Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, rupa menawan dengan senyum mempesona.
Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.
Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.
Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.
Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter : 21
Dokter kandungan, menanyai sang pasien. Tadi, seorang perawat menemuinya, mengatakan kalau dokter umum yang menangani Ayunda, mendapati tanda-tanda kehamilan – sehingga ragu kala mau memberikan jenis obat apa, sebab gak semua obat aman bagi ibu hamil.
Ayunda seperti orang linglung, diam dengan sorot mata kosong, bibir bergetar samar, bahkan kalimatnya terbata-bata. “Ha_ mil?”
“Iya, Nyonya. Kandungan Anda sudah memasuki minggu kelima,” beritahu dokter obgyn, ia menyimpan tanya dalam hati. Wanita ini tidak seperti kebanyakan ibu yang bergembira setelah mengetahui kalau ada janin di perut mereka.
Seila memandang lekat Ayunda, sorot matanya tajam, penuh selidik.
Yusniar lebih dulu tersadar, meskipun bingung, tidak menyangka, sangat terkejut, dia menanyakan tentang keadaan Ayunda. “Apa teman saya baik-baik saja, dokter? Terus kandungannya gak kenapa-kenapa, ‘kan?”
“Sang janin sekuat ibunya. Dia baik-baik saja meskipun nyonya Ayunda diserang syok berlebihan, dan sempat mengalami kram perut. Namun tidak sampai memancing kontraksi dini,” ucap dokter wanita itu.
“Apa perlu dirawat, dokter?”
“Tidak perlu. Setelah habis cairan infus yang mana sudah terkandung vitamin penguat janin dan daya tahan tubuh – nyonya Ayunda diperbolehkan pulang. Hanya butuh minum obat yang nanti perlu ditebus pada bagian farmasi,” jelasnya lebih lanjut.
Seorang perawat memberikan secarik kertas resep, yang langsung diterima oleh Yusniar.
“Selagi menunggu cairan infus habis, pasien boleh ditemani. Sepertinya nyonya Ayunda juga masih terkejut, perlu didampingi,” dokter kandungan pamit keluar ruangan.
Tak lupa Yusniar mengucapkan terima kasih. Setelah memastikan dokter umum kembali duduk di kursi balik meja pada pojok ruang IGD. Dia dan Sheila bergerak cepat, menarik tirai sampai menutupi ranjang dimana Ayunda masih termenung, tatapan kosong.
“Siapa ayahnya, Yunda?” Seila menggeram, berbisik menekan setiap kata.
Ayunda cuma menggeleng, benar-benar tidak bisa berpikir layaknya orang normal.
Seila sedikit merunduk, kedua tangannya menekan pundak Ayunda. “Apa maksud gelengan kepalamu, Yunda?!”
“Tolong jangan tanya apa-apa, Sei. Aku gak tahu,” jawabnya rendah, pasrah.
“Lu gila, ya?!” suaranya memekik, tidak menyadari cengkraman tangannya menguat. “Berapa banyak laki-laki yang udah lu layani, sampai kesulitan menebak siapa bapak dari bayi yang lu kandung, Ayunda?!”
“Pelankan suaramu, Seila! Gak cuma kita bertiga disini, sepertinya sedang ada pasien baru ditangani. Jangan lupakan kehadiran suster dan dokter!” tegur Yusniar. Sebenarnya dia juga penasaran sekaligus gemas, tapi kasihan melihat wajah pias Ayunda.
Seila menarik tangannya dari pundak Ayunda, lalu mengusap kuat wajahnya sendiri. “Gua gak habis pikir. Tadinya menolak percaya semua gosip murahan itu, tapi kalau lu aja jawab gak tahu, padahal beneran hamil … astaga!”
Ayunda menarik kakinya, lalu memeluk lututnya sendiri. Kepalanya menengadah menatap plafon rumah sakit, punggung bersandar sepenuhnya pada bantal. ‘Gak mungkin aku hamil. Dokter itu pasti salah.’
Keheningan begitu terasa, seolah ketiga wanita saling terdiam berada di dunia lain. Mereka sama-sama menghela napas panjang, bingung harus bagaimana.
Tiba-tiba Ayunda menggenggam jemari Seila menggunakan sebelah tangan tidak diinfus. Sorot matanya mengiba, kalimat penuh permohonan. “Sei, tolong jangan katakan ke siapapun! Aku mohon kamu bisa jaga rahasia ini.”
“Kenapa gua harus nurut? Berikan alasannya dulu!” tuntut Seila, seakan mengajak negosiasi.
Ayunda menggeleng, air matanya mulai menetes. “Aku gak bisa. Tolong jangan dipaksa_”
“Lu sendiri gak suka dipaksa, ngapain minta orang mengerti? Jatuhnya gak tahu diri banget!” sarkas Seila, dia menarik paksa tangannya.
“Kamu bener. Aku memang orang gak tau diri, makanya bisa sampai seperti ini. Tapi, aku mohon sedikit rasa empatimu, Sei … tolong rahasiakan kehamilanku,” suara Ayunda nyaris tidak terdengar.
Yusniar berdiri kaku, antara percaya dan tidak. Wanita yang dia kira masih gadis belum tersentuh, ternyata hamil dan lebih gilanya lagi, gak tahu siapa bapak si jabang bayi tengah dikandungnya.
“Gua pikir kita temen, Yun. Ternyata lebih mirip orang asing. Lu begitu tertutup, enggan cerita hal serius, terlebih tentang kehidupanmu. 7 tahun, Ayunda … selama itu, lu anggap apa gua ini?” Seila merasa kecewa.
“Maaf _”
“Gua gak perlu kalimat klise itu. Kalau memang lu anggap gua temen, jujur sekarang siapa bapaknya! Seandainya dia enggan bertanggung jawab, ayo gua temenin memperkarakan sampai masuk bui. Paham gak sih lu, Ayunda?!” Seila sampai mengepalkan tangan, geram sekali akan kebungkaman Ayunda.
Lagi-lagi Ayunda menggeleng, menyembunyikan kepalanya pada lipatan kaki, lalu terlihat bahunya berguncang pelan, tanda tengah menangis sesenggukan.
Yusniar mendekati, memilih peduli daripada membenci yang belum tentu Ayunda sepenuhnya bersalah. Diusapnya rambut masih basah, dan kusut. “Sabar ya, Yun.”
Seseorang menyibak tirai gorden warna hijau. Memandang sekilas wanita bersembunyi pada lipatan kaki, lalu menoleh ke Seila langsung berganti menatap Yusniar. “Tinggalkan tempat ini. Sekarang!”
Seila terbelalak, menelisik wanita berambut sangat pendek seperti gaya potongan pria, mengenakan kemeja lengan pendek, bawahan celana hitam polos. “Lu siapa? Ngapain pakek acara ngusir segala?”
“Ardo!” panggilnya tegas.
Pria berpenampilan layaknya pengawal – badan tegap, pakaian ngepas, berdiri di sebelah wanita tadi. “Harap kerjasamanya. Mobil hotel sudah menunggu di depan, siap mengantarkan kalian kembali. Ayo ikuti saya!”
Yusniar menyipitkan mata, dia jelas tidak kenal dua orang yang sepertinya terbiasa berbicara langsung intinya, tapi merasa pernah bertemu di suatu tempat.
“Nona Seila, tolong ikut rekan saya!” sang wanita melangkah maju, tangan kanannya menjinjing paperbag besar.
“Lu siapa?!” dasarnya memang Seila keras kepala, enggan menurut sebelum jelas, terlebih merasa heran kenapa orang asing ini tahu namanya.
Yusniar melangkah tergesa-gesa menghampiri gadis menatap sengit sang wanita. Menarik tangan Seila, sedikit menyeret.
“Mbak, Ayunda sendirian. Kita juga gak kenal mereka, ngapain nurut?!”
Sayangnya Yusniar memilih patuh, tidak peduli rengekan Seila. “Kita memang gak kenal, tapi Ayunda sebaliknya. Buktinya dia diam saja, pun sama sekali nggak mencoba melihat orang tadi. Terbukti, kalau dia udah akrab sampai hafal suaranya.”
Sampai di teras rumah sakit, mobil hotel sudah standby, siap membawa pulang tamu yang masih mengenakan handuk kimono tanpa alas kaki.
***
“Aku bisa sendiri, Yeri.” Ayunda menolak kala ditawari bantuan berganti pakaian. Tangan kirinya sudah terbebas dari infus.
Wanita yang ternyata bernama Yeri mengangguk sopan. Dia berbalik badan, memastikan gorden tertutup rapat.
Ayunda mulai membuka jubah, lalu melepaskan baju renang masih basah berikut dalaman. Dirinya tidak berdiri di lantai dingin, melainkan Yeri menaruh bantal rumah sakit untuk alas kaki.
Pakaian basah telah diganti dengan kering, sebuah dress tanpa lengan berwarna putih selutut terdapat sulaman bunga Daisy kecil-kecil, dipadukan sama sweater lengan panjang.
“Yeri, tolong urus rambutku,” pintanya pelan, tidak sanggup menyisir helaian kusut disaat badannya lemas, pikiran melalang buana.
“Baik.” Yeri memungut pakaian basah tergolek pada lantai, memasukkan ke paper bag. Kemudian berdiri di samping Ayunda yang kembali duduk di atas ranjang pasien.
Ardo berbicara dibalik tirai. “Semua sudah siap. Helikopter telah siaga!”
.
.
Bersambung.
kapan ya datangnya, apa stelah perjanjian Yunda berakhir