NovelToon NovelToon
Sahabat

Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Tamat
Popularitas:500
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ide konyol

Setelah suara langkah kaki tetangga terakhir menghilang di koridor luar, pintu kost terbuka dengan cepat dan Devi masuk dengan wajah penuh kegembiraan. Rambutnya sedikit berantakan karena berlari, namun matanya bersinar seperti bintang di malam hari. Tanpa berpikir dua kali, dia melompat ke atas tempat tidur dan mulai tertawa dengan suara yang cukup keras, bergema di dalam kamar yang kecil namun nyaman. “Akhirnya mereka semua pergi!” teriaknya sambil menggoyangkan badan dari sisi ke sisi, bahkan membuat bantal terlempar ke lantai.

Rohita yang baru saja menyelesaikan membersihkan meja makan tiba-tiba menoleh dengan wajah kemerahan karena marah. Alisnya terkulai ke bawah, dan matanya yang biasanya tenang kini menyala dengan api kemarahan. “Devi, bisakah kamu berhenti?! Suaramu terlalu keras, kamu bisa mengganggu orang lain bahkan jika tetangga sudah pergi!” serunya dengan nada yang menusuk telinga. Tangan nya mengepal erat, dan dia hampir menjatuhkan ember yang masih dipegangnya.

Devi yang tadinya sedang bergembira tiba-tiba menjadi diam, wajahnya berubah dari senyum lebar menjadi ekspresi terkejut lalu sedikit menyakitkan. Dia perlahan turun dari tempat tidur dan mengangkat bantal yang terjatuh, menundukkan kepala. “Maaf, Rohita kak… aku hanya terlalu senang karena akhirnya kita bisa berbicara dengan bebas saja,” ucapnya dengan suara pelan, matanya mulai berkaca-kaca.

Namun kemarahan Rohita belum surut. Dia menghela napas dalam-dalam dan berjalan mendekati Devi. “Kamu selalu seperti ini, kan? Tidak pernah berpikir tentang orang lain! Sudah berapa kali aku bilang kalau suara keras bisa menyebabkan masalah di kost ini? Kamu berusia 17 tahun, seharusnya sudah bisa lebih dewasa!” kata Rohita dengan nada yang tetap tinggi.

Dewi yang selama ini hanya duduk diam di sudut kamar, menyaksikan seluruh kejadian dengan wajah pucat dan tangan yang menggenggam selimut rapat. Dia ingin membela Devi, namun rasa malu yang kuat membuatnya tidak berani membuka mulut. Akhirnya, dia mengangkat suara dengan nada yang sangat lembut, “Kak Rohita… Devi memang tidak sengaja kok…” Namun kalimatnya terhenti saat Rohita menatapnya dengan tatapan yang cukup menyakitkan, lalu kembali menghadap Devi.

“Sejak kamu pindah ke sini, sudah banyak keluhan dari tetangga kost karena tingkahmu yang ceria tapi tidak terkendali! Aku sebagai yang paling tua di sini harus bertanggung jawab, kamu tahu tidak?” Rohita melanjutkan, matanya mulai berkaca-kaca karena emosi yang terlalu tinggi. Devi hanya bisa menunduk lebih dalam, air matanya akhirnya menetes ke lantai. “Aku benar-benar minta maaf, Kak Rohita… aku tidak akan mengulanginya lagi,” ucapnya sambil menepuk-nepuk mata.

Setelah beberapa saat, Rohita mulai merasa sedikit menyesal melihat wajah Devi yang menangis. Dia menghela napas lagi dan mengangguk perlahan. “Baiklah, aku maafkan kamu. Tapi ini yang terakhir ya, Devi. Jangan sampai ada keluhan lagi,” ucapnya dengan nada yang lebih lembut. Devi mengangguk cepat dan lalu menghampiri Rohita, memeluknya dengan erat. Dewi juga berdiri dan menyertainya, membungkus kedua temannya dengan pelukan yang hangat. Kamar yang tadinya penuh dengan ketegangan kini kembali terasa hangat karena persahabatan mereka bertiga.

Keesokan harinya, suasana di kamar kost kembali ceria seperti biasanya. Devi yang sudah merasa lega setelah mendapatkan maaf dari Rohita mulai menunjukkan sisi cerianya lagi. Dia berjalan ke belakang Rohita yang sedang membaca buku di atas meja, lalu dengan cepat menarik rambut poni Rohita secara lembut. “Kak Rohita, kamu terlalu sering membaca aja! Kan capek juga tuh,” ucapnya dengan senyum lebar, lalu berlari ke sudut kamar saat Rohita menoleh dengan wajah sedikit marah tapi tidak benar-benar kesal.

“Hei Devi! Jangan menggangguku saat aku sedang fokus!” seru Rohita sambil menutup bukunya, namun bibirnya sedikit mengerucut ke atas menunjukkan dia tidak benar-benar marah. Devi lalu keluar dari balik tirai dan mulai membuat wajah lucu, membuat Rohita akhirnya tidak tahan dan tertawa sedikit. “Aduh, kamu memang tidak bisa diam ya,” kata Rohita dengan nada tersenyum.

Devi lalu mengajak Rohita bermain batu gunting kertas, dengan syarat jika Rohita kalah dia harus membantu Devi membersihkan kamar selama seminggu. Rohita menerima tantangannya dengan penuh semangat. Mereka bermain dengan suara yang cukup tinggi, tertawa terbahak-bahak setiap kali salah satu kalah. Devi seringkali menipu dengan cepat mengganti tangan nya, namun selalu berhasil tertangkap oleh Rohita yang kemudian akan memukul pelan kepalanya. “Jangan nakal ya Devi!” kata Rohita sambil tertawa.

Sementara itu, Dewi hanya berbaring di tempat tidurnya dengan bantal di bawah kepala, menyaksikan kedua temannya yang sedang asyik bermain. Dia kadang mengeluarkan senyum lembut saat melihat mereka tertawa, namun tidak berani ikut bermain karena rasa malu nya yang masih kuat. Kadang dia akan mengambil buku catatan kecil dan menulis sesuatu di dalamnya, atau hanya melihat ke arah jendela sambil berpikir tentang hal-hal kecil.

Devi yang melihat Dewi hanya berbaring sendirian lalu berjalan mendekatinya dan menarik selimutnya perlahan. “Dewi kak, kamu ikutan dong! Jangan cuma tiduran aja,” ucapnya dengan nada penuh semangat. Dewi sedikit terkejut dan langsung duduk dengan wajah kemerahan. “Aku… aku tidak bisa nih Devi… aku tidak pandai bermainnya,” ucapnya dengan suara pelan, menundukkan kepala.

Tapi Devi tidak mau menyerah. Dia menarik tangan Dewi dengan lembut dan membawanya ke dekat meja tempat Rohita sedang duduk. “Tidak apa-apa, kita ajarin kamu dong Kak Dewi! Cukup ikutin aja cara mainnya,” ucapnya. Rohita juga mengangguk dan menjelaskan cara bermain batu gunting kertas dengan sabar kepada Dewi. Setelah beberapa kali mencoba, Dewi akhirnya bisa bermain dengan benar dan bahkan berhasil mengalahkan Rohita satu kali, membuatnya sedikit tersenyum dengan bangga.

Mereka bermain hingga sore hari, terkadang berhenti untuk minum teh hangat yang sudah dibuat Rohita. Devi terus mengajak bercanda, kadang mengoceh tentang hal-hal sepele yang membuat Rohita dan Dewi tertawa. Dewi yang awalnya hanya diam kini mulai sedikit terbuka, kadang mengeluarkan kalimat pendek atau tersenyum lebar saat melihat lelucon Devi. Saat matahari mulai merunduk, mereka berbaring bersama di lantai kamar, melihat ke arah langit-langit sambil berbincang tentang impian masing-masing. Rohita bercerita tentang cita-citanya yang ingin menjadi orang sukses, Dewi sedikit malu bercerita tentang harapannya untuk bisa belajar lebih jauh, dan Devi dengan penuh semangat bercerita tentang keinginannya untuk menjelajahi banyak tempat menarik. Suasana kamar penuh dengan kehangatan persahabatan yang semakin erat antara ketiganya.

Di pagi hari yang cerah, Rohita bangun lebih awal dan langsung menyiapkan segala sesuatu untuk perjalanan ke pantai. Dia sudah merencanakan ini sejak beberapa hari lalu, merasa bahwa mereka butuh waktu untuk bersantai setelah beberapa hari yang cukup melelahkan. Dia mengeluarkan helm dan mengecek kondisi motor dengan cermat, sambil menyanyi lagu yang sering dia dengar di radio.

Setelah itu, dia membangunkan Dewi dan Devi yang masih sedang tidur lelap. Devi langsung terbangun dengan wajah penuh semangat saat mendengar kata “pantai”, bahkan langsung melompat dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi. Sementara itu, Dewi bangun dengan perlahan, wajahnya masih sedikit mengantuk namun dia tetap bersiap dengan sabar, membantu Rohita menyiapkan makanan ringan dan air minum untuk dibawa.

Setelah semua siap, mereka keluar dari kost dengan penuh semangat. Rohita membawa tas yang berisi makanan dan perlengkapan pantai, Dewi membawa handuk dan payung, sedangkan Devi sudah berada di belakang motor dengan helm sudah terpasang rapat, siap untuk berangkat. Rohita menyalakan mesin motor, namun setelah beberapa kali mencoba, mesin hanya mengeluarkan suara , tanpa bisa menyala dengan benar.

“Aduh, kok bisa ya?” ucap Rohita dengan wajah khawatir, mencoba menyalakannya lagi namun hasilnya sama saja. Dia memeriksa bagian dalam mesin dengan cermat, namun tidak menemukan masalah yang jelas. Setelah beberapa saat mencoba memperbaikinya, dia akhirnya menyerah dan menghela napas dalam-dalam. “Sepertinya motornya mogok ya,” katanya dengan nada kecewa.

Devi turun dari motor dan mendekati Rohita, melihat kondisi motor dengan wajah juga khawatir. “Kalau begitu gimana dong Kak Rohita? Kita sudah pengen banget ke pantai,” ucapnya dengan suara sedikit menyedihkan. Dewi yang berdiri di samping juga menundukkan kepala, meskipun dia tidak banyak bicara, jelas terlihat bahwa dia juga kecewa.

Rohita lalu mengecek dompetnya dan kantong celananya, namun hanya menemukan beberapa koin kecil yang tidak cukup untuk membeli bensin, apalagi untuk membayar biaya perbaikan motor jika diperlukan. “Aku tidak punya uang sama sekali untuk membeli bensin atau memperbaiki motor,” ucapnya dengan nada kecewa, meremas tangannya dengan frustasi.

Devi mulai berpikir keras sambil menggosok dagunya. Dia tidak ingin rencana mereka ke pantai kandas begitu saja. “Kita harus cari cara dong Kak Rohita! Jangan menyerah begitu aja,” ucapnya dengan semangat yang masih tetap ada. Rohita hanya mengangguk perlahan, namun wajahnya masih penuh dengan kekhawatiran. Dewi yang selama ini diam akhirnya mengangkat suara, “Kalau begitu… kita bisa cari bantuan aja ya?” namun kalimatnya terhenti saat dia menyadari bahwa mereka tidak tahu siapa yang bisa mereka tanya bantuan di sekitar sini.

Mereka berdiri di depan kost dengan melihat motor yang mogok, masing-masing berpikir tentang cara untuk menyelesaikan masalah ini. Devi terus mengoceh berbagai ide yang kadang cukup aneh, membuat Rohita sedikit tersenyum meskipun masih merasa kecewa. Akhirnya, Devi mengangkat kepalanya dengan mata yang bersinar kembali. “Aku punya ide!” teriaknya dengan suara tinggi, membuat Rohita dan Dewi menoleh padanya dengan tatapan penasaran.

1
Wida_Ast Jcy
do re mi donk🤭🤭🤭 tiga sahabat dipanggil do re mi hehheh
Wida_Ast Jcy
Saran ya thor dialog dengan narasi ada baiknya dipisah lho. 🙏🙏🙏
Mingyu gf😘
bahasa formal sama bahasa sehari hari jangan di campur
Mingyu gf😘
Jangan terlalu suka kepo dengan orang yang gak di kenal
Anang Anang
lanjut
Dini
mantap
Dini
sangat mengispirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!