NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana Vol 2

Wanita Mantan Narapidana Vol 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Single Mom / Janda / Chicklit / Showbiz / Mengubah Takdir
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.

Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.

Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.

Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.

Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?

Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bersiap Untuk Kompetisi

#7

Kamar Itu masih menyisakan hawa panas karena pergulatan dua manusia berbeda jenis, Gunawan tertawa puas karena setelah memastikan barangnya masih berfungsi dengan baik, walau harus membayangkan Giana sepanjang wanita penghibur itu memuaskannya. 

Dan setelah dua jam bekerja keras, wanita penghibur itu pun tumbang hingga tak menyadari Gunawan sudah pergi meninggalkannya seorang diri. 

“Sialan!” maki wanita itu setelah ia bangun dengan tubuh yang remuk dan kedua kakinya pegal luar biasa, karena Gunawan memintanya memimpin permainan selama lebih dari dua jam lamanya. 

“Untung saja bayarannya sepadan.” Wanita itu tertawa lebar sambil menghitung banyaknya lembaran uang yang Gunawan tinggalkan. 

Sementara itu, Gunawan terlihat bugar setelah mandi pagi ini, bibirnya tak henti menyunggingkan senyuman, karena hatinya dipenuhi bunga-bunga bahagia. Terbukti bahwa dirinya tetap pria normal, karena barangnya tetap gagak perkasa hingga wanita yang semalam memuaskannya lemas tak berdaya demi menjinakkannya. 

“Papi, kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Anjani heran dengan tingkah suaminya. 

Senyum Gunawan menghilang seketika, “Tidak apa-apa.” Gunawan Kembali melanjutkan sarapannya. 

“Bagaimana kuliah Miranda? Apa masih ada masalah?” tanya Gunawan. Mereka terpaksa memindahkan Miranda ke Indonesia, karena gadis itu menolak kuliah di Singapura, dengan alasan yang hanya Miranda saja yang tahu. 

“Sepertinya tak ada masalah, karena Miranda ingin mengurus semuanya sendiri. Tapi Vina sudah memastikan bahwa kampus Miranda adalah yang paling bergengsi di Ibu Kota.” 

Gunawan menganggukkan kepalanya pelan.

Tak lama kemudian asisten Gunawan datang dan membisikkan sesuatu di telinga Gunawan. 

Tak menunggu lama, Gunawan pun beranjak dari kursinya, ia pergi tanpa permisi, sepertinya ada urusan pekerjaan yang menantinya. 

Anjani kembali uring-uringan, ia membanting sendok dan garpunya, karena Gunawan kembali mengacuhkannya. 

Padahal semalam ia sudah berdandan dan mengenakan lingerie paling seksi yang ia miliki. Namun, Gunawan justru baru pulang dini hari. Anjani sedang on mode, karena sudah terlalu lama mereka tak bermesraan. “Kalau begini terus, bisa-bisa aku menyewa pria bayaran.” 

•••

Di ruangan kerja Ayu, wanita itu tengah sibuk dengan kertas-kertas dan pensil, dirinya sedang membuat desain baru, namun selalu merasa ada detail yang kurang. Jadi demi meminimalisir kesalahan, Ayu menggambarnya berulang kali di kertas-kertas berbeda sebelum menyempurnakan detail desain originalnya. 

Meski sudah beberapa jam berlalu, namun Ayu tak merasa lelah, justru semakin banyak mengulang, ia semakin bersemangat, karena merasa desainnya semakin sempurna. 

Wajar saja bila Ayu merasa demikian, karena ini adalah kesempatan pertamanya untuk adu kemampuan otodidak yang ia dapatkan dari Giana. Yang nantinya akan di adu dengan para desainer muda lulusan sekolah bergengsi, atau bahkan mereka jauh-jauh belajar ke luar negeri. 

Tapi Ayu yang hanya mantan narapidana, memberanikan diri ikut serta, tak peduli bagaimana nanti penilaian orang-orang terhadap masa lalu yang telah dilewatinya. 

Tok! 

Tok! 

Ayu menoleh, karena ada yang mengetuk pintu ruangannya, “Maaf, Bu Ayu, saya mengganggu konsentrasi Anda,” ucap Sasti, sekretaris Giana. 

“Tidak apa-apa, Sasti. Ada apa?” Ayu menghentikan sejenak pekerjaannya. 

“Bu Giana meminta saya mengingatkan Anda untuk tidak lupa makan siang.” 

Giana sedang mengurus pekerjaan diluar kantor bersama Mahar, jadi sementara Ayu sendirian di tempat kerja Giana. 

Ayu terkejut, lalu melirik jam di dinding ruangan, rupanya waktu makan siang hampir berakhir. “Kau benar, Sas. Aku terlalu sibuk hingga melupakan tubuhku.” 

Dengan nampan di kedua tangannya, Sasti melangkah masuk, “Saya sudah pesankan makan siang untuk Anda, semoga Anda menyukainya.” 

Satu set paket makanan siang bergaya oriental tersaji di hadapan Ayu. Rasanya tiba-tiba ingin menangis saja, karena perasaan haru. Di dalam penjara, mana pernah memikirkan menu makanan apa yang disukai dan apa yang tidak disukai. “Kau membuatku ingin menangis,” ucap Ayu susah payah menghapus air mata yang tiba-tiba luruh. 

Sasti panik, karena merasa melakukan kesalahan, “M-maaf, Bu. Apa saya salah?”

Namun, gelengan Ayu membuat Siska menghembuskan nafas lega. “Saya kira Anda marah, Bu.” 

“Tidak kok, terima kasih, ya. Aku akan menikmati makan siang kali ini, sambil berkirim pesan dan menanyakan apakah anakku sudah makan atau belum.” Ayu mengeluarkan ponselnya, rasanya masih kaku karena ia masih dalam tahap adaptasi dengan suasana baru, dan teknologi baru. 

Namun, senyum Ayu semakin memudar karena tak kunjung mendapat balasan pesan dari putranya. Padahal dua jam hampir berlalu.

“Sabar, Yu. Mungkin Biru sedang di ruang perkuliahan, jadi tak bisa membalas pesan.” 

Ayu positif thinking saja, agar moodnya tidak ambyar. Wanita itu pun kembali fokus membuat desain lain, dan nanti ia akan meminta pendapat Giana untuk menilai. 

Satu jam kembali berlalu, Giana kembali ke kantor setelah menyelesaikan urusannya. “Kak, Syukurlah Kakak sudah datang, tolong berikan pendapatmu.” 

Ayu menjajar kertas-kertas berisi coretan desain buatannya, tanpa memberi waktu pada Giana untuk beristirahat terlebih dahulu. “Aku belum duduk, loh, kau tak menyuruhku istirahat dulu?” 

Ayu tertawa geli, kemudian mempersilahkan Giana untuk duduk di kursinya sambil mereka berdiskusi. 

“Kemampuanmu makin mengerikan, Yu,” gumam Giana kagum, setelah mengamati goresan desain pakaian hasil ciptaan Ayu. 

“Maksudnya, Kak?” tanya Ayu Ragu. 

Brak! 

Giana menggebrak meja, hingga membuat Ayu sedikit berjingkat kaget, “Jika begini, lama kelamaan, brand Madam Gi akan kalah saing dengan brand Ls.” 

Ucapan Giana membuat Ayu tersipu, Giana meremas kedua pundak Ayu, “Aku tak sabar melihatmu go public, Dek.” 

Senyum Ayu memudar, “Tapi, Kak— statusku—”

“Siapa peduli dengan status, lama kelamaan, orang akan kembali pada apa yang mereka sukai. Jika sejak awal mereka menyukai desain kau, mereka akan kembali dan terus kembali. Karena trend mode pakaian akan berkembang seiring zaman.” 

Ponsel Giana tiba-tiba berdering, rupanya Suzan mengirim pesan singkat. 

-OK-

begitulah bunyi pesannya, senyum Giana pun terbit, “Anjani sudah meng-Acc, ayo sekarang kita harus serius memilih satu untuk menyaingi pilihan wanita itu.” 

•••

Mobil berwarna merah menyala itu melaju di jalanan, Miranda hendak berkumpul dengan teman-temannya di sebuah kafe tempat mereka biasa nongkrong. 

Namun, sesuatu yang aneh terjadi dengan mobilnya, hingga Miranda terpaksa menepi di pinggir jalan. 

Dug! 

Miranda menendang ban mobilnya yang kempes, sambil menggerutu. “Pantas saja terasa aneh jalannya, ternyata kempes.” 

Gadis itu menoleh ke sekitar jalanan sepi, hanya ramai dengan lalu lalang kendaraan. Karena bingung, Miranda pun mondar-mandir di trotoar sambil meremas ponselnya. 

“Duh, minta tolong siapa, ya? Mana nggak punya nomor telepon bengkel.” 

Sebuah motor berwarna biru metalik tiba-tiba ikut menepi, pria itu mengenakan helm full face, jadi Miranda tak tahu siapa dia. 

Kaca helm pun dibuka, “Ada masalah?”

“Hmm, ban kempes,” jawab Miranda tanpa tahu siapa penanyanya. 

“Sudah telepon bengkel?” 

“Nggak punya nomornya, biasanya asisten Papi yang urus.” 

Pria itu melirik jam tangannya, masih cukup waktu sebelum ke tujuan berikutnya. Pria itu pun melepas helm, dan juga ransel dari punggungnya, tanpa ragu sedikitpun, ia menyingsingkan lengan kemeja. “K-kau??” 

“Permisi, boleh aku memeriksa bagasi mobilmu?” 

Miranda masih terkejut, namun, ia tetap mengangguk dan membuka bagasi mobilnya. Dengan cekatan, Biru menurunkan kotak perkakas dan juga dongkrak. 

Tanpa banyak bicara, pria itu bekerja, ia bahkan tak mengajak Miranda bicara sepatah katapun. Benar-benar sebuah definisi -cukup tangan saja yang bekerja, bukan mulut-. 

Cool

Calm

Confident

Itulah Albiru Singgih.

Kayak slogan iklan aja 🤧😜

1
Nar Sih
semoga biru ngk knpa,,yaa
Esther Lestari
kecelakaan yg disengaja ?
Berita soal Biru jangan2 sumbernya dari Tian
Patrick Khan
aduhhh apa lg ini
Aditya hp/ bunda Lia
waduh ... apa ini sengaja? kalo iyah ulah siapa? gunawan, Anjani apa si Tian ?
Nar Sih
moga aja bnr klau biru dan miranda saudara satu ayah biar mereka ngk pcran
Reni
weeee mbak Jani makin lengket sama mas Jono
Rahmawati
semakin seru ini, lanjutttt
MomRea
kenapa gak langsung kena OTT saja Gunawan dan antek-anteknya 😡
MomRea
jgn jgn si Miranda adik kandung Biru lain ibu ?
Esther Lestari
tidak bisa dibiarkan karena Miranda dan Biru satu ayah, begitukah Anjani
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
nah kan beneran udah tua tuh 🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
yakin dia putrimu 🤭
Meliandriyani Sumardi
nah kan...ini nih tanda nya kalau biru sama miranda sebenarnya saudara satu ayah....😄anjani bisa ngelak tapi pasti fakta berbicara🤣🤣 lanjut kak
Agus Tina
Semakin penasaran ...
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh ketahuan nih😒
Cindy
lanjut
Eva Karmita
kecewa banget sama sikap Biru berasa kayak Malin Kundang... kenapa Ngada sopan"nya sama ibunya 😩 biar bagaimanapun Ayu tetaplah ibu kandungnya biar di cuci seluas air laut an Ayu tetaplah ibu kandungnya Biru
kayaknya Biru sudah lupa dengan ajaran" bapak Ismail sama mamak Karmila tentang sopan santun dgn yg lebih tua 🥺😤 .., apa mungkin si Biru nurut sikapnya kayak neneknya yang sikapnya kayak Mak lampir 😏
Esther Lestari
Tian sepertinya berbahaya ini buat Ayu dan Biru. Punya rencana apa kamu Tian.

Biru mendekati Miranda dan sekarang magang di firma Gunawan, mungkin sambil menyelidiki Gunawan
Reni
biru sengaja ya sedikit menjauh dari mama ayu dia bertindak sendiri aduhhhh sayang ketahuan Tian 🤧
Reni
biru g secerah namamu kau bikin kelabu ayu lagi dan lagi pola pikirmu melukai mamamu miris
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!