NovelToon NovelToon
Garis Tangan Nona Kedua

Garis Tangan Nona Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Spiritual / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: ImShio

Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.

Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.

Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

Jarum jam digital di sudut kanan layar laptop perlahan berubah menjadi 02.00 dini hari. Angka itu menyala dingin, seolah menjadi saksi bisu atas perjuangan panjang seorang mahasiswi bernama Lilian Zetiana Beatrixia. Jemarinya akhirnya berhenti bergerak. Huruf terakhir tertulis dengan sempurna. Proposal penelitian yang telah ia perjuangkan tanpa tidur selama tiga hari akhirnya selesai.

Lilian tidak langsung menutup laptop. Ia hanya menatap layar itu beberapa detik lebih lama, matanya kosong, pandangannya kabur. Seolah ingin memastikan bahwa semua jerih payahnya benar-benar nyata, bukan sekadar ilusi akibat kurang tidur. Tangannya perlahan menggerakkan kursor, mengklik tombol save satu kali… lalu sekali lagi. Barulah ia sedikit mengendurkan bahunya.

Kepalanya terasa berat, seperti diisi timah. Sejak tiga hari lalu, tubuhnya hanya bertahan dari kopi sachet dan mi instan murah. Tidak ada nasi, tidak ada lauk. Hanya kafein dan rasa lapar yang dipaksa diabaikan. Wajahnya yang terpantul samar di layar laptop tampak kusam. Kulitnya pucat, matanya cekung, dengan lingkar hitam tebal mengendap jelas di bawahnya.

Namun Lilian sudah terbiasa hidup seperti itu.

Sebagai mahasiswi dari keluarga sederhana di desa, ia tahu betul bahwa menyerah bukanlah pilihan. Setiap rupiah yang dikirim orang tuanya penuh pengorbanan. Setiap langkahnya di ibukota adalah harapan. Maka ia terus memaksa dirinya bertahan, meski tubuhnya kerap berteriak lelah.

Ia menutup laptop dan meletakkannya di samping ranjang kos yang sempit. Ruangan kecil itu berantakan. Beberapa piring kotor tergeletak di lantai, sisa makanan mengering di atasnya. Bau mi instan bercampur kopi basi memenuhi udara. Biasanya Lilian akan merasa risih, tapi kali ini, bahkan untuk bangkit dan membersihkannya saja, ia tak punya tenaga.

Ia menjatuhkan diri ke ranjang, kasur tipis yang berderit pelan. Napasnya berat, dadanya naik turun tak beraturan. Kepalanya masih berdenyut, seolah menolak untuk benar-benar beristirahat. Namun rasa kantuk akhirnya menelan kesadarannya, perlahan dan tanpa perlawanan.

---

Keesokan harinya

Kesadaran Lilian kembali dengan cara yang tidak biasa.

Ia terbangun dengan rasa lelah yang aneh. Lelah yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Kelopak matanya terasa berat, seolah tertutup lapisan pasir halus. Ia mencoba membukanya, namun dunia di balik kelopak itu enggan muncul. Butuh beberapa detik sebelum penglihatannya perlahan kembali terbentuk.

Tubuhnya dingin.

Otot-ototnya terasa kaku dan rapuh, seperti baru sembuh dari sakit panjang. Ia menghela napas pelan, namun tenggorokannya terasa sangat kering, seolah telah lama tidak tersentuh air. Setiap tarikan napas terasa pendek dan tidak memuaskan.

Hal pertama yang benar-benar menyentuh kesadarannya adalah keheningan.

Tidak ada suara kipas angin tua yang biasa berdecit di kamarnya. Tidak ada suara kendaraan dari jalanan ibukota. Tidak ada notifikasi ponsel atau dengungan listrik. Hanya sunyi—sunyi yang pekat dan asing.

Alis Lilian mengernyit.

Ia membuka matanya sepenuhnya dan menatap ke atas.

Langit-langit itu… bukan milik kamar kosnya.

Kayunya tampak tua dan kusam. Di beberapa sudut, sarang laba-laba menggantung tak terganggu, seolah telah lama dibiarkan. Ada celah kecil di atap, tempat cahaya pucat menembus masuk.

Kesadaran itu datang perlahan, seperti air dingin yang merembes ke kulit.

Ini bukan kamarnya.

Jantung Lilian berdetak sedikit lebih cepat. Ia mencoba bangkit, namun baru setengah duduk, kepalanya langsung berdenyut hebat. Pandangannya berkunang-kunang, memaksanya kembali bersandar. Tubuhnya terasa sangat lemah, lebih lemah dari saat ia demam paling parah sekalipun.

Dengan sisa tenaga, ia memaksa dirinya untuk duduk. Tangannya yang gemetar bertumpu di sisi ranjang. Kakinya terasa ringan, hampir tak berisi, seolah bukan bagian dari tubuhnya sendiri. Setiap gerakan kecil menguras tenaga yang entah sejak kapan menghilang.

Barulah saat itu ia benar-benar memperhatikan sekeliling.

Ruangan ini terlihat seperti rumah yang telah lama ditinggalkan. Lantai berdebu, dingin di telapak kakinya. Beberapa papan kayu tampak lapuk. Semua perabotan terlihat asing. Meja tua, ranjang sederhana, dan bau lembap yang membuatnya bersin-bersin. Dan yang paling membuat napas Lilian tercekat adalah satu hal sederhana.

Ia tidak menemukan satu pun barang miliknya.

Tidak ada tas. Tidak ada ponsel. Tidak ada laptop.

Perasaan tidak nyaman mulai tumbuh di dadanya, pelan namun pasti, seperti benih ketakutan yang baru saja ditanam.

“Ini…” suaranya serak, nyaris tak keluar.

“Ini bukan kamarku…”

Ia berdiri dengan sangat hati-hati. Langkah pertamanya goyah, tubuhnya hampir terjatuh. Kakinya gemetar, napasnya pendek. Kepanikan mulai merayap, namun tubuhnya terlalu lemah untuk bereaksi berlebihan. Ia hanya berusaha memahami apa yang terjadi, sedikit demi sedikit.

Lilian mengangkat tangannya dan meraba wajahnya.

Sentuhan itu terasa… aneh.

Kulitnya dingin dan terlalu halus. Struktur wajah yang biasa ia kenal terasa berbeda di bawah jemarinya. Ia mengusap pipi, tulang pipi, rahang, dan jantungnya berdegup semakin cepat.

Ia menunduk, menatap tangannya sendiri.

Lebih kecil. Lebih kurus. Jari-jarinya tampak rapuh, dengan warna kulit yang pucat.

Gaun tipis berwarna pucat membalut tubuhnya. Ini sama sekali bukan pakaian tidur yang ia kenakan semalam.

“Kenapa tubuhku selemah ini…?”

“Kenapa rasanya seperti… bukan milikku?”

Suara-suara itu bergema di kepalanya.

Ketidaknyamanan berubah menjadi kegelisahan yang menekan dada. Dengan langkah tertatih, Lilian mulai mencari sesuatu. Bukan untuk memastikan keberadaannya, melainkan untuk menenangkan dirinya.

Ia membutuhkan cermin.

Ia menyusuri ruangan secara perlahan. Setiap langkah terasa berat, seolah tubuh ini menolak untuk bergerak. Kepalanya masih berdenyut, napasnya tak pernah benar-benar stabil.

Setelah beberapa saat mondar-mandir dengan panik yang tertahan, akhirnya ia menemukannya.

Sebuah cermin besar berdiri di sudut ruangan, bingkainya retak dan kusam.

Lilian berhenti beberapa langkah di depannya.

Dadanya terasa sesak. Telapak tangannya dingin dan basah oleh keringat. Namun ia tetap maju, satu langkah… lalu satu langkah lagi.

Perlahan, ia mengangkat wajahnya.

Pantulan itu membuat seluruh tubuhnya membeku.

Wajah yang menatap balik sangat pucat dan kusam, seolah telah lama kehilangan cahaya hidup. Lingkar hitam tebal mengelilingi mata yang tampak sayu dan lelah. Bibirnya pucat, hampir tak berwarna. Kecantikannya yang nampak jelas, namun rapuh seperti bunga yang hampir layu.

Itu bukan wajahnya.

“Ti… tidak…”

Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Kakinya melemas, memaksanya berpegangan pada tepi meja agar tidak jatuh.

“Ini bukan aku…”

“Kenapa wajahku berubah…”

“Aku tidak mengenali wajah ini…”

“Kenapa… kenapa bisa seperti ini…”

Air mata menggenang di pelupuk matanya, namun tak satu pun jatuh.

Di hadapan cermin itu, dengan tubuh yang terasa lemah dan wajah asing yang sangat kusam, Lilian akhirnya menyadari satu hal yang membuat jantungnya mencelos.

Ia tidak hanya terbangun di tempat yang salah.

Ia juga terbangun dalam tubuh yang bukan miliknya.

---

Jika kamu suka dengan ceritanya, jangan lupa bantu like, vote, dan komentar ya!

Terima kasih sudah membaca sampai akhir.

Happy reading & keep happy everyday!

Salam hangat dari author 🤍

1
Murni Dewita
double up thor
Wahyuningsih
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Murni Dewita
double up thor
Murni Dewita
next
Murni Dewita
lanjut
Murni Dewita
👣
xiaoyu
gaaass truuss
Wahyuningsih
thor upnya dikit amat 😔😔 amat aja gk dikit 😄😄😄klau up yg buanyk thor n hrs tiap hri makacih tuk upnya thor sehat sellu thor n jga keshtn tetp 💪💪💪
Wahyuningsih
lanjut thor yg buanyk upnya thor n hrs tiap hri jgn lma2 upnya thor makacih tuk upnya thor sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Siaaap kak, dan terimakasih dukungannya🥰
Sehat selalu💖
total 1 replies
Wahyuningsih
mantap thor wu zetian dpt ruang dmensi mkin sru 😄😄😄
Wahyuningsih
thor hrs kasih bnuslah ruang dimensi biar mkin seru bikin wu zetian badaz abiz
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Hehe sabar yaa kak, nanti ada kok🤭
total 1 replies
Wahyuningsih
q mampir thor, moga2 jln critanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!