Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.
Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.
Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.
Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Menukar dengan pedang
"Nona Ye," ucap Bibi Lan membangunkan lamunanku.
"Ya Bibi, ada apa?" tanyaku.
"Sebelum pergi, nona muda Huang ingin bertemu dengan anda," jawab Bibi Lan.
"Nona muda ingin bertemu denganku?" tanyaku sambil menunjuk hidungku sendiri.
"Ya Nona," balas Bibi Lan.
"Baiklah," balasku menurut dan meneguk habis obat pahit ditanganku sebelum mengikuti langkah Bibi Lan.
Setibanya di kamar putri perdana menteri, aku menatap seorang wanita duduk diatas ranjangnya yang menatap kearahku dengan senyum diwajahnya.
Dia sangat cantik, begitu pujiku dalam hati. Berbeda sekali saat terakhir kemarin aku lihat saat dia masih berbaring diatas kasur, wajah wanita itu sangatlah pucat dan nampak berantakan.
Namun kali ini aku melihatnya sungguh berbeda, penampilannya benar-benar anggun dan terlihat segar nan mempesona.
"Salam hormat hamba pada putri," salamku hormat.
"Duduklah," jawabnya menyuruh aku agar duduk di dekatnya.
"Baik putri," balasku menurut.
"Jadi kau adalah Qiuye (musim gugur) putri Tabib Lan?" tanya Nona muda Huang.
"Benar Putri," jawabku singkat.
Nona muda Huang menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala lalu bertanya dan aku mengikuti kemana matanya menatapku. "Apakah penampilanmu selalu begini? Maksudku, apa kau selalu memakai penutup kepala?" tanyanya ingin tahu.
"Iya Putri," ucapku sambil memegang topi kain seperti kupluk.
"Tapi kenapa?"
"Itu karena aku adalah seorang tabib wanita, jadi aku harus selalu memakai penutup kepala ini agar tidak ada rambutku yang jatuh ke dalam obat," jawabku beralasan. Ya sebenarnya agar tidak ada orang lain yang tahu warna asli rambutku saja.
"Oh begitu," balas Nona muda Huang.
"Ya begitulah Putri."
"Qiuye ... Jangan panggil aku putri, panggil saja aku Yao Er," sarannya agar lebih akrab.
"Hm.." pikirku. "Begini saja Putri, bagaimana kalau hamba memanggil anda Nona muda Huang atau Nona Huang saja, bagaimana?" sambungku memastikan dengan bertanya terlebih dahulu. Karena bagiku, memanggil nama putri pejabat secara langsung bisa saja berujung bencana.
Salah satunya dimarahi oleh Ayah, karena menganggap aku ini tidak sopan.
Nona muda Huang terkekeh kecil, "Baiklah, terserah kau saja. Oh iya, berapa umurmu? Kamu masih terlihat sangat muda," tanyanya kemudian.
"Hamba masih berusia lima belas tahun," jawabku.
"Lima belas tahun? Sungguh luar biasa sekali, aku tidak menyangka diusiamu yang masih sangat muda ini kau sudah mahir meramu obat bahkan membantu Ayahmu mengobati orang yang sakit," pujinya.
"Anda terlalu memuji Nona muda Huang, sebenarnya hamba masih harus banyak belajar," jawabku merendah.
"Kau begitu rendah hati, pantas saja ayah dan ibuku begitu memujimu," balas Nona muda Huang.
"Ah tidak juga," balasku tersipu malu.
"Oh iya, aku punya sebuah hadiah untukmu. Ini memang sengaja ku siapkan untukmu karena telah membantu merawatku," ucap Nona muda Huang menyerahkan sebuah kotak dan memberikannya kepada Bibi Lan. "Berikan ini padanya," titahnya kemudian.
"Baik Nona," balas Bibi Lan patuh.
Aku menerima pemberian hadiah dari Nona muda Huang, sebuah kotak dari kayu jati berwarna coklat tua bercorak ukiran naga dan juga burung phoenix.
"Apa ini Nona muda?" tanyaku sedikit penasaran.
"Buka saja dan aku harap kau menyukainya," balas Nona muda Huang.
Aku membuka kotak hadiah tersebut tanpa ragu dan terkesima dengan isi didalamnya, sebuah Zan (tusuk rambut tunggal) yang sangat indah.
"Ini indah sekali," pujiku berbinar-binar.
"Bagaimana? Apa kau suka?"
"Aku suka, ini bagus sekali!" seruku senang.
"Kalau begitu pakailah, biar Bibi Lan membantu memakaikannya di rambutmu."
Seketika aku menarik senyumku dan menggeleng, karena ia ingat akan janjinya kepada Ayah dan Ibu untuk tidak menunjukkan rambutnya kepada orang lain.
"Tidak perlu Nona muda, karena menurutku Zan ini sangat berharga bagiku dan aku takut kalau memakai ini akan merusaknya. Jadi aku memilih untuk menyimpannya saja," balasku beralasan.
"Begitukah? Baiklah, terserah kau saja."
"Terima kasih Nona," balasku.
"Katanya kau senang dengan hadiah pemberianku, lantas kenapa wajahmu tiba-tiba saja murung?" tanyanya padaku yang tidak-tiba terdiam.
"Maafkan hamba Nona muda, bolehkah hamba mengganti hadiah ini dengan hadiah yang lain?" tanyaku meminta ijin.
"Kenapa? Apa Zan ini tidak sesuai dengan keinginanmu? Apa kau tidak menyukainya?" tanyanya ingin tahu.
"Aku sangat suka, tapi setelah aku pikir-pikir aku lebih membutuhkan hadiah lain daripada Zan ini," balasku.
"Kau ingin hadiah lain, lalu hadiah apa yang kau inginkan?"
"Maaf kalau hamba lancang, tapi bolehkah Nona muda Huang menghadiahi saya sebilah pedang? Maaf kalau permintaanku sedikit aneh dan merepotkanmu, tapi setelah mempertimbangkannya kembali aku ingin menukar hadiah ini dengan pedang karena sepertinya aku lebih membutuhkan benda itu daripada perhiasan ini."
Tatapan Nona muda Huang seketika berubah serius. "Pedang bukan lah sebuah mainan, pedang juga bukan sesuatu yang bisa kau dapatkan dengan mudah. Walaupun keluarga Huang terkenal akan seni bela diri pedang dan juga pembuat pedang terkemuka berasal dari keluarga Huang. Akan tetapi kami tidak bisa memberikannya begitu saja kepada orang lain yang belum dinyatakan pantas atau layak menggunakan pedang, selain itu orang tersebut haruslah mampu dan sanggup bertanggung jawab saat menggunakan."
"Jadi Nona Qiuye, maaf aku tidak bisa memenuhi permintaanmu ini. Karena kau harus layak terlebih dahulu sebelum memilikinya. Selain itu pedang yang bagus bukanlah pedang yang cuma kau beli dari toko atau pedang gratisan yang didapatkan dari orang lain secara cuma-cuma, akan tetapi pedang yang bagus adalah pedang yang mampu memenuhi semua karakter, jati diri dan juga takdirmu."
"Dan satu hal lagi, pedang memiliki dua sisi. Sisi pertama dia bisa menjadi senjata yang mampu melindungi diri sendiri maupun orang lain, akan tetapi disisi lain pedang juga bisa menjadi senjata mematikan yang melukai orang lain dan juga pemiliknya! Apa kau sudah paham Nona Qiuye?" tutur Nona Muda Huang menjelaskan.
"Baik Nona muda, hamba sudah paham." Aku tertunduk lesu dan menggenggam erat kotak kayu pemberian nona muda.
"Baguslah kalau kau sudah paham," balas Nona muda Huang. "Bibi Lan tolong antar Nona Qiuye," ucapnya kemudian.
"Baik Nona," patuh Bibi Lan. "Mari Nona Qiuye," ucapnya padaku.
"Baik, tapi tunggu sebentar." Aku menolak keluar dari kamar Nona muda Huang. "Nona, bagaimana caranya aku bisa mendapatkan pedang? Maksudku, bagaimana caranya agar aku layak memilikinya?"
"Kamu begitu serius ingin memilikinya, kalau begitu minta ijin-lah dulu pada ayahmu. Kalau ayahmu mengijinkan, maka aku akan mengijinkanmu memegang sebilah pedang, bahkan aku akan memberikannya padamu secara cuma-cuma," jawab Nona muda Huang memberi tantangan.
Sebuah tantangan yang membuat mulutku seketika bungkam.
Meminta ijin pada ayah? Bagaimana mungkin. Ayah menginginkanku mewarisi ilmunya, ilmu pengobatan agar aku bisa menjadi tabib sepertinya.
"Bagaimana? Kenapa mendadak diam? Apa kau takut pada ayahmu? Kalau hal sekecil ini saja kau sudah takut, maka jangan berharap lebih daripada itu.
"A-aku memang tidak berani, tapi bukankah masih banyak cara lain. Berikan aku cara yang lain saja Nona muda Huang," ucapku bersikukuh.
"Nona Qiuye, mohon anda jangan keras kepala dan mempersulit Nona muda kami," potong Bibi Lan menyudahi.
"Tidak apa Bibi, aku hargai semangatnya itu. Karena dia bersikeras ingin mendapatkan pedang, maka aku akan memberikannya," ucap Nona Muda Huang.
"Nona, jika anda memberikan Nona Qiuye pedang dan bagaimana jika terjadi sesuatu nantinya? Anda akan jadi orang pertama yang akan menanggung akibatnya," nasehat Bibi Lan khawatir.
"Tidak apa Bibi, aku akan tetap memberikannya. Tapi dengan satu syarat dan kau harus menyanggupinya," ucap Nona muda Huang
...Bersambung....