NovelToon NovelToon
Jerat Nurani

Jerat Nurani

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:374
Nilai: 5
Nama Author: Si tupai yang merokok

Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Sumbu yang Terbakar di Pagi Hari

Dua minggu telah berlalu sejak perang urat saraf meledak di ruang tengah kontrakan. Keheningan di dalam rumah itu kini bukan lagi kedamaian, melainkan ketegangan yang menahan napas, seperti udara tepat sebelum badai topan menyapu daratan. Pukul enam pagi, sinar matahari yang pucat menerobos celah ventilasi kamar atas, namun Linda sudah terjaga sejak satu jam lalu dengan rasa mual yang luar biasa menyiksa perutnya.

Di dalam kamar mandi, Linda membungkuk di depan wastafel, memuntahkan cairan pahit yang membuat kerongkongannya terasa seperti disayat sembilu. Sebagai seorang dosen yang terbiasa dengan logika dan data, ia menatap bayangannya sendiri di cermin dengan tatapan horor. Perutnya yang masih rata itu terasa seperti menyimpan bom waktu. Ia belum berani menyentuh alat tes kehamilan, namun insting biologisnya berteriak kencang akan perubahan drastis di dalam tubuhnya pasca malam jahanam bersama Hino.

Suara derit pintu kamar bawah terdengar dari kejauhan. Erni dan Irmi sudah mulai bergerak, namun tidak ada lagi celoteh atau pertengkaran yang memekakkan telinga. Mereka berdua terjebak dalam perang dingin yang jauh lebih mengerikan—perang posisi. Erni yang kini memegang kunci laci toko merasa dirinya adalah pemilik sah rumah itu, sementara Irmi, yang hartanya terus terkuras habis, memilih bungkam dengan mata yang dipenuhi dendam kesumat.

Di depan gerbang kompleks, sebuah suara mesin diesel yang berat dan familiar membuat jantung Hino—yang baru saja keluar dari kontrakan dengan jaket kusamnya—mendadak copot. Mobil double-cabin milik Baskoro berhenti tepat di depan gerbang. Pria bertubuh kekar itu turun dengan raut wajah yang tampak lebih gelap setelah tiga hari dinas luar kota.

"Hino," sapa Baskoro dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia menepuk bahu Hino dengan cengkeraman yang sengaja dibuat menyakitkan. "Jaga baik-baik istrimu dan para penyewa di kontrakan itu selama aku pergi lagi minggu depan. Aku tidak suka mendengar laporan bahwa ada tikus-tikus yang berani bermain di belakang punggungku."

Hino hanya bisa mengangguk kaku, menelan ludah dengan susah payah karena ia tahu persis apa yang dilakukan Bu Hina selama Baskoro pergi. Hino baru saja melangkah menjauh saat sebuah panggilan masuk di ponselnya membuat langkahnya terhenti. Itu nomor Bu Hina. Ia menempelkan ponsel itu ke telinga dengan tangan yang gemetar.

"Mas Hino," suara Hina terdengar sangat berbisik dari seberang telepon, namun ada getaran ketakutan yang luar biasa di sana. "Aku sudah tes. Hasilnya dua garis merah. Dan aku tidak tahu ini anak siapa. Sekarang, dengarkan aku baik-baik. Sore ini, saat matahari tepat di atas kepala, kau harus ada di rumahku. Jangan tanya kenapa, karena suamiku Baskoro baru saja pulang dan dia mulai menaruh curiga pada setiap gerak-gerikku. Kalau kau tidak datang untuk memastikan semuanya, aku akan berteriak sekeras-kerasnya bahwa kau adalah pria yang memaksaku melakukan ini semua saat dia pergi."

Hino menutup panggilan itu dengan perasaan hampa. Dunianya benar-benar sudah berakhir. Di toko nanti, dia harus menghadapi tatapan curiga manajer soal stok barang. Di rumah nanti malam, dia akan dikuliti oleh Erni yang menuntut uang tambahan. Dan sekarang, di seberang jalan, dia terikat dalam jerat kehamilan Bu Hina yang bisa membuatnya kehilangan nyawa di tangan Baskoro kapan saja.

Saat dia berjalan lunglai menuju gerai minimarket, suara langkah kaki seseorang yang mengikutinya membuat Hino menoleh. Irmi berdiri di belakangnya dengan daster sutra yang elegan namun wajah yang sangat pucat. Tidak ada lagi sisa cemburu atau kemarahan yang meledak-ledak. Yang ada hanya ketenangan seorang janda kaya yang sudah memutuskan sesuatu yang fatal.

"Hino," panggil Irmi pelan, suaranya terdengar seperti bisikan kematian di pagi yang dingin itu. Hino berbalik, menatap janda kaya itu dengan mata yang sudah kehilangan cahayanya. Irmi menatap mata Hino lekat-lekat, lalu menyentuh perutnya yang rata dengan gerakan lembut namun penuh ancaman. "Aku tahu segalanya dari Risa. Jangan pernah berpikir kau bisa lari dari apa yang sudah kau tanam di rumah ini. Sekarang katakan padaku, Hino... berapa banyak nyawa lagi yang harus kita korbankan sebelum kau sadar kalau kau sudah menghancurkan hidup kita semua?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!