Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.
Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Benci dan Rindu
Jakarta terbangun dalam guncangan hebat yang bukan berasal dari lempeng tektonik, melainkan dari layar-layar televisi dan ponsel pintar di setiap sudut kota. Headline berita di bursa efek menunjukkan grafik merah yang terjun bebas secara vertikal. Eduardo Group, raksasa yang selama ini dianggap tak tertembus, sedang berada di ambang kehancuran setelah Alexander Eduardo secara mengejutkan menyerahkan bukti-bukti pembunuhan ayahnya dan keterlibatan keluarganya dalam berbagai skandal hitam ke tangan kepolisian.
Di ruang kerja yang kini terasa lebih luas dan hampa, Alex duduk terpaku. Ia tidak lagi peduli pada angka-angka yang hilang di layar monitornya. Ia tidak peduli pada ribuan panggilan masuk dari para pemegang saham yang panik. Matanya hanya tertuju pada sebuah foto USG yang ia genggam erat.
"Tuan, polisi sudah menahan William Eduardo di bandara saat dia mencoba melarikan diri ke Swiss," lapor Rendy dengan suara yang bergetar. "Namun, efek sampingnya... dewan direksi telah secara resmi membekukan aset pribadi Anda untuk sementara selama penyelidikan berlangsung."
Alex hanya mengangguk pelan. "Biarkan saja. Ambillah semua harta itu jika itu bisa menghapus noda darah Adrian dari tanganku."
Di sebuah rumah kontrakan kecil di gang sempit Jakarta Timur, Almira duduk di atas amben kayu yang keras. Keringat dingin membanjiri dahinya. Berita tentang keberanian Alex membongkar kejahatan pamannya sendiri sudah sampai ke telinganya. Ada rasa kagum yang tipis yang mencoba merayap di sela kebenciannya, namun kenyataan bahwa kakaknya tewas akibat perintah Alex tetap menjadi duri yang tak bisa dicabut.
"Ibu... perutku sakit sekali," rintih Almira.
Nadin, yang sedang memasak air, segera berlari menghampiri putrinya. Wajahnya memucat melihat Almira meringkuk kesakitan sambil memegangi perutnya yang sudah memasuki usia tujuh bulan. Stres yang bertubi-tubi—dari penculikan Nadin hingga terbongkarnya rahasia Adrian—telah memicu reaksi fisik yang berbahaya bagi kandungannya.
"Sabar, Nak. Ibu panggilkan bidan di depan," ucap Nadin panik.
Namun, rasa sakit itu bukan lagi kontraksi biasa. Almira merasakan cairan hangat merembes di kakinya. Ketuban pecah dini. Dalam kondisi ini, di sebuah rumah tanpa fasilitas medis, nyawa ibu dan anak berada dalam bahaya besar.
Sebuah mobil hitam sederhana—bukan limusin mewah yang biasa ia kendarai—berhenti di depan gang. Alex, dengan bantuan Rendy, turun dari mobil tersebut. Wajahnya tampak pucat dan tirus, namun matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan. Ia harus menemukan Almira. Ia tahu Elara atau sisa-sisa pengikut William mungkin akan mengincar Almira sebagai bentuk balas dendam terakhir.
Saat ia didorong menyusuri gang yang becek, suara jeritan Nadin terdengar dari sebuah pintu kayu yang terbuka.
"ALMIRA!" raung Alex. Ia memaksa dirinya untuk mencoba berdiri, namun kakinya kembali mengkhianatinya. Ia terjatuh di lumpur gang tersebut.
"Tuan! Biar saya yang masuk!" teriak Rendy.
"Tidak! Bantu aku berdiri!" Alex merangkak dengan tangan yang kotor oleh tanah, menarik dirinya ke depan pintu. Di dalam, ia melihat Almira terbaring lemas dengan wajah pucat pasi.
Nadin menoleh, matanya membelalak melihat Alex yang kotor dan berlumuran lumpur. "Alexander? Apa yang kau lakukan di sini?!"
"Panggil ambulans! Sekarang!" teriak Alex tanpa mempedulikan kemarahan Nadin. Ia merangkak ke samping tempat tidur Almira, meraih tangan istrinya yang dingin.
"Almira... aku di sini. Maafkan aku... tolong bertahanlah," isak Alex.
Almira membuka matanya sedikit. Ia melihat pria paling angkuh di Jakarta kini bersujud di lantai tanah rumah kontrakannya, menangis seperti anak kecil dengan tubuh yang dipenuhi kotoran. Kebencian yang tadi menggunung tiba-tiba luruh melihat ketulusan yang begitu menyakitkan itu.
"Anak kita... Alex... tolong selamatkan anak kita," bisik Almira sebelum kesadarannya menghilang.
Ambulans dari rumah sakit swasta terbaik—yang masih setia pada perintah pribadi Alex meski hartanya dibekukan—datang dengan sirine yang membelah kemacetan. Almira segera dilarikan ke ruang operasi darurat untuk menjalani bedah caesar prematur.
Alex duduk di kursi rodanya di depan ruang operasi, masih mengenakan kemeja yang kotor oleh lumpur gang. Ia menolak untuk berganti pakaian atau membersihkan diri. Ia merasa kotoran di tubuhnya adalah representasi yang tepat dari jiwanya yang penuh dosa.
Dokter Bastian, yang juga ikut menangani, keluar dengan ekspresi tegang. "Tuan Alex, kondisi Nyonya Almira sangat kritis. Pendarahan hebat terjadi. Kami harus memilih, Tuan... bayi prematur ini atau Ibunya."
Dunia Alex seolah runtuh untuk kesekian kalinya. Ia menatap Dokter Bastian dengan pandangan yang mengerikan. "Selamatkan keduanya, Bastian. Jika kau gagal, aku akan membakar seluruh gedung ini!"
"Tuan, secara medis—"
Alex menarik kerah baju Bastian, matanya berkilat penuh kegilaan dan cinta yang putus asa. "Dengar! Dia adalah nyawaku! Jika dia mati, aku tidak punya alasan untuk tetap hidup! Tapi jika anak itu mati, dia tidak akan pernah memaafkanku! Gunakan semua teknologi, semua darah yang ada di kota ini! Selamatkan keduanya!"
Jam demi jam berlalu seperti ribuan tahun. Alex berdoa—sebuah hal yang jarang ia lakukan sejak kematian ayahnya. Ia berjanji, jika Tuhan memberikan kesempatan hidup bagi Almira dan anak mereka, ia akan melepaskan seluruh nama besarnya, seluruh hartanya, dan hidup sebagai pria biasa untuk menebus segala dosanya pada keluarga Nadin.
Pukul tiga pagi, suara tangisan bayi yang sangat lemah memecah kesunyian lorong rumah sakit.
Dokter Bastian keluar dengan langkah gontai namun ada senyum tipis di wajahnya. "Bayinya laki-laki, Tuan. Dia sangat kecil, hanya 1,8 kilogram, dan harus masuk inkubator segera. Tapi dia pejuang yang kuat."
"Dan Almira?" tanya Alex, napasnya tertahan.
"Pendarahannya berhasil dihentikan. Dia masih koma, tapi kondisinya stabil. Dia selamat, Alex."
Alex luruh ke lantai dari kursi rodanya. Ia menangis tersedu-sedu, mencium lantai rumah sakit yang dingin. Rasa syukur yang meluap di dadanya terasa lebih nikmat daripada saat ia memenangkan kontrak triliunan rupiah.
Dua hari kemudian, Almira terbangun. Hal pertama yang ia lihat adalah Alex yang tidur di kursi roda di samping ranjangnya, tangannya masih menggenggam tangan Almira. Pria itu tampak sangat lelah, rambutnya berantakan, dan ia tidak lagi mengenakan jas mewah, melainkan kaos polo sederhana.
"Alex..."
Alex terbangun seketika. "Sayang? Kau sudah sadar? Bagaimana perasaanmu? Ada yang sakit?"
Almira tersenyum lemah. "Di mana anak kita?"
"Dia di ruang NICU. Dia mirip sekali denganmu. Matanya... matanya sangat indah," ucap Alex dengan suara lembut. Ia kemudian menunduk. "Almira... aku sudah menyerahkan seluruh kepemilikanku di Eduardo Group kepada yayasan sosial untuk anak-anak korban konflik lahan. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Aku bukan lagi tuanmu. Aku bukan lagi sang majikan."
Almira menatap Alex dengan pandangan tak percaya. "Kau melepaskan segalanya?"
"Aku hanya menyisakan sebuah rumah kecil di pinggiran kota untuk kita, ibumu, dan anak kita. Jika kau masih ingin pergi... aku tidak akan menahanmu. Aku sudah menyiapkan dana pendidikan untuk anak itu. Tapi jika kau mengizinkanku... aku ingin menghabiskan sisa hidupku untuk membuktikan bahwa aku bisa menjadi ayah dan suami yang lebih baik dari pria mana pun."
Almira melihat keikhlasan di mata Alex. Pria ini telah menghancurkan kerajaannya sendiri demi membasuh tangannya dari darah masa lalu.
"Bawa aku melihat anak kita, Alex," bisik Almira, tangannya menggenggam balik tangan Alex.
Di balik kaca ruang inkubator, mereka berdua menatap seorang manusia mungil yang sedang berjuang untuk bernapas. Bayi itu adalah simbol dari cinta yang lahir dari kebencian, harapan yang muncul dari kehancuran.
Meskipun takhta Eduardo telah runtuh, sebuah fondasi baru yang lebih kokoh sedang dibangun. Di luar sana, Elara mungkin masih merencanakan dendam, dan dunia mungkin akan terus menghakimi mereka. Namun, di dalam ruangan itu, yang ada hanyalah seorang pria, seorang wanita, dan anak mereka—tiga jiwa yang sedang belajar untuk saling memaafkan di atas puing-puing penyesalan.