Winny adalah seorang gadis preman yang pekerjaannya selalu berhubungan dengan nyawa. Malam itu dia berada di sirkuit balap mobil, ketika dia hendak sampai di garis finis tiba-tiba mobilnya mengeluarkan api di bagian mesin. suara ledakan terdengar begitu keras, cahaya putih tiba-tiba muncul dan membawa Winny pergi ke suatu tempat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13 Jaga mulutmu
"Dasar wanita bodoh!" teriak wanita itu dengan suara menggema, membentak Ling Xu-mei sekeras mungkin.
Semula Ling Xu-mei hanya diam, menahan diri dari kemarahan yang mendidih. Namun kali ini, kesabarannya habis sudah. Ling Xu-mei melangkah maju, menatap tajam wanita berumur di depannya. "Kamu pikir aku mau dengerin ocehan bodohmu terus?" katanya dingin.
Plakk!!
Tamparan pertama mendarat di pipi wanita itu, membuatnya terpaku dan memegang area yang baru saja disabet tangan Ling Xu-mei.
"Beraninya kamu menampar aku!" wanita itu teriak marah, suaranya pecah oleh kejutan.
Belum sempat dia melancarkan kata-kata lagi, tamparan kedua langsung menghantam wajahnya. Wanita itu hendak membalas suara, tapi tamparan ketiga, keempat, dan kelima datang bertubi-tubi, satu demi satu, tak tertahankan. "Pipiku sakit! Berhenti, kamu gila?" jeritnya sambil wajahnya memerah, kesakitan tak terbendung.
Ling Xu-mei menatap dengan mata dingin tanpa ampun. "Kalau kamu terus ganggu aku, jangan salahkan aku kalau kamu berakhir begini," katanya pelan namun penuh ancaman.
Wanita itu terdiam, tubuhnya gemetar menahan malu dan nyeri. Suasana berubah menjadi sunyi berat, hanya suara nafas berat Ling Xu-mei yang memenuhi ruangan..
"Cobalah, keluarkan suara sekali lagi. Aku tidak segan menamparmu lagi."
Ling Xu-mei memandang pelayan itu dengan mata teduh, penuh anggun namun menyiratkan peringatan tegas.
"Seorang pelayan hina berani menghina majikannya? Apakah kau pikir itu pantas?"
Suasana di rumah makan menjadi hening. Semua mata tertuju pada Ling Xu-mei, wanita yang tampak begitu lembut, berwibawa, dan bermartabat, namun ucapannya menyiratkan kekuatan yang sulit diabaikan.
Dari sudut ruangan, seorang wanita tua menyahut dengan dingin, "Jadi, dia mantan pelayannya, ya? Berani sekali dia menghina majikannya. Sudah tua, wajahnya pun jelek, tapi tidak punya tata krama. Wanita seperti itu, sebaiknya memang dibunuh saja sebelum dia keluar dari tempat kita."
Ling Xu-mei tetap tenang, tanpa tersentak sedikit pun mendengar kata-kata kasar itu. Namun, tatapannya yang tajam menyiratkan pesan jelas: siapa pun yang berani menghina dan meremehkan martabat orang lain, pasti akan menanggung konsekuensinya.
Ling Xu-mei menatap dingin wanita itu, matanya menyala penuh amarah yang membara. "Beraninya kamu! Beraninya kamu mengkhianatiku seperti ini!" teriaknya, suaranya menggema tajam di tengah keramaian rumah makan. Tapi tiba-tiba, senyum dingin mengembang di bibirnya, lebih menyeramkan daripada kemarahan yang baru saja tersulut. “Aku tidak pernah main-main denganmu. Berapa banyak perhiasan yang sudah kamu curi dari tanganku? Berapa kali kamu tikam aku dari belakang? Tapi sekarang, kamu berani melakukan ini? Di hadapanku?” kata Ling Xu-mei dengan suara serak penuh sindiran, seperti racun yang menyebar perlahan.
Mata semua orang tertuju pada wanita paruh baya itu, yang dengan tenang memegang pipinya yang kemerahan, bekas pukulan berulang yang ia terima dengan kepala tegak. Dalam diam, wanita itu bergumam, “Siapa kamu dulu? Wanita yang berani menamparku? Sekarang, kau sudah jadi bayangan dirinya, tajam kata-katanya, licik membalik fakta. Tapi aku tak gentar.” Wajahnya tetap datar, keangkuhan membekas seperti patung batu yang menantang dunia.
“Hei, wanita tua! Dasar tidak tahu terima kasih! Sudah ditolong, malah berani hina majikan kita! Dasar wanita miskin tak tahu diri!” teriak salah satu pria di tempat itu dengan nada penuh amarah.
Wanita itu terlihat kebingungan, bibirnya gemetar mencoba membalas, tapi suaranya tercekat saat semua mata beralih padanya. Tatapan tajam seolah siap menghabisi membuat ia makin terpaku.
Ling Xu-mei berdiri santai, senyum tipis terukir di bibirnya sambil memandang ekspresi si wanita yang berubah bingung. “Lucu ya, niatnya mau mempermalukan aku, tapi yang kena malah dia sendiri,” gumam Ling Xu-mei pelan.
“Kenapa diam saja? Jawab dong!” tiba-tiba seorang pria lain menyerobot, membuat suasana semakin mencekam.
Wanita tua itu hanya bisa menunduk, suara gugupnya keluar pelan, “Maaf... aku tidak bermaksud...”
“Terlambat!” sahut Ling Xu-mei dingin, lalu memutar badan meninggalkan kerumunan yang kini mulai mencemooh wanita itu. Suara cemoohan perlahan mengalun, menandai kekalahan si wanita dalam pertarungan gengsi yang tak dia duga sebelumnya.
Pria itu duduk dengan tenang tidak jauh dari Ling Xu-mei, senyumnya mengembang tipis tapi matanya memancarkan kilatan tajam yang hampir menusuk. Tatapan itu seolah menantang, tidak percaya melihat perubahan yang terpancar dari sosok wanita di depannya. Dahulu, Ling Xu-mei dikenal sebagai gadis bodoh yang sering dipandang sebelah mata di istana, sosok yang putus asa mengejar perhatian Kaisar Han dengan cara yang kerap membuatnya dipermalukan. Namun kini, kehadirannya begitu berbeda, wajahnya dingin, bibirnya mengukir senyum sinis yang menyembunyikan kecerdasan dan ketegasan yang baru ditemukan.
Pria itu, penasihat kerajaan yang dihormati, menyipitkan mata, seakan menilai ulang seluruh kisah yang selama ini ia dengar tentang Ling Xu-mei. "Dulu dia lemah, tapi sekarang..." pikirnya dalam hati sambil menyembunyikan rasa kagum yang terselip di balik ekspresi dingin. Suara hatinya berbisik, "Si bodoh itu kini menjadi ancaman yang harus diperhitungkan." Perlahan, ia mengalihkan pandangan, tetap waspada namun tak bisa menghapus bayang sosok Ling Xu-mei yang telah berubah menjadi wanita berbahaya dan penuh tipu daya.
Karena malu akhirnya si wanita bekas pelayan di kerajaan itu pergi meninggalkan rumah makan, dia pergi dengan amarah. sedangkan Ling Xu-mei dia duduk dengan begitu anggun dan berwibawa, orang-orang yang ada di rumah makan itu menatapnya penuh dengan kekaguman. Sosoknya yang dulu diremehkan sekarang menjadi pusat perhatian.
"Nyonya benar-benar hebat." puji Yura.
Ling Xu-mei tersenyum kemudian memukul dahi Yura "Ini namanya taktik, kita harus bersikap tenang untuk menghadapi masalah, wanita seperti dia itu tidak akan bisa menumbangkan ku." jawab Ling Xu-mei yang kemudian mulai makan.
Sedangkan pria yang bernama Gu Yanzel nampak memperhatikan sosok yang dulu benar-benar tidak berharga itu. "Aku tidak akan pernah mengira wanita yang baru kembali dari kematian itu sekarang benar-benar berubah drastis, dia seperti wanita lain dia sekarang tidak kenal takut, bahkan dia berani seperti itu." ucap Gu Yanzel yang kemudian membuka kipasnya. dia nampak tersenyum kemudian menghabiskan satu guci Arak yang sudah ada di mejanya.
Setelah selesai makan di salah satu rumah makan Ling Xu-mei kemudian mengajak Yura berjalan-jalan di sekitar tempat itu, dia membeli begitu banyak barang untuk mereka bawa ke tempat baru mereka, yaitu paviliun kebahagiaan.
Kaisar Han mendapatkan kabar dari orang-orang kepercayaannya mengenai Ling Xu-mei yang sekarang sudah berubah drastis. dia bahkan berani melawan apapun, dia juga pergi ke barak militer bahkan dia juga berani melawan para prajurit.
"Apa kamu yakin dengan informasi ini?" tanya Kaisar Han kepada prajurit bayangan.
"Tentu saja yang mulia, saya melihat sendiri apa yang dilakukan oleh wanita itu." jawab prajurit bayangan.
"Aku tidak pernah mengira setelah dia kembali dari kematian Dia sangat berubah drastis, nyalinya begitu besar bahkan dia sudah berani masuk ke barat militer." ucapnya Kaisar Han kemudian memerintahkan prajurit kepercayaannya itu pergi meninggalkannya.
*Bersambung*
semangat berkaryaa