"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Kontrak Perjanjian "Bocil Jangan Mengganggu"
Baru saja ujung pena itu menyentuh permukaan kertas kontrak, lampu seluruh rumah tiba-tiba mati total dan terdengar suara kaca jendela yang pecah dari arah ruang tamu dengan sangat keras. Suasana makan malam yang semula tegang berubah menjadi kekacauan yang sangat mencekam dalam kegelapan yang sangat pekat. Adrian merasakan tarikan kuat pada lengan jasnya sementara suara langkah kaki yang terburu buru terdengar mendekat ke arah meja makan.
"Semuanya tiarap di bawah meja sekarang juga, jangan ada yang menyalakan cahaya apapun!" teriak ayah Lala dengan nada perintah yang sangat kuat.
"Ayah, apa yang terjadi? Apa rumah kita sedang diserang oleh musuh bebuyutan Ayah?" tanya Danu dengan suara yang gemetar dan penuh ketakutan.
Adrian segera menarik Lala ke bawah meja kayu yang kokoh dan memeluk bahu gadis itu agar tetap merasa tenang di tengah kegelapan. Ia bisa merasakan detak jantung Lala yang berdegup berulang ulang melawan telapak tangannya yang hangat. Dalam hitungan detik, cahaya lampu senter dari ayah Lala mulai menyisir ruangan dan menampakkan seekor burung hantu besar yang tersesat dan menabrak jendela kaca hingga hancur berkeping keping.
"Hanya burung hantu ternyata, benar benar merusak suasana drama yang sedang kita bangun," gumam Danu sambil mengusap dadanya yang terasa sesak.
"Burung hantu itu simbol kebijaksanaan, mungkin dia ingin mencegah Dokter Adrian menandatangani surat kutukan itu!" seru Lala sambil perlahan keluar dari bawah meja.
Ayah Lala segera menyalakan sakelar darurat dan menghela napas panjang melihat kekacauan di ruang tamunya yang kini penuh dengan pecahan beling. Ia menatap Adrian yang masih memegangi lengan Lala dengan ekspresi yang sangat sulit untuk diartikan. Kontrak perjanjian yang berada di atas meja kini sudah ternoda oleh tumpahan kuah sayur akibat guncangan mendadak yang terjadi tadi.
"Kontraknya rusak, sepertinya alam semesta memang sedang berpihak kepada kebebasan kita, Dokter!" ucap Lala dengan binar mata yang kembali ceria.
"Jangan senang dulu, saya bisa mencetak ulang dokumen itu dalam waktu lima menit saja," jawab ayah Lala sambil membersihkan tangannya dengan serbet.
Adrian menatap kertas yang basah itu lalu beralih menatap wajah ayah Lala yang tampak sangat keras kepala dan tidak mau mengalah sedikitpun. Ia menyadari bahwa jika ia menandatangani kontrak itu, ia akan kehilangan akses untuk memantau kesehatan mental Lala yang sangat labil. Namun jika ia menolak, kariernya di rumah sakit akan terancam oleh laporan pengaduan dari seorang perwira polisi yang memiliki pengaruh sangat luas.
"Bapak, saya punya usul yang lebih logis daripada sekadar melarang kami untuk bertemu secara total," ucap Adrian sambil berdiri tegak.
"Usul apa yang bisa menjamin putri saya tidak akan berbuat ugal ugalan lagi di sekitar Anda?" tanya sang ayah sambil melipat tangan di depan dada.
Adrian mengusulkan sebuah kontrak baru yang ia sebut sebagai kontrak bimbingan medis dan akademis yang sangat ketat bagi Lala. Ia bersedia menjadi pengawas belajar bagi Lala dengan syarat gadis itu dilarang keras datang ke rumah sakit kecuali dalam keadaan darurat medis yang nyata. Danu yang mendengar hal itu langsung tertawa terbahak bahak karena menganggap Adrian sedang mengajukan diri untuk menjadi pengasuh bagi adiknya yang sangat ajaib.
"Dokter mau jadi guru les pribadi untuk bocil ini? Dokter benar benar sudah kehilangan akal sehat ya?" ejek Danu dengan nada yang sangat menyebalkan.
"Ini jauh lebih baik daripada membiarkan dia berkeliaran tanpa arah dan mengganggu ketenangan umum di rumah sakit," balas Adrian dengan sangat tenang.
Lala tampak sangat terkejut sekaligus sangat bersemangat mendengar bahwa ia akan sering bertemu dengan Adrian dengan alasan belajar bersama. Ia segera mengambil pena yang sempat terjatuh dan menyodorkannya kembali kepada Adrian seolah sedang memberikan sebuah kunci menuju surga dunia. Ayah Lala terdiam cukup lama untuk mempertimbangkan tawaran yang menurutnya cukup menguntungkan bagi masa depan pendidikan putrinya tersebut.
"Baiklah, tapi ada satu syarat tambahan, setiap sesi belajar harus dilakukan di ruang tamu ini dengan pintu yang terbuka lebar lebar," tegas sang ayah.
"Aku setuju! Aku akan rajin belajar biologi tentang sistem reproduksi manusia bersama Dokter Adrian setiap hari!" seru Lala dengan ugal ugalan yang kembali kumat.
Adrian memijat pelipisnya karena merasa kalimat Lala barusan akan kembali memicu kesalahpahaman yang sangat besar bagi sang ayah. Ia segera mengambil secarik kertas baru dan menuliskan poin poin perjanjian yang sangat kaku dan penuh dengan batasan medis. Perjanjian itu secara resmi diberi judul oleh Danu sebagai kontrak perjanjian bocil jangan mengganggu yang membuat Adrian merasa sangat malu setengah mati.
"Tanda tangan di sini Dokter, mulai besok Anda resmi menjadi penjaga singa betina yang paling galak di rumah ini," ucap Danu sambil memberikan stempel jempol.
"Saya melakukan ini demi kebaikan bersama, bukan karena keinginan pribadi yang tidak profesional," tegas Adrian sambil membubuhkan tanda tangannya yang sangat indah.
Malam itu berakhir dengan penandatanganan kesepakatan yang sangat aneh antara seorang dokter bedah, seorang perwira polisi, dan seorang siswi sekolah menengah atas. Adrian pulang dengan perasaan yang sangat campur aduk karena kini ia memiliki tanggung jawab tambahan yang sangat menguras tenaga dan pikiran. Ia melihat ke arah kaca spion dan melihat Lala yang melambaikan tangan dengan sangat antusias dari depan pintu rumahnya yang megah.
"Apa yang sebenarnya saya pikirkan sampai harus setuju menjadi guru les untuk gadis itu?" tanya Adrian pada dirinya sendiri di dalam mobil.
Ia menyadari bahwa mulai besok, hidupnya tidak akan pernah tenang karena harus menghadapi pertanyaan pertanyaan ajaib dari Lala tentang dunia medis dan kehidupan. Namun di sisi lain, ada sedikit rasa hangat yang menjalar di hatinya karena ia tahu bahwa ia tidak benar benar harus berpisah dengan si gadis kompor. Adrian tersenyum tipis saat melihat pita rambut merah muda milik Lala yang masih tersimpan rapi di dalam laci mobilnya yang kecil.
Keesokan paginya, Adrian terbangun oleh suara alarm yang sangat berisik dan saat ia membuka pintu rumahnya, ia menemukan sebuah kotak besar yang sangat harum.