Malam itu, di balik rimbun ilalang takdir seorang gadis muda yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu berubah selamanya. Seorang wanita sekarat menitipkan seorang bayi padanya, membawanya ke dalam pusaran dunia yang penuh bahaya.
Di sisi lain, Arkana Xavier Dimitri, pewaris dingin keluarga mafia, kembali ke Indonesia untuk membalas dendam atas kematian Kakaknya dan mencari sang keponakan yang hilang saat tragedi penyerangan itu.
Dan kedua orang tua Alexei yang di nyatakan sudah tiada dalam serangan brutal itu, ternyata reinkarnasi ke dalam tubuh kucing.
Dua dunia bertabrakan, mengungkap rahasia kelam yang mengancam nyawa Baby Alexei
Bisakah Cintya dan Arkana bersatu untuk melindungi Alexei, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Setelah perjalanan penuh tantangan dan rintangan kini mobil yang di kendarai Arkana berhenti tepat di depan kontrakan May. Lampu jalan yang remang-remang menyoroti bangunan sederhana itu. Jauh dari kemewahan yang biasa Arkana lihat.
"Ini tempat tinggalmu?" tanya Arkana datar, menatap kontrakan itu dengan tatapan menilai.
"Iya, lebih tepatnya sih kontrakan May, sahabat aku, di sini aku hanya menumpang kurang lebih dua bulan ini bersama baby Al dan Pus juga." jelas Cintya, membuka pintu mobil.
"Makasih ya, Kak, udah nganterin."
"Tunggu," Arkana reflek menahan lengan Cintya, tatapannya berubah serius. "Kau yakin aman di sini?" tanya penuh selidik.
"Insya Allah," Cintya tersenyum, berusaha meyakinkannya pria yang baru saja ia kenal itu.
Saat itu juga, deru motor sport memecah keheningan malam. Sebuah motor berhenti tepat di di belakang mobil Arkana, lampunya menyilaukan. Terlihat May turun dari bonceng lalu di susul Rico turun dari motornya, ia melepas helmnya dengan gerakan cepat. Wajah keduanya tampak lelah, tapi begitu melihat Cintya di hadapannya, rasa lelah serta khawatir itu menguap, digantikan dengan kelegaan.
May langsung menghampiri Cintya dan memeluknya erat. "Cintya! Ya ampun, kamu kemana aja sih? Gue sama si bos, khawatir banget! Tau! Hobi bangat dah menghilang tanpa kabar!" seru May sambil mencubit gemas pipi Cintya.
Cintya hanya bisa cegegesa lalu membalas pelukan May, menepuk-nepuk punggungnya pelan. "Gue baik-baik aja, May. Maaf dah bikin kalian khawatir," ujarnya merasa bersalah.
Rico yang sama khawatirnya langsung mendekat setelah pelukan May dan Cintya terurai, gegas ia memeluk Cintya, dengan erat seolah takut kehilangan Cintya lagi jika ia melepaskannya.
"Kakak sangat khawatir saat May bilang, kamu dan Al gak pulang-pulang."
"Maafin Cintya ya kak! dah buat khawatir!" ujarnya menyesal.
Rico melepaskan pelukannya dan menatapnya dengan tatapan menyelidik. "Tapi kamu baik-baik aja kan? Gak ada yang terluka kan?" tanya Rico sambil memutar tubuh Cintya, memastikan wanita itu baik-baik saja.
"Kak, stop! Aku baik-baik aja," tegas Cintya, sambil memasang senyum tengilnya, ia tak ingin menceritakan yang sebenarnya sama Rico, ia tak ingin menambah rasa khawatir mereka akan dirinya.
Arkana menyipitkan matanya, memperhatikan interaksi mereka. Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal. "Rico? Kenapa mereka begitu akrab?" batin Arkana tak terima, hatinya mulai panas. Ia merasa seperti ada yang merampas sesuatu yang menjadi miliknya. Ia tidak suka melihat kedekatan antara Cintya dan Rico.
Cintya menoleh ke arah Arkana, menyadari keterdiaman pria di sampingnya. "Oh ya, Kak arkan. Kenalin, ini Kak Rico," ucapnya. "Kak Rico, ini Kak Arkana."
Rico dan Arkana saling tatap lalu setelahnya keduanya kompak mengangguk! "Kami sudah kenal!" ujar Rico. namun matanya menyorotkan kewaspadaan ia sangat tahu siapa Arkana dan keluarganya.
"Ya!" balas Arkana singkat. Nada suaranya datar.
"Oh jadi kalian udah saling kenal? Bagus lah!"
"Eh! Tunggu dulu deh! Kek ada yang kurang ya? Tapi apa ya?" ceplos May sambil berpikir keras.
"Ah iya Al sama Pus, mana?" seru May yang tiba-tiba ngeh jika sejak tadi ia tak melihat Al dan Pus yang biasanya selalu lengket dengan Cintya.
"Jangan-jangan kamu malah nyuruh Pus jagain Al di taman, terus kamu malah pacaran sama nih cogan? Tega banget!" tuduh May dramatis.
"Iya, kok gak sama kamu, Cin?" Rico ikut pernasaran matanya memicing curiga.
Cintya memutar bola matanya, semabari terkekeh kecil. "May, jangan ngaco deh. Al sama Pus aman kok! Mereka sekarang ada di Mansion Kak, Arkana. Kak Arkana ini ternyata ... pamannya baby Al."
Rico terkejut, matanya membulat. "Paman? Maksudnya ... Arkana ini pamannya, baby Al?" tanyanya tak percaya.
Arkana mengangguk singkat, ekspresinya tetap aja datar. "Gak mungkin!" Rico menggelengkan kepalanya, mencoba mencerna informasi yang baru saja ia dengar. "Berarti baby ... Al itu anaknya Tasya? Anak sepupu gue yang menghilang saat penyerangan malam itu?" lanjut Rico, menatap Arkana penuh selidik.
"Hmm!" sahut Arkarna singkat.
Rico terdiam, mencoba menyatukan semua kepingan informasi yang berserakan di benaknya. Cintya menghilangkan saat itu, bertepatan dengan malam naas itu. Lalu Cintya kembali dua bulan yang lalu, dan kembali bertemu dengannya, dan saat itu Cintya membawa seorang anak laki-laki, dan ... Ia sama sekali tak mencurigainya.
"Ya Tuhan," gumam Rico pelan. "Berarti bayi yang selama ini gue cari-cari, ada di dekat gue sendiri, dan gilanya gue sama sekali tak menyadarinya!"
Arkana menatap Rico dengan tatapan menyelidik. Ia bisa melihat keterkejutan dan kebingungan di wajah pria itu.
Suasana menjadi hening dan tegang. Rico menatap Arkana dengan tatapan penuh pertanyaan, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan, sesuatu yang besar dan penting.
May, yang sedari tadi hanya diam menyimak, akhirnya angkat bicara. "Udah deh, jangan tegang gitu," cetusnya, berusaha mencairkan suasana. "Mendingan kita masuk dulu, terus ngobrol yang bener. Aku bikinin teh anget deh, biar ngobrolnya lebih nyaman."
"Bener tuh," sambut Cintya setuju. "Yuk, masuk Kak Rico, Kak Arkana." ajak Cintya menarik tangan Rico dan Arkana bersamaan, kedua pria tampan itu tak membantah dan mengikuti langkah Cintya.
Sampai di dalam kontrakan mereka semua duduk di ruang tamu, meskipun sempit, kontrakan itu terasa hangat dan nyaman. Aroma teh celup memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang menenangkan.
Sambil menunggu May menyeduh teh anget di dapur. Suasana diruang tamu hanya di selimuti keheningan. Rico, Cintya dan Arkana hanya duduk diam di sofa tanpa ada yang memulai bicara.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Rico akhirnya, memecah keheningan yang sempat tercipta. "Sebenarnya apa yang terjadi pada sama keluarga kak Alexander? Dan bagaimana bisa Cintya terlibat dalam semua ini?"
Arkana menghela napas panjang, lalu menjelaskan secara garis besar apa yang terjadi pada Alexander, Anastasya dan baby Alexie dan bertemu Cintya dan Al di taman.
"Gue yakin lo pasti tahu siapa kelurga gue!" lanjut Arkana.
Rico mengangguk paham, ia memang sangat tahu siapa keluarga Dimitri. Mereka adalah keluarga Mafia yang yang terkenal dermawan tapi akan kejam Jika ada yang mengusiknya.
"Jadi, kejadian malam itu, karena ulah si tua bangka itu?" tanya Rico geram.
"Tapi kenapa harus melibatkan Cintya?" desak Rico. "Dia tidak tahu apa-apa tentang dunia ini. Dia tidak pantas mendapatkan semua ini."
"Gue juga gak tahu, mungkin takdir yang membawanya," jawab Arkana datar. "Dan gue kini berhutang budi padanya. Tanpa dia, gue mungkin sudah kehilangan baby Alexie. Dan Lo gak usah khawatir Cintya kini dalam perlindungan gue!"
Rico menatap Cintya dengan tatapan kagum. Ia tidak menyangka gadis ceria nan absrud itu memiliki hati yang tulus dan berani menanggung tanggung jawab yang besar.
"Gue cuma melakukan apa yang harus aku lakukan," sahut Cintya merendah. "Gue nggak mungkin membiarkan anak sekecil Al, dalam bahaya di depan mata gue sendiri, gue gak mau Al merasakan apa yang selama ini gue rasakan," lanjutnya lirih. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca, namun Cintya tak ingin berlarut dalam kesedihan dengan cepat mengubah ekspresinya.
May datang membawa teh hangat dan membagikannya kepada mereka semua.
"Silahkan di minum!" ujar May ramah. Suasana menjadi sedikit lebih tenang dan nyaman setelah menyesap teh hangat buatan Mau..
"Terus apa rencana kamu selanjutnya, Cin?" tanya Rico memecahkan suasana.
Bersambung ...
Jaga ksehatan y, Adeq & kami tunggu Up slnjtx ❤️🤗😘
ngga sabar nunggu paman & bunda sah.
kopi untuk mu
aku mencoba mampir di novel mu 🤗
di awal Bab ceritanya dh seru bgt ,, smg selanjutnya ceritanya bagus