Follow IG @Lala_Syalala13
Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.
Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.
Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.
Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.
Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSB BAB 7_Murka Sang Raja yang Tersembunyi
Hendra terdiam, ia tidak menyangka bahwa keluarga istri tuannya bisa sekejam itu.
Di dunia bisnis Adrian dikenal sebagai pria yang dingin dan tanpa ampun kepada lawan, namun melihat pria itu begitu emosional karena sepotong daging sapi untuk istrinya adalah hal yang baru bagi Hendra.
"Tuan Muda, apakah Anda ingin saya menarik kembali semua bantuan itu?" tanya Hendra ragu.
"Bukan sekadar ditarik kembali," Adrian menoleh, matanya berkilat tajam.
"Aku ingin mereka merasakan apa yang mereka lakukan pada Arumi, mereka memakan hak orang lain, maka mereka harus mengembalikannya dengan rasa malu. Tapi ingat, jangan sampai nama Arkadia atau namaku muncul, gunakan skenario lain." serunya.
Adrian kemudian mengeluarkan tabletnya sambil mengarahkan asistennya untuk menjalankan rencana "pembalasan" kecil itu, ia tetap memantau rapat koordinasi melalui panggilan video.
Para direksi di layar tampak gemetar melihat wajah CEO mereka yang tampak sangat tidak bersahabat pagi itu, meski mereka tidak tahu bahwa kemarahan sang CEO dipicu oleh urusan dapur di sebuah rumah kecil di gang sempit.
Kembali ke rumah Arumi, suasana pagi itu sangat ceria bagi Bu Ratna dan Siska.
Mereka sedang menikmati sarapan mewah kedua mereka, di meja makan tersaji daging kornet kaleng mahal, susu segar, dan sereal yang seharusnya menjadi jatah Arumi.
"Enak ya Ma, sering-sering saja pemerintah salah kirim begini," ujar Siska sambil mengunyah dengan rakus.
Arumi hanya berdiri di dapur, sedang mencuci tumpukan baju Siska yang menggunung.
Bau harum masakan itu menusuk hidungnya, membuat perutnya yang hanya terisi segelas air putih terasa perih.
Namun ia tidak mengeluh, baginya melihat ibunya tidak mengamuk saja sudah merupakan berkah.
Tiba-tiba, suara gedoran keras terdengar dari pintu depan.
Brak! Brak! Brak!
"Buka! Dinas Pengawasan Bantuan Sosial!" teriak sebuah suara berat dari luar.
Bu Ratna tersedak, ia buru-buru mengelap mulutnya dan membuka pintu.
Di depan rumah, sudah berdiri tiga pria tegap mengenakan seragam safari gelap lengkap dengan tanda pengenal yang tampak sangat resmi.
Di belakang mereka, sebuah mobil box besar bertuliskan "Unit Penertiban" terparkir.
"Ada apa ya, Pak?" tanya Bu Ratna dengan suara gemetar.
Pria yang paling depan, yang sebenarnya adalah kepala tim keamanan Arkadia yang menyamar, menatap daftar di tangannya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Kami mendapat laporan adanya penyalahgunaan bantuan paket premium kode A-1 yang dikirimkan kemarin, paket itu ditujukan khusus untuk warga dengan kriteria 'pekerja keras teladan' atas nama Arumi. Benar ini rumahnya?"
"I-iya benar Pak, Arumi anak saya." jawab Bu Ratna gagap.
"Berdasarkan pemantauan satelit dan laporan intelijen lapangan kami," pria itu berbohong dengan sangat meyakinkan.
"Paket tersebut dikonsumsi oleh orang yang tidak berhak, ini adalah pelanggaran hukum berat karena bantuan ini disubsidi oleh dana khusus internasional. Di mana sisa barangnya?" tanya petugas tersebut.
Siska yang ikut keluar pun pucat pasi. "Tapi Pak, kami kan keluarganya!"
"Hukum tidak mengenal keluarga! Jika barang tersebut tidak dikembalikan sekarang juga dalam keadaan utuh, atau diganti dengan nilai uang sepuluh kali lipat, maka penerima laporan yaitu Anda, Bu Ratna akan dibawa ke kantor untuk pemeriksaan lebih lanjut atas tuduhan penggelapan aset negara!" tegasnya lebih lanjut.
Mendengar kata "kantor polisi" dan "penggelapan", Bu Ratna langsung lemas, ia membayangkan dirinya memakai baju oranye.
"T-tunggu Pak! Barangnya masih ada! Sebagian masih di kulkas!" seru Bu Ratna panik.
"Segera keluarkan! Semua! Termasuk yang sudah dimasak, Anda harus menggantinya dengan uang denda di tempat!" tegas petugas gadungan itu.
Arumi keluar dari dapur dengan bingung, ia melihat ibunya dan Siska berlarian seperti tikus kesiangan, mengeluarkan semua daging, buah, dan susu dari kulkas dan meletakkannya kembali ke dalam kotak dengan tangan gemetar.
"Tapi Pak, sebagian sudah kami makan..." tangis Siska.
"Satu potong daging yang dimakan dendanya adalah satu juta rupiah. Anda sudah memakan berapa banyak?" tanya petugas itu sambil mengeluarkan buku catatan.
Bu Ratna hampir pingsan. "Satu juta?! Pak, saya tidak punya uang sebanyak itu!"
"Kalau begitu, serahkan barang berharga sebagai jaminan, kami lihat Anda punya kalung emas," petugas itu menunjuk kalung yang baru saja dibeli Bu Ratna dari hasil meminjam uang Pak Broto.
Dengan berat hati dan air mata bercucuran, Bu Ratna menyerahkan kalungnya.
Semua makanan mewah itu diangkut kembali ke dalam mobil box, Siska hanya bisa meratapi buah apelnya yang diambil kembali.
Petugas itu kemudian menoleh ke arah Arumi yang berdiri mematung di ambang pintu.
"Anda Arumi?" tanya petugas tersebut.
"I-iya Pak," jawab Arumi pelan.
Sikap petugas itu mendadak berubah menjadi sangat sopan, namun tetap profesional.
"Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini Mbak Arumi, karena terjadi gangguan distribusi maka kami akan mengirimkan paket pengganti yang akan dikirimkan langsung ke tempat kerja Mbak, bukan ke rumah ini. Pastikan Mbak memakannya sendiri untuk menjaga stamina kerja." ujar petugas tersebut.
Setelah memberikan hormat singkat, para pria itu pergi, meninggalkan rumah dalam keadaan sunyi senyap dan mencekam.
Begitu mobil box itu hilang dari pandangan, Bu Ratna langsung berbalik dan menatap Arumi dengan mata merah karena marah.
"Ini semua gara-gara kau!" teriak Bu Ratna.
Ia hendak menampar Arumi, namun ia teringat ancaman Adrian semalam dan entah mengapa, ia merasa ada aura pelindung di sekitar Arumi yang membuatnya ragu.
"Kau pasti melaporkan kami ke kantor dinas, kan?! Kau ingin melihat ibumu masuk penjara hanya karena sepotong daging?!" teriaknya dengan marah.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Bu! Aku bahkan tidak tahu ada dinas seperti itu," bela Arumi sambil terisak.
"Bohong! Kau dendam karena tidak kami beri makan daging itu! Dasar anak sialan! Sekarang kalungku hilang, makanan hilang, dan kita tidak punya apa-apa untuk makan siang!" Siska ikut memaki sambil membanting pintu kamar.
Arumi duduk di lantai dapur menangis sesenggukan, ia tidak mengerti mengapa nasibnya begitu malang.
Setiap kali ada kebaikan yang datang, selalu berakhir dengan penderitaan baginya.
Pukul dua siang, Arumi sedang bekerja mencabuti rumput liar di taman salah satu rumah di kompleks Emerald Estate.
Keringat membasahi dahi dan punggungnya. Matahari sangat terik, dan perutnya mulai berbunyi karena belum makan sejak pagi.
Tiba-tiba, seorang pria berpakaian kurir ojek online mendekatinya.
"Mbak Arumi?" tanya kurir tersebut.
"Iya, saya sendiri."
"Ini ada pesanan makanan Mbak, sudah dibayar lewat aplikasi. Katanya dari 'Suami yang sedang kerja bakti'."
Arumi tertegun, ia menerima bungkusan itu dan isinya adalah sebuah kotak makan hangat berisi nasi putih, ayam bakar madu, sayuran segar, dan sebotol jus jeruk dingin. Ada secarik kertas kecil di dalamnya.
"Makanlah yang banyak istriku, jangan bagi-bagi dengan siapapun. Aku tahu kau belum makan, aku akan pulang agak malam karena lembur. Aku menyayangimu. - Ian."
.
.
Cerita Belum Selesai.....
kpn kau sadar, heran seneng amat lihat suami tersiksa, jd sebel Ama Rumi jdnya sok yes 😡😡