NovelToon NovelToon
JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Menjadi Pengusaha / Preman
Popularitas:991
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 4: PENGKHIANATAN SULAIMAN

Seminggu berlalu sejak kejadian di kantin. Farhan sama Riko kena skorsing tiga hari—orang tua mereka marah besar, tapi ya mau gimana, Bu Siti keras kepala kalau soal bullying.

Dyon, Andra, sama Leonardo makin deket. Mereka makan bareng di kantin—meskipun tetep di meja pojok yang cat kayunya ngelupas. Tapi sekarang... nggak sepi lagi. Ada tiga orang. Ada ketawa. Ada obrolan.

Dyon masih kerja cuci motor tiap pagi. Masih kuli bangunan tiap sore. Tapi sekarang... ada yang beda. Ada alasan buat tersenyum. Ada harapan kecil—meskipun cuma secuil—yang bikin dia bangun pagi nggak serasa berat banget.

Dan... ada Ismi.

Mereka mulai sering ketemu di perpustakaan. Ngobrol tentang pelajaran, tentang buku, tentang hidup. Ismi cerita tentang keluarganya yang kaya tapi sibuk—bapaknya pengusaha tambang, emaknya dokter. Mereka jarang di rumah. Ismi sering sendirian.

"Kaya itu... nggak selalu bikin bahagia," kata Ismi suatu hari sambil menatap jendela perpustakaan. Matanya kosong. "Kadang malah bikin sepi."

Dyon nggak tau harus bilang apa. Dia cuma dengerin. Kadang... itu yang orang butuhkan. Bukan nasihat. Cuma... telinga yang mau dengerin.

Hari ini, Senin pagi. Dyon datang ke sekolah lebih pagi dari biasa—kerja cuci motor selesai cepat, Pak Soleh lagi baik hati kasih bonus lima ribu. Dia seneng. Bisa beli nasi bungkus dua—buat makan siang sama makan malam nanti.

Gerbang sekolah masih sepi. Baru ada beberapa siswa yang datang. Dyon jalan masuk sambil siul kecil—lagu nasyid yang sering diputar di masjid deket gubuknya.

Terus dia denger suara mesin mobil. Mulus. Mahal.

Nengok—mobil sedan hitam mengkilap masuk ke parkiran sekolah. Velgnya kinclong, kaca filmnya item gelap, ada emblem mewah di depan.

Pintu kebuka. Keluar... cowok.

Seragam rapi. Sepatu kulit mahal. Rambut di-gel rapi. Wajah... Dyon kenal wajah itu.

Jantungnya berhenti sedetik.

Sulaiman.

Sulaiman Hidayat.

Sahabat masa kecil. Sahabat waktu SD. Mereka tinggal di kampung yang sama—gubuk sebelahan. Main bareng, ngaji bareng di surau, makan bareng nasi sama ikan asin. Keluarga Sulaiman dulu... miskin. Bapaknya tukang ojek, emaknya cuci baju orang.

Sama kayak Dyon.

Waktu SMP, keluarga Sulaiman pindah. Dyon nggak tau kemana. Hilang kontak. Nggak ada kabar.

Dan sekarang...

Sekarang Sulaiman turun dari mobil sedan mewah. Seragam branded. Tas ransel mahal. Jam tangan emas di pergelangan tangan.

Kaya.

Dyon langsung nyengir lebar. Hatinya seneng—sahabatnya berhasil! Keluarganya udah nggak miskin lagi! Ini... ini bagus banget!

"Sulaiman!" Dyon teriak sambil lari kecil ke arah dia. Tangannya melambaikan semangat. "Man! Itu kamu kan?! Astaga, lama banget nggak ketemu!"

Sulaiman nengok.

Matanya ketemu mata Dyon.

Tapi... nggak ada senyum.

Nggak ada kehangatan.

Malah... dingin.

Dyon berhenti di depan Sulaiman. Napasnya ngos-ngosan dikit—seneng banget, excited. "Man, gue... gue nggak nyangka ketemu lo lagi! Lo pindah ke sekolah sini? Wah, seru dong! Kita bisa—"

"Minggir."

Suara Sulaiman datar. Dingin kayak es.

Dyon kaget. "Hah?"

"Gue bilang minggir," Sulaiman ngelirik Dyon dari ujung kepala sampai kaki—seragam lusuh, sandal jepit, rambut nggak rapi. "Lo ngalangin jalan gue."

Deg.

Rasanya kayak ditampar.

"Man... ini gue. Dyon. Lo... lo lupa?"

Sulaiman diem sebentar. Terus dia senyum sinis—senyum yang Dyon nggak pernah liat di wajah sahabatnya dulu. "Gue inget. Tapi... gue nggak kenal lo."

"Apa maksud lo—"

Dorong.

Keras.

Tangan Sulaiman ngedorong dada Dyon, bikin dia mundur beberapa langkah, hampir jatuh.

"Jangan dekati aku, sampah!" kata Sulaiman keras. Matanya tajam. "Lo pikir gue mau dilihat orang-orang sebagai temen orang kayak lo? Miskin? Lusuh? Nggak punya harga diri?"

Dyon nggak bisa napas. Dadanya sesak. Kata-kata Sulaiman nusuk lebih dalam dari pisau.

"Man... lo... lo sahabat gue. Lo lupa? Kita dulu main bareng, ngaji bareng—"

"Itu dulu!" Sulaiman nyela, suaranya tinggi. Beberapa siswa yang lewat nengok—mulai ngerumunin. "Sekarang? Gue udah beda! Keluarga gue udah kaya! Bapak gue sekarang pengusaha sukses! Emak gue pengusaha boutique! Gue nggak butuh lo!"

Dyon geleng kepala. Nggak percaya. "Lo... lo berubah, Man. Lo nggak kayak dulu—"

"Justru itu!" Sulaiman melangkah maju, nunjuk muka Dyon. "Gue udah berubah! Gue udah naik kelas! Gue nggak mau disamain sama orang-orang rendahan kayak lo! Lo tau nggak? Bapak gue bilang, kalau mau sukses, jangan dekatin orang miskin. Mereka cuma bikin lo jatuh!"

Kata-kata itu... pedih.

Dyon ngerasa dadanya robek. Matanya panas. Air mata mau keluar—tapi dia tahan. Jangan. Jangan nangis.

"Jadi... jadi persahabatan kita... nggak ada artinya?" suara Dyon serak.

Sulaiman ketawa—ketawa yang kejam. "Persahabatan? Lo pikir gue peduli sama masa lalu? Gue cuma butuh masa depan. Dan masa depan gue nggak ada lo di dalamnya."

Hening.

Siswa-siswa yang nonton pada bisik-bisik. Ada yang ngerekam pakai hape. Ada yang ketawa kecil.

Dyon berdiri di sana. Tangan ngepal erat. Kuku nusuk telapak tangan—sakit, tapi nggak seberapa dibanding sakit di hati.

"Eh, Sulaiman!" suara dari belakang.

Arman.

Arman jalan mendekat dengan senyum lebar, diikuti Edward sama dua anak buahnya. Mereka ngerumunin Sulaiman.

"Wah, mobil lo keren banget, Bro!" kata Arman sambil ngeliatin sedan hitam. "Mercy ya? Seri berapa nih?"

"C-Class," jawab Sulaiman santai. "Baru beli minggu lalu. Hadiah ultah dari bapak."

"Gila! Oke banget!" Edward nyengir. Terus dia ngelirik Dyon. "Eh, lo kenal Sampah ini?"

Sulaiman nengok Dyon—tatapannya kosong. "Nggak. Gue nggak kenal dia."

Arman ketawa keras. "Bener banget! Orang kayak dia mana pantas dikenal orang kayak kita!"

Sulaiman ikutan ketawa. Nyambung. Kayak udah jadi bagian dari geng mereka.

Dyon nggak kuat lagi. Kakinya melangkah mundur. Pelan. Satu langkah. Dua langkah.

"Eh, mau kemana lo?" Edward ngeblok. "Belum selesai nih!"

Arman nyamperin, pegang kerah Dyon. "Gue denger lo udah deket sama Leonardo? Sama si Becak Andra? Wah, kelompok sampah makin rame nih!"

Sulaiman nonton aja. Senyum miring. Nggak nolong. Nggak peduli.

"Lo tau nggak," Arman bisik ke telinga Dyon. "Temen baru gue ini—Sulaiman—keluarganya tajir. Bapaknya partner bisnis sama bapak gue. Jadi... dia bagian dari kita sekarang."

Dyon ngeliatin Sulaiman. Mata mereka ketemu.

"Man... kumohon," bisik Dyon. "Lo... lo masih inget kan? Waktu kita kecil, lo pernah bilang... kita bakal jadi sahabat selamanya. Lo lupa?"

Sulaiman diem sebentar. Mukanya berubah—ada sesuatu di matanya. Ragu? Menyesal? Tapi cuma sedetik.

Terus dia ludah.

Kena sepatu Dyon.

"Gue nggak kenal lo," kata Sulaiman pelan tapi tegas. "Dan gue nggak mau kenal."

Arman melepas Dyon. Mereka semua ketawa—Arman, Edward, anak buah mereka, sama... Sulaiman.

Dyon mundur lagi. Terus balik badan. Jalan cepat—hampir lari—menjauhi mereka. Suara ketawa mereka masih terdengar, ngegema di koridor.

Dia masuk ke toilet. Kunci pintu. Bersandar di dinding dingin.

Air mata jatuh.

Nggak bisa ditahan lagi.

Dia nangis—keras, berisik, kayak anak kecil yang kehilangan ibunya. Tangannya nutup muka, bahu bergetar.

Sulaiman.

Sahabat yang pernah peluk dia waktu orang tuanya meninggal. Sahabat yang pernah bagi nasi bungkusnya waktu Dyon kelaparan. Sahabat yang pernah bilang "kita akan selalu bareng, Yon. Apapun yang terjadi."

Sekarang?

Sekarang Sulaiman meludahinya.

Pengkhianatan ini... lebih sakit dari semua pukulan yang pernah Dyon terima. Lebih sakit dari tendangan Arman. Lebih sakit dari hinaan Edward.

Karena ini datang dari orang yang dia percaya. Dari orang yang dia sayang.

"Ya Allah," bisik Dyon di sela tangisnya. "Kenapa... kenapa orang yang aku sayang selalu pergi? Selalu ninggalin aku?"

Nggak ada jawaban.

Cuma suara tangisnya sendiri yang ngegema di toilet sepi.

Dia duduk di lantai. Lantai keramik dingin, ada genangan air di pojok—kotor, bau pesing. Tapi dia nggak peduli.

Dia peluk lututnya. Kepala nunduk. Nangis sampai air matanya kering.

Sampai suaranya serak.

Sampai dadanya nggak kuat lagi bergetar.

Bel masuk bunyi. Siswa-siswa pada masuk kelas. Tapi Dyon masih di toilet. Diem. Kosong.

*Ternyata belati paling tajam bukan yang datang dari musuh.*

Dia ingat mata Sulaiman yang dingin. Ludahan yang kena sepatunya. Ketawa yang ngejek.

*Tapi dari tangan sahabat yang kau percaya.*

Pintu toilet diketuk pelan.

"Dyon? Lo di dalem?"

Suara Andra.

Dyon nggak jawab.

"Dyon, gue tau lo di dalem. Buka pintunya."

Diem.

"Yon... kumohon. Jangan sendirian."

Pelan-pelan, Dyon berdiri. Kakinya lemas. Dia buka kunci pintu.

Andra masuk. Lihat muka Dyon yang bengkak, mata merah, pipi basah.

Tanpa ngomong apa-apa, Andra peluk Dyon.

Erat.

Dyon nangis lagi. Di pelukan sahabatnya. Di bahu Andra yang kurus tapi kuat.

"Gue di sini," bisik Andra. "Gue nggak akan kemana-mana."

Dan Dyon... percaya.

Meskipun hatinya baru saja dikhianati.

Meskipun dunia terasa kejam.

Dia masih punya Andra.

Dia masih punya Leonardo.

Dia masih punya... harapan kecil.

---

**BERSAMBUNG**

**HOOK:** *Tapi harapan itu rapuh. Dan aku nggak tau—berapa lama lagi aku bisa bertahan sebelum semuanya benar-benar hancur?*

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏
Dri Andri: Terima kasih semoga sehat selalu ya... simak kisah kelanjutannya dan jangan lupa cek juga cerita lainnya barang kali ada yg lebih cocok dan lebih seru
total 1 replies
checangel_
Nangis dalam diam itu, sekuat apa sih batinnya 🤧🤭
Dri Andri: 🤣 gimana caranya
total 3 replies
checangel_
Belum nikah, tapi sudah layaknya suami istri /Sob/
checangel_
Lelah hati lebih melelahkan dari semua lelah yang menyapa di dunia ini😇, karena yang tahu hanya dirinya sendiri
checangel_
Janji mana yang kau lukiskan, Dyon/Facepalm/ janji lagi, lagi-lagi janji 🤭
checangel_
Dengar tuh kata Dyon, kesempatan kedua tidak datang untuk yang ketiga /Facepalm/
Dri Andri
seperti kisah cinta ini maklum cinta monyet
checangel_
Iya musuh, kalian berdua tak baik berduaan seperti itu, bukan mahram /Sob/
Dri Andri: tenang cuma ngobrol biasa ko gak ada free nya 😁🤣😁🤣😁
total 3 replies
checangel_
Ismi, .... sebaiknya jangan terlalu lelap dalam kata 'cinta', karena cinta itu berbagai macam rupa /Facepalm/
checangel_
Sampai segitunya Ismi🤧
checangel_
Nggak semua janji kelingking dapat dipercaya, maka dari itu janganlah berjanji, jika belum tentu pasti, Dyon, Ismi /Facepalm/
checangel_
Ingat ya, kisah cinta di masa sekolah itu belum tentu selamanya, bahkan yang bertahan selamanya itu bisa dihitung 🤧
checangel_
Ismi kamu itu ya /Facepalm/
checangel_
Nah, tuh kan, jadi terbayang-bayang sosok Ismi /Facepalm/. Fokus dulu yuk Fokus /Determined/
checangel_
Jangan balas dendam ya/Sob/
Dri Andri: balas dendam dengan bukti... bukti dengan kesuksesan dan keberhasilan bukan kekerasan💪
total 1 replies
checangel_
Jangan janji bisa nggak/Facepalm/
checangel_
Jangan gitu Dyon, mencintai itu wajar kok, mereka yang pergi, karena memang sudah jalannya seperti itu 😇
checangel_
Bisa kok, tapi ... nggak semudah itu perjuangannya 🤧, karena jurusan itu memang butuh biaya banyak/Frown/
checangel_
Ismi kamu ke realita aja gimana? banyak pasien yang membutuhkan Dokter sepertimu /Smile/
checangel_
Iya Dyon, don't give up!/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!