NovelToon NovelToon
Pernikahan Panas Sang Aktor

Pernikahan Panas Sang Aktor

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:875
Nilai: 5
Nama Author: MissKay

Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.

Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membujuknya

​Arumi melangkah dengan cepat melewati lobi kantor, mengabaikan tatapan heran dari beberapa karyawan yang berpapasan dengannya. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini mulai merebak. Tanpa memedulikan sopir mobil pribadinya yang masih terparkir di depan, ia langsung melambaikan tangan ke arah sebuah taksi yang kebetulan baru saja menurunkan penumpang di depan gedung.

​Begitu pintu taksi tertutup, Arumi hanya bisa menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin. "Jalan saja dulu, Pak," ucapnya dengan suara parau.

​Sementara itu, di depan gedung, Brian keluar dengan napas terengah-engah. Matanya menyisir setiap sudut area parkir, namun sosok istrinya benar-benar telah hilang. Jantungnya berdebar saat menyadari Arumi tidak menggunakan mobil pribadi yang sudah menunggunya.

​"Ah, brengsek!" teriak Brian frustrasi, memukul kap mobil di dekatnya.

​Ia segera merogoh ponsel dan menghubungi Frans dengan tak sabar. "Periksa CCTV depan gedung sekarang! Lihat taksi mana yang dinaiki Arumi! Lacak nomor platnya! Cepat!" bentaknya sebelum memutus sambungan ponsel dengan panik.

​Brian berdiri mematung di bawah terik matahari, menyadari bahwa ketenangan Arumi di dalam ruangan tadi adalah pertanda bahwa istrinya benar-benar telah mencapai batas kesabarannya.

Sementara itu di dalam ruangan Brian Hendra menatap Maria dengan dingin.

​"Silakan keluar dari sini, Nona Maria," ucap Hendra dingin. Pria itu berdiri tegak di ambang pintu, menghalangi jalan dengan aura yang mengintimidasi.

​Maria mendengus kasar. Ia menatap Hendra dengan tatapan benci sebelum menyambar tas branded miliknya dari atas meja. Tanpa kelembutan sedikit pun, Hendra menggiring Maria keluar. Bukan melalui lobi utama yang megah, melainkan lift karyawan sebuah penghinaan halus bagi wanita seperti Maria.

​Sebagai tangan kanan keluarga Aditama, ketegasan Hendra sudah menjadi rahasia umum. Tak ada yang berani membantah titahnya. Di usianya yang menginjak 48 tahun, pria itu masih memiliki karisma yang mematikan. Parasnya yang tampan dan tubuhnya yang tetap gagah dalam balutan setelan jas mahal sering kali membuat orang tak percaya jika ia sudah hampir berkepala lima.

​Di tempat lain, dering ponsel memecah keheningan di dalam kabin mobil. Frans kembali menghubungi Brian yang sudah bersiap di balik kemudi.

​"Tuan, taksi yang membawa Nyonya Muda bergerak menuju pemakaman Tuan Adrian. Sepertinya Nyonya pergi ke sana," lapor Frans dari seberang telepon.

​Rahang Brian mengeras. Mata tajamnya menatap lurus ke depan. "Baiklah, aku akan ke sana."

​Tanpa membuang waktu, Brian mematikan sambungan telepon dan menghidupkan mesin mobil sport-nya. Deru mesin terdengar menggelegar sebelum mobil itu melesat membelah jalanan, mengejar Arumi yang pergi karena kesalahpahaman.

...***...

Taksi itu berhenti di area pemakaman elite, tempat peristirahatan terakhir mendiang suaminya, Adrian. Arumi melangkah perlahan, lalu bersimpuh di samping gundukan tanah yang rapi itu. Jemarinya yang gemetar menyentuh permukaan batu nisan yang dingin.

​"Hai, Adrian... aku datang lagi. Bagaimana kabarmu? Kau pasti sudah bahagia di surga sana, kan?" ucap Arumi dengan senyum tipis yang dipaksakan. Matanya mulai berkaca-kaca. "Seandainya waktu itu kau tidak datang ke acara Tuan Sams, kita pasti masih bersama sekarang. Adrian, kekasih hatiku... maafkan aku."

​Suara deru mesin mobil yang berhenti mendadak memecah keheningan. Brian keluar dengan napas memburu. Langkah kakinya lebar dan tergesa, membelah jalan setapak makam. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat Arumi sedang menyeka air mata di depan nisan kakaknya.

​Hati Brian teriris. Tanpa peringatan, ia langsung menarik Arumi ke dalam dekapannya. Ia mendekap tubuh wanita itu dengan sangat erat, tepat di depan makam Adrian.

​"Lepaskan! Lepas!" Arumi meronta dalam pelukan itu, namun Brian justru semakin mempererat kuncian lengannya.

​"Maaf... maafkan aku, Arumi. Semua yang kau lihat tidak seperti yang kau duga," bisik Brian parau di telinga Arumi. Suaranya bergetar hebat. "Aku bersumpah demi nama Adrian, jika aku berbohong, aku rela mati dan terkubur menyusulnya saat ini juga!"

​Brian perlahan melepas pelukannya, lalu kedua tangannya bergerak menangkup wajah Arumi yang basah oleh air mata. Ia memaksa wanita itu untuk menatap matanya.

​"Dengarkan aku, Arumi. Aku minta maaf karena sempat meninggalkanmu setelah tahu bahwa Leo yang telah membunuh kakakku. Aku... aku hanya butuh waktu saat itu," ucap Brian dengan suara serak.

​"Butuh waktu hingga orang lain masuk ke dalam pernikahan kita?" sela Arumi dengan nada getir. Sorot matanya menunjukkan luka yang mendalam.

​"Tidak, Sayang. Tidak seperti itu," Brian menggeleng cepat. "Aku hanya menganggapnya teman. Dia yang tiba-tiba memelukku tepat saat kau datang. Frans sudah mengirimkan rekaman CCTV di ruanganku ke ponselmu. Kau bisa lihat sendiri jika kau tak percaya padaku," jelas Brian sungguh-sungguh.

​Arumi tetap bergeming. Ia hanya diam, membiarkan angin pemakaman menyapu wajahnya, namun hatinya masih terasa beku.

​"Baiklah, ayo kita pergi dari sini," ajak Brian seraya mencoba menggenggam jemari Arumi. Namun, wanita itu masih menolak dengan menarik tangannya kembali.

​Brian menghela napas panjang, terlihat sangat terpukul. "Tolong, ikut aku pulang. Adrian pasti akan sangat sedih jika melihat kita terus seperti ini," ucap Brian dengan nada yang begitu sendu.

​Mendengar nama mendiang suaminya disebut, pertahanan Arumi runtuh. Ia menoleh perlahan ke arah makam Adrian, seolah mencari jawaban di sana. Akhirnya, ia luluh. Tanpa berkata-kata, Arumi melangkah pergi lebih dulu menuju mobil.

​Brian tidak langsung menyusul. Ia menoleh sekali lagi ke arah nisan kakaknya, lalu berbisik lirih, "Terima kasih, Kak."

​Setelah itu, ia segera berlari kecil menyusul Arumi, tak ingin kehilangan wanita itu untuk selamanya.

​Mobil sport Brian melesat meninggalkan area pemakaman dengan kecepatan tinggi, namun suasana di dalam mobil justru terasa sunyi dan dingin. Arumi hanya menyandarkan kepalanya ke jendela, menatap jalanan dengan tatapan kosong.

​"Kita tidak pulang ke mansion?" tanya Arumi saat menyadari jalan yang mereka lalui bukan menuju rumah mereka.

​Brian tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Arumi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap di kemudi. Tak lama kemudian, mobil itu berhenti tepat di depan sebuah hanggar privat. Sebuah jet pribadi dengan logo keluarga Aditama sudah menunggu di sana dengan mesin yang mulai menderu halus.

​"Turunlah," ucap Brian lembut.

​Arumi tertegun melihat persiapan yang begitu cepat. "Brian, apa maksudnya ini? Kita mau ke mana?"

​"Kita butuh waktu berdua, tanpa gangguan siapa pun," jawab Brian sambil menuntun Arumi menaiki tangga jet. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi tanpa ku, Arumi. Kita akan ke Roma. Malam ini juga."

​Begitu pintu jet tertutup rapat, kemewahan yang tenang menyambut mereka. Arumi baru saja akan memprotes, namun Brian sudah menariknya duduk di sofa leather yang empuk, kemudian menyelimuti kaki wanita itu dengan kain kasmir.

​"Roma?" gumam Arumi pelan.

​Brian berlutut di depan Arumi, menatapnya dengan intensitas yang sanggup melelehkan gunung es. "Hanya ada aku dan kau di sana. Aku akan membayar semua waktu yang hilang, dan membuktikan bahwa hanya kaulah satu-satunya wanita di hidupku."

​Brian kemudian memberi isyarat pada pramugari pribadi untuk mulai menyajikan hidangan. Ia ingin memastikan bahwa saat mendarat di Eropa nanti, Arumi tidak lagi membawa kesedihan, melainkan hanya ada cinta yang tersisa untuknya.

1
Miss Kay
Hi, reader ku tercinta. Terima kasih sudah mengikuti, membaca, dan menyukai cerita ini. Dukung terus cerita ini ya, agar aku semangat update. Berikan like, masukkan ke perpustakaan kalian, dan jangan lupa vote nya. 🤭🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!