Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.
Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.
Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Sore hari Dian mengajak Naya keluar rumah sekadar mencari udara segar sekalian mengantar pesanan. Naya duduk manis di depan motor, memeluk erat pinggang ibunya. Baru beberapa langkah dari pagar, mereka kembali berpapasan dengan Bu Ningsih.
“Loh, Ian… kok nggak ke Batam?” tanya Bu Ningsih heran, menatap Dian dari ujung kepala sampai kaki.
Dian tersenyum tipis. “Nggak, Bu. Dian lagi banyak pesanan,” jawabnya pelan, berusaha terdengar biasa saja.
Bu Ningsih mengernyit, lalu mendecak kecil.
“Kok gitu? Ipar nikah bukannya hadir, malah jualan?”
Kalimat itu menusuk, meski diucapkan dengan nada seolah hanya bertanya. Dian menunduk sejenak, tangannya mengelus punggung Naya yang mulai gelisah.
“Iya, Bu,” jawab Dian singkat. “Dian nggak bisa ninggalin Naya, sama lagian ini juga rezeki.”
Bu Ningsih mengangguk-angguk, tapi sorot matanya jelas penuh tanda tanya.
“Oh… ya sudah,” ujarnya, meski wajahnya menunjukkan rasa penasaran yang belum terjawab.
Dian tak menambah penjelasan. Ia hanya tersenyum sopan, lalu menyalakan motor.
“Permisi ya, Bu. Dian mau antar pesanan dulu.”
Motor melaju perlahan meninggalkan Bu Ningsih yang masih berdiri di depan rumah, memandangi punggung Dian dengan berbagai prasangka di kepalanya.
Di balik helmnya, mata Dian terasa panas.
Bukan karena malu—
tapi karena lelah harus selalu menjadi pihak yang diam, disalahpahami, dan tak pernah dianggap penting.
Setelah semua pesanan diantar, Dian mengajak Naya berhenti di lapangan kecil dekat rumah. Deretan odong-odong warna-warni berputar pelan diiringi lagu anak-anak yang ceria.
“Mau naik yang ini, Bu!” seru Naya antusias sambil menunjuk odong-odong berbentuk kuda.
“Iya, naik ya,” jawab Dian, tersenyum sambil mengangkat Naya ke atas.
Naya tertawa riang. Tangannya melambai-lambai, matanya berbinar penuh kebahagiaan. Sesekali ia menoleh ke arah Dian, memastikan ibunya masih ada di sana. Dian membalas dengan senyum, meski rasanya begitu berat.
Di tengah suara musik dan tawa anak-anak lain, Dian justru merasa sunyi.
Dadanya sesak tanpa sebab yang jelas. Ada rasa gelisah, seolah hatinya sedang memperingatkan sesuatu. Pikirannya melayang—ke Andi yang tak mengabari, ke pesta pernikahan yang tak mengundangnya, ke sikap Bu Minah yang semakin menjauh. Semua menumpuk menjadi satu.
Dian menghela napas panjang.
Kenapa rasanya begini… batinnya.
Ia menatap Naya yang tertawa lepas, lalu menguatkan dirinya sendiri.
Setidaknya kamu bahagia, Nak. Itu sudah cukup buat ibu.
Namun jauh di dalam hatinya, Dian tahu—
perasaan tak karuan ini bukan tanpa alasan.
Seakan ada sesuatu yang sedang terjadi… tanpa sepengetahuannya.
“Nanti akan ku cari tahu semuanya…” batin Dian lirih.
Pandangan Dian kembali tertuju pada Naya yang masih tertawa riang di atas odong-odong. Anak itu begitu polos, tak tahu apa-apa tentang luka, kecewa, atau pengabaian orang dewasa. Hanya tahu satu hal—selama ibunya ada di dekatnya, dunia terasa aman.
Dian mengepalkan jemarinya perlahan.
Bukan karena marah, tapi karena tekad.
Ia lelah selalu menjadi pihak yang diam, yang disisihkan, yang dianggap tidak penting. Jika selama ini ia memilih sabar demi rumah tangga, kali ini ia ingin tahu kebenaran. Tentang sikap Andi. Tentang Tasya. Tentang pernikahan yang menyingkirkannya begitu saja.
Kalau memang ada yang disembunyikan, pikirnya, aku berhak tahu.
Odong-odong berhenti. Naya turun dan langsung memeluk kaki Dian.
“Ibu senyum,” pinta Naya polos.
Dian berjongkok, mengusap rambut anaknya, lalu tersenyum—kali ini lebih tulus, lebih kuat.
“Iya, Nak. Ibu senyum,” katanya lembut.
“Karena ibu harus kuat… buat Naya.”
Di dalam hatinya, Dian sudah berjanji pada dirinya sendiri:
ia tak akan lagi menutup mata.
Apa pun yang akan ia temukan nanti, ia akan menghadapinya—
dengan kepala tegak.
Setelah puas bermain, Dian mengajak Naya ke tempat jual lauk dan sayur. Pasar sore itu cukup ramai, aroma bumbu dan gorengan bercampur di udara. Dian sibuk memilih-milih sayur, ikan, dan beberapa bumbu dapur. Sesekali ia menoleh ke arah Naya yang masih ia gendong.
Tak disangka, kepala kecil itu sudah terkulai.
Naya tertidur pulas, napasnya teratur, wajahnya terlihat begitu tenang.
Dian tersenyum tipis. Rasa lelah seharian seakan luruh melihat anaknya bisa tidur senyenyak itu. Ia merapatkan gendongan, lalu melanjutkan belanja dengan hati-hati agar Naya tak terbangun.
Sebelum pulang, Dian mampir membeli sate dan ayam goreng.
“Pesan itu aja, Bu,” ujarnya pelan.
Ia tahu, nanti kalau Naya terbangun dan minta makan, setidaknya sudah ada makanan kesukaannya. Dian mengusap kepala Naya lembut, jempolnya membelai rambut halus itu.
“Istirahat yang nyenyak ya, Nak,” bisiknya penuh sayang.
“Selama ibu masih berdiri, kamu enggak akan kekurangan apa pun.”
Dengan kantong belanja di tangan dan Naya terlelap di gendongan, Dian melangkah pulang—perlahan, tapi penuh tekad.
Sesampainya di rumah, Dian merebahkan Naya perlahan di kasur. Ia memastikan selimut menutup tubuh kecil itu dengan rapi, lalu mencium keningnya sebentar sebelum menutup pintu kamar.
Dian menuju dapur, membuka freezer, lalu mengecek satu per satu stok dagangannya. Cilok dan cireng masih ada, saus pun masih cukup untuk beberapa hari ke depan. Tangannya berhenti sejenak, matanya menerawang.
“Mulai minggu depan coba ganti menu aja kali ya…” gumamnya pelan.
“Udah lama juga enggak buat epok-epok isi keledek.”
Ada rasa rindu pada masa-masa awal ia berjualan dulu—saat epok-epok buatannya selalu cepat habis, pelanggan sampai menunggu. Dian tersenyum kecil, muncul semangat baru di dadanya.
Ia mengambil ponsel, mencatat di aplikasi catatan.
“Pelan-pelan, Dian,” katanya pada diri sendiri sambil menutup freezer.
“Kamu masih bisa bangkit. Bukan buat siapa-siapa… buat kamu dan Naya.”
Dian kembali masuk kamar. Ia mengganti baju dengan gerakan pelan, hampir tanpa suara, agar tak membangunkan Naya. Kaos rumah yang mulai memudar warnanya kembali ia kenakan, sederhana, seperti hidup yang sedang ia jalani.
Di depan cermin kecil, Dian berhenti sejenak. Matanya menatap pantulan dirinya sendiri—lelah, tapi masih ada tekad yang belum padam. Ia tahu, ia tak bisa terus bergantung pada gaji Andi. Apalagi sekarang, semuanya dipegang mertuanya. Nafkah datang tak menentu, keputusan bukan lagi di tangannya.
“Kalau aku enggak kuat berdiri sendiri, siapa lagi?” batinnya lirih.
Dian duduk di tepi kasur, menatap Naya yang tidur pulas sambil memeluk boneka kecilnya. Ada perasaan perih, tapi juga kekuatan yang aneh—seolah dari tubuh kecil itulah ia belajar bertahan.
Pelan-pelan, Dian mengambil ponsel dan membuka catatan keuangannya. Ia menghitung ulang: hasil jualan, sisa tabungan, rekening baru yang belum lama ia buat. Tidak banyak, tapi cukup untuk memulai lagi. Pelan, tanpa ribut, tanpa harus minta izin siapa pun.
“Aku enggak minta kaya,” gumamnya.
“Asal cukup, halal, dan aku enggak perlu menunduk ke siapa-siapa lagi.”
Ia berbaring di samping Naya, menarik selimut, lalu memejamkan mata. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Dian tidur bukan dengan rasa takut—melainkan dengan rencana.