Pacar Palsu, Jodoh Asli
Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Undangan dari Bayangan
Tidak ada seorang pun yang berbicara selama beberapa detik.
Empat pasang mata tertuju pada layar ponsel Reynard.
Pesan itu masih terpampang jelas.
JIKA KALIAN INGIN MENEMUKAN DIMAS, DATANG SENDIRI.
Di bawahnya, koordinat yang sama.
Koordinat yang dikirim Dimas sebelum menghilang.
Koordinat yang selama tiga tahun menjadi jalan buntu.
Dan kini, tiba-tiba muncul kembali.
"Ini jebakan."
kata Pradipta tanpa ragu.
Arman mengangguk.
"Besar kemungkinan."
Almira masih menatap layar.
Pikirannya berputar cepat.
Terlalu cepat.
Karena ada satu hal yang mengganggunya.
Jika ini jebakan, kenapa sekarang?
Kenapa setelah sekian lama?
Kenapa tepat ketika mereka mulai menemukan lebih banyak jawaban?
"Atau seseorang ingin bicara."
kata Reynard.
Semua orang menoleh kepadanya.
"Kenapa kamu berpikir begitu?"
tanya Arman.
"Karena kalau mereka ingin menghentikan kita, mereka tidak perlu mengirim pesan."
jawab Reynard.
"Mereka bisa tetap bersembunyi."
Tidak ada yang langsung membantah.
Karena logika itu masuk akal.
Pradipta berjalan ke arah jendela.
Tatapannya mengarah ke taman belakang.
Namun jelas pikirannya sedang berada jauh di tempat lain.
"Aku tidak suka kemungkinan mana pun."
katanya.
"Baik jebakan maupun undangan."
Almira setuju.
Untuk pertama kalinya dalam penyelidikan ini, mereka menerima kontak langsung dari seseorang di pihak lain.
Bukan ancaman anonim.
Bukan petunjuk tersembunyi.
Melainkan pesan yang jelas.
Seseorang sedang mencoba berkomunikasi.
"Lokasinya di mana?"
tanya Almira.
Arman mengambil ponsel dan memasukkan koordinat tersebut ke sistem peta.
Beberapa detik kemudian titik lokasi muncul.
Dan ekspresinya langsung berubah.
"Kenapa?"
tanya Reynard.
Arman memutar layar ke arah mereka.
"Karena tempat ini..."
Ia berhenti sejenak.
"...adalah gudang tua."
"Gudang?"
ulang Almira.
Lokasi tersebut berada di kawasan industri lama di pinggiran Jakarta.
Daerah yang dulu ramai.
Namun sebagian besar bangunannya kini sudah kosong.
Beberapa telah ditinggalkan.
Sebagian lainnya menunggu dihancurkan.
"Tidak terdengar mencurigakan sama sekali."
gumam Almira.
"Katanya dengan nada paling mencurigakan yang pernah kudengar."
balas Reynard.
Biasanya Almira akan membalas.
Namun kali ini ia terlalu fokus memikirkan kemungkinan yang ada.
Jika seseorang ingin bertemu tanpa menarik perhatian, gudang kosong memang tempat yang ideal.
Namun jika seseorang ingin menjebak mereka...
Itu juga tempat yang ideal.
"Bagaimanapun juga, kalian tidak akan pergi."
kata Pradipta tegas.
Almira langsung menoleh.
"Ayah—"
"Tidak."
potong Pradipta.
"Kali ini tidak."
Nada suaranya jarang seperti itu.
Keras.
Tegas.
Tidak memberi ruang untuk debat.
Dan justru itulah yang membuat Almira semakin yakin bahwa ayahnya benar-benar takut.
"Kami sudah kehilangan jejak Dimas."
lanjut Pradipta.
"Aku tidak akan mengambil risiko kehilangan kalian juga."
Ruangan kembali sunyi.
Namun Reynard perlahan menyandarkan tubuh ke kursi.
Kemudian berkata,
"Kalau kita tidak datang, kita mungkin kehilangan satu-satunya kesempatan menemukan apa yang terjadi pada Dimas."
Tidak ada yang bisa membantah itu.
Karena mereka semua tahu betapa sedikitnya petunjuk yang dimiliki.
Dan sekarang, untuk pertama kalinya, sebuah pintu terbuka.
Meski mungkin di balik pintu itu ada bahaya.
Pertemuan berakhir tanpa keputusan.
Setidaknya secara resmi.
Namun baik Almira maupun Reynard sama-sama tahu bahwa mereka belum selesai membahasnya.
Malam harinya, Almira berada di balkon apartemennya.
Langit Jakarta tampak gelap.
Hampir tidak ada bintang.
Hanya cahaya kota yang memantul di awan.
Ponselnya bergetar.
Nama Reynard muncul.
"Kamu juga tidak bisa tidur?"
tanya Almira setelah mengangkat telepon.
"Aku ingin mengatakan tidak."
jawab Reynard.
"Tapi itu akan menjadi kebohongan yang buruk."
Almira tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya hari itu.
Mereka terdiam beberapa saat.
Masing-masing mendengarkan suara malam dari tempat berbeda.
Anehnya, keheningan itu tidak terasa canggung.
Tidak seperti beberapa bulan lalu.
"Aku akan pergi."
kata Reynard akhirnya.
Almira langsung tahu pembicaraan ini akan menuju ke mana.
"Aku juga."
jawabnya.
"Tentu saja."
"Kamu berharap aku mengatakan tidak?"
"Sedikit."
"Kamu jelas belum mengenalku dengan baik."
"Aku rasa justru terlalu baik."
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Lalu mereka tertawa kecil.
Dan untuk sesaat, investigasi, ancaman, dan misteri yang mengelilingi mereka terasa sedikit lebih jauh.
Namun hanya sesaat.
Karena kenyataan segera kembali.
"Kita harus hati-hati."
kata Reynard.
"Aku tahu."
"Aku serius."
"Aku juga serius."
Reynard menghela napas.
Kemudian berkata pelan,
"Itu yang membuatku khawatir."
Almira membeku.
Hanya sesaat.
Namun cukup lama untuk membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Karena selama ini mereka selalu saling mengejek.
Berdebat.
Berselisih.
Tetapi kalimat itu terdengar berbeda.
Lebih pribadi.
Lebih jujur.
Dan untuk pertama kalinya, Almira tidak tahu harus menjawab apa.
Untungnya, Reynard menyelamatkan situasi.
"Jangan besar kepala."
katanya cepat.
"Aku hanya tidak ingin harus menjelaskan kepada Nadia kenapa kamu hilang."
Almira langsung memutar bola mata.
"Nah, itu lebih sesuai."
Mereka menutup telepon beberapa menit kemudian.
Namun senyum kecil masih tersisa di wajah keduanya.
Dua hari berikutnya digunakan untuk persiapan.
Secara resmi mereka tetap menjalankan pekerjaan seperti biasa.
Menghadiri rapat.
Meninjau laporan.
Menjalankan bisnis.
Namun di balik semua itu, mereka diam-diam menyusun rencana.
Tidak sendirian.
Karena meskipun pesan tersebut meminta mereka datang sendiri, mereka tidak cukup bodoh untuk benar-benar datang tanpa persiapan.
Tim keamanan pribadi disiapkan.
Peralatan komunikasi disiapkan.
Rute masuk dan keluar dipelajari.
Semua dilakukan diam-diam.
Dan semakin dekat hari yang ditentukan, semakin besar rasa tegang yang muncul.
Hari Sabtu.
Pukul empat sore.
Langit Jakarta mendung.
Angin bertiup cukup kencang ketika mobil mereka memasuki kawasan industri tua.
Bangunan-bangunan tua berdiri seperti kerangka raksasa yang ditinggalkan waktu.
Jendela-jendela pecah.
Dinding kusam.
Pagar berkarat.
Tempat itu terasa seperti lokasi dalam film thriller.
Dan Almira membenci kenyataan bahwa pikirannya langsung menuju ke sana.
"Kamu yakin?"
tanya Reynard.
Mereka berdiri di samping mobil.
Gudang tujuan terlihat sekitar seratus meter di depan.
Bangunan besar yang tampak kosong.
"Aku bisa balik kalau kamu takut."
jawab Almira.
Reynard mendengus.
"Masih sempat bercanda."
"Itu mekanisme pertahananku."
"Aku mulai menyadarinya."
Mereka berjalan mendekat.
Setiap langkah terasa lebih berat dari langkah sebelumnya.
Karena tidak ada yang tahu apa yang menunggu di dalam.
Tidak ada yang tahu siapa yang mengirim pesan.
Dan yang paling penting...
Tidak ada yang tahu apakah mereka akan menemukan jawaban.
Atau justru masalah baru.
Mereka tiba di depan pintu gudang.
Pintu besi besar itu setengah terbuka.
Seolah memang menunggu mereka datang.
"Aku sangat membenci ini."
gumam Almira.
"Nomor lima puluh satu."
jawab Reynard.
Almira hampir tertawa.
Hampir.
Kemudian mereka masuk.
Bagian dalam gudang sangat luas.
Gelap.
Sunyi.
Hanya cahaya matahari sore yang masuk melalui celah-celah atap.
Debu beterbangan di udara.
Dan suara langkah kaki mereka bergema di seluruh ruangan.
Tidak ada siapa pun.
Atau setidaknya begitu yang terlihat.
Sampai sebuah suara terdengar dari belakang mereka.
"Tepat waktu."
Keduanya langsung berbalik.
Seorang pria berdiri sekitar lima belas meter dari mereka.
Mengenakan jaket hitam.
Topi.
Dan masker yang menutupi sebagian wajah.
Namun ada sesuatu yang langsung membuat Almira membeku.
Karena suara itu...
Sangat familiar.
Terlalu familiar.
Pria itu perlahan melepas topinya.
Kemudian melepas masker yang menutupi wajahnya.
Dan dunia seolah berhenti berputar.
Mata Almira membesar.
Reynard juga membeku.
Karena orang yang berdiri di hadapan mereka bukan orang asing.
Bukan anggota jaringan misterius.
Bukan penjahat yang selama ini mereka bayangkan.
Melainkan seseorang yang sudah mereka cari selama berminggu-minggu.
Seseorang yang mereka kira hilang.
Seseorang yang seharusnya tidak berada di sana.
"Dimas..."
bisik Almira.
Pria itu tersenyum tipis.
Namun senyum tersebut tidak mencapai matanya.
Mata seseorang yang sudah terlalu lama hidup dalam bayang-bayang.
"Akhirnya."
katanya pelan.
"Aku berhasil menemukan orang yang bisa kupercaya."