"Menjadi adik dari 7 megabintang dunia adalah satu hal, tapi menjadi penulis misterius yang diperebutkan oleh 4 pangeran kampus sambil menyamar jadi siswi biasa adalah tantangan yang sesungguhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Bukan Sekadar Cupu
Pagi itu, Mansion keluarga Kim terasa seperti markas militer yang sedang bersiaga penuh. Sejak kejadian di gerbang sekolah kemarin, tidak ada satu pun dari ketujuh kakak Aira yang membiarkan adiknya lepas dari pengawasan. Seokjin bahkan membatalkan jadwal syutingnya hanya untuk memastikan Aira menghabiskan sarapannya, sementara Hoseok dan Jimin terus mencoba menghibur Aira dengan berbagai tarian konyol yang biasanya selalu berhasil membuatnya tertawa.
Namun, Aira hanya menatap mereka dengan senyum tipis yang dipaksakan. Di dalam benaknya, ia sedang menyusun kepingan rencana yang jauh lebih besar. Ia tidak bisa terus-menerus bersembunyi di balik punggung kakak-kakaknya. Jika "The Watcher" berani menyentuh harga diri keluarganya, maka Aira tidak punya pilihan selain melepaskan topeng "gadis lemah" itu secara perlahan.
Setelah kakak-kakaknya pergi ke ruang tengah untuk rapat darurat bersama manajer mereka, Aira mengunci pintu kamarnya. Ia membuka laptop rahasianya dan segera menghubungi Beomgyu dan Ryujin.
"Berikan aku laporan lengkap tentang laptop yang kalian sita kemarin," perintah Aira. Suaranya tidak lagi bergetar. Dingin dan tajam, persis seperti narasi Miss KA saat sedang menulis adegan pembalasan dendam.
Suara Beomgyu muncul di speaker. "Aira, ini lebih rumit dari yang kita duga. Laptop itu milik seorang jurnalis lepas yang sering bekerja untuk agensi hiburan saingan kakak-kakakmu. Tapi, ada satu hal yang menarik. Dia menerima pesanan dari alamat IP anonim yang berlokasi di dalam Hanlim High School. Seseorang di sekolahmu tidak hanya ingin mem-bully-mu, tapi mereka ingin menggunakanmu sebagai kunci untuk menjatuhkan reputasi BTS."
Ryujin menimpali, "Aira, aku sudah membersihkan semua jejak digitalmu di forum sekolah. Tapi kabar tentangmu sebagai 'simpanan' sudah menyebar ke telinga para investor film Guanlin. Mereka mulai ragu untuk melanjutkan proyek jika pemeran inspirasi di balik naskah Miss KA memiliki skandal."
Aira mengepalkan tangannya. "Mereka ingin skandal? Akan kuberikan skandal yang sebenarnya. Beomgyu, siapkan akses ke sistem pengumuman digital sekolah besok pagi. Ryujin, aku butuh kau menemuiku di tempat latihan dance nanti sore. Aku tidak akan membiarkan mereka menginjak-injak nama keluarga Kim lagi."
Sore harinya, Aira meminta izin kepada Jungkook untuk pergi ke gedung agensi tempat para pangeran berlatih. Jungkook awalnya menolak keras, namun Aira menggunakan jurus manjanya yang paling ampuh.
"Kak... aku harus menyelesaikan urusan ini agar aku tidak takut lagi pergi ke sekolah. Aku akan pergi bersama Ryujin. Janji, aku akan pulang sebelum makan malam," ucap Aira sambil memeluk lengan Jungkook.
Jungkook akhirnya luluh, namun ia mengirim Min Yoongi untuk memantau dari kejauhan.
Begitu sampai di gedung latihan, Aira melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Di dalam mobil, ia melepas kacamata tebalnya, membiarkan rambut panjangnya tergerai indah, dan mengganti baju oversized-nya dengan outfit latihan yang modis celana kargo hitam dan crop top putih yang menunjukkan bentuk tubuhnya yang atletis hasil latihan diam-diam bersama Ryujin.
Saat Aira masuk ke ruang latihan tempat Heeseung dan Soobin sedang berlatih, suasana mendadak hening. Musik berhenti seketika.
"Maaf, apa aku mengganggu?" tanya Aira dengan nada yang ringan dan penuh percaya diri.
Soobin nyaris menjatuhkan botol minumnya. "A-Aira? Ini benar-benar kamu?"
Heeseung terpaku. Ia melihat gadis yang biasanya menunduk dan terlihat kusam di sekolah, kini berdiri dengan aura yang begitu bersinar. Kecantikannya bukan lagi sesuatu yang tersembunyi, itu sangat nyata dan mengintimidasi.
"Aku datang untuk mengambil naskah riset yang diminta Kak Guanlin kemarin," ucap Aira, berjalan mendekat dengan langkah yang elegan.
Sunoo yang sedang duduk di pojok ruangan bersiul pelan. "Wah, wah... lihat siapa yang baru saja keluar dari cangkangnya. Kamu terlihat jauh lebih berbahaya tanpa kacamata itu, Aira."
Aira hanya melirik Sunoo dengan senyum misterius. Ia tahu Sunoo adalah orang yang paling berbahaya di sini karena dia yang paling dekat dengan rahasianya. Namun, hari ini Aira tidak ingin lari.
"Kak Heeseung, bisakah kau mengajariku gerakan yang tadi kau lakukan? Sepertinya menarik untuk dimasukkan ke dalam deskripsi karakter di 'naskahku'," pinta Aira.
Heeseung, yang biasanya sangat kaku terhadap orang asing, entah kenapa langsung mengangguk. Saat mereka mulai bergerak bersama mengikuti irama musik, Heeseung menyadari satu hal, Aira tidak hanya mengikuti gerakannya, tapi dia memiliki sense artistik yang sangat dalam. Gerakannya humble namun tajam. Di bawah lampu ruang latihan, Aira tidak terlihat seperti siswi yang di-bully. Dia terlihat seperti seorang bintang yang sedang menunggu waktu untuk meledak.
Latihan itu berlangsung selama satu jam. Energi Aira yang ceria dan penuh canda membuat suasana ruang latihan menjadi sangat hidup. Heeseung, Soobin, dan bahkan Sunoo tertawa bersama saat Aira mencoba melakukan gerakan breakdance konyol yang ia pelajari dari Kak Hoseok.
Namun, saat musik melambat menjadi sebuah melodi piano yang melankolis lagu ciptaan Heeseung yang belum dirilis perubahan suasana hati Aira terjadi begitu cepat. Ia terdiam di tengah ruangan, matanya mulai berkaca-kaca mendengar nada-nada sedih itu.
"Aira? Kamu kenapa?" Soobin mendekat dengan cemas.
Aira tiba-tiba terduduk di lantai kayu yang dingin, memeluk lututnya. Air matanya jatuh tanpa permisi. "Melodi ini... hiks... kenapa terdengar seperti seseorang yang sedang memohon untuk didengar tapi tidak ada yang menoleh?"
Heeseung berlutut di depannya, merasa hatinya tercubit. Lagu itu memang ia buat saat ia merasa kesepian sebagai seorang trainee dulu. Bagaimana mungkin gadis ini bisa merasakannya begitu dalam hanya dalam sekali dengar?
"Aira, itu hanya lagu..." bisik Heeseung lembut.
"Tidak, Kak. Ini bukan hanya lagu. Ini adalah rasa sakit yang disembunyikan di balik kemegahan," ucap Aira sesenggukan. Ia tiba-tiba menarik ujung baju Heeseung, bermanja seperti yang biasa ia lakukan pada Jin. "Kak... jangan biarkan lagu ini berakhir sedih. Berjanjilah padaku kalau tokoh dalam lagu ini akan menemukan kebahagiaannya."
Heeseung membeku. Ia merasakan dorongan protektif yang sangat kuat, dorongan yang melampaui sekadar rasa kasihan. Ia menarik Aira ke dalam pelukannya, membiarkan gadis itu menangis di bahunya. Sunoo yang melihat itu dari kejauhan merasakan sesak yang aneh di dadanya. Ia benci melihat Aira menangis di depan orang lain selain dirinya.
Di tengah isak tangisnya, Aira berbisik sangat pelan, hampir tak terdengar, "Jika kalian tahu siapa aku sebenarnya... apa kalian akan tetap memelukku seperti ini?"
Soobin dan Heeseung saling berpandangan, tidak mengerti maksud ucapan Aira. Namun di balik pintu ruang latihan, Yoongi yang sejak tadi mengawasi, mengepalkan tangannya. Ia mendengar bisikan itu lewat alat penyadap kecil yang sengaja ia pasang di tas Aira demi keamanannya.
"Identitasmu akan tetap menjadi rahasiamu, Aira. Selama Kakak masih bernapas, tidak ada yang boleh menyakitimu," gumam Yoongi pelan sebelum berbalik pergi.
Aira tidak tahu, bahwa malam itu, pertempuran yang sebenarnya baru saja dimulai. Besok, di Hanlim High School, "si cupu" Aira akan memberikan kejutan yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapa pun.
Pagi hari di Hanlim High School biasanya dimulai dengan riuh rendah obrolan para siswa di lobi utama. Namun, hari ini ada sesuatu yang berbeda. Di setiap sudut sekolah, layar digital yang biasanya menampilkan prestasi siswa dan jadwal ujian, kini berkedip-kedip dengan warna merah menyala.
Di dalam mobil van hitam yang terparkir di basement sekolah, Beomgyu sedang sibuk dengan tiga monitor di depannya. "Jalur masuk aman. Ryujin, kau sudah di posisi?"
"Sudah," suara Ryujin terdengar melalui earpiece. Ia berdiri di ruang kendali siaran sekolah, setelah sebelumnya melumpuhkan penjaga dengan trik "salah masuk ruangan". "Aira, kau siap?"
Aira berdiri di koridor utama, kembali mengenakan kacamata besar dan jaket kebesarannya. Ia terlihat seperti "si cupu" yang sama, namun matanya memancarkan kilatan yang berbeda. "Lakukan, Beomgyu."
Seketika, seluruh layar digital di Hanlim berubah menampilkan rekaman video berkualitas tinggi. Itu adalah rekaman saat Jennie dan gengnya menyiram loker Aira dengan cat merah, lengkap dengan suara mereka yang menghina latar belakang keluarga Aira. Tidak hanya itu, Beomgyu juga menyisipkan data riwayat chat rahasia Jennie yang merencanakan fitnah "gadis simpanan" untuk menghancurkan reputasi Aira.
"Apa-apaan ini?!" teriak Jennie yang baru saja masuk ke lobi. Wajahnya pucat pasi saat melihat dirinya sendiri di layar raksasa sedang tertawa jahat sambil memegang kaleng cat.
Seluruh siswa Hanlim terpaku. Bisikan-bisikan sinis yang kemarin ditujukan pada Aira, kini berbalik arah menyerang Jennie. "Wah, ternyata dia yang penipu," "Jahat sekali, padahal dia terlihat cantik di media sosial."
Aira berjalan tenang melewati Jennie yang sedang gemetar ketakutan. Saat jarak mereka hanya satu langkah, Aira berhenti dan berbisik sangat pelan, "Menulis naskah tentang kehancuranmu ternyata jauh lebih mudah daripada yang kukira, Jennie."
Situasi semakin kacau ketika Lai Guanlin dan Sunoo muncul di lobi. Mereka melihat rekaman itu dengan tatapan yang sangat dingin. Guanlin berjalan lurus ke arah Jennie, aura kemarahannya terasa menekan udara di sekitarnya.
"Jadi, ini caramu menyambut tamu di sekolah ini?" tanya Guanlin dengan suara rendah yang mengancam. "Kau tidak hanya merusak barang miliknya, tapi kau mencoba memanipulasi opini publik dengan fitnah murahan."
"G-Guanlin-oppa, itu... itu hanya bercanda!" tangis Jennie pecah. Ia mencoba meraih lengan Guanlin, namun Guanlin menghindar dengan jijik.
Tiba-tiba, Sunoo melangkah maju. Ia memegang ponselnya yang terhubung ke sistem audio sekolah berkat bantuan Beomgyu. "Lucu sekali ya? Di naskah terbaru Miss KA yang baru saja bocor sinopsisnya tadi malam, ada karakter antagonis yang berakhir kehilangan segalanya karena kesombongannya. Sepertinya kau sangat cocok memerankan karakter itu di dunia nyata."
Jennie jatuh terduduk di lantai, tepat di depan sepatu Aira. Di depan seluruh siswa, di depan para pangeran yang ia puja, Jennie kini kehilangan martabatnya. Ia menangis tersedu-sedu, bukan karena menyesal, tapi karena malu identitas aslinya terbongkar.
Aira menatap ke arah kamera CCTV di pojok lobi, ia tahu Ryujin sedang melihatnya. Aira memberikan kode tipis, sebuah senyuman kecil yang tidak disadari siapa pun kecuali para asisten rahasianya. Baginya, ini bukan sekadar pembalasan dendam, ini adalah pengalihan isu agar "The Watcher" tidak lagi fokus pada identitas Miss KA, melainkan pada kekacauan internal sekolah.
Setelah keributan di lobi mereda, Aira segera meminta izin pulang dengan alasan kesehatan. Begitu ia keluar dari gerbang sekolah, sebuah mobil mewah sudah menunggunya. Di dalamnya ada Kim Seokjin dan Kim Taehyung.
Begitu pintu mobil tertutup, Aira langsung melepaskan kacamata besarnya dan menghambur ke pelukan Seokjin. Tiba-tiba saja, keberanian yang tadi ia tunjukkan di sekolah menguap begitu saja, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa.
"Kak Jin... hiks... aku melakukannya... aku berhasil membuat mereka diam," tangis Aira pecah di dada Seokjin.
Seokjin mengelus punggung adiknya dengan penuh kasih sayang. "Kakak sudah lihat beritanya di internet. Tim IT Kak Namjoon juga ikut membantu Beomgyu dari jauh. Kamu hebat, Aira. Kamu benar-benar adik Kakak yang kuat."
Taehyung menarik Aira dari pelukan Seokjin agar ia bisa ikut mendekap adiknya itu. "Tapi kenapa kamu menangis lagi, sayang? Bukankah penjahatnya sudah kalah?"
"Aku hanya... hiks... aku merasa bersalah karena harus menjadi jahat untuk menang," isak Aira. Mood-nya yang sensitif kembali menyerang. Ia merasa sedih melihat Jennie dipermalukan, meski ia tahu itu pantas. Inilah sisi Aira yang paling murni, sisi yang membuatnya menjadi penulis hebat, empati yang terlalu dalam.
"Itu bukan jahat, Aira. Itu keadilan," ucap Taehyung sambil menghapus air mata Aira. "Sekarang, lupakan sekolah. Kakak sudah menyiapkan pesta es krim kecil-kecilan di rumah. Dan tebak apa? Kak Yoongi setuju untuk tidak memarahimu karena pulang terlambat kemarin."
Aira tertawa di sela isaknya. "Benarkah? Kak Yoongi tidak marah?"
"Dia terlalu sibuk mengurus 'The Watcher' bersama tim keamanan agensi," bisik Seokjin misterius. "Dia bilang, siapapun yang mencoba mengintip ke dalam rumah kita, mereka akan berurusan dengan hukum."
Aira merasa sedikit tenang. Namun, di dalam tasnya, ponsel rahasianya bergetar. Sebuah pesan baru masuk dari nomor tak dikenal.
"Permainan yang bagus, Miss KA. Tapi ingat, di Hanlim ada empat pangeran, dan salah satu dari mereka bukan pangeran sungguhan. Hati-hati dengan siapa kau menangis hari ini."
Mata Aira membelalak. Peringatan dari 'The Watcher' ini membuatnya tersadar, perang sesungguhnya baru saja dimulai. Salah satu dari Guanlin, Soobin, Heeseung, atau Sunoo... mungkin adalah orang yang bekerja untuk musuh kakaknya.
[TO BE CONTINUED]
📢 SKAK MAT! Jennie bener-bener dibikin berlutut sama Aira! 🔥 Tapi siapa maksud dari pesan misterius 'The Watcher' itu? Salah satu dari 4 Pangeran ternyata pengkhianat?! 😱
👇 VOTE [LOVE] kalau kalian mau Aira segera cari tahu siapa pengkhianat di antara para pangeran!
💬 KOMEN Coba tebak, menurut kalian siapa yang paling mencurigakan di antara 4 pangeran? [A] Guanlin [B] Soobin [C] Heeseung [D] Sunoo
🔔 SUBSCRIBE & FAVORITE! Bab 5 bakal makin menegangkan karena Aira bakal mulai 'menyelidiki' para pangeran satu per satu!
⭐ KASIH RATING 5 STARS biar Aira dapet kekuatan buat ngadepin pengkhianat!
BehindTheSpotlight #MangaToonOriginal #AiraRevenge #PangeranPengkhianat #BTSProtective #TheWatcherGame