NovelToon NovelToon
Back To Us, Zehar & Alesha

Back To Us, Zehar & Alesha

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Putih Abu-Abu

☘️ FLASHBACK

Seragam putih abu‑abu, suara bel dan keriuhan teman sekelas, deretan meja kayu yang sudah usang, aroma kapur dan buku tebal, serta wangi masakan dari kantin sekolah, menyisakan kesan hangat dan sederhana yang tidak akan pernah terlupakam.

Tujuh tahun silam, di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 kota itu, nama Zehar Pradipta sudah sangat dikenal oleh hampir seluruh penduduk sekolah.

Tingginya yang di atas rata‑rata, postur tubuhnya yang kekar karena sering berlatih olahraga, serta wajahnya yang tampan dan selalu tersenyum ramah membuatnya menjadi pusat perhatian.

Sebagai kapten tim basket sekolah, setiap kali ia melangkah masuk ke lapangan, sorakan dan tepuk tangan pasti menyambutnya.

Banyak gadis yang menaruh hati, menulis surat cinta, atau sekadar berusaha melintas di depan kelasnya hanya untuk cari perhatian.

Namun di balik kepopulerannya itu, Zehar memiliki pandangan yang berbeda, ia justru tidak tertarik pada perhatian mereka.

Matanya justru tertuju pada satu sosok yang terlihat sangat berbeda dari gadis‑gadis lain yang sering mendekatinya.

Sosok itu adalah Alesha Camellia.

Berbeda dengan kebanyakan siswi yang lebih memperhatikan penampilan dan bergosip di koridor, Alesha lebih sering terlihat duduk tenang di sudut perpustakaan, atau menyandarkan dagunya di atas buku pelajaran saat jam istirahat.

Ia dikenal sebagai siswi berprestasi tinggi, selalu menduduki peringkat tiga besar di kelas, dan jarang terlibat dalam keramaian.

Meski begitu, tidak ada yang menyangkal bahwa Alesha memiliki pesona tersendiri, wajahnya yang cantik dan lembut, kulitnya yang bersih, serta senyum tipis yang jarang ia tunjukkan namun terasa sangat manis jika muncul.

Awal ketertarikan Zehar dimulai pada suatu hari, saat itu hujan di bulan September.

Saat itu ia berlari tergesa‑gesa menyusuri koridor untuk mengambil alat latihan yang tertinggal di kelas, tanpa sengaja menabrak tumpukan buku yang sedang dibawa Alesha.

Buku‑buku itu berserakan di lantai yang masih basah oleh percikan air hujan.

“Maaf, aku tidak sengaja, aku tidak melihat ke depan,” ujar Zehar segera berjongkok membantu mengumpulkan buku‑buku itu, wajahnya sedikit memerah karena rasa bersalah.

Alesha hanya menggeleng pelan, suaranya lembut namun jelas.

“Tidak apa‑apa, ini juga bukan salahmu sepenuhnya.”

Saat jari mereka tanpa sengaja bersentuhan keduanya tertegun sejenak. Zehar mengangkat wajah, dan untuk pertama kalinya ia melihat mata Alesha dengan dekat.

Mata yang tenang, jernih, dan seolah menyimpan kedamaian yang jarang ia temui pada orang lain.

Sejak hari itu, sesuatu berubah di hatinya. Ia mulai memperhatikan ke mana Alesha melangkah, kapan ia pergi ke kantin, dan jam berapa ia biasanya pulang sekolah.

Mengejar gadis pendiam dan kutu buku itu ternyata tidak semudah memimpin tim basket atau menjawab pertanyaan di kelas.

Zehar harus melakukannya dengan cara yang tidak membuat Alesha merasa terganggu. Ia mulai mencari alasan sederhana untuk mendekat.

Suatu siang di kantin sekolah, Zehar membawa nampan makannya lalu duduk persis di hadapan Alesha yang sedang makan sendirian sambil membaca catatan.

“Boleh duduk di sini? Tempat lain sudah penuh,” tanyanya sambil tersenyum lebar.

Alesha mengangkat wajah, terkejut melihat sosok yang sering dibicarakan banyak orang kini ada di hadapannya.

Ia hanya mengangguk singkat dan kembali menunduk, meski telinganya terasa panas.

“Sedang baca apa? Sepertinya serius sekali sampai tidak sadar ada orang duduk di depan,” tanya Zehar memulai percakapan.

“Catatan pelajaran Fisika. Besok ada ulangan harian,” jawab Alesha singkat.

“Wah, kamu hebat sekali. Kalau aku belajar sendirian, sering kali pusing sendiri. Maukah mengajari aku sesekali? Sebagai gantinya, aku belikan es teh manis setiap kali kita belajar bersama,” usul Zehar dengan nada santai, berusaha membuat suasana tidak kaku.

Alesha mengangkat alisnya sedikit, lalu menatap Zehar dengan pandangan penasaran.

“Kenapa harus aku? Banyak teman lain yang jauh lebih pintar.”

“Karena… penjelasanmu terlihat lebih rapi dan mudah dimengerti. Aku pernah melihat catatanmu saat guru memeriksanya,” jawab Zehar berusaha jujur tanpa terlihat berlebihan.

Alesha terdiam sejenak, lalu akhirnya tersenyum tipis, senyum yang membuat detak jantung Zehar berpacu lebih cepat dari biasanya saat bertanding.

“Baiklah, tapi janji jangan membuat kegaduhan saat kita belajar, ya.”

“Janji! Aku akan menjadi murid yang paling penurut,” jawab Zehar riang.

Sejak saat itu, kedekatan mereka mulai terjalin. Setiap hari Kamis sore sepulang sekolah, mereka bertemu di perpustakaan yang mulai sepi.

Di antara deretan rak buku, obrolan mereka perlahan meluas melampaui batas pelajaran sekolah.

“Alesha, kenapa kamu lebih suka menghabiskan waktu dengan buku daripada bermain bersama teman‑teman lain?” tanya Zehar suatu sore sambil menopang dagunya, menatap gadis itu yang sedang menulis rumus matematika.

“Buku tidak pernah mengecewakan, dan tidak membutuhkan banyak syarat untuk mengerti,” jawab Alesha santai, lalu menoleh.

“Kamu sendiri? Kenapa kamu mau menghabiskan waktu dengan orang sepertiku, padahal banyak yang ingin diajak bicara oleh kapten tim basket?”

Zehar tertawa kecil, lalu menatapnya lekat‑lekat.

“Karena kamu tidak menatapku hanya sebagai kapten tim basket atau siswa populer. Kamu menatapku apa adanya. Dan itu terasa lebih menyenangkan.”

Waktu terus berjalan, dan kebiasaan itu menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka.

Zehar selalu mengantar Alesha sampai ke depan gerbang kompleks perumahannya, meski jalannya berlawanan arah dengan tempat tinggalnya sendiri.

Kadang mereka berjalan kaki sambil bercerita hal‑hal sepele, seperti tentang pelajaran yang sulit, tentang guru yang galak, hingga cita‑cita yang ingin dicapai kelak.

“Nanti kalau sudah lulus SMA, kamu mau melanjutkan ke mana?” tanya Alesha suatu hari sambil menendang kerikil kecil di tepi jalan.

“Aku ingin masuk Akademi Kepolisian. Ingin melindungi orang lain dan menjaga ketertiban,” jawab Zehar mantap.

“Kamu sendiri? Pasti ingin masuk Fakultas Ekonomi atau Kedokteran, kan?”

“Ekonomi, mungkin. Aku ingin membantu meringankan beban orang tua. Hidup kami masih cukup berat,” jawab Alesha dengan nada pelan.

Zehar menghentikan langkahnya, lalu menatapnya dengan perasaan yang mulai tumbuh semakin kuat.

“Apapun yang terjadi nanti, aku ingin kamu tahu… aku akan selalu mendukungmu. Jangan merasa sendirian, ya.”

Perasaan yang semula samar kini mulai tumbuh menjadi sesuatu yang lebih jelas.

Zehar sadar bahwa ia tidak hanya sekadar menyukai kehadiran Alesha, melainkan sudah jatuh cinta padanya.

Ia tahu, sudah saatnya tiba untuk menyampaikan perasaannya, dengan cara yang sederhana namun tulus, sesuai dengan masa remaja mereka.

Sore itu, di bawah pohon beringin tua di halaman belakang sekolah yang menjadi tempat favorit mereka, Zehar mengumpulkan keberanian sekuat tenaga.

Tangannya sedikit gemetar saat memegang seikat bunga melati yang ia petik sendiri dari halaman rumahnya.

“Alesha, ada hal yang ingin aku sampaikan,” ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar.

Alesha menatapnya dengan tatapan waspada namun penuh perhatian.

“Ada apa?”

“Selama beberapa bulan ini, setiap hari terasa lebih indah hanya karena bisa melihatmu, berbicara denganmu, dan menghabiskan waktu bersamamu. Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi… aku menyukaimu, Alesha. Maukah kamu menjadi pacarku?” tanya Zehar terus terang, menyodorkan bunga melati itu.

Wajah Alesha seketika memerah merona hingga ke telinganya. Jantungnya berdebar kencang, ia pun selama ini menyadari bahwa perasaannya juga telah berubah.

Kadang ia mulai merindukan Zehar jika sehari saja tidak bertemu, merasa aman saat berjalan di sampingnya, dan tersenyum sendiri setiap kali mengingat perkataannya.

Setelah terdiam beberapa saat, ia mengangkat wajah, matanya berbinar bahagia, lalu mengangguk perlahan.

“Aku juga… sudah lama menunggu kau mengatakannya. Aku mau, Zehar.”

Senyum paling lebar yang pernah Zehar rasakan saat itu terukir di wajahnya. Ia menyodorkan bunga itu dan Alesha menerimanya dengan hati‑hati.

Di bawah naungan pohon tua itu, di tengah hembusan angin sore yang lembut, mereka secara resmi menjadi sepasang kekasih.

Hubungan yang sederhana, polos, namun penuh dengan ketulusan dan janji‑janji masa depan yang mereka yakini akan terwujud bersama.

Mereka melanjutkan perjalanan pulang dengan berjalan berdampingan, jarak antara mereka kini terasa lebih dekat, dan senyum tak pernah lepas dari bibir masing‑masing.

Seragam putih abu‑abu itu menjadi saksi awal kisah cinta yang murni, yang akan terus terukir dalam ingatan keduanya sepanjang masa.

1
Siti Sarfiah
cinta yg lama hilang akhirnya tersambung kembali👍💪
Siti Sarfiah
lancar kan urusannya kalau mengalah dari egois lanjutkan lagi cinta yg terputus dan perbaiki kembali
Siti Sarfiah
maju pakpol , buang jauh" egomu bisa nyesal kalau d ambil orang
Siti Sarfiah
itulah sama" egois🤭💪
Siti Sarfiah
pakpol yg buang" waktu , bilang saja ingin mengenang masa lalu😄👍
Siti Sarfiah
cinta lama bersemi kembali😍👍💪
Siti Sarfiah
dengan bertugasnya AKP zehar d daerah yg d tuju akan aman selalu👍💪
Siti Sarfiah
mantap ibu Dirut yg jenius👍
Elisabeth Ratna Susanti
semoga pak Zehar beneran tulus ya
Rosella
udh, 🙏
kalah saing kmu erhan
Rosella
baguss
Rosella
Zaskia sadar krna di bayarin tuh utang, coba kalau ga d bayarin, apa masih Nerima Zehar 😏
Rosella
sepakat din🙏
Rosella
keren juga Dinda 😍.
real sahabat ini mah😍
Elisabeth Ratna Susanti
harus tetap tegak berdiri 👍🥰
Rosella
aku paling suka karakter Zehar. apa yang dia ucapkan pasti positif. keren thor.
kalau bisa up banyak y. plis 🙏
Rani: tengkyu.

siapp,😍
demi readers rela up banyak kok😍
total 1 replies
Rosella
sudah pasti terpecah belah lah. gila aja anak sendiri di jadikan bahan untuk balas Budi.😏
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
ibu aja yg nikah sama erhan noh. kehormatan apaan, ngorbanin anak
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
egois bnget si ibu
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
idih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!