Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.
Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?
Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4 – Di Antara Rak yang Sunyi
Dua minggu telah berlalu sejak malam festival musim panas Universitas Aozora.
Dan bagi Airi, waktu terasa berjalan dengan cara yang aneh—tidak sepenuhnya cepat, tidak benar-benar lambat. Seolah hidupnya kini terbagi menjadi dua bagian: sebelum panggung, dan setelahnya.
Setelah debut Silent Echo, banyak hal berubah tanpa suara. Orang-orang mulai mengenali wajahnya. Ada yang menyapanya di koridor, ada yang meminta foto, ada pula yang sekadar tersenyum sambil berbisik. Semua itu seharusnya terasa menyenangkan. Seharusnya.
Namun yang paling terasa justru bukan sorotan, melainkan keheningan di sela-selanya.
Airi masih bernyanyi. Masih latihan. Masih berjalan pulang bersama Ren. Tapi ada sesuatu di dalam dadanya yang bergeser—sebuah ruang kecil yang kini terisi oleh nada baru, oleh perasaan yang belum ia beri nama, dan oleh kehadiran seseorang yang datang tanpa memaksa.
Yukito resmi bergabung dengan Silent Echo tiga hari setelah festival.
Keputusannya sederhana, tanpa pengumuman besar. Ia hanya datang ke latihan berikutnya, membawa stik drum dan senyum canggungnya.
“Aku mau lanjut,” katanya waktu itu. “Kalau kalian masih mau.”
Tak ada yang menolak.
Sejak saat itu, ritme band terasa lebih utuh. Dan bagi Airi—lebih aman.
Namun hari ini, setelah kelas berakhir dan matahari mulai condong ke barat, Airi memilih satu tempat yang selalu ia datangi ketika pikirannya terlalu penuh.
Perpustakaan.
Perpustakaan Universitas Aozora tidak pernah benar-benar sepi. Ia hanya tenang dengan caranya sendiri—sunyi yang diisi oleh suara halaman dibalik, langkah kaki pelan, dan dengung pendingin ruangan yang konstan. Bagi Airi, tempat itu terasa lebih ramah daripada kebanyakan ruang lain di kampus.
Ia belum ingin pulang.
Tasnya digeser sedikit ke bahu saat ia melangkah masuk, melewati meja penjaga dengan anggukan kecil. Matanya bergerak otomatis ke arah yang paling ia kenal: rak komik dan novel grafis di sudut barat perpustakaan. Kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar ia tinggalkan sejak SMP.
Airi berjongkok di depan rak paling bawah, jari-jarinya menyusuri punggung buku dengan gerakan pelan, seolah menyapa teman lama.
“Masih ada…” gumamnya ketika menemukan seri komik yang dulu hanya bisa ia baca di perpustakaan kota.
Ia menarik satu volume, lalu berdiri sambil membukanya sekilas. Ilustrasi hitam-putih memenuhi halaman, membuat bahunya mengendur tanpa ia sadari. Dunia di luar kepalanya meredup, tergantikan oleh panel-panel yang terasa aman—tanpa ekspektasi, tanpa tatapan.
Ia melangkah ke lorong rak berikutnya tanpa benar-benar melihat ke depan.
Dan di situlah semuanya kembali bertemu.
“Ah—!”
Tubuhnya menabrak seseorang dengan cukup keras hingga buku di tangannya hampir terlepas. Airi refleks mundur selangkah.
“Ma-maaf!”
Suara itu terdengar hampir bersamaan dengan suaranya sendiri.
Airi mendongak.
Di depannya berdiri seorang mahasiswa dengan rambut hitam sedikit berantakan, kacamata tipis, dan tumpukan buku tebal di tangannya. Ekspresinya panik—terlalu panik untuk situasi yang sebenarnya tidak parah.
“Aku nggak lihat kamu,” katanya cepat. “Beneran, maaf.”
Airi menggeleng pelan. “Aku juga. Aku sambil baca.”
Mereka terdiam sepersekian detik—hening yang canggung, tapi tidak menyesakkan.
Salah satu buku di tangan laki-laki itu bergeser, hampir jatuh.
Airi refleks meraih. “Ini—”
“Terima kasih,” katanya, menerima buku itu dengan dua tangan. Wajahnya sedikit memerah. “Perkenalkan… secara resmi. Aku Mizuhara Yukito.”
Airi berkedip.
Nama itu kini tidak lagi terasa asing.
“Oh,” katanya pelan. “Aku Kirishima Airi.”
Yukito tampak tersenyum kecil—senyum yang bukan basa-basi. “Aku tahu. Dari panggung.”
Airi terkejut sedikit. “Oh.”
“Vokalmu… kuat,” lanjutnya cepat, seolah takut terdengar terlalu langsung. “Bukan cuma suaranya. Tapi caramu berdiri.”
Airi menunduk, pipinya menghangat. “Terima kasih.”
Yukito mengangguk, lalu menambahkan dengan nada lebih santai, “Ngomong-ngomong… aku sudah mutusin. Aku resmi ikut band kalian.”
Airi mendongak. “Serius?”
“Iya,” jawabnya mantap. “Aku mau belajar bareng kalian.”
Ada sesuatu di dada Airi yang mengendur. Bukan ledakan emosi—lebih seperti pintu yang terbuka perlahan.
“Kita satu angkatan,” lanjut Yukito, berusaha mencairkan suasana. “Teknik Informatika.”
“Iya,” kata Airi. “Aku Seni Digital.”
Hening kembali jatuh—tapi kali ini terasa wajar. Nyaman.
Yukito melirik buku komik di tangan Airi. “Kamu suka baca komik juga?”
“Iya,” jawab Airi. “Dari dulu.”
“Rak ini favoritku juga,” katanya sambil tersenyum tipis. “Kalau lagi capek sama buku teknis.”
Airi tersenyum balik—senyum kecil, tapi jujur.
Mereka berdiri agak terlalu dekat di lorong sempit itu, tapi tidak ada yang segera menjauh. Perpustakaan menelan keheningan mereka, membiarkannya tinggal.
“Kamu sering ke sini?” tanya Yukito.
“Hampir setiap hari,” jawab Airi. “Tempat paling gampang buat… tenang.”
Yukito mengangguk pelan. “Aku juga.”
Ia ragu sejenak, lalu berkata, “Aku pernah lihat ilustrasi kamu.”
Airi menegang. “Ilustrasi?”
“Iya,” katanya cepat. “Di papan pameran mahasiswa baru. Judulnya Echo in Blue.”
Airi terdiam. Ia lupa karya itu masih dipajang.
“Oh,” katanya lirih. “Kamu lihat?”
“Iya,” Yukito tersenyum kecil. “Bagus. Sunyi, tapi… hidup.”
Pujian itu tidak menekan. Tidak memaksa. Tidak meminta apa pun sebagai balasan.
Dan untuk pertama kalinya, Airi tidak merasa ingin menghindar.
“Makasih,” katanya pelan.
Yukito melirik jam tangannya. “Aku mau ke ruang baca. Tapi… kalau kamu mau, ada seri lanjutan di rak ujung. Jarang dipinjam.”
Airi tertawa kecil. “Kedengarannya seperti rahasia penting.”
“Sedikit,” jawab Yukito.
Ia memberi jalan. Airi melangkah di sampingnya—tidak lagi canggung, tidak lagi sendirian.
Di luar, matahari condong ke barat.
Dan tanpa disadari Airi, di antara rak-rak sunyi itu, sesuatu di dalam dirinya mulai belajar percaya—bahwa tidak semua kedekatan harus melukainya.