"Aku membelimu seharga 10 miliar. Jadi, jangan harap bisa melarikan diri dariku, bahkan ke sekolah sekalipun."
Gwen (18 tahun) hanyalah siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita kuliah seni. Namun, dunianya runtuh saat ayahnya kabur meninggalkan hutang judi sebesar 10 miliar kepada keluarga terkaya di kota itu.
Xavier Aradhana (29 tahun), CEO dingin yang dijuluki 'Iblis Bertangan Dingin', memberikan penawaran gila: Hutang lunas, asalkan Gwen bersedia menjadi istri rahasianya.
Bagi Xavier, Gwen hanyalah "alat" untuk memenuhi syarat warisan kakeknya. Namun bagi Gwen, ini adalah penjara berlapis emas. Ia harus menjalani kehidupan ganda: menjadi siswi lugu yang memakai seragam di pagi hari, dan menjadi istri dari pria paling berkuasa di malam hari.
Sanggupkah Gwen menyembunyikan statusnya saat Xavier mulai menunjukkan obsesi yang tak masuk akal? Dan apa yang terjadi saat cinta mulai tumbuh di tengah kontrak yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Belajar Matematika Bersama Sang Suami
Belajar matematika bersama sang suami menjadi pengalaman yang sangat menyesakkan bagi paru-paru Gwenola yang kini terasa sangat sempit dan sangat sulit untuk menghirup udara. Pesan singkat dengan tinta merah di halaman belakang buku latihannya tertulis jelas bahwa seseorang sedang mengawasi setiap tarikan napasnya di dalam gedung ini. Gwenola segera menutup buku tersebut dengan gerakan yang sangat kasar hingga menimbulkan suara debuman yang cukup keras di atas meja kerja.
Xavier yang sedang memperhatikan pergerakan mantan kekasihnya melalui jendela besar segera berbalik dan menatap Gwenola dengan kening yang berkerut sangat dalam. Ia melihat wajah istrinya yang sangat muda itu berubah menjadi seputih kertas dan keringat dingin mulai membasahi keningnya yang mulus. Pria pimpinan perusahaan itu melangkah mendekat dengan aura yang sangat dominan dan sangat penuh dengan rasa ingin tahu.
"Kenapa wajahmu terlihat seperti baru saja melihat hantu di siang bolong begini?" tanya Xavier dengan nada yang sangat penuh selidik.
Gwenola menyembunyikan buku latihannya di bawah tumpukan dokumen lain agar Xavier tidak melihat pesan ancaman yang sangat menakutkan tersebut. Ia tidak ingin Xavier melakukan tindakan gila lainnya yang bisa membahayakan nyawa orang-orang di sekitarnya hanya karena rasa posesif yang berlebihan. Rasa takut yang sangat mendalam kini mulai bercampur dengan rasa cemas akan keselamatannya sendiri di dalam gedung pencakar langit ini.
"Aku hanya merasa sangat pening karena soal matematika ini benar-benar sangat sulit untuk aku pecahkan," jawab Gwenola sambil mencoba tersenyum meskipun bibirnya nampak sangat gemetar.
Xavier tidak percaya begitu saja namun ia memilih untuk menarik kursi kulitnya agar berada tepat di samping posisi duduk Gwenola yang sedang gelisah. Ia mengambil buku latihan tersebut dan membukanya pada halaman yang berisi soal geometri yang nampak sangat rumit bagi siswi sekolah menengah atas. Pimpinan perusahaan itu kemudian mengambil sebuah pena emas dan mulai menuliskan rumus-rumus yang nampak sangat asing bagi Gwenola.
"Perhatikan baik-baik, jangan biarkan pikiranmu melayang ke tempat lain saat aku sedang mengajarimu," perintah Xavier dengan suara yang sedikit melembut.
Gwenola mencoba untuk memfokuskan pandangannya pada gerakan tangan Xavier yang sangat tegas saat menggoreskan tinta di atas kertas putih tersebut. Namun, aroma parfum maskulin yang sangat kuat dari tubuh Xavier justru membuatnya semakin sulit untuk bernapas dengan benar dan tenang. Ia merasakan bahu mereka saling bersentuhan, menciptakan sebuah getaran panas yang menjalar ke seluruh saraf di dalam tubuhnya yang mungil.
"Apakah kau mengerti darimana angka ini berasal, atau kau hanya melamunkan hal yang tidak berguna?" tanya Xavier sambil menoleh ke arah wajah Gwenola yang sangat dekat.
Jarak di antara wajah mereka kini hanya tersisa beberapa senti saja hingga Gwenola bisa melihat pantulan dirinya di dalam manik mata hitam Xavier yang sangat pekat. Ia menelan ludahnya dengan susah payah sambil merasakan jantungnya berdegup sangat kencang seperti sedang dipukul oleh palu raksasa yang sangat beringas. Keheningan di dalam kantor pribadi tersebut terasa sangat intim namun juga sangat mencekam karena rahasia besar yang sedang Gwenola sembunyikan.
"Aku mengerti, Tuan, terima kasih sudah membantuku menyelesaikan bagian yang sangat membingungkan ini," bisik Gwenola sambil mencoba mengalihkan pandangannya kembali ke buku.
Xavier meletakkan pena emasnya lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sambil terus menatap Gwenola dengan tatapan yang sangat tidak terbaca dan sangat misterius. Ia menyadari bahwa Gwenola sedang menyembunyikan sesuatu darinya, namun ia memutuskan untuk menunggu hingga gadis itu sendiri yang akan menceritakannya secara sukarela. Baginya, melihat Gwenola yang sedang berjuang dengan angka-angka adalah sebuah pemandangan yang sangat langka dan sangat menghibur jiwanya yang haus akan kendali.
"Jika kau berhasil mendapatkan nilai sempurna pada ujian besok, aku akan memberikan sebuah hadiah yang sangat istimewa untukmu," janji Xavier dengan sebuah senyuman tipis yang sangat menawan.
Gwenola tidak merasa senang dan justru merasa beban di pundaknya semakin berat karena ia tahu hadiah dari Xavier selalu memiliki harga yang sangat mahal. Ia kembali teringat pada pesan tinta merah tersebut dan bertanya-tanya apakah hadiah yang dimaksud adalah sebuah perlindungan atau justru penjara yang lebih ketat lagi. Belajar matematika bersama sang suami yang sangat berbahaya ternyata jauh lebih sulit daripada menghadapi ujian nasional yang paling berat sekalipun.
Tiba-tiba, alat komunikasi di atas meja kerja Xavier berbunyi dengan suara yang sangat nyaring, menandakan adanya gangguan keamanan di area parkir bawah tanah. Wajah Xavier seketika berubah menjadi sangat beringas dan ia segera berdiri sambil meraih senjata api yang ia simpan di dalam laci meja kerja yang tersembunyi. Ia memberikan isyarat kepada Gwenola untuk segera masuk ke dalam ruang istirahat pribadi yang memiliki pintu baja yang sangat tebal.
"Masuk ke dalam sekarang juga dan jangan pernah keluar sebelum aku menjemputmu, apa pun yang kau dengar dari luar!" perintah Xavier dengan suara yang sangat menggelegar.
Gwenola berlari masuk ke dalam ruangan tersebut dengan perasaan yang sangat kalut dan penuh dengan tanda tanya besar mengenai apa yang sedang terjadi di bawah sana. Ia mendengar suara teriakan-teriakan dari koridor luar serta langkah-langkah kaki yang sangat cepat dan sangat berat yang nampak seperti sedang mengejar sesuatu. Di dalam kegelapan ruang istirahat itu, Gwenola mendekap buku matematikanya dengan sangat erat sambil terus berdoa agar nyawanya tetap aman.
Melalui celah kecil di bawah pintu, ia melihat bayangan seseorang sedang berdiri diam di depan meja kerja Xavier sambil memegang sebuah benda yang nampak sangat tajam. Orang itu tidak mengenakan seragam pengawal dan gerak-geriknya nampak sangat mencurigakan serta sangat penuh dengan niat jahat yang sangat nyata. Gwenola menyadari bahwa musuh telah berhasil masuk ke dalam ruang paling pribadi milik suaminya tanpa terdeteksi oleh sistem keamanan tercanggih sekalipun.
Pria misterius tersebut mulai mengobrak-abrik dokumen di atas meja kerja seolah sedang mencari sesuatu yang sangat berharga dan sangat rahasia. Gwenola menutup mulutnya menggunakan kedua tangan agar suara napasnya tidak terdengar oleh penyusup yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat persembunyiannya. Tiba-tiba, tangan penyusup itu meraih buku matematika milik Gwenola dan ia nampak sangat terkejut saat melihat pesan tinta merah yang ada di halaman belakang.
"Jadi kau benar-benar menyembunyikan kunci itu di dalam buku sekolah ini, gadis kecil yang sangat cerdik," gumam penyusup itu dengan suara yang sangat serak dan menakutkan.
Gwenola tersentak karena ia sendiri tidak tahu bahwa ada sebuah kunci yang tersembunyi di dalam bukunya atau siapa yang telah meletakkannya di sana secara diam-diam. Ia melihat penyusup itu mulai merobek sampul bukunya dengan sebilah pisau yang berkilat sangat tajam di bawah sinar lampu kantor yang temaram. Rasa takut yang sangat luar biasa membuat Gwenola merasa seolah-olah seluruh dunianya akan segera hancur berkeping-keping menjadi serpihan yang tidak lagi berbentuk.