Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Siang itu Kirana duduk di ruang tamu dengan ponsel di tangan. Jarinya sedikit gemetar ketika menekan layar, bukan karena gugup, melainkan karena harapan yang terlalu rapuh untuk diucapkan dengan lantang.
Dia mengunggah foto rice bowl buatannya ke grup kuliner desa dan beberapa grup WhatsApp ibu-ibu. Foto sederhana yang nasi putih hangat, ayam bakar bumbu kecap, telur balado, tempe goreng, sambal merah, dan lalapan. Tidak estetik, tidak mewah. Tapi jujur. Sejujur niat Kirana yang hanya ingin bertahan hidup.
Beberapa menit pertama tidak ada respons. Kirana meletakkan ponsel, lalu berdiri mondar-mandir kecil di dapur. Tangannya otomatis merapikan meja, mengelap kompor, lalu berhenti di depan jendela.
“Kalau hari ini tidak laku, tidak apa-apa,” gumamnya pelan, seolah meyakinkan diri sendiri.
Belum selesai kalimat itu mengendap di hati, layar ponselnya menyala.
[Ki, bisa pesan 10 porsi ayam bakar dan antarkan ke puskesmas?]
Kirana menutup mulutnya refleks. Matanya membulat, napasnya tertahan sesaat.
“Ya Tuhan ....” bisik Kirana lirih.
Itu pesan dari tetangganya yang bekerja di puskesmas. Dia memesan sepuluh porsi.
Dengan tangan bergetar, Kirana membalas cepat.
[Bisa, Bu. Siap saya antar jam berapa?]
Belum sempat ia menarik napas lega, pesan lain masuk.
[Kirana, aku pesan 5 porsi. Nanti aku ambil satu jam lagi.]
[Mbak Kirana, bisa pesan 2 porsi?]
[Mama Gita, aku ingin beli 3 porsi.]
Ponsel itu hampir terjatuh dari tangannya. Air mata Kirana menetes begitu saja. Bukan tangis histeris, bukan pula isak keras. Hanya air mata hangat yang jatuh ke punggung tangannya, membawa rasa syukur yang selama ini terpendam.
“Terima kasih ....” ucap Kirana lirih, entah pada siapa.
Wanita itu mengusap wajah cepat, lalu bergegas ke dapur. Tidak ada waktu untuk larut. Hari ini dapurnya bukan sekadar tempat memasak, sekarang tempat ini adalah medan perjuangan baginya mencari uang.
Kirana bekerja tanpa henti. Menanak nasi, membakar ayam, merebus telur, menumis bumbu. Keringat membasahi pelipisnya, punggungnya terasa pegal, tapi hatinya hangat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasa berguna. Merasa berdiri dengan kakinya sendiri.
Harga rice bowl itu ia tentukan dengan penuh perhitungan. Sepuluh ribu untuk menu sederhana, lima belas ribu untuk yang lengkap. Dia tahu kondisi ekonomi orang-orang di sekitarnya. Dia tidak ingin mencari untung besar. Yang dia inginkan hanya cukup.
Cukup untuk bertahan. Cukup untuk dirinya dan anaknya. Cukup untuk tidak lagi bergantung sepenuhnya kepada Rafka.
Dengan sepeda tuanya, Kirana mengantar pesanan satu per satu. Jalan desa yang panas tidak ia hiraukan. Napasnya tersengal, tangannya pegal, tetapi senyumnya tidak pudar. Setiap ucapan terima kasih dari pembeli seperti suntikan kekuatan.
“Masakannya enak, Ki.”
“Nasinya pas.”
“Sambalnya bikin nagih.”
Kalimat-kalimat sederhana itu membuat dadanya sesak oleh bahagia yang hampir ia lupakan rasanya.
Hari-hari berikutnya berlalu cepat. Pesanan semakin banyak. Review demi review masuk di media sosial. Nama Kirana mulai dikenal, bukan sebagai istri Rafka, bukan sebagai adik Kinanti, melainkan sebagai perempuan yang jago masak.
Meski begitu, Kirana tidak pernah melupakan tugas rumah. Dia tetap bangun pagi, menyiapkan sarapan, mengurus suami-anak, membersihkan rumah. Bedanya, sekarang semua dilakukan dengan tubuh lelah dan hati yang penuh luka.
Rafka memperhatikan itu dari jauh. Dia melihat istrinya sibuk di dapur, jarang duduk, jarang mengajaknya bicara.
Kirana tidak lagi menanyai jam pulangnya, tidak lagi menyiapkan kopi dengan tatapan hangat dan manja. Semua terasa datar.
Entah kenapa, itu membuat Rafka kesal.
Bukan karena Kirana berjualan, tapi karena dia merasa diabaikan.
“Kenapa sih kamu sekarang sibuk terus?” keluh Rafka suatu malam.
Kirana hanya menoleh sekilas. “Aku kerja.”
Jawaban singkat itu menusuk ego Rafka. Dulu, Kirana akan menjelaskan panjang lebar. Sekarang tidak.
“Sayang, kamu cari uang untuk apa, sih?” tanya Rafka lirih.
“Ya, ingin saja punya banyak uang,” jawab Kirana.
Di pabrik, Rafka melamun di kantin. Sendoknya berhenti di udara. Di depannya, Rudi memperhatikannya dengan dahi berkerut.
“Kamu kenapa?” tanya Rudi. “Dari tadi bengong.”
“Istriku sekarang berubah, seperti bukan dirinya yang aku kenal,” jawab Rafka akhirnya.
“Berubah gimana?” Rudi sampai mengerutkan keningnya.
“Dia sekarang dingin dan sibuk dengan kegiatan barunya. Seperti tidak butuh aku.”
Rudi mendengus pelan. “Kamu yakin itu tanpa sebab?”
Rafka terdiam.
“Orang tidak akan berubah tiba-tiba, Fa,” lanjut Rudi. “Pasti ada sebabnya. Misal terlalu sering disakiti.”
Ucapan itu membuat jantung Rafka berdetak lebih cepat. Karena dia merasa itu benar adanya.
“Apa karena kurang uang bulanan?” Rudi menebak. “Sementara kamu sering jajan di luar?”
Rafka menggeleng cepat. “Aku cukup kasih uang sama dia.”
“Tapi kamu jujur enggak?” Rudi menatapnya tajam. “Insting istri itu kuat. Apalagi kalau suaminya mulai menyembunyikan sesuatu.”
Rafka tertawa kecil, memaksakan diri. “Aku dan Kirana selalu terbuka.”
Kalimat itu terasa hambar di telinganya sendiri. Karena dia tahu itu bohong.
Ponselnya kini selalu terkunci. Notifikasi Kinanti ia sembunyikan. Jadwalnya penuh kebohongan kecil yang disusun rapi.
“Sekarang lagi marak perselingkuhan,” ujar Rudi pelan. “Suami itu harus jaga diri. Sekali istri terluka, rumah tidak akan pernah sama.”
Kata-kata itu menghantam Rafka tanpa ampun.
“Apa Kirana tahu perselingkuhan aku dengan Kinanti?” batin Rafka.
Untuk sesaat, ada niat di hatinya untuk menjauh. Mengurangi pertemuan dengan Kinanti. Dia akan memperbaiki rumah tangganya.
Namun, niat itu runtuh begitu ia mengingat wajah Kinanti. Godaannya itu terlalu kuat. Alih-alih menjauh, Rafka justru semakin sering bersama Kinanti. Menjemput, makan siang bersama, menghabiskan waktu di sela-sela jam kerja. Setiap tawa Kinanti, setiap sentuhan kecilnya, membuat Rafka lupa bahwa di rumah ada istri yang sedang belajar berdiri sendiri.
Di sisi lain, Kirana pulang dengan tubuh lelah. Tubuhnya berkeringat, pakaiannya mau sinar matahari. Tetapi ketika melihat Gita menyambutnya dengan senyum, semua rasa capek itu terasa pantas.
Kirana duduk di lantai ruang tengah, menghitung uang hasil jualan hari itu. Tidak banyak, tetapi itu uangnya.
“Aku bisa,” bisik Kirana pada diri sendiri.
Saat ini Kirana merasa senang. Dia sedang membangun kekuatan untuk tidak lagi takut kehilangan suami. Sementara, Rafka takut kehilangan kenyamanan di rumah.
***
Jika ada typo, kasih tahu, ya. Ngetik berulang kali karena terhapus. Ngetiknya sampai ketiduran terus.
bab sebelumnya kirana mendapatkan struk belanja dr saku celana..
bab lanjutan dia melihat struk teselip di bawah meja rias..
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏