Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.
Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.
Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Di luar rumah, hujan masih turun deras membasahi tubuh Annisa yang berdiri sendirian di tengah malam. Sementara di dalam rumah, suasana justru berubah hangat dan penuh kelegaan.
Lasmi menutup pintu dengan wajah puas, seolah baru saja membuang beban besar dari hidupnya. Wanita tua itu bahkan mengembuskan napas lega sambil kembali duduk di sofa.
“Akhirnya pergi juga perempuan itu,” gumamnya tanpa rasa bersalah.
Haikal berdiri di dekat pintu sambil merapikan lengan bajunya. Entah kenapa dadanya masih terasa sesak setelah melihat Annisa pergi dalam keadaan seperti itu, tetapi dirinya berusaha mengabaikan perasaan aneh tersebut.
Lasmi menoleh pada Emeli dengan wajah penuh senyum.
“Sekarang rumah ini jadi lebih tenang.”
Emeli pura-pura tersenyum canggung.
“Tante, jangan ngomong begitu...”
“Lho memang benar.” Lasmi langsung menggenggam tangan wanita itu dengan penuh suka. “Dari dulu Tante memang lebih cocok sama kamu.”
Haikal yang mendengar itu hanya diam sambil duduk di sofa. Tatapannya kosong beberapa saat sebelum akhirnya Lasmi kembali bicara penuh semangat,
“Sekarang kalian tinggal pikirkan kelanjutan hubungan kalian saja.”
Emeli melirik Haikal pelan, berpura-pura malu.
“Tante...”
“Apa lagi yang dipikirkan?” Lasmi tersenyum lebar. “Annisa sudah nggak ada.”
Haikal akhirnya bersandar santai sambil berkata, “Aku juga bakal segera urus surat perceraiannya.”
Nada suaranya terdengar ringan, seolah semua yang terjadi malam ini bukan hal besar. Emeli menundukkan wajahnya, menyembunyikan senyum puas yang hampir terlihat jelas.
Sementara, Lasmi langsung tampak semakin bahagia.
“Nah begitu!” katanya antusias. “Setelah itu kita bisa mulai rencana yang baru.”
Wanita tua itu bahkan sudah membayangkan kehidupan indah bersama menantu pilihannya. Berbeda jauh dengan Annisa yang selama ini selalu ia hina.
Di tengah hujan malam yang semakin deras, Annisa masih berdiri mematung di depan rumah itu. Rumah yang dulu ia impikan akan menjadi tempat paling hangat untuk pulang.
Rumah yang ia beli dengan tabungannya bersama Haikal. Rumah yang selama lima tahun ia rawat sepenuh hati. Tatapan Annisa perlahan terangkat menatap rumah bercahaya itu untuk terakhir kalinya. Dari balik tirai jendela, bayangan Haikal, Lasmi, dan Emeli masih terlihat samar sedang berbincang dan tertawa bersama.
Pemandangan itu membuat sesuatu di dalam hati Annisa perlahan mati. Air matanya jatuh bercampur hujan, tetapi kali ini bukan hanya kesedihan yang memenuhi dirinya.
Kedua tangannya perlahan mengepal erat di sisi tubuhnya. Kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga terasa sakit, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan apa yang baru saja ia alami malam ini.
“Mulai hari ini...” lirihnya pelan dengan suara gemetar, “aku nggak akan menangis lagi untuk kalian.”
Petir menyambar terang di langit malam. Sorot mata Annisa yang biasanya lembut kini berubah dingin. Langkahnya terasa berat saat meninggalkan halaman rumah itu.
Hujan turun deras membasahi jalanan kota malam itu. Lampu-lampu kendaraan memantul di aspal hitam yang licin, menciptakan kilauan samar di sepanjang jalan yang sepi. Sebuah mobil mewah melaju tenang membelah hujan.
Di dalamnya, suasana terasa hangat dan elegan. Seorang pria duduk di kursi penumpang belakang dengan kaki disilangkan santai. Jas mantel mahal menutupi bahunya, sementara kacamata hitam yang masih bertengger di wajahnya membuat auranya terlihat dingin dan sulit didekati, Emran Richard.
Di samping depan, Han sibuk memeriksa laporan bisnis melalui tablet di tangannya.
“Tuan,” ucap Han memecah keheningan, “perusahaan kita berhasil mempertahankan posisi peringkat kedua tahun ini.”
Emran tidak langsung menjawab. Tatapannya masih lurus ke arah jalanan malam di balik jendela mobil.
Han kembali melanjutkan dengan nada kagum, “baik di luar negeri maupun di Indonesia, nama Anda masih yang terbaik.”
Baru saja Emran hendak merespons, tatapan Han tiba-tiba terhenti pada satu sosok di pinggir jalan. Seorang wanita berjalan sendirian di tengah hujan deras. Tanpa alas kaki, tubuh kurusnya basah kuyup, kedua tangannya memeluk tubuh sendiri karena kedinginan.
Langkahnya terlihat limbung dan lemah. Han mengernyit pelan, entah kenapa sosok itu terasa sangat familiar.
“Tuan...” suara Han perlahan berubah ragu.
Emran menoleh sedikit. Han terus memperhatikan wanita itu dari kaca depan mobil.
“Wanita itu...” katanya pelan, “seperti Nona Annisa.”
Nama itu membuat Emran langsung tersentak. Sejak tadi, ekspresi tenang di wajah pria itu berubah.
“Apa?”
Han kembali memastikan pandangannya ke arah sosok wanita yang berjalan di bawah hujan.
“Sepertinya benar, Tuan.”
Tanpa pikir panjang, Emran langsung mencondongkan tubuh ke depan.
“Hentikan mobil!” Nada suaranya tegas dan cepat.
Han segera menginjak rem perlahan. Mobil mewah itu akhirnya berhenti beberapa meter dari sosok wanita yang masih berjalan sendirian di tengah hujan malam.
Mobil mewah itu perlahan mundur di tengah guyuran hujan. Ban mobil membelah genangan air hingga akhirnya berhenti tepat sejajar dengan sosok wanita yang berjalan sendirian di pinggir jalan.
Annisa langsung tersentak kaget. Langkahnya berhenti refleks. Jantungnya berdegup cepat saat menatap mobil asing di jalan yang sepi itu.
Malam sudah terlalu larut, hanya sesekali kendaraan melintas di kejauhan. Kondisinya sekarang benar-benar menyedihkan, basah kuyup, tanpa alas kaki, serta sendirian di tengah hujan. Untuk sesaat, rasa takut muncul dalam dirinya. Tangannya langsung memeluk tubuh lebih erat.
Kaca mobil perlahan turun. Dari dalam mobil yang hangat dan remang, seorang pria menoleh pelan ke arahnya.
Sorot matanya tajam namun tenang. Aura dingin dan berwibawa langsung terasa bahkan tanpa banyak bicara. Emran Richard menatap Annisa cukup lama.
Sementara itu, Annisa juga menatap pria di dalam mobil dengan bingung. Wajah itu terasa asing baginya. Jelas saja, lima tahun lalu, saat perjodohan mereka dibahas, Annisa bahkan tidak pernah benar-benar berniat mengenal Emran. Saat itu pikirannya hanya dipenuhi Haikal. Dirinya menolak semuanya sebelum hubungan mereka benar-benar dimulai.
Karena itu sekarang, Annisa sama sekali tidak mengenali pria di hadapannya. Emran perlahan melepas kacamata hitamnya. Sorot matanya melembut saat melihat keadaan Annisa yang gemetar kedinginan. Tangannya menggenggam erat kaca mata di tangannya saat melihat dengan jelas kondisi Annisa.
"Nona, Annisa..." Seru, Han yang ternyata sudah turun dari mobil.
bahwa kehadirannya sungguh berharga