NovelToon NovelToon
Di Ulang Tahun Ke-35

Di Ulang Tahun Ke-35

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:2.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ama Apr

Di malam ulang tahun suaminya yang ke tiga puluh lima, Zhea datang ke kantor Zavier untuk memberikan kejutan.

Kue di tangan. Senyum di bibir. Cinta memenuhi dadanya.

Tapi saat pintu ruangan itu terbuka perlahan, semua runtuh dalam sekejap mata.

Suaminya ... lelaki yang ia percaya dan ia cintai selama ini, sedang meniduri sekretarisnya sendiri di atas meja kerja.

Kue itu jatuh. Hati Zhea porak-poranda.

Malam itu, Zhea tak hanya kehilangan suami. Tapi kehilangan separuh dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Seketika itu juga, Zavier menurunkan tangannya. Menoleh kaku pada istrinya yang sebentar lagi akan menjadi mantan istri. "Z-Zhea ..."

"Ada apa ini ribut-ribut?" Sandi ikut berkomentar, menghampiri ketiga orang yang sedang bersitegang itu.

"Ini, Om." Rafly membuka suara sambil memegangi pipi kirinya. "Tadi aku menegur Kak Zavier untuk membersihkan bekas lipstik yang ada di lehernya. Tapi dia tidak terima, dan malah marah kepadaku. Dia langsung menampar pipi kiriku."

Mata Zavier hampir loncat dari tempatnya. Tak menyangka jika adik iparnya yang dulu sangat menghormatinya, kini berani mempermalukannya di depan semua orang. Ia ingin mengelak, tapi kalah cepat dengan gerakan Sandi yang sudah lebih dulu berjongkok dan menyingkap kerah kemejanya.

"Astagfirullah!" Pekikan Sandi menggelegar, bak guntur di siang bolong. "Kamu sungguh keterlaluan Zavier! Ikut Om sekarang juga!" Tanpa menunggu persetujuan dan tanggapan, Sandi menarik tangan Zavier ke luar lagi dari rumah berlantai tiga itu. Membawa keponakannya masuk ke garasi.

Sementara itu Zhea memeriksa pipi adiknya. "Pasti sakit banget, kan, Dek?"

"Sakit, Kak. Tapi aku sangat puas karena sudah berhasil mempermalukan lelaki bajingan itu di hadapan semua orang," jawab Rafly datar.

Zhea mendesah berat. "Kamu ini, ada-ada saja. Yuk kita pulang. Mama barusan ngirim pesan ... katanya persediaan susu Zheza udah habis."

Rafly mengangguk cepat. "Ayo, Kak."

Kakak beradik itu pergi meninggalkan rumah duka, mengabaikan para pelayat dan kerabat yang masih membicarakan tentang pertengkaran barusan.

"Katakan pada Om! Kamu habis dari mana dan bertemu siapa?!"

"Om, ak-"

"Katakan Zavier!" bentak Sandi memotong ucapan Zavier. Mata lelaki berkumis itu melotot tajam.

"Maaf, Om. Tadi, pas aku mau pulang dari kuburan Papa. Elara datang menghampiriku. Dan di-"

"Sudah kuduga!" desis Sandi membuat perkataan Zavier lagi-lagi tak terlengkapi. "Dasar memalukan!" Sandi kembali menghardik Zavier. "Di saat semua keluarga sedang berkabung dan bersedih ... kamu bisa-bisanya malah bermesraan dengan gundikmu itu! Keterlaluan! Di mana hati nuranimu, Zavier! Di mana rasa empatimu terhadap Papamu, Zavier ... di mana?" Dari awal yang menggelegar, perlahan Sandi menurunkan nada suaranya, memelan, nyaris berbisik. "Sadar Zavi. Sadar. Tidakkah kamu kasihan pada Papamu? Tidakkah kamu merasa sedih ditinggal pergi oleh Papamu? Apakah kamu pikir ini cuma mimpi?"

Zavier yang awalnya berapi-api, kini hanya mampu menundukkan wajah. Ucapan demi ucapan yang dilontarkan Sandi membuat ulu hatinya nyeri. "M-maafkan aku, Om ..."

Sandi menarik napas panjang, lalu membuangnya kasar. "Jangan mengumbar nafsu, Nak. Meskipun kamu dan istrimu akan bercerai. Tapi jangan terus-terusan menyakiti hatinya. Kasihan Zhea. Dia wanita yang baik. Kasihan putri kalian. Sekarang ..." Sandi menepuk bahu Zavier. "Ganti bajumu. Dan bersihkan bekas lipstik di lehermu itu. Jangan sampai ibumu tahu, kasihan dia. Keadaannya sudah seperti mayat hidup."

Zavier mengangguk, menatap nanar kepergian om-nya. "P-Papa ... maafkan aku?"

____

"Kakak serius mau menginap di rumah lelaki bajingan itu?" Rafly menatap syok wajah sang kakak yang duduk di sebelahnya, sampai ia nyaris menginjak rem mendadak.

"Serius, Dek. Itung-itung ini bakti terakhir Kakak pada almarhum Papa Soni sekaligus tanda hormat Kakak pada Mama Rindu."

Rafly mendesah berat. "Tapi awas aja kalau Kakak sampai balikkan lagi dengan si cecunguk itu! Aku nggak ikhlas, Kak. Demi apa pun juga, aku tidak akan menyetujuinya!"

"Ihhh ..." Zhea menjambak sedikit rambut adiknya, "Siapa juga yang mau balikkan sama dia. Amit-amit ... amit-amit!" Zhea mengepalkan tangan, lalu menyentuhkan kepalan tangan itu ke jidatnya dan dasbor secara bergantian.

"Bagus! Mending cari lelaki yang baru saja, Kak. Aku punya kenalan seorang pengusaha muda. Investor baru di pabrik kita. Namanya Pak Nathaniel Chandra. Biasa dipanggil Koko Niel. Orangnya tampan, baik hati, murah senyum dan humoris lagi." Rafly bercerita dengan penuh semangat dan ceria.

Zhea mengangkat bibir atasnya, "Udah ah! Kakak nggak mau mikirin cowok dulu. Kakak mau fokus mengurus Zheza saja."

"Yakin?" Rafly mengulum senyum.

"Adeeek ..." Entah kenapa, mendadak pipi Zhea terasa panas.

"Hihi ... wajah Kakak merona, tuh!"

"Au ah! Kamu aneh!"

Tergelak Rafly sampai memegangi perutnya melihat ekspresi jutek sang kakak.

"Heh! Udah! Jangan ketawa melulu. Fokus ... fokus. Kamu lagi nyetir!" tegur Zhea.

"Hahaha ..." Omelan itu malah disambut tawa oleh Rafly.

_____

Zavier terdiam lama di dalam kamarnya.

Ruangan itu agak sedikit gelap meski masih jam dua siang, hanya diterangi garis tipis cahaya dari celah jendela.

Ia duduk di tepi ranjang, kedua siku bertumpu pada lutut, jemari menutupi separuh wajahnya. Napasnya berat, bukan karena lelah, tapi karena sesuatu yang menggumpal di dadanya sejak mendengar nasihat dari Sandi barusan.

Ia mencoba mengingat-ingat lagi perjalanan rumah tangganya bersama Zhea.

Tawa pertama mereka saat baru menikah. Makan malam sederhana yang selalu berakhir dengan saling menyuapi. Cara Zhea mengomelinya kalau ia lupa mematikan lampu kamar mandi. Cara Zhea mencium kening dan tangannya setiap pagi sebelum berangkat kerja.

Semua itu ... terasa seperti kenangan dari kehidupan lain.

Hubungan mereka kini tinggal puing. Tinggal menunggu panggilan sidang dari pengadilan agama.

"Aku sudah punya Elara. Sebentar lagi aku akan menikah dengannya. Aku harus melupakan Zhea. Dan untuk Zheza ... aku mungkin akan menarik ucapanku waktu itu. Aku akan tetap menafkahi dia, karena dia adalah anak kandungku ..."

Lalu ingatannya berpindah kepada mendiang sang ayah. "Papa ... ampuni aku ... aku janji akan menjaga Mama dan juga Arin sebagai penebusan dosaku karena sudah membuat Papa tiada." Zavier memejamkan mata, merasakan perihnya kenyataan yang menekan. Bahwa dia adalah penyebab kematian sang ayah. "Tolong jangan hantui aku, Pa. Aku ingin hidup tenang. Aku ingin merajut kehidupan baruku bersama Elara. Berikanlah restu pada hubunganku dan dia, Pa."

Zavier membuka mata perlahan. Memandang cincin pernikahannya yang masih melingkar, masih ada. Lalu ia melepas cincin itu dan menyimpannya ke dalam laci. "Aku harus bangkit! Selama tidak ada yang tahu ... aku bukanlah seorang pembunuh. Papa meninggal karena jatuh sendiri. Dan cerita itu akan tetap begitu sampai kapan pun. Come on, Zavier! Kamu jangan bersedih terlalu lama. Bukannya kalau Papa tiada ... aku akan tetap menjadi direktur utama." Bibir atas Zavier terangkat, membentuk seulas smirk yang menjijikan.

______

Halaman rumah itu sunyi ketika Elara turun dari mobilnya yang mewah, hadiah dari Zavier dua minggu yang lalu. Sebelum perselingkuhannya diketahui oleh Zhea.

Ia merapikan gaun pendeknya, memastikan rambutnya sempurna, lalu melangkah menuju teras. Wajahnya tersenyum ... senyum yang lebih mirip kemenangan daripada keramahan.

Ia memencet bel, dan tak lama ... pintu terbuka dari dalam. Seorang wanita paruh baya bertanya. "Selamat sore, Mbak? Mbak-nya mau bertemu dengan siapa?"

Elara menjawab dengan nada angkuh. "Aku ingin bertemu dengan Zhea. Tolong panggilkan dia!" Auranya bagai seorang bos besar.

"Oh, Non Zhea. Sebentar ya, Mbak. Saya panggilkan dulu. Silakan duduk dulu, Mbak ..." ucap ART itu seraya menguak pintu lebar-lebar.

ART beranjak pergi, tapi Elara tak kunjung duduk. Ia memilih mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah dua lantai itu. "Hm, ternyata si Zhea bukan berasal dari keluarga kaya raya. Rumahnya biasa saja. Berarti selama ini ... dia memang numpang kaya pada Zavier." Elara bermonolog sambil terkekeh julid.

"Non, ada tamu." Zhea yang sedang mendandani Zheza menoleh pada sang pembantu.

"Tamu? Siapa?"

"Bibi lupa nanyain namanya, Non. Tapi Mbak-nya bilang ... dia mau ketemu sama Non Zhea."

"Oh ... tamunya perempuan?"

"Iya, Non."

"Hm, kalau begitu ... titip Zheza sebentar ya, Bi. Mama lagi salat asar. Aku mau menemui tamu itu dulu."

"Iya, Non. Siap."

Zhea keluar dari kamarnya, berjalan santai mengenakan pakaian rumah yang sederhana namun rapi. Rambutnya digerai, wajahnya tanpa riasan. Entah mengapa, justru kesederhanaan itu membuatnya tampak lebih dewasa dan kuat.

Saat melihat wajah tamu itu, ia tak menunjukkan keterkejutan. Sebuah senyum tipis ia berikan. "Ada keperluan apa kamu datang ke sini, Elara?" tanyanya.

Elara memasang senyum manis tapi menantang. "Aku mau bicara sebentar. Antara perempuan dan perempuan."

Zhea mempersilakannya duduk kursi yang ada di teras. Elara menyilangkan kaki, lalu tanpa basa-basi meletakkan kotak undangan berwarna emas di meja kecil.

"Aku dan Mas Zavier akan menikah minggu depan," katanya dengan nada kemenangan. "Aku datang untuk memberitahumu. Dan ... untuk memberimu peringatan."

Zhea mengangkat alis sedikit, masih tenang. "Oh ... jadi kalian mau langsung menikah? Lalu, kamu mau menyampaikan peringatan apa?" Zhea memang sedikit kaget, tapi ia tentu saja tak menunjukkannya.

"Ya," jawab Elara, mencondongkan badan. "Tolong jangan muncul lagi dalam kehidupan Zavier. Jangan ganggu pernikahan kami. Jangan cari-cari alasan untuk kembali ke Zavier. Dia sudah menjadi milikku sekarang. Paham?"

Angin sore berembus ringan. Zhea memandangi perempuan yang duduk di hadapannya itu ... perempuan yang dulu selalu menunduk saat ia sindir dan nasihati. Tapi kini ia berlagak bak seorang bos besar, merasa paling cantik, percaya diri, serta terlalu sibuk membuktikan dirinya kini menjadi pemenang.

Setelah beberapa detik hening, Zhea tersenyum tipis. "Aku tidak pernah berencana mengganggu hidup kalian. Apa yang sudah kubuang ... tak akan kuambil lagi." Wajah Elara tampak lega sesaat, sebelum Zhea menambahkan dengan nada lembut yang lebih menusuk daripada teriakan. "Kalau kamu sampai harus datang ke rumahku untuk memperingatkanku ... berarti kamu sendiri yang tidak yakin sepenuhnya pada Zavier."

Elara terbelalak. "Apa maksudmu?"

Zhea menatapnya dengan tatapan damai ... tatapan yang membuat sakit karena tidak ada rasa iri atau takut di sana. "Seorang gundik yang benar-benar yakin pada lelakinya tidak akan repot-repot datang ke rumah istri sahnya dan meminta agar tidak diganggu," ucap Zhea tenang. "Kalau hubungan kalian kuat, kamu tak perlu melakukan ini, Elara ..."

Elara merapatkan bibirnya, wajahnya memerah.

"Tapi tenang saja," lanjut Zhea sambil mendorong kembali kotak undangan ke arah Elara. "Lagian, aku tidak akan sudi datang ke pernikahan kalian. Aku tidak akan merebut siapa pun. Yang sudah pergi ... akan tetap kubiarkan pergi." Ia lalu berdiri, melipat kedua tangannya santai. "Hanya satu pesan untukmu, wahai gundik tak tahu diri," katanya lembut namun menusuk. "Kalau Zavier bisa meninggalkan istri sahnya untukmu ... ya, kamu pasti sudah tahu dia juga bisa meninggalkanmu untuk perempuan lain."

Kata-kata itu jatuh pelan. Tidak menghina, tidak membentak, tapi cukup untuk membuat Elara diam tak berkutik.

Elara menggenggam undangan itu erat-erat, wajahnya campuran antara marah, malu, dan takut. "Kamu pasti iri dan sakit hati karena Zavier akan menikahiku, iya 'kan? Makanya kamu bicara seperti itu?!" teriak Elara terpantik emosi.

Zhea tertawa santai. Dan hal itu membuat emosi Elara makin menjadi-jadi. "Asal kamu tahu ya ... Zavier akan memberikan mahar yang sangat fantastis untukku. Melebihi mahar saat dia menikahimu!" katanya dengan bangga dan wajah yang angkuh.

"Terserah. Aku tidak bertanya ..." Zhea mengangkat bahu.

Wajah Elara langsung berubah merah ... malu, marah dan jengkel bercampur menjadi satu. Niatnya mau memanas-manasi Zhea dan menunjukkan bahwa dialah pemenangnya. Berharap Zhea menangis dan memakinya habis-habisan ... tapi yang terjadi, Zhea malah terlihat santai dan biasa saja. Malah dirinyalah yang saat ini ingin menangis dan mengamuk.

"Mau dia memberikan mahar fantastis atau pun tidak ... itu bukanlah urusanku. Silakan hidup bersama sampah yang sudah kubuang."

"KAU!" Elara menudingkan telunjuknya dengan amarah yang sudah menggelegak.

"Apa?" Zhea masih bersikap tenang dan santai.

"Kau pasti akan menangis darah melihatku hidup bahagia dengan Zavier. Aku dan dia akan segera punya anak laki-laki yang akan menjadi pewaris utama perusahaan Dinata Grup!"

Pecahlah tawa Zhea, membuat Elara makin merasa terhina.

"Kenapa kau malah tertawa, Zhea?!"

"Karena apa yang barusan kamu ucapkan itu sangatlah lucu, Elara. Mimpimu terlalu tinggi ... kita lihat saja nanti, siapa yang akan menangis darah?"

Elara menahan napas. Dalam sekejap mata ... wajah Zhea terlihat amat sangat menyeramkan. Sampai membuat bulu kuduknya berdiri dan tubuhnya gemetar.

1
Yunita Sophi
krn terlalu sakit... sahabat yg dia kasih dia kasih kepercayaan untuk menjadi asisten pendamping suami nya di kantor.... ternyata dia di khianatin dgn orang yg di percaya dan dia cintai
Yunita Sophi
cinta benci dan dendam... sangat luar biasa
Nurul Syahriani
udah baca sejauh ini, tiba tiba kepikiran judul nya gak cocok lagi dgn jalan cerita.
Naomi Willem Tuasela
Thor maksud nya😥
Ama Apr: besok y jawabannya
total 1 replies
Naomi Willem Tuasela
jangan buat mama Zahrani celaka pokoknya thot😥😔 gak mau sedih lagi😥....
Ama Apr: 🥹🥹🥹 berdoalah
total 1 replies
Ida Sriwidodo
Plot twistku si berharap.. sebagai pebisnis Nathan peka n kirim orang untuk ngawasi rumah mertuanya
Jan sampe terjadi apa2 sama bu Zahrani pokona mah.. 😥😥😤😤
Ama Apr: aamiin
total 1 replies
Sunny Kwok
aduh jgn sampe mama Zahrani celaka smoga ada Dewa penolongnya kl sampe knp2 aku da ga mo baca novel ini
Ama Apr: aamiiin
total 1 replies
Ralin Hartati
awas ya klo sampai ibu zahrani celaka yg pasti aku nggambek nggak mau lanjutin baca cerita nya 🤭🤣
Ama Apr: besok tunggu sj
total 1 replies
@Mita🥰
pokok e klu mama Zahrani sampe kecelakaan. ..aku skip Thor .
Ama Apr: besok tunggu sj
total 1 replies
Yunita Sophi
sebelum bertobat balas mereka yg gak punya hati... aq benci yg nama pelakor dan cowo tukang selingkuh
Ama Apr: siappppp
total 1 replies
Yunita Sophi
bagus lah akhir nya yg satu ketauan dan yg satu lg jd tau kelicikan sahabat nya...dua sahabat akhir nya tamat😄😄😄
Ama Apr: sama2 rugi
total 1 replies
Yunita Sophi
ayo lah kak thor buka tuh rahasia si Melani selingkuh dgn suami nya si Riri... biar tau rasa tuh si Riri dan si Melani jd musuhan
Ama Apr: sudah kk😆
total 1 replies
Yunita Sophi
ok bahagia sll yah untuk Gantari dan Rafli... nikah nya nanti setelah Zhea dan Nathan..
Yunita Sophi
Nathan so sweet bingit sih jd aq pada mu😘😍😍
Ama Apr: wkwk, ada lho visualnya. Di bab 200 lbh
total 1 replies
@Mita🥰
wah semoga Bu Zahrani gak kenapa-kenapa
Ama Apr: aamiin
total 1 replies
Yunita Sophi
lebih parah kamu Dika dasar suami gak tau diri biadab kamu... klo mau selingkuh jgn dgn sahabat istri dong apa gak ada cewe lain... dasar munafik ngatain Zavier selingkuh loh lebih parah...
Ama Apr: sama2 bsuk
total 1 replies
Yunita Sophi
kasian juga sih... tp siapa suruh dia mudah tergoda pelakor biadab... sdh tau klo pelakor hanya mau harta doang... klo udah kere ya sdh di tinggal.. dasar cowo kamu gatel Zavier
Yunita Sophi
ikut bahagia untuk Eyang,Nathan dan Zhea
Ama Apr: makasih🥰
total 1 replies
Yunita Sophi
24 thn ? aq kira 28 thn kak thor... beda dua thn dgn Zhea dong yah... aq tawar kak thor 28 thn aja gitu yah 😄😄😄
Ama Apr: hh iya
total 1 replies
Yunita Sophi
iya mungkin dia pacaran dgn suami orang... dia merasa jd minum nya keselek😄
Ama Apr: wkwkwk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!