"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."
Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.
Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.
Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kanvas Abu-Abu
Tiga bulan telah berlalu sejak Adinda Elizabeth berjalan keluar dari Rumah Sakit Medistra dengan membawa amplop putih berisi masa depannya.
Pagi ini, sinar matahari Jakarta terasa hangat menerobos masuk ke dalam apartemen lantai 30 yang kini sah menjadi miliknya. Unit itu luas, modern, dan aman. Tidak ada atap bocor, tidak ada preman yang menggedor pintu. Rekening banknya berisi angka fantastis dari pesangon William, cukup untuk menghidupinya selama bertahun-tahun tanpa bekerja.
Adinda berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia tidak lagi mengenakan setelan jas hitam kaku atau celana taktis. Tubuhnya kini dibalut kemeja flanel longgar yang lengan bajunya digulung, celana jeans belel yang nyaman, dan sepatu kets kanvas yang penuh bercak cat warna-warni.
"Aman," bisik Adinda pada pantulan dirinya. "Aku aman, William. Aku hidup normal. Tapi rasanya... sepi."
Adinda menyambar tabung gambar hitam dan tas ranselnya yang berisi kuas serta cat minyak. Sesuai dengan "perintah" William untuk kuliah, Adinda mendaftar. Namun, ia tidak memilih jurusan Bisnis atau Hukum seperti yang mungkin diharapkan banyak orang.
Ia memilih Seni Murni.
Kenapa? Karena selama sepuluh tahun hidup di jalanan, Adinda terbiasa mengamati. Ia mengamati gerak tubuh preman, mengamati bayangan di lorong gelap, mengamati ketakutan di wajah orang. Sekarang, ia ingin menuangkan pengamatannya itu ke atas kanvas, bukan ke dalam laporan keamanan.
Kampus Institut Kesenian itu riuh dan berantakan—dalam artian yang artistik. Mahasiswa berambut gondrong, berpakaian nyentrik, dan berbau rokok bercampur cat minyak memenuhi koridor.
Adinda berjalan di antara mereka seperti anomali. Jalannya tegap, matanya waspada, dan posturnya terlalu disiplin untuk seorang seniman. Ia selalu duduk di sudut studio, tempat yang strategis untuk melihat seluruh ruangan.
"Oke, semuanya. Hari ini temanya adalah 'Rindu'," suara Dosen Budi, pria paruh baya dengan kacamata tebal dan topi baret, menggema di studio lukis. "Jangan melukis orang menangis di stasiun. Itu klise. Lukiskan rasa-nya. Teksturnya. Baunya. Buat saya merasakan rindu itu tanpa melihat wajah orang yang dirindukan."
Adinda berdiri di depan kanvas putihnya. Rindu.
Tangannya yang biasa memegang pisau lipat atau pistol, kini memegang kuas besar. Ia mencelupkannya ke dalam cat warna abu-abu gelap, lalu hitam pekat, lalu sedikit merah marun.
Mahasiswa lain mulai melukis bunga layu, surat cinta, atau hujan.
Adinda tidak melukis itu. Kuasnya menari kasar di atas kanvas. Ia melukis sebuah punggung. Punggung bidang seorang pria yang mengenakan jas formal, berdiri di tengah badai yang abstrak. Punggung itu terlihat kokoh, namun sendirian. Di sekelilingnya, ada goresan-goresan tajam yang melambangkan bahaya, namun tidak ada yang menyentuh pria itu.
Kenapa? Karena ada bayangan transparan yang melingkupinya. Sebuah perisai yang tak terlihat, yang kini telah hancur berkeping-keping.
Adinda melukis dengan intensitas tinggi. Keringat muncul di pelipisnya. Ia tidak sadar bahwa ia menekan kuas terlalu keras hingga beberapa bulunya rontok dan menempel di kanvas, memberikan tekstur kasar yang nyata.
"Wow," sebuah suara menegur dari samping.
Adinda tersentak, refleks tangannya hampir menyikut orang itu. Ia menahan diri tepat waktu.
Di sampingnya berdiri Arthur, teman sekelasnya yang berambut ikal dan selalu memakai kemeja floral. Arthur sedang menatap lukisan Adinda dengan mata terbelalak.
"Gila. Intens banget, Din," komentar Arthur. "Itu... terasa sakit. Tapi gagah. Siapa modelnya?"
Adinda menatap lukisannya sendiri. Ia baru sadar bahwa ia telah melukis punggung William Bagaskara dengan detail yang menakutkan, meski hanya dari ingatan. Bahu tegap itu, postur tubuh yang sedikit condong ke depan karena beban pekerjaan... itu William.
"Bukan siapa-siapa," jawab Adinda datar, membersihkan kuasnya dengan kain lap. "Cuma imajinasi."
"Imajinasimu spesifik banget. Jas itu... potongannya mahal. Kayak jas CEO di majalah bisnis," Arthur terkekeh, lalu kembali ke lukisannya sendiri yang abstrak warna-warni.
Adinda terdiam. Hatinya mencelos. Bahkan dalam seni, ia tidak bisa lari dari bayang-bayang William.
Jam istirahat makan siang. Adinda duduk di kantin kampus yang bising, menyantap nasi goreng dengan gerakan efisien. Di dinding kantin, televisi menyiarkan berita siang.
"Saham Bagaskara Corp stabil pasca peluncuran drone pertahanan terbaru. Namun, publik jarang melihat kemunculan CEO William Bagaskara dalam sebulan terakhir. Rumor mengatakan beliau sedang sakit atau fokus bekerja dari balik layar."
Sendok Adinda terhenti di udara. Matanya terkunci pada layar TV.
Kamera menyorot gedung Menara Bagaskara. Tidak ada wawancara dengan William. Hanya juru bicara perusahaan yang memberikan keterangan.
"Dia tidak sakit," gumam Adinda pelan, menganalisis. "Dia menghindar. Dia mengisolasi diri."
Adinda tahu kebiasaan William. Jika pria itu stres berat atau sedih, dia akan mengubur dirinya dalam pekerjaan dan menghindari media. William tidak suka menunjukkan kelemahannya pada dunia.
"Apakah Bapak makan teratur?" batin Adinda bertanya-tanya. "Apakah asisten baru Bapak mengingatkan Bapak untuk tidak minum kopi setelah jam 6 sore?"
Rasa rindu itu datang lagi, lebih menyakitkan daripada pukulan fisik manapun. Adinda meremas tisu di tangannya. Ia memiliki segalanya sekarang: uang, apartemen, pendidikan. Tapi rasanya hampa. Ia seperti prajurit yang pensiun paksa dan kehilangan medan perangnya.
Adinda membuka buku sketsanya. Di sana, di antara tugas-tugas kuliah, terselip sketsa wajah William yang ia gambar diam-diam saat tidak bisa tidur. William yang tertawa saat makan sate. William yang panik saat di rumah sakit.
"Hoi, melamun aja!" Arthur tiba-tiba duduk di depannya, membawa es teh. "Nanti sore anak-anak mau ke pameran seni di Galeri Nasional. Ikut yuk? Biar lu ga kaku-kaku amat jadi orang. Sayang lho, cantik-cantik tapi serem."
Adinda menutup buku sketsanya cepat-cepat. "Nggak bisa, Thur. Gue ada... latihan."
"Latihan apa sih? Lu atlet?" tanya Arthur penasaran.
"Semacam itu."
Sore harinya, Adinda tidak pulang ke apartemen. Ia pergi ke sebuah galeri seni kecil di Jakarta Selatan yang sepi pengunjung. Bukan untuk melihat pameran, tapi untuk menyewa ruang studio privat di belakangnya.
Di sana, di ruangan yang berbau terpentin dan sunyi, Adinda melepaskan topeng "mahasiswa normal"-nya.
Ia mengambil kanvas terbesar yang ada. Ia tidak melukis dengan kuas kali ini. Ia menggunakan pisau palet.
Sret! Sret!
Ia menggoreskan cat merah, hitam, dan emas dengan gerakan cepat dan agresif. Seperti gerakan bela diri. Setiap goresan adalah pelampiasan emosi yang ia pendam.
Marah karena dipecat.
Sedih karena ditinggalkan.
Bangga karena pernah melindunginya.
Adinda melukis sampai tangannya pegal. Lukisan itu abstrak, kacau, tapi memiliki kekuatan yang magnetis. Di tengah kekacauan warna itu, samar-samar terlihat siluet seorang wanita yang berdiri tegak, memegang sesuatu yang bercahaya—sebuah janji.
"Bagus," suara seorang kurator galeri, Pak Surya, terdengar dari pintu. Pria tua itu mengamati karya Adinda dengan kacamata melorot.
Adinda berbalik, waspada. "Maaf, Pak. Saya akan bersihkan tumpahannya."
"Jangan," cegah Pak Surya. Ia berjalan mendekat. "Lukisanmu ini... jujur. Penuh amarah, tapi juga penuh cinta yang tertahan. Jarang saya lihat anak muda melukis dengan 'darah' seperti ini. Dosen Budi pasti bangga punya mahasiswa sepertimu."
Pak Surya menatap Adinda. "Kau punya bakat, Nak. Bukan bakat teknis yang rapi, tapi bakat emosional. Kalau kau teruskan, lukisan ini bisa bernilai tinggi."
Adinda menatap tangannya yang berlumuran cat merah—mirip darah, tapi bukan darah. Dulu, tangannya kotor karena bertarung di jalanan. Sekarang, tangannya kotor karena menciptakan sesuatu yang indah dari rasa sakitnya.
"Saya melukis bukan untuk dijual, Pak," jawab Adinda pelan. "Saya melukis supaya saya tidak gila karena merindukan seseorang yang tidak bisa saya miliki."
Pak Surya tersenyum bijak. "Itulah seni, Nak. Seni adalah cara kita bertahan hidup ketika logika sudah menyerah."
Adinda membersihkan tangannya. Ia melihat lukisannya sekali lagi.
William memintanya untuk hidup normal, untuk bahagia. Mungkin Adinda tidak bisa menjadi gadis kantoran biasa. Tapi mungkin, lewat seni, ia bisa menemukan cara baru untuk menjadi kuat.
Ia mengambil ponselnya, membuka galeri foto. Hanya ada satu foto William di sana—foto candid yang ia ambil diam-diam saat William tertidur di mobil.
"Tunggu saya, William," bisik Adinda. "Saya sedang membangun dunia baru saya. Dunia di mana saya bukan lagi bawahan atau bodyguard, tapi seorang wanita yang berdiri di atas kakinya sendiri. Dan suatu hari nanti, saya akan melukis wajah Bapak secara langsung, bukan dari ingatan."
Adinda keluar dari galeri itu saat matahari terbenam. Langkahnya ringan. Ia mungkin bukan lagi perisai fisik bagi William Bagaskara, tapi cintanya telah berubah wujud menjadi kekuatan yang mendorongnya untuk tumbuh, berkembang, dan bersinar di dunianya sendiri yang penuh warna.
Bersambung...
terimakasih