NovelToon NovelToon
Segitiga Tak Sama Sisi

Segitiga Tak Sama Sisi

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen / Romantis / Romansa / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:136
Nilai: 5
Nama Author: Layla Camellia

Ella adalah siswi teladan yang hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat rahasia cintanya kepada Rizki, sang ketua kelas populer, terbongkar secara memalukan di depan sekolah. Di tengah pengkhianatan dan kehancuran martabatnya, muncul Wawan—siswa berandalan yang secara mengejutkan hadir sebagai pelindung. Tanpa Ella ketahui, Wawan membawa amanah rahasia dari masa lalu untuk menjaganya, meski akhirnya ia sendiri jatuh hati pada gadis itu.

DISCLAIMER :
Karya ini adalah fiksi. Nama, karakter, tempat, dan kejadian adalah produk imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan apa pun dengan orang sungguhan, hidup atau mati, atau peristiwa nyata adalah murni kebetulan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Camellia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14: Terhimpit Dua Arus

Kepergian Aji dari ambang pintu kelas XII IPA 1 menyisakan kehampaan yang aneh di udara, namun kehampaan itu dengan cepat digantikan oleh aura yang jauh lebih berbahaya. Begitu bayangan almamater universitas elit itu menghilang di kelokan koridor, suasana kelas mendadak berubah menjadi sangat mencekam, lebih dingin daripada saat guru paling galak masuk untuk ujian mendadak. Ella baru saja hendak menarik kursi, duduk dengan tenang, dan menarik napas lega setelah menghadapi tekanan di ruang guru, namun ia sama sekali tidak menyadari bahwa dua "badai" dengan tekanan tinggi sedang bergerak ke arahnya dari dua sisi yang berlawanan.

BRAK!

Suara hantaman telapak tangan pada meja kayu yang keras membuat Ella tersentak hingga hampir melompat dari kursinya. Dalam sekejap mata, dunianya yang luas mendadak menjadi sempit dan terbatas. Ruang geraknya seolah dikunci oleh jeruji kasat mata yang terbuat dari emosi dan ego dua pria di hadapannya.

Di sebelah kirinya, Wawan sudah berdiri tegak dengan postur yang mengintimidasi. Ia menyandarkan satu tangannya yang kekar di atas meja Ella, menciptakan batasan fisik yang mengunci sisi kiri gadis itu. Wajahnya yang biasanya dipenuhi tawa santai atau banyolan konyol, kini tampak sangat menuntut penjelasan. Sorot matanya tajam, mencari jawaban di balik mata jernih Ella yang kini tak lagi terhalang kacamata.

Di sebelah kanannya, Rizki tidak mau kalah sedikit pun. Sebagai mantan atlet dan siswa populer, ia tahu cara menggunakan kehadirannya untuk menekan lawan. Rizki melangkah lebar dan berdiri sangat dekat dengan kursi Ella, menyudutkan gadis itu dari sisi kanan. Postur tubuh Rizki yang tegap dan atletis menciptakan bayangan yang cukup besar, menelan cahaya lampu kelas yang jatuh ke arah Ella. Kini, Ella benar-benar terhimpit di antara meja, bangku, dan dua tubuh pria yang sedang diliputi api cemburu.

"La!" panggil mereka berdua secara serentak, suara mereka beradu di udara seperti dentuman drum yang memekakkan telinga.

Ella mengerjapkan mata beberapa kali, jantungnya berdegup kencang karena posisi yang sangat intim sekaligus mengintimidasi ini. Ia menoleh ke kiri lalu ke kanan dengan bingung, merasa oksigen di sekitarnya mendadak habis karena jarak mereka yang terlalu dekat.

"Ka-kalian apa-apaan sih? Minggir sedikit, aku gak bebas bernapas!" protes Ella dengan suara yang sedikit bergetar.

Namun, jangankan bergeser mundur, mereka berdua justru semakin condong ke arah Ella, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa jengkal dari wajah sang juara kelas itu. Ella bisa mencium aroma parfum maskulin Rizki yang mahal bersinggungan dengan aroma keringat dan tipisnya bau rokok dari jaket Wawan.

"Tadi di kantor guru ngomongin apa saja?" tanya Wawan, nada bicaranya tidak lagi santai. Matanya menatap Ella dengan rasa penasaran yang meledak-ledak, seolah ingin menggeledah isi pikiran Ella.

"Apa keputusannya? Kamu terima tawaran beasiswa itu? Kamu beneran mau pergi?" tanya Rizki di saat yang bersamaan, rentetan pertanyaannya keluar seperti tembakan peluru otomatis.

Suara mereka bertabrakan, menciptakan dengungan yang membingungkan di telinga Ella. Menyadari bahwa mereka baru saja bertanya hal yang sama secara kompak, Rizki dan Wawan langsung saling lempar tatapan tajam melewati kepala Ella. Mata mereka seolah sedang beradu pedang di udara, memperebutkan siapa yang lebih berhak mendapatkan jawaban atau siapa yang lebih peduli pada nasib Ella.

"Gue tanya duluan, Rizki. Minggir lo, jangan halangi jalan gue," desis Wawan dengan suara rendah yang penuh ancaman. Tangannya yang menumpu di meja kini mengepal kuat.

"Gue ketua kelas, gue perlu tahu soal urusan akademis murid di XII IPA 1. Ini masalah masa depan sekolah juga," balas Rizki dengan nada angkuh yang kembali muncul sebagai tameng pertahanan egonya yang sedang terluka.

"Alasan lo klasik banget, Ki. Akademis atau lo cuma takut ditinggal karena sadar nggak sanggup menyusul dia?" sindir Wawan telak, tepat mengenai ulu hati Rizki.

"Kalian berdua, diam!" teriak Ella akhirnya. Meskipun suaranya sedikit teredam karena posisinya yang masih terhimpit di tengah-tengah dua "gunung berapi" yang siap meletus, otoritas dalam suaranya cukup untuk membuat kelas yang tadinya riuh mendadak sunyi. Teman-teman sekelas mereka mulai menonton adegan itu dari jauh dengan napas tertahan.

"Jawab dulu, La. Kamu pergi sama si alumni itu? Kamu mau ninggalin kita di sini?" tanya Rizki lagi. Kali ini suaranya sedikit lebih pelan, menunjukkan secercah kerentanan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik popularitasnya.

Ella menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih liar. Ia menatap bergantian pada dua pria di sampingnya. Wawan dengan wajah yang masih dihiasi luka lebam dan bibir yang robek, serta Rizki yang kerah seragamnya masih berantakan sisa perkelahian mereka sebelumnya. Melihat betapa kacau, khawatir, dan tidak berdayanya dua "penguasa" sekolah ini hanya karena kedatangan satu orang alumni, Ella merasa sedikit tersentuh. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya karena tahu mereka begitu peduli, namun di saat yang sama, ia juga merasa situasi ini sangat konyol.

"Aku tolak," jawab Ella singkat, jelas, dan tanpa ragu.

Seketika, ketegangan yang membeku di wajah Rizki dan Wawan mencair begitu saja. Bahu mereka yang tadinya tegang dan kaku mendadak turun dengan lemas. Ada helaan napas lega yang keluar dari mulut keduanya secara hampir bersamaan, seolah beban seberat satu ton baru saja diangkat dari pundak mereka.

"Bagus," gumam Wawan dengan senyum miring khasnya yang mulai muncul kembali di wajahnya yang penuh luka. "Berarti aku nggak perlu belajar mati-matian sampai otakku berasap cuma buat nyusul kamu ke luar negeri, La."

"Bukannya emang otak lo nggak bakal nyampe ke sana, Wan? Mau belajar sampai kiamat pun lo bakal tetap di sini," cibir Rizki. Meskipun kata-katanya pedas, kini nadanya terdengar lebih santai dan tenang karena kegelisahan di hatinya sudah menguap.

Rizki kembali memfokuskan tatapannya pada Ella, matanya masih menyimpan sisa-sisa bara emosi. "Keputusan yang sangat benar, La. Masa depanmu ada di sini, kita bisa berjuang bersama di universitas negeri terbaik. Tapi..." Rizki menggantung kalimatnya, wajahnya kembali menegang. "Kenapa tadi diusap kepalanya? Kenapa kamu diam saja?" tanyanya dengan nada cemburu yang masih sangat kental.

Wawan ikut mencondongkan wajahnya lebih dekat lagi ke Ella, hingga Ella bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat di pipinya. "Iya, La! Kenapa pakai dicium segala di kepalamu? Kalau cuma sekadar pamit kan bisa salaman, atau paling pol ya dadah-dadah saja dari jauh! Itu tadi sudah lewat batas, tahu!"

Ella merasa wajahnya kembali memanas, rona merah menjalar dari pipi hingga ke telinganya. Terhimpit di antara dua cowok yang sedang menuntut penjelasan soal cemburu—di tengah kelas yang sedang menonton—adalah posisi paling sulit dan memalukan yang pernah ia alami seumur hidup.

"Dia itu sekarang kakak kelas kita! Dia sudah seperti kakak bagiku!" Ella mencoba membela diri, namun suaranya terdengar mencicit.

"Kakak nggak bakal mencium dengan tatapan seperti mau memakan mangsa begitu, Ella!" sergah Rizki dan Wawan secara kompak lagi.

Di dalam kelas XII IPA 1 yang kini riuh oleh siulan teman-teman mereka, Ella menyadari satu hal. Penolakannya terhadap tawaran Aji mungkin menyelamatkan hatinya dari perpisahan jarak jauh, namun itu juga berarti ia baru saja mengunci dirinya sendiri dalam drama segitiga yang jauh lebih rumit. Dengan Wawan yang protektif di sisi kiri dan Rizki yang posesif di sisi kanan, Ella tahu bahwa sisa masa SMA-nya tidak akan pernah berjalan dengan tenang. Namun, di balik rasa sesak karena terhimpit, ada sebuah perasaan aman yang aneh; bahwa ke mana pun ia melangkah, akan selalu ada dua orang yang siap menjadi tameng baginya.

"Minggir, aku mau ke kantin!" teriak Ella sambil mencoba mendorong bahu keduanya.

Wawan dan Rizki saling lirik, lalu dengan kompak berkata, "Gue ikut!"

Ella hanya bisa menepuk dahinya sendiri, menyadari bahwa mulai hari ini, ke mana pun ia pergi, ia akan selalu memiliki dua "pengawal" yang lebih mirip seperti badai yang saling bertabrakan.

1
Siti Nurlelah
ditunggu karya versi lainnnya ❤
Siti Nurlelah
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!