NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG DOA

CINTA DI UJUNG DOA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / CEO / Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Cintapertama
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Rencana Arkan

#

Arkan nggak bisa tidur semalam suntuk. Cuma merem-melek di kasur apartemen sambil natap langit-langit yang retak.

Bayangannya cuma satu: Zahra. Zahra yang pucat. Zahra yang kurus. Zahra yang... yang pingsan gara-gara terlalu capek.

"Kenapa... kenapa dia sampe kayak gitu? Dia... dia kerja buat apa sampe segitunya?"

Dia ambil telepon genggam. Buka kontak Bu Ria—yang waktu itu dia minta nomornya diam-diam pas di klinik.

Ketik pesan:

*"Bu, ini Arkan. Maaf ganggu malam-malam. Bu tau nggak kenapa Zahra kerja sampe kayak gitu? Ada masalah apa?"*

Kirim.

Beberapa menit kemudian, Bu Ria bales:

*"Mas Arkan... Zahra punya hutang ke rentenir. Satu juta. Dia kerja mati-matian buat bayar. Tapi sekarang dia sakit. Dia nggak bisa kerja. Saya khawatir rentenir itu dateng lagi..."*

Hutang.

Satu juta.

Rentenir.

Arkan langsung bangun. Duduk di pinggir kasur. Tangannya mengepal.

"Zahra... kenapa kamu nggak bilang? Kenapa kamu... kenapa kamu tanggung sendiri?"

Dia bales pesan:

*"Bu, rentenir itu siapa? Namanya siapa? Tinggal dimana?"*

Bu Ria bales cepet:

*"Pak Harto. Tinggal di ujung kampung. Rumah cat oren. Tapi Mas... jangan cari masalah sama dia. Dia orang bahaya..."*

Arkan nggak bales lagi. Dia langsung ambil jaket. Ambil dompet. Keluar apartemen.

Jam tiga pagi. Jalanan sepi. Tapi dia nggak peduli.

"Aku harus... aku harus selesain ini. Sekarang."

---

Pagi itu—jam tujuh—Arkan udah sampe di depan rumah Pak Harto. Rumah cat oren yang... yang keliatan mencolok di tengah kampung kumuh.

Dia turun dari mobil. Jalan ke pagar besi. Ketuk keras.

TONG TONG TONG!

"SIAPA?!" Suara galak dari dalam.

"Saya Arkan! Saya mau ketemu Pak Harto!"

Pintu kebuka. Pak Harto keluar. Badan gede. Mata merah. Bau rokok nyengat.

"Siapa lu? Mau apa pagi-pagi?"

"Pak, saya Arkan. Saya... saya mau bayar hutang Zahra Amanda. Sekarang."

Pak Harto diem. Natap Arkan dari atas sampe bawah. Nyengir.

"Oh. Cowok kaya yang deket sama Zahra ya? Gue udah denger." Dia ketawa. "Berapa lu mau bayar? Satu juta?"

"Berapa total yang harus dibayar? Sama bunganya?"

"Total... satu juta dua ratus ribu. Bunganya naik terus soalnya udah lewat jatuh tempo."

Arkan keluarin dompet. Hitung uang. Satu juta dua ratus ribu. Pas. Dia kasih ke Pak Harto.

"Ini. Lunas. Sekarang hapus hutang Zahra. Dan jangan... jangan ganggu dia lagi."

Pak Harto nerima uang. Hitung satu-satu. Nyengir lebar.

"Oke. Lunas. Tapi... tapi lu tau nggak kenapa Zahra pinjam uang?"

"Nggak. Kenapa?"

"Buat obat bapak nya. Bapak nya sakit jantung. Operasi mahal. Dan Zahra... Zahra nggak punya uang. Jadi dia pinjam sama gue." Pak Harto ludah ke samping. "Cewek itu keras kepala. Gue udah nawarin cara gampang. Tapi dia nolak. Malah nampar gue."

Arkan mengepal tangan. "Cara gampang apa?"

"Ya tau lah. Cewek cantik kayak dia... pasti laku mahal kalau dijual ke—"

BRAK!

Arkan pukul Pak Harto. Keras. Kena rahang.

Pak Harto jatuh. Kaget. Mata melotot.

"LU... LU BERANI MUKUL GUE?!"

"Jangan pernah bilang kayak gitu lagi tentang Zahra!" Arkan napas ngos-ngosan. "Dia... dia bukan barang! Dia manusia! Dan kalau lu berani ganggu dia lagi... aku... aku bakal lapor polisi!"

Pak Harto berdiri. Usap rahangnya yang berdarah. Nyengir.

"Oke oke. Gue nggak bakal ganggu dia lagi. Hutangnya udah lunas. Gue nggak ada urusan lagi." Dia masuk rumah. "Tapi lu... lu jaga cewek lu baik-baik. Jangan sampe dia pinjam uang lagi. Karena lain kali... gue nggak bakal sebae ini."

Pintu ditutup.

BLAM.

Arkan berdiri di situ. Tangannya gemetar. Napasnya masih ngos-ngosan.

"Zahra... kamu... kamu sampe segitunya buat bapak kamu..."

Dia balik ke mobil. Duduk. Napas dalam.

"Sekarang... sekarang aku harus pastiin dia tau hutangnya lunas. Tapi... tapi dia nggak boleh tau aku yang bayar. Kalau dia tau... dia pasti marah. Dia pasti... pasti nolak."

Dia ambil telepon genggam. Ketik pesan ke Bu Ria:

*"Bu, tolong bilang ke Zahra kalau hutangnya udah lunas. Bilang... bilang ada donatur nggak dikenal yang bayarin. Jangan bilang itu aku. Please."*

Kirim.

Bu Ria bales:

*"Mas... Zahra pasti curiga. Dia nggak akan percaya ada donatur tiba-tiba..."*

Arkan mikir sebentar. Terus bales:

*"Bilang aja donatur dari masjid. Dari kotak amal. Zahra pasti percaya."*

*"...oke Mas. Saya coba."*

Arkan tutup telepon genggam. Sandar di jok mobil.

"Zahra... aku nggak bisa liat kamu susah. Aku... aku harus bantuin. Meskipun kamu nggak tau. Meskipun... meskipun kamu marah nanti."

---

Siang itu, Zahra udah boleh pulang dari klinik. Kondisinya masih lemah tapi dokter bilang bisa rawat jalan—asal istirahat dan makan teratur.

Bapak ngantar Zahra pulang naik becak. Bu Ria udah nungguin di depan kontrakan.

"Zahra... Alhamdulillah kamu udah pulang. Gimana? Udah enakan?"

"Udah Bu. Makasih Bu Ria udah jaga Bapak..."

"Nggak apa-apa. Oh iya Zahra... Ibu ada kabar baik buat kamu."

"Kabar baik?"

Bu Ria senyum. "Hutang kamu ke Pak Harto... udah lunas."

Zahra diem. Bingung. "Hah? Lunas? Gimana... gimana bisa?"

"Tadi pagi Pak Harto dateng kesini. Dia bilang ada orang yang bayarin hutang kamu. Lunas. Satu juta dua ratus ribu."

"Ada orang? Siapa?!"

"Nggak tau. Pak Harto nggak mau bilang. Dia cuma bilang... orang itu minta dirahasiain."

Zahra natap Bu Ria curiga. "Bu... Bu bohong kan? Nggak mungkin ada orang tiba-tiba bayarin hutang Zahra..."

"Beneran, Zah. Pak Harto sendiri yang bilang. Dia bahkan kasih kwitansi lunas." Bu Ria keluarin kertas lusuh dari saku. Kwitansi tulisan tangan:

**LUNAS**

**Hutang Zahra Amanda - Rp 1.200.000**

**Tanda tangan: Harto**

Zahra pegang kwitansi itu. Tangannya gemetar.

"Nggak mungkin... nggak mungkin..."

"Zahra, mungkin itu dari donatur masjid. Atau... atau dari tetangga yang baik hati. Yang penting sekarang kamu nggak punya hutang lagi. Kamu bisa istirahat tenang."

Tapi Zahra... Zahra nggak percaya.

Karena dia tau. Dia tau nggak ada tetangga yang punya uang sebanyak itu. Nggak ada donatur masjid yang tiba-tiba peduli sama hutang dia.

Dan cuma ada satu orang yang... yang punya uang segitu. Yang... yang peduli sama dia.

"Arkan..."

---

Sore itu, setelah Bapak tidur, Zahra duduk di emperan kontrakan. Pegang telepon genggam yang udah dia nyalain lagi.

Buka kontak. Cari nama Arkan.

Jempolnya di atas tombol panggil. Ragu.

"Apa... apa beneran dia yang bayarin?"

Akhirnya dia tekan.

Nada dering. Satu kali. Dua kali.

"Halo? Zahra?"

Suara Arkan. Suara yang... yang bikin dadanya sesak.

"Mas... Zahra mau tanya sesuatu."

"Iya. Tanya apa?"

"...Mas... Mas yang bayarin hutang Zahra ke Pak Harto kan?"

Hening sebentar.

"...iya. Aku yang bayar."

Zahra diem. Napasnya berat.

"Kenapa... kenapa Mas lakuin itu?"

"Karena aku nggak bisa liat kamu susah. Karena aku... aku peduli sama kamu."

"Tapi Zahra nggak minta! Zahra... Zahra nggak mau dikasihani!"

"Aku nggak kasihani kamu! Aku cuma... aku cuma bantuin!"

"Bantuin?!" Zahra naikkan suara. "Mas, itu hutang Zahra! Tanggung jawab Zahra! Bukan tanggung jawab Mas! Kenapa Mas... kenapa Mas ikut campur?!"

"Karena aku cinta kamu!" Arkan teriak. "Karena aku... aku nggak bisa diem aja ngeliat kamu kerja sampe pingsan! Ngeliat kamu... kamu diancam rentenir! Aku... aku harus lakuin sesuatu!"

"Tapi Zahra nggak butuh pertolongan Mas!"

"Kamu butuh! Kamu cuma terlalu keras kepala buat ngakuin!"

"MAS JANGAN BILANG ZAHRA KERAS KEPALA!" Zahra nangis. "Mas... Mas nggak ngerti... kalau Zahra terima uang Mas... Zahra... Zahra ngerasa jadi beban! Ngerasa... ngerasa Zahra cuma manfaatin Mas!"

"Kamu nggak manfaatin aku! Kamu... kamu nggak pernah minta apa-apa dari aku! Aku yang... aku yang maksa bantuin!"

"Tapi Zahra nggak mau!" Zahra teriak. "Zahra... Zahra nggak mau berhutang budi sama Mas! Zahra... Zahra mau hidup dengan usaha sendiri! Bukan... bukan dari belas kasihan orang!"

"Zahra—"

"Mas, tolong... tolong jangan lakuin ini lagi. Jangan... jangan bayarin apa-apa buat Zahra. Jangan... jangan ikut campur hidup Zahra. Karena... karena itu cuma bikin Zahra makin... makin ngerasa nggak berguna..."

"Zahra, dengerin aku—"

"Zahra udah dengerin! Dan Zahra... Zahra minta Mas berhenti! Berhenti peduli! Berhenti... berhenti sayang sama Zahra! Karena... karena itu cuma bikin semuanya makin susah!"

"Aku nggak bisa berhenti sayang sama kamu!"

"Mas harus coba!" Zahra tutup telepon.

KLIK.

Dan dia nangis. Sejadi-jadinya. Di emperan kontrakan yang gelap.

"Kenapa... kenapa dia nggak ngerti? Zahra... Zahra nggak mau jadi beban... Zahra nggak mau..."

---

Di apartemen, Arkan duduk di lantai. Telepon genggam masih di tangan. Layar gelap.

"Zahra... kenapa... kenapa kamu nolak? Aku cuma... aku cuma mau bantuin..."

Tapi dia tau. Dia tau kenapa Zahra marah.

Karena Zahra... Zahra punya harga diri. Punya prinsip. Dan dia... dia nggak mau jadi cewek yang... yang hidup dari belas kasihan cowok kaya.

"Tapi aku nggak kasihani kamu... aku... aku cinta kamu..."

Dia pukul lantai. Keras. Berulang kali.

BRAK! BRAK! BRAK!

"Kenapa... kenapa cinta ini susah banget?!"

---

Besok paginya, Pak Harto datang lagi ke rumah Zahra. Kali ini... dia senyum.

"Zahra. Hutang kamu udah lunas. Tapi... tapi aku mau bilang sesuatu."

"Apa, Pak?"

"Cowok kamu itu... cowok yang bener. Dia bayarin hutang kamu tanpa mikir dua kali. Dia bahkan mukul aku pas aku ngomong yang nggak-nggak tentang kamu." Pak Harto usap rahangnya. "Lu jaga dia baik-baik. Cowok kayak gitu... jarang."

Dan Pak Harto pergi.

Zahra diem. Tangannya gemetar.

"Dia... dia mukul Pak Harto? Buat... buat Zahra?"

Hatinya... hatinya sakit. Tapi juga... juga hangat.

"Mas Arkan... kenapa... kenapa Mas selalu... selalu kayak gini?"

Tapi rasa marahnya... rasa marahnya masih ada.

Karena Arkan... Arkan ngelanggar batas. Ngelanggar harga diri Zahra.

"Mas... Zahra harus ngomong sama Mas. Harus... harus jelasin. Biar... biar Mas ngerti."

---

**BERSAMBUNG KE BAB 23: Pertengkaran Besar**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!