NovelToon NovelToon
LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor jahat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.

Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.

Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.

Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.

Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiba di Jakarta

Bus masuk Terminal Kampung Rambutan sekitar jam dua belas siang.

Lestari bangun—dia sempet ketiduran sejam terakhir. Antoni juga baru bangun, menggosok-gosok mata.

"Ibu... kita udah sampe?" tanya Antoni.

"Iya, Nak. Kita udah di Jakarta."

Lestari ngeliat keluar jendela—terminal gede banget. Jauh lebih gede dari terminal di Bandung. Orang banyak banget—pada lalu lalang, bawa tas, bawa kardus, teriak-teriak nawarin angkot.

Bus berhenti. Kondektur teriak, "KAMPUNG RAMBUTAN! TURUN SEMUA!"

Penumpang pada turun. Lestari turun terakhir—gendong Antoni, bawa tas.

Begitu turun—panas. Panas banget. Matahari terik nyengat. Keringat langsung keluar.

Antoni meringis. "Ibu... panas..."

"Iya, Nak. Sabar ya. Kita cari tempat teduh dulu."

Lestari jalan ke pinggir terminal—cari tempat duduk. Mata nya ngeliat sekeliling—asing banget. Gedung-gedung tinggi, orang-orang banyak yang pada buru-buru, suara klakson mobil, suara pedagang teriak-teriak.

"ANGKOT TANAH ABANG! TANAH ABANG! NAIK NAIK!"

"GOJEK MURAH! OJEK MURAH!"

"ES TEH MANIS! ES JERUK! DINGIN!"

Berisik. Rame banget. Lestari nggak biasa.

Dia duduk di bangku terminal—bangku kayu panjang yang catnya udah mengelupas. Antoni diduduki di samping nya.

"Nak, kamu tunggu di sini ya. Jangan kemana-kemana. Ibu mau telpon Tante Siti."

Antoni ngangguk. Tangan nya pegang tas—pegang erat.

Lestari keluarin ponsel—nyalain lagi. Begitu nyala—langsung masuk notifikasi.

Dua puluh tiga panggilan tak terjawab. Dari Dyon.

Lima belas pesan. Dari Dyon. Dari Wulandari.

Lestari nggak buka pesan nya. Langsung telpon nomor Bu Siti yang udah disimpen dari kemarin.

Nada sambung. Tuuut... tuuut...

"Halo?" Suara perempuan—suara lembut, agak parau.

"Tante Siti? Ini... ini Lestari. Temen Bu Ratih dari Bandung..."

"Oh! Lestari! Iya iya, Tante tau! Bu Ratih udah telpon Tante tadi pagi! Kamu udah sampe Jakarta?"

"Udah, Tante. Aku sekarang di Terminal Kampung Rambutan..."

"Oke oke! Tante jemput sekarang ya! Kamu tunggu di depan pintu masuk terminal. Yang ada tulisan 'Selamat Datang'. Tante naik motor. Tante pake kerudung hijau. Tunggu ya, sepuluh menit Tante sampe!"

"Baik, Tante. Makasih banyak..."

Telpon ditutup.

Lestari ngeluarin napas lega. Syukur. Bu Siti baik.

"Nak, yuk kita ke depan. Tante Siti mau jemput kita."

Antoni turun dari bangku. Tangan nya digenggam Lestari—genggaman erat biar nggak lepas di keramaian.

Mereka jalan ke pintu masuk terminal. Lewat kerumunan orang—ada yang jual pulsa, jual makanan, jual mainan, ada calo angkot yang teriak-teriak.

"MBAK MBAK! MAU KE MANA? NAIK ANGKOT AJA! MURAH!"

Lestari menggeleng. "Nggak, makasih."

"AYOLAH MBAK! TANAH ABANG CUMA LIMA BELAS RIBU!"

"Nggak, terima kasih. Udah ada yang jemput."

Calo nya masih ngikutin—sampe Lestari berhenti, noleh, natap tegas. "Udah ada yang jemput. Terima kasih."

Calo nya akhirnya pergi—ngomel-ngomel sendiri.

Lestari sampe di pintu masuk. Ada tulisan besar "SELAMAT DATANG DI JAKARTA".

Dia berdiri di situ—nunggu. Antoni duduk di pinggir trotoar, kaki nya capek.

Di samping mereka—ada toko ponsel kecil. Toko nya buka dari pagi, lagi rame banget—ada promo katanya. Diskon gede-gedean.

Dua sales—satu cowok, satu cewek—lagi debat keras di depan toko.

"GUE YANG LEBIH LAKU! GUE YANG JUAL LIMA HP HARI INI!" teriak sales cowok—rambutnya klimis, pake kemeja item ketat.

"BOHONG! LO CUMA JUAL TIGA! GUE YANG JUAL LIMA! GUE PUNYA BUKTI!" sales cewek—pake rok pendek, makeup menor—nunjuk-nunjuk layar ponsel nya.

"LO NGIBUL! ITU PENJUALAN KEMARIN! BUKAN HARI INI!"

"HARI INI JUGA! LO YANG NGIBUL! MAKANYA GUE DAPET BONUS, LO NGGAK!"

Mereka cekcok makin seru—sampe owner toko keluar, teriak, "UDAH UDAH! KALIAN BERDUA DAPET BONUS SAMA! SEKARANG KERJA LAGI JANGAN BERANTEM!"

Lestari ngeliat itu sambil... sedikit senyum. Lucu. Di tengah semua ketegangan, ada momen konyol kayak gini.

Antoni juga ngeliat—dia ketawa kecil. "Ibu, mereka berantem kayak anak kecil ya?"

"Iya, Nak. Dewasa tapi masih kayak anak kecil."

Di sebelah kanan—ada dua ibu-ibu lagi ngobrol. Suara nya keras banget, semua orang bisa denger.

"Eh, lo tau nggak Jeng—"

Belum selesai ngomong—ibu satunya langsung motong.

"Kagak."

Ibu pertama melotot. "MAKANYA DENGERIN DULU, JENG! MAIN POTONG AJA! GILE YA NEGARA INI KOK BOBROK AMAT NIH! LIAT DI HAPE GUE—KORUPSI TAMBAH LAGI! GUE MUAK, JENG, LIAT NEGARA INI! MENDING KIAMAT AJA LAH!"

Ibu kedua ngangguk-ngangguk. "Ya namanya negara Wakanda, mau gimana lagi. Bentar lagi juga kiamat."

"WAKANDA APAAN, JENG?! INI INDONESIA! BUKAN WAKANDA!"

"Iya iya, sama aja lah! Pokoknya negara kacau!"

Mereka ngobrol terus—makin nggak nyambung, makin berisik.

Lestari menggeleng pelan. Nggak ngerti mereka ngomong apa. Dia fokus nunggu Bu Siti.

Sepuluh menit kemudian—

Motor berhenti di depan pintu masuk. Motor bebek merah tua, dikendarai ibu-ibu pake kerudung hijau, umur lima puluhan.

"LESTARI?!" teriak ibu itu.

Lestari langsung berdiri. "TANTE SITI?!"

"IYA! AYO SINI!"

Lestari gendong Antoni, bawa tas, jalan ke motor.

Bu Siti turun dari motor—senyum lebar. Muka nya ramah banget. Kulitnya sawo matang, pipinya tembem, mata nya kecil tapi hangat.

"Kamu pasti Lestari ya? Ratih udah cerita semua. Ayo ikut Tante." Bu Siti langsung bantu angkat tas Lestari—taruh di jok belakang motor, diiket pake tali.

"Makasih, Tante... aku... aku nggak tau harus bilang apa..."

"Nggak usah bilang apa-apa. Naik aja dulu. Kamu pasti capek."

Lestari naik—Antoni di tengah, Lestari di belakang, Bu Siti nyetir.

Motor jalan—lewatin jalan raya Jakarta yang macet parah. Mobil banyak banget, motor banyak banget, klakson bunyi di mana-mana.

Antoni megang erat baju Lestari—mata nya melek lebar, takjub liat gedung-gedung tinggi.

"Ibu... gedung nya tinggi banget..."

"Iya, Nak. Ini Jakarta. Gedung nya emang tinggi-tinggi."

Bu Siti ketawa. "Antoni belum pernah ke Jakarta ya?"

"Belum, Tante. Ini pertama kali."

"Wah, pasti excited ya, Dek! Nanti Tante ajak jalan-jalan!"

Antoni senyum—senyum polos.

---

Setengah jam kemudian—sampe di rumah Bu Siti.

Rumah kontrakan di gang sempit—gang yang lebih sempit dari gang rumah Dyon. Tapi bersih. Nggak ada sampah berserakan. Rumah nya kecil—satu kamar, satu ruang tamu kecil, dapur menyatu sama ruang tamu, kamar mandi di belakang.

"Ini rumah nya sederhana, tapi bersih kok. Kamu bisa tinggal di kamar. Tante tidur di ruang tamu aja."

"Nggak usah, Tante! Aku yang tidur di ruang tamu! Tante kan punya rumah sendiri—"

"Udah, nggak usah sungkan. Tante biasa tidur di mana aja. Lagian kamar nya kecil, cuma muat buat kamu sama Antoni. Tante mah nggak masalah."

Lestari masuk kamar—kamar nya kecil, tapi ada kasur lipat, ada bantal dua, selimut bersih. Jauh lebih layak dari kamar gudang.

"Tante..." Lestari noleh—mata nya berkaca-kaca. "Sewa nya... sewa nya berapa, Tante? Aku... aku mau bayar—"

"Udah Tante bayar buat dua bulan ke depan. Kamu nggak usah bayar dulu. Fokus cari kerjaan dulu."

"Tapi Tante—"

"Gak usah buru-buru. Yang penting kamu dan Antoni aman dulu. Istirahat yang cukup."

Lestari nangis. Nangis terharu. Langsung peluk Bu Siti—peluk erat.

"Terima kasih banyak, Tante... aku janji akan kerja keras bayar semua kebaikan Tante..."

"Iya iya, udah jangan nangis. Nanti Antoni ikutan nangis."

Antoni berdiri di samping mereka—ngeliat Ibu nya nangis.

"Nenek ini... Nenek ini kok baik ya?" kata Antoni polos—ngeliat Bu Siti. "Beda sama Bapa yang bilang Antoni anak setan... padahal Antoni anak Bapa... bukan anak setan..."

Hening.

Bu Siti kaget. Lestari kaget.

Terus Bu Siti jongkok—sejajar sama Antoni. "Antoni bukan anak setan. Antoni anak baik. Anak pintar. Anak yang disayang Ibu. Ngerti?"

Antoni ngangguk pelan. "Ngerti, Nek..."

Bu Siti senyum—mengelus kepala Antoni. "Bagus. Sekarang Antoni istirahat ya. Pasti capek naik bus jauh."

---

Malam itu—sekitar jam sepuluh—Antoni udah tidur di kasur. Tidur nyenyak—capek seharian.

Lestari duduk di pinggir kasur—ngeliat Antoni yang tidur. Senyum tipis muncul di bibir nya.

"Kita berhasil, Nak. Kita... kita keluar dari neraka itu."

Tapi senyum nya pudar.

Karena ponsel nya getar lagi.

Lestari ambil ponsel dari kantong daster—layar nya nyala.

Notifikasi masuk.

Tiga puluh panggilan tak terjawab. Dari Dyon.

Dua puluh pesan. Dari Dyon. Dari Wulandari.

Lestari buka satu pesan—dari Dyon.

*"LO DI MANA?! BALIK SEKARANG ATAU GUE CARI LO SAMPE KETEMU!"*

Lestari merem. Napas dalam.

Buka pesan lain—dari Wulandari.

*"Dasar anak durhaka! Lo kabur bawa anak gue! Balik sekarang atau gue lapor polisi!"*

Lestari tangan nya gemetar. Takut. Takut banget.

Tapi—

Dia tekan tombol. Blokir nomor Dyon. Blokir nomor Wulandari.

Selesai.

"Aku nggak akan balik. Tidak peduli apapun yang terjadi. Aku... aku nggak akan biarkan Antoni tumbuh kayak aku. Nggak akan."

Ponsel dimatiin lagi. Disimpen di bawah bantal.

Lestari berbaring di samping Antoni. Ngeliat langit-langit kamar yang bersih—nggak ada sarang laba-laba, nggak ada bocor.

"Terima kasih, Ya Allah... terima kasih udah bawa kami selamat sampe sini... kumohon... lindungi kami terus... jangan biarkan Dyon nemu kami..."

Mata nya perlahan merem.

Untuk pertama kali dalam tujuh tahun—

Dia tidur dengan perasaan... aman.

Belum sepenuhnya tenang. Masih ada ketakutan.

Tapi... lebih aman dari sebelumnya.

Dan itu... itu udah cukup.

Untuk saat ini.

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap, teruntuk Lestari wanita kuat dan tentunya Author hebat di balik setiap lembarannya 👍🙏
Mentari_Senja: mkasih udh slalu stay di ceritaku, Kak☺
total 1 replies
checangel_
Dan tentunya penuh kejutan 🤭
checangel_
/Good/
Dri Andri
yon urang gelud lah... ajg parah lord dyon... anak balita aja di tampar... anak setan... bapaknya apa ? aaaaaakakakkakaakakak
checangel_
Karena Dyon adalah suamimu, firasatmu sebagai istri selalu tepat dan akurat Lestarai 😇
Mentari_Senja: ikatan batin seorang istri😌
total 1 replies
checangel_
Wah, Antoni hebat bisa juggling bola/Applaud/, Aunty bangga padamu /Smile/
Mentari_Senja: mkasih Aunty🤭
total 1 replies
checangel_
Kok berasa komedi ya, saat Ibu Wulandari muncul, komedinya ngeri² gimana gitu/Facepalm/🤭, Astaghfirullah maafkan Reader ini ya Ibu Wulandari 🤧
checangel_: Entahlah/Silent/
total 4 replies
checangel_
Anak lelaki memang harus dekat dengan Ibunya, baru deh yang kedua Ayahnya 😇
checangel_
Mau aku kasih tahu rahasia nggak, anak sekecil itu jika sudah mendapat tekanan keras (berupa tamparan, teriakan, bahkan Ibunya tersakiti) dari Ayahnya, saat dewasa anak itu akan benci dengan apa yang pernah dialaminya sedari kecil, TAPI .... kebencian itu bukanlah solusinya, karena pada akhirnya kebenaran yang berpihak 👍
checangel_: /Good/
total 2 replies
checangel_
Kenapa ditampar anak sekecil itu?/Sob/ Dyon kamu itu ya /Drowsy/
checangel_: /Facepalm/
total 4 replies
checangel_
Lestari, kamu Ibu hebat🤧
checangel_
Andriano hadir disaat yang tepat, bukan begitu Lestari, Dyon hempaskan. Astaghfirullah/Facepalm/
Mentari_Senja: main hempaskan aja, Dyon jga manusia, hanya saja dia salah jalur🤣🤣
total 1 replies
checangel_
Dyon kamu itu ya!!!/Grimace/, banyak² istighfar yuk sebelum terlambat 🤧
checangel_
Tenang, ada Allah yang selalu bersamamu😇
Mentari_Senja: dan ada author yg slalu ada di cerita ini🤭
total 1 replies
checangel_
Tapi kita juga tak tahu, apakah mereka yang tersenyum di luar sana beneran tersenyum atau hanyalah pura², karena dibalik senyum tak semua orang tersenyum 🤭/Facepalm/
Mentari_Senja: karena manusia terlalu pandai berpura2
total 1 replies
checangel_
Lestari, you are strong woman🤧
checangel_
Apalagi ni? Ibu Wulandari berulah lagi🤧
Mentari_Senja: emang suka bikin ulah kak😩
total 1 replies
checangel_
Ibu Wulandari terjuket /Facepalm/
Mentari_Senja: untung aja bukan terjungkit😩
total 1 replies
Dri Andri
anjay ududna Sampurna mill.. beliin aja petasan biar mulut nya hancur😁
Dri Andri: sampurna kretek murah
total 3 replies
Dri Andri
agak laen nih dyon

lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!