawar memukuli tubuh ku dengan sapu. Lihat lah sapu itu ada di tangan nya!" Indah berkata sambil menunjuk pada Mawar.
Mawar yang masih memegang sapu di tangan nya hanya bisa menggeleng kan kepala nya mendengar fitnah yang di ucap kan Indah untuk diri nya.
"Kurang ajar kau Mawar, berani nya kau memukuli Indah!" Bu Munah sangat marah mendengar aduan Mawar.
Bu Munah mendorong tubuh Mawar hingga jatuh terjungkal, Belum sempat Mawar bangun dan berdiri bu Munah sudah memukul nya dengan sebilah rotan sebesar ibu jari dengan panjang kurang lebih setengah meter.
"Jangan mentang- mentang kau lebih besar kau bisa sesuka hati mu memukuli Indah, ini balasan untuk mu!" Bu Munah seperti orang kesetanan memukuli tubuh Mawar hingga memar dan membiru, tidak hanya itu lengan Mawar bahkan sampai terluka dan mengeluarkan darah segar.
"Aku bersumpah bu, aku tidak pernah memukuli Indah, tidak bu!" Mawar berusaha menjelaskan semua nya pada sang ibu.
Tapi bu Munah tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Mawar, dia hanya percaya pada Indah. Bu Munah terus memukuli Mawar tanpa ampun, seperti seekor binatang.
Melihat Mawar yang di pukuli oleh sang ibu hingga terluka, membuat Indah tersenyum puas.
"Rasakan kau Mawar, maka nya jangan berani - berani nya kau membantah perintah ku. Lihat lah akibat nya kalau kau berani pada ku!" Batin Indah sambil tersenyum puas.
Entah terbuat dari apa hati bu Munah yang begitu tega pada darah daging nya sendiri, tidak sedikit pun bu Munah merasa iba pada Mawar.
Mawar hanya bisa menangis dengan tubuh yang di penuhi oleh luka seperti luka campuran, rasa sakit di tubuh nya mengalah kan rasa sakit di hati nya.