Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Serangan Senyap di Lantai Dansa
Bab 26: Serangan Senyap di Lantai Dansa
DOR! DOR! DOR!
Kilatan api dari moncong senjata otomatis memutus kegelapan aula utama. Suara tembakan beruntun itu langsung disambut oleh jeritan histeris ratusan tamu undangan yang berlarian panik demi menyelamatkan diri. Kursi-kursi terguling, meja bundar terbalik, dan pecahan gelas kristal berserakan di atas karpet beludru merah.
Di dalam toilet wanita, begitu lampu padam total dan desingan peluru pertama terdengar, Aline tidak membuang waktu satu detik pun. Kacamata berbingkai emas tipisnya ia sesuaikan agar kokoh di tempatnya. Dengan kaki telanjang tanpa alas dan gaun sutra hitam yang sudah robek tinggi hingga ke paha kiri, ia melesat keluar dari toilet bagai bayangan malam.
Aku harus mengamankan si kembar sebelum jalur logistik mereka diputus, batin Aline, matanya yang telah terbiasa dengan simulasi night-vision beralih memindai siluet-siluet di dalam kegelapan.
Melalui kilatan cahaya tembakan, Aline melihat situasi di barisan depan meja VIP sudah menjadi kekacauan massal. Adrian berdiri kokoh bagai benteng baja, memegang pistol semi-otomatisnya dan melepaskan tembakan balasan yang presisi ke arah penyerang di dekat pintu masuk. Rendra dan pasukannya mencoba membuat perimeter barikade di sekitar meja, namun jumlah musuh terlalu masif.
"Kenzo! Keira!" teriak Adrian di tengah kebisingan mesiu, suaranya sarat akan kecemasan yang jarang ia tunjukkan.
Namun, sebelum pasukan klan Valerius berhasil merangsek ke arah meja anak-anak, sesosok bayangan anggun bergaun sutra hitam mendahului mereka. Dengan satu gerakan luncuran rendah di atas lantai marmer yang licin, Aline menyelinap ke bawah meja bundar VIP tempat Kenzo dan Keira meringkuk dengan tablet mereka yang layarnya sengaja diredupkan.
"Kak Aline!" Keira memekik pelan, matanya berbinar melihat kedatangan pengasuhnya, meski dalam kondisi ekstrem seperti ini.
"Tetap di belakangku. Jangan bersuara," perintah Aline. Nada suaranya bukan lagi logat desa yang lambat, melainkan intonasi dingin seorang komandan taktis.
Tepat saat itu, dua orang pria bersenjata klan Valerius berhasil menerobos barikade Rendra dan mengarahkan moncong senapan mereka ke arah bawah meja.
Aline bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukuran seorang wanita bergaun malam. Menggunakan kaki kanannya yang bebas dari batasan kain, ia melakukan sapuan bawah (low sweep) yang sangat bertenaga, menghantam pergelangan kaki penyerang pertama hingga terdengar bunyi krak yang mengerikan.
BUM!
Pria itu tumbang seketika. Sebelum rekan di sebelahnya sempat menarik pelatuk, Aline bangkit dengan bertumpu pada satu kaki, memutar tubuhnya, dan melepaskan tendangan busur (crescent kick) vertikal yang mendarat telak di rahang pria kedua. Penyerang itu terlempar ke belakang, menghantam meja kayu hingga pingsan seketika.
Gerakan bela diri tingkat tinggi itu dilakukan Aline dalam waktu kurang dari tiga detik, sepenuhnya memanfaatkan kegelapan total aula agar gerakannya tidak terlihat secara detail oleh mata Adrian yang sibuk menembak di sisi lain.
"Wah... Kak Aline keren banget!" bisik Keira penuh kekaguman, sementara Kenzo dengan cepat mengetuk tombol di tabletnya.
"Sistem listrik cadangan hotel akan menyala dalam sepuluh detik, Kak," ucap Kenzo datar. "Kita harus bergerak sekarang sebelum lampu menyala dan Daddy melihat mayat-mayat ini di dekatmu."
Aline mengangguk cepat. Ia langsung merengkuh tubuh Kenzo dan Keira sekaligus ke dalam pelukannya. Dengan kekuatan otot transversus abdominis-nya yang terlatih, ia membawa kedua bocah itu berlari merunduk melewati sela-sela meja yang hancur, menuju jalur evakuasi darurat di balik panggung utama.
Aline menghentikan langkah kakinya tepat di balik bayangan tirai beludru panggung yang tebal. Napasnya diatur sedemikian rupa agar tetap tenang dan tidak memburu, sebuah teknik regulasi oksigen yang hanya dikuasai oleh tentara bayaran atau agen lapangan profesional. Di dalam dekapannya, Kenzo dan Keira bisa merasakan betapa kokoh dan stabilnya sepasang lengan yang sedang mengunci tubuh mereka.
Klak! Klak! BZZZT!
Dinding aula mendadak bergetar seiring dengan bergaungnya suara generator cadangan hotel yang mulai mengambil alih pasokan daya. Dalam hitungan sepertiga detik, lampu-lampu indikator darurat berwarna merah di sepanjang dinding aula menyala, memotong kegelapan pekat dengan pendaran cahaya yang remang namun cukup untuk memperlihatkan sisa-sisa pembantaian di lantai dansa.
Aline melirik ke belakang, ke arah meja VIP yang baru saja ia tinggalkan. Dua pria klan Valerius yang ia lumpuhkan tadi tergeletak tak bergerak di atas karpet. Skenario taktisnya berjalan sempurna; dalam keremangan lampu merah darurat ini, siluet tubuh mereka hanya akan terlihat seperti korban salah sasaran dari peluru nyasar, bukan karena dihantam dengan teknik bela diri militer.
Namun, indra pendengaran taktis Aline menangkap suara langkah kaki yang sangat berat dan terburu-buru mendekat dari arah kanan panggung. Langkah kaki itu lebar, mantap, dan mengeluarkan bunyi gesekan sol sepatu kulit premium yang sangat ia kenal.
Adrian.
Aline langsung merubah total pembawaan tubuhnya. Otot-ototnya yang tadi menegang keras seketika dilemaskan. Ia sengaja menjatuhkan tubuhnya ke lantai marmer dengan posisi terduduk, menyandarkan punggungnya pada pilar kayu panggung, dan merengkuh si kembar lebih erat ke dada—seolah-olah ia adalah seorang ibu ayam yang sedang ketakutan setengah mati melindungi anak-anaknya dari badai.
"Hiks... Gusti Allah... Gusti... ampuni dosa saya..." isak Aline, suaranya mendadak berubah menjadi parau, gemetar, dan kembali dipenuhi oleh logat desanya yang kental. Ia sengaja menggeser posisi kacamata emas barunya hingga miring di atas hidung, memberikan efek visual seorang gadis yang berantakan karena kepanikan massal.
"Kak Aline, aktingnya bagus sekali," bisik Keira sangat pelan di balik lipatan gaun Aline, menahan tawa imutnya agar tidak merusak sandiwara pengasuh kesayangan mereka.
Detik berikutnya, tirai beludru panggung disingkap dengan kasar.
Adrian Dirgantara muncul dengan siluet yang teramat mengintimidasi di bawah siraman lampu darurat merah. Jas tuksedonya sudah tidak ada, kemeja putihnya kini ternoda oleh cipratan darah musuh di bagian lengan, dan tangan kanannya masih memegang pistol semi-otomatis yang moncongnya masih mengepulkan asap mesiu tipis. Sepasang mata elangnya yang merah karena adrenalin memindai lorong gelap itu dengan liar, sebelum akhirnya terkunci pada sosok Aline dan kedua anaknya.
Adrian langsung menurunkan senjatanya. Ia menerjang maju, berlutut di atas lantai marmer di hadapan Aline dengan napas yang memburu pendek. Tanpa sepatah kata pun, tangan kekarnya yang besar merengkuh kepala Kenzo dan Keira, memeriksa setiap inci tubuh anak-anaknya dengan cengkeraman yang bergetar halus—sebuah manifestasi ketakutan terbesar dari seorang bos mafia yang paling ditakuti di kota ini.
"Kalian tidak apa-apa? Ada yang terluka?!" suara bariton Adrian terdengar parau dan dalam.
"Kami aman, Daddy. Kak Aline langsung memeluk kami dan menyeret kami ke sini waktu lampu mati," jawab Kenzo dengan nada datar yang terkesan sangat natural, membantu memperkuat alibi Aline.
Adrian mengembuskan napas panjang yang terdengar seperti sebuah beban berat yang baru saja diangkat dari dadanya. Namun, begitu emosi pelindungnya mereda, insting predatornya kembali mengambil alih. Mata elang Adrian perlahan beralih, menatap lurus ke arah Aline yang sedang menangis sesenggukan dengan bahu yang naik turun dramatis.
Pandangan Adrian menurun, meneliti kondisi fisik pengasuh anaknya. Jantung sang mafia mendadak berdesir tajam saat ia melihat gaun sutra hitam kustom—yang beberapa menit lalu ia pilihkan dengan selera tertinggi—kini telah robek besar dari lutut hingga mengeposkan paha pualam kiri Aline yang mulus ke udara malam yang dingin. Lebih dari itu, kaki gadis itu telanjang, dipenuhi noda debu hitam dari lantai aula.
Adrian mengulurkan tangannya, jemari kasarnya yang besar mencengkeram pergelangan kaki telanjang Aline yang dingin, membuat isak tangis gadis itu terhenti seketika karena keterkejutan fisik yang murni.
Adrian menatap lekat-lekat ke arah sudut robekan gaun tersebut, lalu mendongak menatap mata Aline di balik lensa kacamata yang miring. Ada kalkulasi taktis yang sangat tajam di dalam kepala Adrian. Robekan di gaun itu terlalu lurus dan presisi, bukan seperti robekan tidak sengaja karena tersangkut paku atau kursi, melainkan seperti sengaja disobek dengan paksa untuk memberikan ruang gerak horizontal yang bebas.
"Nona Sanyoto," ucap Adrian, suaranya mendadak kembali berubah menjadi sedingin es, menguapkan seluruh kehangatan emosional beberapa detik lalu. Ia meremas pelan pergelangan kaki Aline, mengirimkan sinyal intimidasi yang nyata. "Bagaimana bisa seorang gadis desa yang panik dan ketakutan di dalam kegelapan total, sempat berpikir untuk merobek gaun mahalnya dengan potongan setinggi ini hanya untuk berjalan ke balik panggung?"