NovelToon NovelToon
Buried By Love, Reborn As Disaster

Buried By Love, Reborn As Disaster

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Budidaya dan Peningkatan / Harem / Balas Dendam
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.

Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.

Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.

Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kobaran Kedua

Malam kembali jatuh dengan tenang di area latihan terpencil itu.

Api kecil berwarna jingga kemerahan berputar pelan di udara, memantulkan cahaya hangat ke wajah Yan Mei yang tersenyum santai. Rambutnya terikat longgar, beberapa helai jatuh di sisi pipinya, bergerak mengikuti panas yang berdenyut lembut.

Lin Feiyan berdiri beberapa langkah di depannya.

Tubuhnya masih menyimpan sisa kelelahan dari latihan-latihan sebelumnya. Napasnya belum sepenuhnya stabil, namun ia tetap datang. Seperti biasa.

Yan Mei meliriknya sekilas, lalu tertawa kecil.

“Kau datang juga,” katanya ringan. “Kupikir kau akan mencari alasan untuk beristirahat malam ini.”

Feiyan menggeleng pelan. “Aku… bisa lanjut.”

Nada suaranya tidak yakin, tapi itu tidak pernah menjadi masalah.

Yan Mei mendekat satu langkah. Api di sekelilingnya ikut bergerak, seolah menyambut. Panasnya tidak langsung menyengat, justru terasa nyaman di kulit—menipu, seperti sentuhan awal sebelum luka.

“Kita naik sedikit saja hari ini,” ujarnya. “Api kecil. Tahap kedua.”

Feiyan menelan ludah.

Ia pernah mendengar istilah itu, tapi Yan Mei tidak pernah menjelaskannya secara rinci. Dan entah kenapa, ia tidak pernah bertanya.

Api di udara membelah diri menjadi beberapa titik cahaya, lalu menyatu kembali, kini berdenyut dengan ritme yang lebih cepat. Warna jingganya menjadi lebih pekat, hampir keemasan di inti, dengan semburat merah di pinggirannya.

Feiyan merasakan reaksinya seketika.

Qi di dalam tubuhnya bergetar, seperti disentuh sesuatu yang terlalu dekat dengan pusat emosinya. Dada terasa hangat, lalu panas. Bukan panas yang membakar, tapi yang menekan dari dalam.

Yan Mei mengamati perubahan itu dengan mata berbinar.

“Bagus,” katanya pelan. “Tubuhmu cepat menanggapi.”

Api bergerak mendekat.

Ketika menyentuh ruang di depan dada Feiyan, panasnya langsung melonjak. Bukan di kulit—melainkan di dalam. Seolah api itu merayap mengikuti aliran Qi, menyusuri jalur-jalur yang belum sepenuhnya stabil.

Feiyan mengerang tertahan.

Ia menahan diri untuk tidak mundur. Kakinya bergetar, tapi ia tetap berdiri di tempat.

“Napas,” kata Yan Mei lembut, hampir seperti bisikan. “Ikuti panasnya. Jangan melawan.”

Ia menurut.

Tarikan napas pertama terasa berat. Tarikan kedua membuat pandangannya sedikit berkunang. Api itu tidak memberi waktu untuk beradaptasi; ia menekan, mendorong, memaksa Qi bergerak lebih cepat dari biasanya.

Feiyan mengepalkan tangannya.

Keringat mulai mengalir di pelipisnya, menuruni rahang, jatuh ke tanah yang masih hangat oleh sisa latihan sebelumnya.

Yan Mei memutar pergelangan tangannya sedikit.

Api langsung bereaksi.

Panas melonjak tajam, membuat Feiyan tersentak. Lututnya hampir menyerah, namun ia berhasil bertahan dengan satu tarikan napas kasar.

“Oh?” Yan Mei memiringkan kepala. “Kau masih berdiri.”

Nada suaranya ceria. Hampir kagum.

Feiyan tidak menjawab. Ia terlalu sibuk menahan gelombang panas yang kini berubah menjadi denyutan-denyutan pendek, menghantam dari dalam dadanya.

Qi-nya mulai goyah.

Ia bisa merasakannya—aliran yang tidak lagi rapi, jalur yang sedikit melenceng, ritme yang kehilangan keselarasan. Api itu tidak hanya menguji tubuhnya, tapi juga ketenangannya.

“Lihat dirimu,” lanjut Yan Mei. “Kau jauh lebih kuat dari yang kau kira.”

Kata-kata itu menembus panas.

Feiyan mengangkat pandangan, matanya sedikit kabur, tapi fokusnya kembali terkunci pada sosok di depannya. Senyum Yan Mei tetap ada, hangat dan cerah, seolah apa yang terjadi hanyalah permainan kecil.

Pujian itu terasa… manis.

Ia bertahan satu denyut lagi. Lalu satu lagi.

Setiap detik terasa terlalu panjang. Setiap tarikan napas seperti menelan bara. Namun di balik rasa sakit itu, ada sesuatu yang lain—perasaan diakui, dilihat.

Api kembali naik intensitasnya.

Feiyan tersentak, tubuhnya condong ke depan. Tangannya terangkat refleks, seolah mencari pegangan yang tidak ada.

Yan Mei tidak bergerak untuk menolong.

Ia hanya menonton.

“Sedikit lagi,” katanya ringan. “Kau hampir sampai.”

Hampir sampai ke mana, Feiyan sendiri tidak tahu.

Yang ia tahu hanyalah bahwa jika ia menyerah sekarang, pujian itu akan berhenti. Tatapan itu akan berubah. Senyum itu mungkin menghilang.

Void Crack di dadanya berdenyut samar.

Sangat ringan. Hampir tak terasa.

Namun cukup untuk membuat panas dan dingin bercampur sesaat, menciptakan sensasi aneh yang membuat Feiyan bertahan lebih lama dari batasnya sendiri.

Ia terengah, keringat membasahi punggungnya, tapi ia tidak jatuh.

Yan Mei tertawa kecil, puas.

“Hebat,” katanya. “Benar-benar hebat.”

Api akhirnya ditahan, intensitasnya diturunkan sedikit—cukup untuk membuat Feiyan tetap berdiri, tapi tidak cukup untuk memberinya kelegaan.

Tubuhnya gemetar.

Namun di balik rasa sakit itu, ada kehangatan lain yang menetap di dadanya. Bukan dari api.

Melainkan dari kata-kata yang baru saja ia terima.

Api itu tidak langsung menghilang.

Ia tetap melayang di udara, kini lebih kecil, namun denyutannya terasa lebih padat. Panasnya masih menekan dada Lin Feiyan, seolah mengingatkan bahwa ia belum benar-benar lolos dari genggaman latihan ini.

Napas Feiyan tersengal. Setiap tarikan terasa seperti mengikis bagian dalam dadanya, meninggalkan sensasi kosong yang tidak nyaman. Pandangannya sempat mengabur, dunia di sekitarnya bergoyang pelan.

Yan Mei akhirnya melangkah mendekat.

Langkahnya ringan, nyaris tanpa suara. Aura apinya merapat bersama dirinya, hangat dan menyesakkan dalam waktu yang sama. Ia berdiri tepat di depan Feiyan, begitu dekat hingga panas tubuh mereka hampir menyatu.

“Kau gemetar,” katanya sambil tersenyum. Nada suaranya lembut, hampir menggodai. “Tapi kau belum jatuh.”

Feiyan mencoba menjawab, namun yang keluar hanya hembusan napas kasar. Tenggorokannya kering, lidahnya terasa berat.

Yan Mei mengangkat tangannya.

Api kecil di udara meredup, lalu padam sepenuhnya.

Keheningan jatuh tiba-tiba.

Tanpa panas yang menahan, tubuh Feiyan kehilangan penopangnya. Kakinya menyerah, lututnya melipat, dan dunia condong ke depan.

Namun ia tidak jatuh ke tanah.

Tangan Yan Mei menahannya.

Pegangannya tidak keras, tapi pasti. Jari-jarinya melingkar di pergelangan lengan Feiyan, cukup kuat untuk menahan berat tubuhnya. Panas dari sentuhannya merembes pelan, berbeda dari api sebelumnya—lebih lembut, lebih intim.

“Pelan,” bisiknya. “Aku ada.”

Kata-kata itu membuat dada Feiyan bergetar.

Ia bersandar tanpa sadar. Kepalanya menunduk, hampir menyentuh bahu Yan Mei. Napasnya memburu, dada naik turun dengan ritme tidak teratur.

Yan Mei tidak mendorongnya menjauh.

Ia membiarkan jarak itu ada.

“Api tahap kedua memang seperti ini,” katanya pelan, seolah sedang menjelaskan sesuatu yang wajar. “Tubuhmu belum terbiasa. Tapi kau bertahan lebih lama dari dugaanku.”

Feiyan menelan ludah.

Ada rasa sakit di sekujur tubuhnya, tapi pujian itu menembus semuanya. Membuat rasa perih itu terasa… berarti.

“Aku…” suaranya serak. “Aku hampir—”

“Hampir pingsan?” Yan Mei menyelesaikan kalimatnya sambil tersenyum. “Itu tanda bagus.”

Feiyan mengangkat kepala, terkejut.

Yan Mei menatapnya dengan mata berbinar, seolah benar-benar yakin dengan ucapannya. Tidak ada ejekan di sana. Hanya kepastian yang menenangkan sekaligus menekan.

“Itu berarti kau mendorong batasmu,” lanjutnya. “Dan aku yang menentukan di mana batas itu berada.”

Kata-kata itu jatuh perlahan, tapi menghantam dalam.

Void Crack di dada Feiyan berdenyut.

Sedikit lebih jelas dari sebelumnya.

Sensasinya aneh—dingin yang menusuk di tengah sisa panas latihan. Seolah ada ruang kosong yang membuka, lalu menutup kembali, meninggalkan gema halus di jantungnya.

Feiyan mengernyit, tapi kelelahan membuatnya sulit berpikir jernih.

Yan Mei mengangkat tangan satunya, menyentuh dada Feiyan tepat di atas jantungnya. Bukan menekan—hanya meletakkan telapak tangannya di sana.

“Tenang,” katanya lembut. “Dengarkan napasmu. Ikuti ritmenya.”

Feiyan menurut.

Ia tidak tahu kenapa. Tapi suara itu… mudah diikuti.

Napasnya perlahan melambat. Panas yang tersisa di tubuhnya mereda sedikit, berubah menjadi rasa hangat yang menyelimuti. Namun di balik itu, kelelahan emosionalnya semakin terasa—seperti sesuatu yang telah terkuras, ditarik keluar tanpa ia sadari.

Yan Mei menarik tangannya.

Feiyan hampir meraih kembali, refleks, tapi ia menahan diri.

Yan Mei tertawa kecil melihat reaksi itu.

“Kau lucu saat seperti ini,” katanya. “Selalu berusaha keras, bahkan ketika tubuhmu sudah meminta berhenti.”

Ia melangkah mundur satu langkah, memberi jarak.

“Cukup untuk malam ini,” lanjutnya. “Kalau dipaksakan lagi, kau benar-benar akan runtuh.”

Feiyan mengangguk pelan.

Di dalam dirinya, ada rasa lega… bercampur kekecewaan kecil yang tidak ia mengerti asalnya.

Yan Mei menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Feiyan. Jarak mereka begitu dekat hingga napasnya terasa hangat di kulit Feiyan.

Suaranya turun, menjadi bisikan rendah.

“Ingat ini,” katanya. “Rasa sakit itu bukan musuhmu. Selama aku yang mengarahkannya… kau akan tumbuh.”

Void Crack berdenyut lagi.

Lebih kuat.

Feiyan memejamkan mata sesaat, jantungnya berdebar tidak teratur. Ia tidak tahu kenapa kata-kata itu membuat dadanya terasa sesak sekaligus hangat.

Yan Mei mundur, tersenyum puas.

Api kecil kembali muncul di ujung jarinya, berputar pelan, jinak dan indah. Ia menatap nyala itu sejenak, lalu kembali menatap Feiyan.

“Aku yang menentukan seberapa jauh kau bisa bertahan,” katanya ringan, seolah mengulang sesuatu yang sudah pasti.

Feiyan berdiri di tempatnya, tubuh lemah, pikiran kabur.

Namun di dalam hatinya, satu hal tertanam dengan jelas.

Jika ia ingin diakui.

Jika ia ingin merasa cukup kuat.

Maka ia harus bertahan… sesuai batas yang ditentukan oleh Yan Mei.

1
lix
like dan komen nya jangan kelupaan😁👍
miss_e story
iklan buatmu
mary dice
Jika retak tak akan pernah kembali utuh namun kebangkitan Feiyan akan menumbuhkan tunas baru yang lebih kuat
Shadow: what ???
total 1 replies
knovitriana
update Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!