NovelToon NovelToon
Love In The Palace

Love In The Palace

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Fantasi Timur
Popularitas:233
Nilai: 5
Nama Author: naura hasna

Terlempar ke dunia yang sama sekali berbeda, gadis itu harus bertahan hidup sebagai pelayan di istana kerajaan. Takdir mempertemukannya dengan sang Raja—pemimpin yang tampak dingin namun menyimpan hati yang tersembunyi. Di antara aturan ketat dan rahasia istana, cinta tumbuh melampaui batas dunia dan kedudukan. Sebuah kisah bahwa cinta sejati tak pernah memandang siapa dirimu, melainkan hatimu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naura hasna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35: Rumah yang Selalu Menunggu

BAB 35

Judul: Rumah yang Selalu Menunggu

Perjalanan pulang dari wilayah perbatasan terasa lebih ringan dibandingkan saat berangkat. Beban kekhawatiran yang sempat menghantui hati Valerius dan Elara perlahan tergantikan oleh rasa lega dan kepuasan, mengetahui bahwa mereka telah meninggalkan sesuatu yang bermanfaat di tempat itu. Meski perjalanan masih memakan waktu tiga hari, kebersamaan mereka membuat waktu terasa berjalan lebih cepat dan menyenangkan.

Sesampainya di gerbang ibu kota, mereka disambut dengan sukacita oleh para pejabat dan warga yang sudah menunggu. Kabar tentang keberhasilan penanganan kemarau dan kehadiran langsung Raja serta Ratu di tengah rakyat telah menyebar luas, menambah rasa hormat dan kepercayaan yang semakin kuat di hati seluruh penduduk kerajaan. Namun bagi Valerius dan Elara, tujuan utama mereka bukanlah pujian atau sambutan megah—melainkan segera kembali ke rumah dan memeluk putra tercinta mereka, Arkan.

Begitu tiba di dalam istana, mereka langsung menuju ruang keluarga tanpa berhenti sebentar untuk berganti pakaian resmi. Di sana, pengasuh membawa Arkan yang sudah berjalan dengan langkah kecilnya yang masih goyah. Begitu melihat kedua orang tuanya, wajah anak itu segera berseri-seri, lalu berlari secepat yang ia bisa sambil berteriak panggilan yang sudah ia hafal: “Ayah… Ibu…”

Valerius segera berjongkok dan mengangkat tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, memeluknya erat seolah tak ingin melepaskannya lagi. Elara berdiri di sampingnya, membelai rambut halus Arkan dengan air mata bahagia yang menetes di pipinya.

“Anak Ayah… sudah tumbuh lebih besar dan lebih kuat,” bisik Valerius sambil mencium pipi dan kening putranya berkali-kali. “Ayah dan Ibu sangat merindukanmu.”

Arkan tertawa riang, lalu memeluk leher ayahnya erat-erat, sebelum menoleh dan merentangkan tangannya ke arah Elara. “Ibu… rindu Ibu…”

Elara segera memeluk mereka berdua, menyatukan ketiga tubuh itu dalam satu pelukan hangat. “Ibu juga sangat merindukanmu, Nak. Sekarang kita sudah berkumpul kembali, tidak ada yang akan memisahkan kita lagi.”

Selama beberapa jam berikutnya, mereka melupakan segala urusan negara, laporan, dan aturan. Mereka hanya menghabiskan waktu bermain bersama Arkan: mengajaknya berjalan di taman, membacakan cerita, hingga mengajari anak itu mengucapkan kata-kata baru yang sederhana. Di saat-saat seperti inilah Valerius dan Elara merasa paling lengkap dan damai—bukan sebagai Raja dan Ratu, melainkan sebagai ayah dan ibu yang menikmati kebahagiaan sederhana namun paling berharga.

Malam itu, setelah Arkan terlelap tidur dengan tenang di buaiannya, suasana di ruang pribadi menjadi sunyi dan hangat. Lampu-lampu diterangi dengan cahaya redup yang lembut, menciptakan suasana yang akrab dan menenangkan. Elara duduk di depan meja rias, melepaskan hiasan rambut dan kalung yang dikenakannya seharian, sementara Valerius berdiri di belakangnya, memandangi bayangan istrinya di cermin dengan tatapan yang penuh kekaguman.

Ia melangkah mendekat, lalu meletakkan kedua tangannya di bahu Elara, mulai memijatnya perlahan untuk melepaskan sisa kelelahan dari perjalanan dan kesibukan hari itu. Sentuhannya lembut namun pasti, membawa rasa nyaman yang segera menjalar ke seluruh tubuh Elara.

“Terima kasih sudah kembali sehat dan selamat,” bisik Valerius tepat di telinga istrinya, membuat bulu kuduk Elara meremang karena rasa hangat yang terasa menyelimuti hatinya. “Tanpamu, rumah ini terasa sepi dan tidak lengkap.”

Elara menoleh ke belakang, menatap wajah suaminya yang terlihat lebih tenang dan santai setelah melewati masa-masa sulit itu. Ia mengangkat tangannya, meletakkan di atas tangan Valerius yang masih memijat bahunya.

“Kita sudah melewatinya bersama, bukan?” jawabnya dengan senyum lembut. “Setiap tantangan yang datang justru membuat kita semakin dekat dan semakin paham satu sama lain. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjalani semuanya sendirian.”

Valerius memutar tubuh Elara agar sepenuhnya menghadapnya, lalu menatap matanya dalam-dalam. Di sana ia melihat ketulusan, kebijaksanaan, dan cinta yang tidak pernah berkurang meski waktu terus berlalu dan kedudukan semakin tinggi.

“Kau tahu apa yang sering aku pikirkan saat kita sedang jauh?” tanya Valerius dengan suara yang lebih pelan dan lembut. “Aku teringat pada hari-hari pertama kita bertemu. Saat kau hanya seorang gadis yang rajin membaca dan merawat buku-buku tua di perpustakaan, tanpa gelar, tanpa kekuasaan, namun sudah memiliki hati yang jauh lebih mulia daripada banyak orang yang menyandang kedudukan tinggi.”

Ia mengangkat satu tangannya, menyentuh lembut pipi Elara, lalu menyapu rambut yang jatuh menutupi wajah istrinya.

“Kau tidak berubah sedikit pun, Elara. Masih sama wanita yang membuatku jatuh cinta, yang membuatku percaya bahwa kebahagiaan tidak harus datang dari kekuasaan atau harta, tapi dari kebersamaan dan hati yang saling melengkapi.”

Mendengar kata-kata itu, hati Elara terasa penuh dan hangat hingga matanya berkaca-kaca. Ia meletakkan kedua tangannya di dada bidang suaminya, merasakan detak jantung yang teratur dan menenangkan itu.

“Dan kau juga tidak berubah, Valerius,” jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi. “Masih sama pria yang berani melawan pendapat umum demi cinta, yang memerintah dengan hati, dan yang selalu menjadi tempat aku pulang kapan pun aku merasa lelah atau ragu.”

Tanpa menunggu kata-kata lagi, Valerius menundukkan kepalanya perlahan, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang lembut, dalam, dan penuh makna. Ciuman itu membawa semua rasa rindu yang menumpuk selama perjalanan, rasa syukur karena bisa kembali bersama, dan janji bahwa ikatan mereka akan tetap terjaga selamanya. Tidak ada tergesa-gesa, hanya perasaan yang mengalir alami, seolah menyatu dengan detak jantung mereka masing-masing.

Valerius melingkarkan lengannya erat di pinggang Elara, menarik tubuh wanita itu mendekat hingga tidak ada lagi ruang yang terpisah di antara mereka. Elara membalas pelukan itu dengan sepenuh hati, melingkarkan lengannya di leher suaminya, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan dan keamanan yang hanya bisa ia rasakan di dalam pelukan Valerius. Ciuman itu semakin dalam dan hangat, menjadi jembatan yang menyatukan kembali hati dan jiwa mereka setelah terpisah sementara waktu.

Beberapa saat kemudian, mereka baru melepaskan ciuman itu perlahan, napas mereka terengah namun terasa sangat damai dan tenang. Valerius menempelkan dahinya pada dahi Elara, memandang matanya dengan pandangan yang penuh cinta dan janji.

“Mulai besok, kita akan kembali menjalankan tugas kita,” bisiknya. “Tapi mulai sekarang, kita juga akan menjaga waktu untuk keluarga lebih ketat. Tidak ada lagi perjalanan yang terlalu lama tanpa kebutuhan mendesak, tidak ada lagi pekerjaan yang mengambil seluruh waktu kita. Kita harus menjaga rumah ini, karena di sinilah kekuatan kita sebenarnya.”

Elara mengangguk mantap, tersenyum lega mendengar keputusan itu. “Aku setuju. Rumah dan keluarga adalah akar dari segala yang kita bangun. Jika akarnya kuat, maka pohon dan buahnya pun akan tumbuh dengan baik.”

Mereka berjalan berdampingan menuju tempat tidur, lalu berbaring berdekatan, memeluk satu sama lain di bawah selimut yang hangat. Dari sisi tempat tidur, mereka bisa melihat Arkan yang terlelap tidur dengan tenang, menjadi bukti nyata dari cinta dan perjuangan yang telah mereka lalui.

“Kita sudah melewati banyak hal selama ini,” ucap Valerius pelan sambil membelai punggung Elara dengan lembut. “Dari keraguan, tantangan, fitnah, hingga ujian yang menguji ketahanan kita. Namun kita tetap berdiri tegak, bahkan semakin kuat dari sebelumnya.”

“Dan perjalanan ini belum selesai,” jawab Elara lembut, menyandarkan kepalanya di dada suaminya sambil mendengarkan detak jantungnya. “Masih banyak hal yang harus kita perbaiki, masih banyak kebaikan yang harus kita sebarkan. Tapi selama kita berjalan bersama, tidak ada yang tidak bisa kita capai.”

Valerius mencium puncak kepala istrinya, lalu memeluknya lebih erat. “Benar. Selama kita saling mencintai, saling percaya, dan saling mendukung, maka takhta ini, kerajaan ini, dan masa depan kita akan selalu aman dan penuh keberkahan.”

Di dalam keheningan malam yang tenang itu, dikelilingi oleh kehangatan cinta dan kehadiran keluarga tercinta, Valerius dan Elara merasakan bahwa mereka telah menemukan makna sejati dari hidup dan kekuasaan. Bukan untuk menjadi yang terkuat atau yang paling dihormati, melainkan untuk menjadi pemimpin yang baik, pasangan yang setia, dan orang tua yang teladan—menjalani setiap hari dengan hati yang tulus, dan menjadikan cinta sebagai panduan dalam setiap langkah yang mereka ambil.

Malam itu menjadi awal dari babak baru yang lebih tenang namun tetap penuh makna, di mana keseimbangan antara tugas negara dan kehidupan pribadi terjaga dengan sempurna, dan di mana rumah mereka selalu menjadi tempat yang hangat dan menunggu untuk mereka pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!