SMA Pertiwi dan STM Rajawali bagaikan langit dan bumi yang dipaksa berdampingan. Hanya terpisah oleh satu tembok tinggi, Pertiwi adalah istana bagi putri-putri konglomerat yang dipimpin oleh Roseanna Vallerian, sang Ratu Es yang perfeksionis. Sementara di sebelahnya, Rajawali adalah medan perang bagi Fattah Maverick, legenda jalanan yang memimpin pasukannya dengan kepalan tangan dan loyalitas tanpa batas.
Selama tiga tahun, "Perjanjian Batas" menjaga gencatan senjata di antara mereka: Jangan sentuh wilayah kami, dan kami tidak akan menyentuh kalian.
Namun, kedamaian itu hancur dalam semalam. Serangkaian teror misterius menghantam kedua sekolah. Mobil-mobil mewah siswi Pertiwi dirusak dengan lambang Rajawali, dan markas Rajawali dibakar oleh sosok berseragam Pertiwi. Fitnah menyebar lebih cepat dari api. Tawuran pecah di perbatasan, dan kedua sekolah terancam ditutup permanen oleh Dinas Pendidikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeraphinSky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: TAHTA YANG RETAK DAN HUJAN TEROR
H+1 Pasca Pensi (Minggu Siang)
Bengkel Vanguards - Pesta Kemenangan (Yang Agak Kesakitan)
Suasana di markas Vanguards hari ini campur aduk. Antara euforia kemenangan dan ringis kesakitan.
Ingat kejadian mereka jatuh dari pohon beringin kemarin? Ya, itu meninggalkan jejak.
Fattah Maverick berjalan terpincang-pincang (engkelnya keseleo) sambil membawa es teh plastik.
Ilham Mahendra duduk di ban bekas dengan bantal empuk di bawah pantatnya (tulang ekornya nyeri).
Harry Nareswara lehernya ditempeli koyo cabe lima lembar (salah urat pas mendarat).
Mohan Alveric... Mohan sehat walafiat karena dagingnya tebal, jadi dia cuma lecet dikit.
"Aduh... pinggang gue..." keluh Harry sambil memutar lehernya. Krek. "Sumpah, itu pohon beringin ada penunggunya kali ya? Kok bisa patah pas momen krusial?"
"Yang penting misi sukses, Har!" seru Ilham, meski mukanya meringis nahan sakit pantat. "Lo liat kan muka si Tuan Putri pas lagunya berubah jadi dangdut koplo? Hahaha! Priceless! Itu bakal jadi meme legendaris se-Jakarta Selatan!"
Oliver Sagara menunjukkan layar laptopnya. "Analisis media sosial: Trending Topic lokal nomor 1 adalah #PensiPertiwiFail. Video Roseanna gagap (delay voice) udah ditonton 50 ribu kali dalam 12 jam."
Fattah tersenyum puas, meski kakinya nyut-nyutan. "Bagus. Biar dia tau rasa. Dia pikir dia bisa seenaknya gundulin kita tanpa balesan? In your dream, Rose."
"Tapi Bos," celetuk Mohan polos sambil ngasih makan kucing. "Kasian juga ya. Katanya dia dimarahin abis-abisan sama Yayasan. Mohan denger dari satpam depan, katanya Roseanna nangis di ruang OSIS semalem."
Fattah terdiam sejenak. Senyumnya luntur sedikit.
"Nangis?" tanya Fattah. "Ah, paling air mata buaya. Cewek kayak dia mana punya kelenjar air mata."
"Beneran Bos," tambah Harry. "Si Neng Aqeela juga bikin status sedih di WA. Katanya: 'Rose strong banget, padahal dia dimaki-maki Pak Kepala Sekolah di depan umum.' Kasian Neng Aqeela ikutan sedih."
Fattah menyalakan rokok, mencoba menepis rasa bersalah yang tiba-tiba muncul. "Itu konsekuensi perang, Har. Siapa suruh main api sama kita."
Senin Pagi - SMA Pertiwi
Suasana Berkabung
Berbeda dengan sorak-sorai di bengkel, SMA Pertiwi pagi ini sepi senyap seperti kuburan elit.
Tidak ada sapaan ceria. Tidak ada pamer tas baru. Semua siswi berjalan menunduk, takut salah langkah.
Di ruang OSIS, Roseanna Vallerian duduk di kursi kebesarannya. Tapi kali ini, dia tidak terlihat seperti Ratu.
Matanya bengkak (bekas nangis semalaman). Wajahnya pucat tanpa make-up tebal. Di mejanya, ada tumpukan surat peringatan dari Yayasan, tagihan vendor yang minta ganti rugi karena kerusuhan tikus, dan... surat ancaman pencopotan jabatan Ketua OSIS.
"Rose..." panggil Naura pelan, takut-takut. "Laporan keuangan Pensi udah gue revisi. Kerugiannya... lumayan gede. Tikus mainan itu ngerusak kabel sound system yang asli."
Roseanna tidak menjawab. Dia menatap kosong ke jendela yang menghadap ke tembok pembatas sekolah sebelah.
"Gue gagal, Nau," bisik Roseanna, suaranya serak. "Gue bikin malu sekolah. Gue bikin malu nama keluarga gue."
Raisa memukul meja, bikin kaget semua orang. "INI GARA-GARA PREMAN-PREMAN ITU! KITA HARUS BALES, ROSE! GUE SIKAT MEREKA SEKARANG!"
"JANGAN!" bentak Roseanna tiba-tiba. Dia berdiri, napasnya memburu. "Cukup, Sa. Cukup. Gue nggak mau ada keributan lagi. Yayasan udah ngancem bakal drop out gue kalau gue bikin masalah lagi sama sekolah sebelah."
Semua terdiam. Roseanna Vallerian, cewek paling berani, sekarang ketakutan akan kehilangan masa depannya.
Di sofa, Lia menurunkan HP-nya. Dia menatap Roseanna dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Jadi lo nyerah?" tanya Lia datar.
Roseanna menatap Lia. "Gue harus nyerah, Li. Gue nggak punya pilihan."
Lia mendengus, kembali menatap HP-nya. "Payah. Padahal baru seru."
Sore Hari - Pukul 17.00 WIB
Gerbang Depan SMA Pertiwi
Sekolah sudah sepi. Langit Jakarta mendung gelap, pertanda akan turun hujan badai.
Aqeela Azalea berdiri sendirian di pos satpam depan, menunggu jemputan. Supirnya telat karena ban pecah. HP-nya mati kehabisan baterai.
"Duh, Pak Supir mana sih..." Aqeela celingukan. Pos satpam kosong karena satpamnya lagi ke toilet.
Tiba-tiba, terdengar deru motor yang sangat bising dari arah tikungan jalan.
BREEEMMM! BREEEMMM!
Aqeela menoleh. Dia melihat rombongan lima motor RX King melaju kencang ke arah gerbang Pertiwi.
Pengendaranya memakai jaket denim belel, helm full face hitam, dan... ada lambang VANGUARDS (tempelan stiker) di motor mereka.
Aqeela tersenyum lega. Dia pikir itu Harry dan teman-temannya.
"Harry!" panggil Aqeela sambil melambaikan tangan. "Harry, tolongin aku dong!"
Tapi motor-motor itu tidak melambat. Mereka malah menambah kecepatan.
Aqeela mengerutkan kening. "Harry?"
Motor terdepan melaju kencang ke arah Aqeela. Si pengendara mengangkat tangannya yang memegang sesuatu. Sebuah kantong plastik hitam besar yang basah.
Insting bahaya Aqeela menyala terlambat.
"SALAM DARI FATTAH!!" teriak pengendara itu dengan suara berat yang asing.
WUSH!
Kantong plastik itu dilempar sekuat tenaga ke arah Aqeela.
BYAAAAR!!
Kantong itu pecah menghantam tiang pos satpam, tepat di samping kepala Aqeela.
Isinya bukan sampah dapur.
Isinya adalah Darah Ayam segar bercampur dengan bangkai tikus got yang sudah membusuk.
Cipratan darah merah pekat itu mengenai seragam putih Aqeela, wajah cantiknya, dan tas Hermes-nya. Bau amis yang menyengat langsung memenuhi udara.
"KYAAAAAAAAAAAA!!!!"
Aqeela menjerit histeris, menutup wajahnya yang berlumuran darah. Kakinya lemas, dia jatuh terduduk di aspal.
"Hahahaha! Rasain lo anak manja!" teriak pengendara motor itu.
Salah satu motor lain berhenti sebentar. Pengendaranya turun, lalu menyemprotkan cat merah (pilox) ke tembok pos satpam.
Tulisannya: "MATI AJA LO SEMUA - VANGUARDS"
Setelah itu, mereka kabur tancap gas, meninggalkan Aqeela yang menangis histeris di tengah hujan yang mulai turun deras, bercampur dengan darah amis.
15 Menit Kemudian
Roseanna, Lia, dan Raisa (yang belum pulang karena rapat evaluasi) berlarian ke gerbang depan setelah mendengar teriakan satpam.
Pemandangan yang mereka lihat membuat darah mereka membeku.
Aqeela duduk meringkuk di aspal basah, menggigil hebat. Seragamnya merah oleh darah. Bau bangkai menusuk hidung.
"AQEELA!!" jerit Roseanna. Dia langsung berlutut, memeluk sahabatnya tanpa peduli darah itu mengotori bajunya.
"Rose... takut... bau... darah..." isak Aqeela, matanya kosong karena syok berat. "Mereka bilang... salam dari Fattah..."
Raisa melihat tulisan di tembok: "MATI AJA LO SEMUA - VANGUARDS".
Rahang Raisa mengeras sampai berbunyi gemeretak. Urat lehernya menonjol.
Lia, yang biasanya tenang dan bodo amat, kali ini terdiam kaku. Dia melihat Aqeela—sahabatnya yang paling polos, yang bahkan nggak pernah marah sama siapa pun—diperlakukan sekeji ini.
Tangan Lia mengepal. HP di tangannya retak karena dia remas terlalu kuat.
"Ini bukan kenakalan remaja lagi," bisik Lia, suaranya dingin menusuk tulang. "Ini teror."
Roseanna mendongak. Air matanya bercampur dengan air hujan. Tapi kali ini bukan air mata sedih. Ini air mata kebencian yang murni.
"Mereka ngancurin Pensi gue, gue diem," kata Roseanna bergetar. "Mereka botakin gue (secara metafora), gue diem. Tapi mereka nyentuh Aqeela..."
Roseanna berdiri. Dia menatap ke arah tembok sekolah sebelah yang menjulang tinggi.
"Gue bakal hancurin mereka. Sampai ke akar-akarnya."
Di Bengkel Vanguards (Waktu yang Sama)
Fattah sedang main kartu remi sama Ilham dan Harry. Mereka tertawa-tawa, tidak tahu menahu apa yang baru saja terjadi di seberang.
"Kartu gue bagus nih! Full House!" seru Harry.
"Curang lo, botak!" toyor Ilham.
Tiba-tiba, pintu bengkel didobrak lagi. Tapi kali ini bukan polisi.
Melainkan Lia. Sendirian.
Lia berdiri di ambang pintu, basah kuyup kena hujan. Rambut panjangnya lepek. Wajahnya yang biasanya glowing, kini pucat dan menyeramkan. Matanya menatap lurus ke arah Fattah."Wih, Neng Lia," sapa Ilham kaget. "Ngapain ke sini? Kangen gue?"
Lia berjalan masuk pelan-pelan. Dia tidak menjawab Ilham. Dia berhenti di depan meja tempat mereka main kartu.
"Lia? Lo kenapa?" tanya Fattah, menyadari ada yang salah. Aura Lia beda banget. Gelap.
Tanpa bicara, Lia mengambil botol kaca bekas sirup di meja.
PRANG!
Lia memecahkan botol itu ke lantai, menyisakan gagang botol yang tajam di tangannya.
Anak-anak Vanguards langsung berdiri siaga.
"Woy! Santai!" seru Harry ketakutan.
Lia menodongkan pecahan botol itu ke wajah Fattah. Tangannya tidak gemetar sedikit pun.
"Lo apain Aqeela?" tanya Lia. Suaranya pelan, tapi bikin bulu kuduk merinding.
"Hah? Aqeela kenapa? Kita nggak ngapa-ngapain!" jawab Fattah bingung.
"JANGAN BOHONG, BANGSAT!" teriak Lia, suaranya pecah. Air matanya menetes. "Temen lo... pake jaket Vanguards... ngelempar darah sama bangkai ke Aqeela! Dia syok berat! Dia sampe nggak bisa ngomong!"
"Hah?! Darah?!" Fattah melotot kaget. "Demi Tuhan, Li! Kita di sini dari tadi! Kita cuma main kartu!"
"BOHONG!" Lia maju, mengayunkan pecahan botol itu membabi buta.
Ilham langsung melompat, menangkap pergelangan tangan Lia dari belakang sebelum dia melukai Fattah (atau dirinya sendiri).
"Lia! Sadar! Tenang!" bentak Ilham, menahan tubuh Lia yang meronta-ronta.
"LEPASIN GUE! KALIAN BINATANG! AQEELA NGGAK SALAH APA-APA!" Lia menjerit histeris, menangis sejadi-jadinya di pelukan paksa Ilham. "Dia orang paling baik... kenapa kalian jahat banget..."
Lia akhirnya lemas, jatuh terduduk di lantai sambil menutup wajah. Ilham ikut berlutut, masih memegangi bahu Lia, bingung harus ngapain.
Fattah terdiam kaku. Wajahnya pucat.
Darah? Bangkai? Aqeela?
"Bos..." bisik Oliver ngeri. "Ada yang nyatut nama kita."
Fattah mengepalkan tangannya erat-erat. Dia menatap Lia yang hancur di depannya.
Ini bukan ulah mereka.
Tapi ada orang lain yang ingin perang ini menjadi berdarah.
"Siapa pun yang ngelakuin ini," geram Fattah, matanya menyala marah. "Dia udah bangunin setan yang salah."
Di luar, hujan turun makin deras, menyamarkan jejak motor-motor misterius yang kini menghilang di kegelapan malam Jakarta, meninggalkan dua kubu yang kini saling membenci sampai ke tulang sumsum... karena kesalahpahaman yang diciptakan oleh Ular Hitam.