"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Bayangan di Balik Jubah Putih
Waktu mungkin telah menggoreskan penyesalan di hati Victor, namun bagi fisiknya, waktu justru menempa pria itu menjadi sosok yang semakin mengintimidasi. Di usianya yang kini menginjak kepala tiga, Victor Louis Edward bukan lagi sekadar pria tampan yang dingin. Ia bertransformasi menjadi sosok yang sangat maskulin dengan aura dominan yang menyesakkan ruang.
Rahangnya yang tegas kini dihiasi oleh cambang dan berewok tipis yang tertata rapi, memberikan kesan matang dan liar di saat yang bersamaan. Tinggi badannya yang mencapai 190 cm membuatnya tampak seperti menara kokoh yang tak tergoyahkan, meskipun di dalamnya ia telah keropos oleh rasa rindu. Ia masih menjadi pusat perhatian di setiap pertemuan bisnis, namun matanya yang abu-abu kini memiliki kedalaman yang kelam, seolah menyimpan rahasia tentang seorang gadis yang pernah ia sia-siakan.
Di sisi lain benua, Gabriella Rachel telah bertransformasi total. Tidak ada lagi gadis kecil yang terlihat rapuh. Achell tumbuh menjadi wanita yang luar biasa cantik dengan tinggi 170 cm, memberinya siluet yang jenjang dan anggun. Rambut hitamnya yang dulu lurus kini ia biarkan panjang hingga pinggang dengan tatanan natural curly yang jatuh dengan indah di bahunya. Wajahnya tetap manis, namun tatapan matanya kini tajam dan penuh kecerdasan seorang dokter.
Tiga Bulan Setelah Wisuda.
Achell sedang berada di ruang residen Rumah Sakit Universitas Zurich saat Liam masuk dengan napas sedikit terengah. "Achell, kau harus melihat ini. Ada permintaan konsultasi bedah saraf darurat dari London."
Jantung Achell berdegup satu kali lebih kencang mendengar nama kota itu. "London? Bukankah mereka punya tim dokter terbaik di sana?"
"Ini kasus yang rumit, Achell. Malformasi arteriovenosa pada pasien VIP. Dan yang meminta bantuan secara spesifik adalah Uncle Jake," jelas Liam sambil menyerahkan tablet medis.
Achell terdiam saat melihat nama pasien di layar. Bukan Victor, melainkan salah satu dewan direksi Edward Group yang juga merupakan teman lama keluarganya. Namun, pergi ke London berarti ia harus berhadapan dengan kemungkinan bertemu dengan Victor.
"Aku akan pergi," ucap Achell akhirnya. Suaranya tenang, tanpa keraguan. "Aku pergi ke sana sebagai seorang profesional, bukan sebagai Gabriella yang dulu."
London, Royal Hospital.
Kesibukan di lobi rumah sakit mendadak terhenti saat seorang wanita dengan trench coat berwarna krem dan sepatu hak tinggi melangkah masuk. Rambut curly-nya yang panjang terayun indah seiring langkah kakinya yang mantap. Achell berjalan dengan dagu terangkat, mengenakan kacamata hitam yang menutupi matanya yang lelah setelah penerbangan.
Di belakangnya, Julian—yang kini menjadi pengacara muda sukses—dan Sophie—yang sudah menjadi desainer naik daun—setia mendampingi. Mereka tidak akan membiarkan Achell menginjakkan kaki di London tanpa benteng pertahanan.
"Ingat, Achell. Selesaikan operasinya, lalu kita langsung kembali ke Zurich," bisik Sophie sambil menatap tajam ke sekeliling, waspada jika ada sosok Victor yang muncul.
Achell hanya mengangguk. Ia mengganti pakaiannya dengan jubah putih dokter yang bertuliskan: Dr. Gabriella Rachel, MD.
Saat ia berjalan menuju ruang rapat medis, ia melewati lorong utama. Di sana, di depan jendela besar yang menghadap ke taman rumah sakit, berdirilah seorang pria yang sedang berbicara di telepon. Punggung lebar itu, tinggi 190 cm yang dominan itu... Achell mengenalinya bahkan dari jarak seratus meter.
Victor berbalik saat merasakan aura seseorang yang lewat.
Waktu seolah berhenti. Victor terpaku. Ponsel di tangannya hampir terjatuh. Ia menatap wanita yang berjalan di depannya. Gadis kecilnya... kini begitu tinggi, begitu cantik, dengan rambut panjang yang ikal dan jubah putih yang membuatnya tampak sangat berwibawa.
"Achell?" gumam Victor. Suaranya serak, penuh dengan ketidakpercayaan.
Achell menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan, melepaskan kacamata hitamnya, dan menatap langsung ke mata abu-abu Victor. Tidak ada air mata. Tidak ada kemarahan. Hanya ada ketenangan yang sangat dingin.
"Selamat siang, Tuan Edward," ucap Achell dengan nada formal yang sempurna. "Maaf, saya sedang terburu-buru untuk rapat operasi. Senang melihat Anda sehat."
Achell tidak menunggu jawaban. Ia kembali memakai kacamatanya dan melangkah pergi, meninggalkan Victor yang mematung dengan jantung yang berdegup kencang. Pria itu menyadari satu hal yang menyakitkan: Achell tidak lagi memanggilnya 'Uncle'. Achell tidak lagi melihatnya sebagai pusat dunianya.
Bagi Achell, Victor kini hanyalah seorang kenalan lama yang kebetulan berpapasan di lorong rumah sakit. Dan bagi Victor, melihat Achell yang begitu gagah dan cantik dengan profesinya, adalah bentuk sanksi baru; sanksi karena menyadari bahwa wanita sehebat ini seharusnya menjadi miliknya, namun sekarang ia bahkan tidak punya hak untuk sekadar memanggil namanya dengan akrab.
"Dia sudah benar-benar lepas, Vic," bisik Jake yang tiba-tiba muncul di samping Victor, menatap punggung keponakannya yang semakin menjauh. "Dia bukan milikmu lagi. Dia milik dunia sekarang."
Victor mengepalkan tangannya. Berewok tipis di wajahnya tak mampu menyembunyikan rahangnya yang mengeras karena menahan rasa sakit yang luar biasa. Ia adalah penguasa bisnis London, tapi di depan dokter muda berambut curly itu, ia hanyalah seorang pria yang kalah telak.