NovelToon NovelToon
HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:63
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.

Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.

Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUARA YANG MENCAPI DUNIA DAN WARISAN YANG ABADI

Mentari pagi menyinari bandara Soekarno-Hatta, di mana Qinara—sekarang berusia lima belas tahun—berada bersama Pak Rio, Pak Santoso, dan Siti. Hari ini, mereka akan terbang ke New York untuk menghadiri konferensi Organisasi Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) tentang pendidikan anak-anak di negara berkembang. Qinara mengenakan baju batik merah-putih yang mewakili Indonesia, dan di tangannya, dia memegang tongkat kayu yang diberikan Pak Santoso di Yogyakarta dan kotak pemberian ayahnya yang selalu ada di sisinya.

"Tidak terasa sudah lima tahun sejak kita berjuang untuk keadilan ayahmu," kata Pak Rio dengan suara penuh emosi. "Sekarang, kamu akan berbicara di depan dunia. Ayahmu pasti tidak pernah membayangkan seberapa jauh kamu telah datang."

Qinara mengangguk, mata sedikit memerah. Dia melihat ke arah langit yang biru, membayangkan pesawat yang akan membawanya melintasi lautan. Dia merasa kehadiran ayahnya semakin dekat, seolah ayahnya akan bersamanya di setiap langkah perjalanan ini.

"Kak Qinara, jangan khawatir. Kita semua ada di sini untukmu," kata Siti, yang sekarang sudah lulus dari sekolah hukum dan bekerja sebagai pengacara di yayasan. "Dunia perlu mendengar cerita kamu."

Setelah beberapa jam penerbangan, mereka tiba di New York. Qinara terkejut melihat gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit, dan keramaian kota yang penuh energi. Mereka diantarkan ke hotel yang terletak dekat gedung PBB, dan segera menyiapkan diri untuk konferensi yang akan dimulai besok pagi.

Malam itu, Qinara tidak bisa tidur. Dia membaca surat ayahnya berkali-kali, dan meninjau catatan pidatonya. Dia ingin memastikan bahwa pesan ayahnya terdengar jelas—pesan tentang pentingnya pendidikan, keberanian untuk mencari kebenaran, dan kasih sayang untuk membantu orang lain.

Keesokan pagi, mereka pergi ke gedung PBB. Qinara terkejut melihat keindahan dan kebesaran gedung itu—simbol perdamaian dan kerja sama antar bangsa. Di dalam aula konferensi, sudah ada ribuan orang dari berbagai negara di dunia—pejabat PBB, menteri pendidikan, tokoh masyarakat, dan anak-anak dari negara berkembang.

Qinara duduk di baris depan, bersama dengan delegasi Indonesia. Dia melihat ke arah panggung, di mana pejabat PBB akan memberikan pidato sebelum kesempatan diberikan kepada dia. Suasana aula terasa tegang tapi penuh harapan—semua orang menunggu untuk mendengar cerita dari gadis muda dari Indonesia yang telah menginspirasi banyak orang.

Beberapa menit kemudian, Sekretaris Jenderal PBB memasuki aula dan memberikan pidato tentang pentingnya pendidikan untuk mengakhiri kemiskinan dan membangun dunia yang lebih baik. Ketika selesai, dia melihat ke arah Qinara dan menyebut namanya. "Selanjutnya, kita akan mendengar dari seorang anak yang telah menunjukkan bahwa usia tidak pernah menjadi hambatan untuk melakukan hal yang besar—Qinara dari Indonesia, pendiri Yayasan Hadian dan jaringan Sekolah Hadian!"

Suara tepuk tangan yang meriah terdengar dari seluruh aula. Qinara mengambil napas dalam-dalam, berdiri, dan menuju panggung. Ketika dia berdiri di depan mikrofon, dia melihat ribuan mata yang tertuju padanya—dari berbagai warna kulit dan bahasa. Dia merasa sedikit takut, tapi dia segera mengingat kata-kata ayahnya: "Tetap kuat, tetap cerdas, dan jangan pernah menyerah."

"Selamat pagi, semuanya. Perkenalkan, nama saya Qinara. Saya berusia lima belas tahun, dan saya berasal dari Indonesia," ucap Qinara dengan suara yang jelas dan penuh emosi. "Saya ingin berbicara tentang impian—impian yang ayahku berikan padaku, dan impian yang kita semua miliki untuk anak-anak di seluruh dunia."

Dia mulai menceritakan cerita tentang ayahnya—seorang pengusaha yang bekerja keras, yang mencintai keluarga dan negara, dan yang ingin membantu anak-anak miskin. Dia menceritakan tentang kematian ayahnya, tentang bagaimana dia harus berjuang untuk mendapatkan keadilan, dan tentang bagaimana dia menemukan kekuatan untuk melanjutkan hidup dengan bantuan orang-orang yang baik.

"Ayahku selalu mengatakan bahwa pendidikan adalah kunci untuk merubah hidup. Dia berjanji bahwa satu hari dia akan membangun sekolah untuk anak-anak miskin di Indonesia. Sekarang, impian itu telah berkembang—kita memiliki tiga sekolah di Jakarta, Yogyakarta, dan Medan, dan rencana untuk membangun lebih banyak di setiap provinsi di negara kita. Lebih dari 500 anak telah bersekolah di Sekolah Hadian, dan mereka semua memiliki impian yang besar—beberapa ingin menjadi pengacara, dokter, guru, dan bahkan pemimpin negara," kata Qinara, menampilkan foto anak-anak dari Sekolah Hadian.

Dia melihat ke arah pejabat PBB dan delegasi dari berbagai negara. "Di banyak negara di dunia, masih ada jutaan anak-anak yang tidak bisa sekolah karena kemiskinan, perang, atau diskriminasi. Mereka tidak punya kesempatan untuk mencapai potensi mereka. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk membantu mereka. Karena setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan, dan setiap anak adalah harapan untuk masa depan dunia."

Qinara melanjutkan pidatonya dengan cerita tentang anak-anak di Sekolah Hadian Medan—anak-anak yang tinggal di daerah pinggiran dan pernah tidak bisa sekolah karena tidak punya uang. Dia menceritakan tentang Rina, seorang anak perempuan yang sekarang menjadi siswa terbaik di kelasnya dan ingin menjadi dokter untuk membantu orang di daerahnya. Dia menceritakan tentang Johan, seorang anak laki-laki yang suka sains dan ingin menemukan obat untuk penyakit yang menyerang komunitasnya.

"Sekolah Hadian tidak hanya memberikan pendidikan akademik—kita juga mengajarkan nilai-nilai moral, kebersamaan, dan rasa hormat. Kita mengajarkan anak-anak bahwa mereka tidak sendirian, dan bahwa ada orang yang peduli padanya. Ini adalah yang paling penting—memberikan kasih sayang dan harapan kepada mereka yang membutuhkan," ucap Qinara.

Dia mengambil surat ayahnya dari kotak dan membacanya dengan suara yang penuh makna: "Warisan terbesar yang kurasa adalah keberanian untuk mencari kebenaran dan kasih sayang untuk membantu orang lain. Bagikan warisan ini ke dunia, agar dunia menjadi tempat yang lebih baik."

"Ini adalah pesan yang saya ingin bagikan kepada semua orang di sini. Bagikan kasih sayangmu, bantu orang lain, dan jangan pernah menyerah pada impianmu. Karena itu adalah cara untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih damai, makmur, dan penuh harapan," kata Qinara, menutup surat ayahnya.

Suara tepuk tangan yang meledak berdiri di seluruh aula, berlangsung selama lebih dari lima belas menit. Banyak orang menangis, terinspirasi oleh kata-katanya dan keberaniannya. Sekretaris Jenderal PBB berdiri dan menuju panggung, memberikan medali penghargaan PBB "Anak Penggerak Perubahan Dunia" kepada Qinara.

"Qinara, kamu adalah contoh bagi dunia. Kamu telah menunjukkan bahwa anak-anak memiliki kekuatan untuk mengubah dunia. PBB akan mendukung usahamu—kita akan membantumu membangun lebih banyak sekolah di Indonesia dan berbagi modelmu dengan negara lain," ucap Sekretaris Jenderal dengan suara penuh emosi. Suara tepuk tangan kembali terdengar lebih meriah.

Setelah konferensi selesai, Qinara dikelilingi oleh delegasi dari berbagai negara, wartawan, dan tokoh masyarakat. Mereka memberikan dukungan, mengucapkan terima kasih, dan menawarkan bantuan untuk yayasan dan sekolahnya. Seorang menteri pendidikan dari Afrika Selatan berkata, "Qinara, kamu telah mengubah pandanganku. Kita akan mengadopsi model Sekolah Hadian di negara kita."

Qinara tersenyum. Ini adalah hasil yang dia inginkan—pesan ayahnya mencapi dunia, dan perubahan nyata untuk anak-anak di seluruh dunia.

Sore hari, mereka berjalan ke Taman Perserikatan Bangsa-Bangsa, menikmati suasana kota New York. Anak-anak dari negara lain yang hadir di konferensi bermain bersama, sementara Pak Rio, Pak Santoso, dan Siti berbincang dengan delegasi yang ingin bekerja sama. Qinara berdiri sendirian sebentar, memandang patung Perdamaian yang berdiri tegak di tengah taman.

"Ayah, hari ini aku berbicara di depan dunia. Mereka mendengar cerita kita, dan mereka ingin membantu. Kita akan membangun lebih banyak sekolah, membantu lebih banyak anak, dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Kamu pasti bangga padaku, kan? Aku telah melaksanakan janjiku—bagikan warisanmu ke dunia," bisik dia dengan suara lirih.

Dia merasa kehadiran ayahnya di sana, melindunginya dan merayakan kesuksesannya. Dia memegang kotak pemberian ayahnya dengan erat, menyadari bahwa semua yang dia miliki sekarang adalah karena cinta dan dukungan ayahnya.

Malam itu, ada pesta perayaan di gedung PBB. Qinara dan delegasi Indonesia menyanyi lagu nasional Indonesia, dan dia berbagi makanan tradisional dengan delegasi dari berbagai negara. Semua orang senang, dan suasana penuh kebahagiaan dan persatuan.

Ketika malam hari tiba, mereka kembali ke hotel. Qinara merasa lelah tapi senang. Dia tahu bahwa hari ini adalah titik balik dalam hidupnya—hari di mana suaranya mencapi dunia, dan hari di mana warisan ayahnya menjadi abadi.

Mentari esok akan muncul, dan dengan itu, lebih banyak impian untuk dicapai dan lebih banyak orang untuk dibantu. Qinara siap untuk menghadapinya—dengan keberanian dari ayahnya, dukungan dari orang-orang yang mencintainya, dan tekad yang kuat untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Ayahnya selalu menyertainya, dan warisan ayahnya akan hidup selamanya di hatinya, di jaringan Sekolah Hadian, dan di setiap anak yang dia bantu di seluruh dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!