"Aku membelimu seharga 10 miliar. Jadi, jangan harap bisa melarikan diri dariku, bahkan ke sekolah sekalipun."
Gwen (18 tahun) hanyalah siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita kuliah seni. Namun, dunianya runtuh saat ayahnya kabur meninggalkan hutang judi sebesar 10 miliar kepada keluarga terkaya di kota itu.
Xavier Aradhana (29 tahun), CEO dingin yang dijuluki 'Iblis Bertangan Dingin', memberikan penawaran gila: Hutang lunas, asalkan Gwen bersedia menjadi istri rahasianya.
Bagi Xavier, Gwen hanyalah "alat" untuk memenuhi syarat warisan kakeknya. Namun bagi Gwen, ini adalah penjara berlapis emas. Ia harus menjalani kehidupan ganda: menjadi siswi lugu yang memakai seragam di pagi hari, dan menjadi istri dari pria paling berkuasa di malam hari.
Sanggupkah Gwen menyembunyikan statusnya saat Xavier mulai menunjukkan obsesi yang tak masuk akal? Dan apa yang terjadi saat cinta mulai tumbuh di tengah kontrak yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Di Bawah Tatapan Sang Iblis
Nada yang sangat tegas itu membuat Gwenola terpaksa meraih pena emas yang terasa sangat dingin di jemarinya. Ia menatap lekat-lekat mata Xavier yang berkilat penuh kemenangan di tengah keremangan ruang tamu mereka yang pengap.
Sinar kilat dari luar jendela menyambar secara tiba-tiba, menerangi wajah pria itu yang nampak sangat pucat namun sangat tampan.
Tangan Gwenola berguncang hebat saat ujung pena mulai menyentuh permukaan kertas dokumen yang akan menentukan nasibnya. Ia merasa seolah sedang menandatangani surat kematian bagi masa mudanya sebagai siswi sekolah menengah atas yang bebas.
Di balik punggungnya, Xavier berdiri diam namun kehadirannya terasa sangat menindas seperti bayangan raksasa yang siap menelan mangsanya.
"Mengapa kau melakukan ini kepadaku, Xavier?" tanya Gwenola dengan suara yang tercekat di tenggorokan.
Xavier tidak langsung menjawab, ia justru melangkah mendekat hingga Gwenola bisa merasakan deru napas hangat pria itu di puncak kepalanya. Jemari Xavier yang panjang dan kuat perlahan menyentuh bahu Gwenola, mencengkeramnya dengan lembut namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.
Keheningan yang tercipta di antara mereka terasa sangat menyesakkan, hanya menyisakan suara detak jantung Gwenola yang berpacu sangat cepat.
"Karena aku menginginkan sesuatu yang murni untuk berada di dalam genggamanku," balas Xavier dengan bisikan yang sangat rendah.
Gwenola memejamkan mata erat-erat, mencoba mengusir rasa takut yang kini merambat ke seluruh saraf tubuhnya yang lelah. Dengan sekali tarikan napas yang sangat berat, ia membubuhkan tanda tangan di atas materai yang telah disiapkan oleh pimpinan perusahaan itu.
Air mata terakhirnya jatuh membasahi tinta hitam yang masih basah, menandai berakhirnya kehidupan normal yang pernah ia miliki.
"Sekarang kau adalah milikku secara hukum dan tidak ada satu pun orang yang bisa mengambilmu dariku," ucap Xavier sambil mengambil kembali dokumen tersebut.
Ia memeriksa setiap goresan tanda tangan Gwenola dengan sangat teliti seolah sedang memastikan tidak ada cacat sedikit pun pada kesepakatan mereka. Gwenola hanya bisa tertunduk lesu sambil memeluk kedua lututnya yang masih terasa sangat lemas untuk berdiri.
Rasa benci dan rasa haru bercampur aduk di dalam dadanya karena memikirkan nasib ibunya yang kini setidaknya telah terjamin keamanannya.
"Apakah aku masih boleh pergi ke sekolah seperti biasa?" tanya Gwenola sambil menatap wajah Xavier dengan penuh harap.
Xavier melipat dokumen itu lalu menyimpannya di balik jas hitamnya yang sangat rapi dan nampak sangat mahal. Ia menatap Gwenola dengan pandangan yang sangat posesif, seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya yang baru saja ia perluas.
Tidak ada sedikit pun keraguan di dalam matanya saat ia mulai membayangkan bagaimana ia akan menyembunyikan gadis ini dari mata dunia.
"Kau akan tetap bersekolah, tetapi kau dilarang keras untuk bicara dengan pria mana pun tanpa izinku," tegas Xavier dengan nada bicara yang sangat dingin.
Gwenola tersentak mendengar larangan yang sangat tidak masuk akal itu keluar dari mulut suaminya yang benar-benar gila akan kendali. Ia ingin memprotes namun tatapan Xavier yang sangat tajam seketika membungkam semua argumen yang sudah tersusun di ujung lidahnya.
Pria ini benar-benar seorang iblis yang kini telah membeli seluruh kebebasannya dengan angka sepuluh miliar rupiah yang sangat fantastis.
"Kau tidak bisa mengatur hidupku sejauh itu hanya karena kontrak ini," protes Gwenola dengan suara yang sedikit meninggi karena rasa marah.
Xavier justru tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat hambar dan sama sekali tidak mengandung rasa humor sedikit pun. Ia mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan, membiarkan Gwenola melihat kilatan obsesi yang sangat gelap di balik manik matanya.
Keberanian Gwenola seketika menciut saat menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam kandang singa yang sangat lapar.
"Aku bisa melakukan apa saja yang aku mau karena kau sudah menjual dirimu kepadaku demi uang itu," ancam Xavier dengan tatapan yang sangat tajam.