Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Aroma parfum yang familiar
Aroma parfum yang familiar ini seolah menjadi pertanda bahwa badai besar akan segera datang menerjang hidupnya sekali lagi. Anindira mematung di samping kursi pimpinan dengan tangan yang masih memegang erat map laporan. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia merasa bisa mendengar suaranya sendiri di tengah keheningan ruang rapat yang sangat luas itu.
Pintu terbuka lebar dan menampakkan sosok Sarah yang berjalan dengan langkah yang sangat angkuh dan penuh dengan rasa percaya diri. Gaun merah yang ia kenakan nampak sangat mencolok di bawah lampu kristal yang bersinar sangat terang. Sarah berhenti tepat di depan Anindira sambil melepaskan kacamata hitamnya dengan gerakan yang sangat sengaja untuk memamerkan riasannya.
"Siapa kamu dan mengapa kamu berani sekali berdiri di tempat yang seharusnya menjadi milik asisten pribadi ayahku?" tanya Sarah dengan nada bicara yang sangat tajam.
"Nama saya Dira, Nona, saya adalah asisten baru yang ditunjuk langsung oleh Tuan Devan untuk membantu keperluan administrasi beliau," jawab Anindira sambil menundukkan kepala sedalam mungkin.
Sarah menyipitkan matanya sambil melangkah maju hingga jarak di antara mereka berdua hanya tersisa beberapa jengkal saja. Ia menghirup udara di sekitar Anindira seolah sedang mencari sesuatu yang salah dari kehadiran wanita di hadapannya tersebut. Anindira meremas ujung roknya hingga kain itu menjadi sangat kusut karena ia sedang menahan rasa takut yang luar biasa.
"Suaramu terdengar sangat menjijikkan di telingaku, seolah aku pernah mendengar nada bicara yang sama dari orang yang sangat aku benci," gumam Sarah sambil memutar posisi berdirinya.
"Mungkin itu hanya perasaan Nona saja, karena saya baru pertama kali ini menginjakkan kaki di gedung pusat yang sangat megah ini," sahut Anindira dengan suara yang sedikit bergetar.
Anindira berusaha tetap bersikap tenang meski setiap sel di dalam tubuhnya memerintahkannya untuk segera lari menjauh. Ia tahu bahwa satu kecurigaan kecil dari Sarah bisa menghancurkan seluruh rencana besar yang sudah ia susun bersama Devan. Beruntung bagi Anindira, perhatian Sarah segera teralih saat pintu ruangan kembali terbuka dan menampakkan sosok Devan Adiguna yang nampak sangat berwibawa.
Devan masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang sangat cepat dan aura kepemimpinan yang sangat dominan. Ia sama sekali tidak memberikan senyuman kepada Sarah meski wanita itu merupakan sepupunya sendiri di dalam silsilah keluarga besar Adiguna. Pria itu langsung duduk di kursi utama dan menatap tumpukan berkas yang sudah disiapkan oleh Anindira dengan sangat teliti.
"Sarah, apa yang kamu lakukan di ruangan saya sebelum jam rapat dimulai?" tanya Devan dengan nada suara yang sangat dingin.
"Aku hanya ingin melihat asisten baru yang sedang menjadi bahan pembicaraan di seluruh departemen, Devan," jawab Sarah sambil duduk di kursi seberang dengan gaya yang sangat santai.
Devan tidak membalas ucapan tersebut dan justru memberikan isyarat kepada Anindira untuk segera membawakan kopi hitam ke mejanya. Anindira segera melangkah menuju pojok ruangan tempat mesin pembuat kopi berada dengan perasaan yang sedikit lebih lega. Ia merasa sedikit terlindungi oleh kehadiran Devan yang nampak tidak menyukai campur tangan Sarah dalam urusan pribadinya.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan sementara karena pintu ruangan rapat kembali terbuka untuk menyambut kedatangan para petinggi perusahaan lainnya. Satu per satu pria paruh baya dengan setelan jas mahal mulai memasuki ruangan sambil membawa aura persaingan yang sangat kental. Di antara mereka, Anindira melihat ayahnya sendiri sedang berjalan perlahan dengan tongkat kayu yang ujungnya dilapisi emas murni.
"Selamat pagi semuanya, mari kita segera mulai agenda hari ini karena waktu adalah aset yang paling berharga bagi kita semua," ujar sang ayah dengan suara parau yang masih memiliki wibawa besar.
Anindira berdiri di pojok ruangan sambil mencatat setiap poin pembicaraan yang disampaikan oleh para peserta rapat tersebut. Ia melihat bagaimana Devan dengan cerdik memojokkan beberapa direktur yang diduga melakukan penggelapan dana proyek di pinggiran kota. Setiap argumen yang dikeluarkan oleh Devan nampak sangat mematikan dan tidak menyisakan ruang bagi lawan bicaranya untuk membela diri.
Rapat berlangsung selama tiga jam yang sangat menyiksa bagi Anindira karena ia harus terus menghindari kontak mata dengan ayahnya sendiri. Sesekali ia merasa tatapan ayahnya menyapu ke arahnya, namun kacamata tebal yang ia kenakan berhasil menjadi tameng yang cukup efektif. Ia merasa seolah sedang berjalan di atas seutas tali yang sangat tipis di atas jurang yang penuh dengan api yang berkobar.
"Pertemuan hari ini selesai, dan saya harap laporan pertanggungjawaban dana tersebut sudah ada di meja saya besok pagi," tegas Devan sambil menutup mapnya.
Seluruh peserta rapat mulai meninggalkan ruangan dengan wajah yang nampak sangat tegang dan penuh dengan beban pikiran. Sarah sempat memberikan satu tatapan penuh selidik terakhir kepada Anindira sebelum akhirnya ia mengekor di belakang ayahnya keluar ruangan. Anindira segera menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya pada dinding yang terasa sangat dingin bagi punggungnya yang berkeringat.
"Anda melakukan tugas dengan sangat baik hari ini, tetaplah waspada karena permainan yang sesungguhnya baru saja akan dimulai," bisik Devan sambil merapikan letak dasinya.
"Terima kasih, Tuan, saya akan segera merapikan kembali ruangan ini agar bisa digunakan untuk keperluan selanjutnya," balas Anindira dengan nada yang sangat lelah.
Devan meninggalkan ruangan dan menyisakan Anindira sendirian di tengah kemewahan yang terasa sangat hampa tersebut. Ia mulai membereskan gelas-gelas kotor dan sisa kertas yang berserakan di atas meja kayu jati yang sangat panjang itu. Pikirannya melayang pada Arkan yang mungkin sekarang sedang belajar menghitung bersama Bibi Mirna di rumah petak mereka yang sangat sempit.
Saat Anindira hendak membawa nampan berisi gelas kotor menuju pantri, ia melihat sebuah benda kecil tertinggal di bawah kursi yang tadi diduduki oleh ayahnya. Benda itu adalah sebuah pemantik api perak yang sangat ia kenali karena itu adalah pemberian mendiang ibunya sebagai hadiah ulang tahun pernikahan. Ia memungut benda itu dengan tangan yang gemetar hebat karena kenangan masa lalu mendadak menyerbu otaknya.
Tanpa ia sadari, pintu ruangan kembali terbuka perlahan dan menampakkan sosok pria yang sangat ia takuti kekejamannya. Ayahnya kembali ke dalam ruangan dengan wajah yang nampak sangat curiga karena melihat asisten asisten pribadi Devan sedang memegang barang miliknya. Tugas pertama yang mustahil kini harus ia hadapi saat ia dipaksa untuk menjelaskan mengapa benda pribadi ayahnya berada di tangannya.