Aurelia baru saja akan menikmati masa mudanya sebagai gadis single yang bebas, sampai sebuah kecelakaan menyeret jiwanya ke tubuh Nadia Atmaja. Saat terbangun di ranjang rumah sakit, hal pertama yang ia rasakan bukanlah sakit kepala, melainkan beban berat di bagian perutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32
***
Sore itu, matahari Jakarta mulai merayun rendah, memberikan semburat warna oranye kemerahan yang menenangkan di atas langit Menteng. Mansion Hadiwinata yang biasanya terasa sunyi dan dingin, hari ini tampak lebih hidup dengan semilir angin yang membawa aroma bunga melati dari taman samping.
Nadia duduk di sebuah kursi kayu putih di tengah taman yang hijau royo-royo. Di sekelilingnya, mawar-mawar yang baru mekar tampak bersinar terkena cahaya senja. Ia menyandarkan punggungnya, satu tangannya tidak pernah lepas mengelus perut buncitnya yang terasa sedikit lebih tenang setelah ketegangan tadi pagi. Pikirannya masih melayang pada raut wajah Kakek Atmaja yang merah padam sebuah pemandangan yang memberikan kepuasan tersendiri bagi jiwa Aurelia di dalam dirinya.
"Kamu anak hebat," bisiknya pelan pada perutnya. "Terima kasih sudah menemani Mama mengusir kakek buyut yang sedikit menyebalkan itu."
Tiba-tiba, pendengaran tajam Nadia menangkap suara langkah kaki yang mantap di atas rumput. Langkah yang ritmenya sangat ia kenali tegas, berat, dan penuh wibawa. Nadia tidak menoleh, ia sudah tahu siapa yang datang.
"Saya pikir kamu akan mengurung diri di kamar setelah menghadapi 'anjing tua' itu," suara bariton yang berat namun kini terdengar jauh lebih lembut menyapa indra pendengarannya.
Nadia menoleh sedikit, mendapati Raditya berdiri hanya beberapa langkah darinya. Pria itu masih mengenakan kemeja kantornya yang rapi, namun jasnya sudah tersampir di lengan, dan dasinya sedikit dilonggarkan sebuah pemandangan langka yang menunjukkan sisi manusiawi sang CEO Mafia. Di tangan kirinya, sebuah kotak martabak yang masih hangat mengeluarkan aroma manis yang sangat menggoda.
"Mas Radit? Kok sudah pulang?" Nadia mencoba berdiri, namun Raditya dengan cepat melangkah maju dan menahan bahunya dengan lembut.
"Jangan berdiri. Tetaplah duduk," perintah Raditya, kaku seperti biasa namun sorot matanya tidak bisa berbohong ia sangat cemas.
Raditya meletakkan kotak martabak itu di meja kecil di samping Nadia. Bukannya duduk di kursi seberang, ia justru berdiri di belakang Nadia. Tanpa aba-aba, Raditya melingkarkan lengannya di bahu Nadia, memeluk istrinya dari belakang. Ia membenamkan wajahnya sejenak di lekukan leher Nadia, menghirup aroma manis melati yang selalu menjadi candu baginya.
"Mas...?" Nadia sedikit terkejut dengan keintiman yang tiba-tiba ini.
"Saya mendengar semuanya, Nadia," bisik Raditya, suaranya bergetar rendah tepat di telinga Nadia. "Melalui cctv di ruang tamu. Saya mendengar bagaimana kamu menghadapi Atmaja sendirian."
Nadia terdiam, merasakan detak jantung Raditya yang stabil di punggungnya. "Jadi Mas tahu aku mengusir kakekku sendiri?"
"Saya tidak hanya tahu kamu mengusirnya," Raditya melepaskan pelukannya, lalu berpindah duduk di kursi di sebelah Nadia. Ia meraih tangan Nadia, menggenggamnya erat dengan jemarinya yang masih memiliki sisa memar. "Saya melihat seorang permaisuri yang sedang menandai wilayahnya. Kamu luar biasa, Nadia. Kamu melakukan apa yang selama ini sulit saya lakukan tanpa menimbulkan perang terbuka antar keluarga."
Raditya merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam berukuran kecil namun terlihat sangat kuno dan berharga. Ia membukanya, memperlihatkan sebuah cincin berlian dengan potongan emerald yang dikelilingi oleh safir biru tua yang sangat langka.
"Ini milik mendiang nenek buyut saya, Nyonya Besar Hadiwinata yang pertama. Hanya wanita yang memegang kekuasaan tertinggi dan martabat di keluarga ini yang boleh memakainya," ucap Raditya dengan nada bicara yang kembali dingin dan formal, namun tangannya sedikit gemetar saat menyematkan cincin itu di jari manis Nadia.
Nadia terpaku melihat kilauan perhiasan itu. "Mas... ini terlalu berharga."
"Tidak ada yang lebih berharga dari keberanianmu tadi pagi," balas Raditya, menatap Nadia lurus-lurus. "Kamu sudah membuktikan bahwa kamu layak memegang takhta di samping saya. Mulai sekarang, Atmaja atau siapa pun itu tidak akan berani melangkah melewati gerbang ini tanpa izin darimu. Kamu adalah otoritas tertinggi di mansion ini."
Suasana mendadak menjadi sangat intim dan hangat. Nadia menatap cincin itu, lalu menatap wajah kaku suaminya yang sedang berusaha keras menyembunyikan rasa bangganya. Sisi jahil Aurelia tiba-tiba meronta di dalam dada Nadia. Ia tersenyum miring, sebuah senyuman nakal yang membuat alis Raditya bertaut.
"Cincin warisan, martabak legendaris, dan pengakuan takhta..." Nadia bergumam seolah sedang menghitung. Ia memiringkan kepalanya, menatap Raditya dengan mata yang berbinar jenaka. "Hadiahnya banyak ya, Mas?"
Raditya berdehem, mencoba mengembalikan wibawanya yang sedikit runtuh. "Itu sudah sewajarnya bagi istri saya."
"Tapi, Mas..." Nadia mencondongkan tubuhnya, memperkecil jarak hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Suaranya berubah menjadi bisikan manja yang berbahaya. "Jika aku sudah sehebat itu dalam menjaga nama baik Hadiwinata... apakah aku boleh meminta hadiah lebih, Mas?"
Raditya membeku. Tubuhnya mendadak kaku seperti es. Ia menatap bibir Nadia, lalu beralih ke matanya yang penuh dengan kilat kejahilan. Di dalam kepalanya, Raditya sedang memproses berbagai kemungkinan: Apakah dia ingin saham tambahan? Rumah baru di luar negeri? Atau mungkin ingin memecat pelayan yang dia tidak suka?
"Hadiah... lebih?" tanya Raditya, suaranya sedikit tersendat. "Katakan saja apa yang kamu mau. Berlian lagi? Atau properti di Bali?"
Nadia terkekeh melihat ekspresi CEO Kulkas yang mendadak bingung dan kewalahan menghadapi permintaannya. "Bukan, Mas. Bukan barang mewah."
"Lalu apa?" Raditya bertanya dengan nada yang sangat serius, seolah-olah ia sedang dinegosiasi oleh pimpinan kartel internasional.
"Hadiahnya adalah..." Nadia sengaja menjeda kalimatnya, tangannya menarik kerah kemeja Raditya hingga pria itu harus sedikit membungkuk. "Aku mau Mas Radit panggil aku dengan panggilan 'Sayang' selama dua puluh empat jam penuh. Dan... Mas harus menemani aku tidur siang sekarang juga, tanpa memegang ponsel atau laptop sama sekali. Bagaimana?"
Mata Raditya membelalak. Panggilan "Sayang"? Selama dua puluh empat jam? Bagi pria yang menghabiskan tiga puluh tahun hidupnya dengan kata-kata formal, kaku, dan dingin, permintaan itu jauh lebih sulit daripada mengakuisisi sepuluh perusahaan dalam satu hari.
"Nadia... itu... secara profesional, itu tidak..." Raditya mencoba memprotes, wajahnya mulai berubah warna menjadi sedikit kemerahan karena malu.
"Oh, jadi Nyonya Hadiwinata yang hebat ini ditolak hadiahnya?" Nadia mengerucutkan bibirnya, berpura-pura sedih sambil mengelus perutnya. "Lihat deh, Nak. Papa pelit banget cuma mau panggil Mama sayang saja susah."
Raditya merasa jantungnya seolah diremas. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada pelayan atau Aldi yang sedang menguping di balik semak-semak taman. Ia menarik napas panjang, menatap istrinya yang sedang menahan tawa itu.
"S-sepuluh menit..." gumam Raditya sangat pelan.
"Dua puluh empat jam, Mas Raditya!" koreksi Nadia dengan tegas.
Raditya memejamkan mata, merutuki dirinya sendiri yang bisa begitu tunduk pada wanita hamil di depannya ini. "Baik. Dua puluh empat jam."
"Mana? Coba panggil sekarang," tantang Nadia.
Raditya berdehem berkali-kali. Tenggorokannya terasa kering. "Ayo masuk... sa-sa... say..."
"Say apa, Mas? Sayur?"
"Sayang!" ucap Raditya dengan nada yang terlalu keras karena gugup, membuat beberapa burung di taman beterbangan terkejut.
Nadia meledak dalam tawa yang sangat renyah, tawa yang membuat Raditya terpaku karena betapa cantiknya wanita itu saat tertawa lepas. Meski wajah Raditya masih kaku dan terlihat sangat tertekan dengan tugas barunya, ia tidak bisa menahan tangannya untuk tidak mengacak rambut Nadia dengan gemas.
"Ayo masuk, Bumil Barbar. Sebelum saya berubah pikiran dan membatalkan hadiah konyol ini," ucap Raditya sambil merangkul pinggang Nadia, menuntunnya masuk ke dalam rumah dengan langkah yang sangat protektif, sementara dalam hatinya ia terus berlatih bagaimana cara mengucapkan kata "sayang" tanpa terdengar seperti robot yang sedang rusak.
Sore itu, sang Naga akhirnya benar-benar takluk. Bukan oleh musuh, bukan oleh senjata, tapi oleh permintaan sederhana seorang wanita yang telah mencuri hatinya di tengah-tengah konspirasi dunia bawah yang kelam.
****
Bersambung
Aku pgn jingkrak2 sking snengnya....
untng nadia yg skrng ga lmah ky dlu,jd mskpn d intimidasi dia bls lbh tgas.....
Ayo radit,bwa mkann yg bnyak buat istrimu....dia pst cpe abs debat.....😁😁😁
lgian,nadia yg skrng kn jiwanya orng lain....yg lbih berani plus bar2...
kl d blangin sm suami tu nurut...
udh tau bnyak msuh,mlah sntai bgt kluar sndrian.....mnimal ingt lh sm perutmu yg ada bayi d dlm,jgn cma mkirin diri sndri......
aku udh mmpir....slm knal....
Aku syuka crtanya........tipe istri yg ga menye2,trs suami posesif.....mskpn d awl dia acuh,tp akhrnya jd bucin.....
d tnggu up'ny.....smngtt.....😘😘😘
ehhhh
suka semua ceritamu deng🤣
tunggu aksi luar biasa bumil thor