NovelToon NovelToon
Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / BTS / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Rindu dibalik Tirai

Di dalam bilik mandi yang sempit, Senja mengunci pintu dan perlahan melihat ke arah cermin.

Ia menarik sedikit kerahnya dan matanya membelalak melihat jejak merah yang ditinggalkan Langit.

"Aduh, Langit... ini kalau ketahuan Umi bisa gawat," gumamnya sambil menyentuh tanda itu dengan ujung jarinya, meski di saat yang sama ia tidak bisa menahan senyum manis yang tersungging di bibirnya.

Senja tahu, malam ini akan menjadi malam yang panjang lagi di asrama, namun setidaknya ia punya rahasia kecil yang manis untuk dipikirkan sebelum tidur.

Malam itu, asrama putra sudah diselimuti keheningan. Lampu utama telah dipadamkan, menyisakan temaram lampu lorong yang masuk melalui celah pintu.

Namun, di atas kasurnya, Langit masih terjaga sepenuhnya. Ia berbaring telentang dengan kedua tangan menyangga kepala, menatap langit-langit kayu yang gelap.

Setiap kali ia memejamkan mata, memori di tepi sungai itu terputar kembali seperti film yang sangat nyata. Ia bisa merasakan kembali lembutnya bibir Senja, aroma segar air sungai yang bercampur dengan wangi tubuh istrinya, dan bagaimana napas Senja memburu saat ia mencium lehernya.

Langit mendudukkan tubuhnya, mengusap wajahnya yang terasa panas. Ia menarik napas dalam-dalam berkali-kali, mencoba menenangkan debar jantungnya yang masih liar.

Namun, bukannya tenang, ia malah berakhir melamun sambil tersenyum lebar di tengah kegelapan.

"Gila... gue bisa gila kalau begini terus," bisik Langit pelan pada dirinya sendiri. Ia teringat bagaimana pasrahnya Senja di pelukannya tadi sore. Rasa rindu yang tadinya hanya sekadar ingin bertemu, kini berubah menjadi rasa ingin memiliki yang jauh lebih dalam.

Sementara itu, di gedung asrama putri yang hanya berjarak beberapa ratus meter, Senja mengalami hal yang sama.

Ia bergelung di balik selimut tebalnya, namun matanya terbuka lebar menatap dinding.

Tangan Senja perlahan bergerak menyentuh bibirnya sendiri, merasakan sisa-sisa kelembutan ciuman Langit yang seolah masih membekas di sana.

Kemudian, jemarinya turun menyentuh bagian lehernya yang ia tahu masih meninggalkan jejak merah yang samar.

Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya setiap kali ia mengingat bagaimana cara Langit menatapnya tadi—penuh keinginan sekaligus kasih sayang.

Senja menyembunyikan wajahnya di balik bantal, menendang-nendang kecil di balik selimut karena rasa malu dan bahagia yang bercampur aduk.

Ia tersenyum-senyum sendiri, merasa seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta, padahal pria itu adalah suaminya sendiri.

“Langit... kamu bener-bener nakal,” batin Senja sambil memeluk bantalnya erat-erat.

Malam itu, meskipun raga mereka terpisah oleh dinding asrama dan aturan pesantren, pikiran keduanya tertahan di tempat yang sama: di atas batu besar di tepi sungai, di bawah naungan pohon bambu, di mana hanya ada mereka berdua dan janji cinta yang tak terucapkan.

Udara subuh yang dingin menusuk tulang tidak membuat Langit malas untuk bergegas ke masjid. Alih-alih langsung masuk ke saf depan, Langit memilih duduk di teras masjid, bersandar pada tiang beton yang dingin.

Matanya tidak lepas menatap jalan setapak yang menghubungkan asrama putri dengan masjid, menanti sosok yang sejak semalam memenuhi mimpinya.

Tak lama kemudian, rombongan santri putri muncul dengan mukena putih yang tampak bersih di bawah remang lampu taman.

Di antara barisan itu, Langit langsung menemukan Senja. Istrinya tampak sangat anggun dengan mukena yang membingkai wajah cantiknya yang masih segar sehabis wudu.

Begitu jarak mereka cukup dekat, Langit sengaja menatap Senja dengan tatapan yang dalam, penuh kerinduan yang membuncah. Ia memberikan senyum tipis yang sangat manis, senyum yang hanya ia berikan khusus untuk Senja.

"Cieee... ada yang ditungguin tuh," bisik Laila sambil menyenggol lengan Senja.

"Duh, pagi-pagi sudah dapet asupan vitamin mata ya, Ja?" goda Hana yang ikut tertawa kecil.

Senja yang menyadari tatapan Langit langsung menunduk dalam. Wajahnya yang semula pucat karena dinginnya subuh, mendadak berubah merona merah di balik kain mukenanya.

Ia merasa kakinya lemas dan jantungnya berdegup kencang. Tanpa berani membalas tatapan Langit terlalu lama, Senja mempercepat langkahnya dan langsung masuk ke barisan putri di balik tirai pembatas (hijab).

Langit masih terpaku di teras, matanya terus menatap arah hilangnya Senja di balik tirai. Ia tersenyum-senyum sendiri, membayangkan betapa lucunya wajah salah tingkah istrinya tadi.

Pikirannya kembali melayang ke kejadian di sungai kemarin, membuat senyumnya semakin lebar dan tak terkontrol.

PUK!

Sebuah tepukan mantap mendarat di bahu Langit, membuatnya tersentak kaget hingga hampir terjungkal dari duduknya.

"Astagfirullah!" seru Langit spontan.

Begitu ia menoleh, jantungnya hampir copot. Ternyata yang menepuk bahunya adalah Pak Kyai (Abah), yang sudah berdiri dengan sorban tersampir di pundak dan tatapan yang teduh namun menyelidik.

"Langit... shalat subuh itu menghadap Allah, bukan menghadap tirai pembatas," ucap Pak Kyai dengan nada tenang namun mengandung sindiran halus.

"Kenapa senyum-senyum sendiri begitu? Ada yang lucu di kain hijab itu?"

Langit langsung salah tingkah bukan main. Ia segera berdiri dan merapikan baju takwanya.

"E-eh, mboten (tidak), Abah. Tadi... tadi ada kucing lucu lewat, Bah," kilas Langit asal, yang tentu saja tidak dipercayai oleh Pak Kyai.

Pak Kyai hanya terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala. "Ya sudah, cepat masuk. Imam sudah mau mulai. Fokus dulu sama Gusti Allah, istrimu tidak akan lari ke mana-mana."

Langit hanya bisa menunduk malu dengan wajah merah padam, mengekor di belakang Abah masuk ke dalam masjid. Di balik tirai, Senja yang mendengar suara ayahnya menegur Langit, hanya bisa menggigit bibir bawahnya sambil menahan tawa sekaligus rasa malu yang luar biasa.

Setelah zikir selesai, Langit baru saja hendak beranjak menuju gerbang masjid untuk menunggu Senja, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan kokoh merangkul bahunya.

"Langit, ikut Abah ke ndalem. Kita sarapan bareng ya," ajak Pak Kyai dengan nada yang tidak menerima penolakan namun sangat kebapakan.

Langit hanya bisa mengangguk patuh. "Inggih, Abah," jawabnya sopan. Meski hatinya sedikit merana karena gagal mencegat Senja di depan masjid, ia tetap berjalan mengekor di belakang sang mertua.

Begitu melangkah masuk ke ruang tengah ndalem, Langit seketika mematung. Di sana, di atas sofa kayu jati, sudah duduk sepasang suami istri yang sangat ia kenal.

"Papa? Mama?" seru Langit tidak percaya.

Ayah Langit langsung berdiri dengan mata yang berkaca-kaca. Langit segera mendekat dan meraih tangan ayahnya, menciumnya dengan sangat takzim dan penuh hormat—sebuah pemandangan yang mustahil terjadi beberapa bulan lalu saat Langit masih menjadi jawara tawuran di Jakarta.

Ayahnya langsung memeluk Langit erat, menepuk-nepuk punggung putranya dengan rasa haru yang membuncah.

"Kamu benar-benar sudah berubah, Lang," bisik ayahnya lirih, merasa bangga melihat putranya kini tampak begitu tenang dan bersahaja dengan baju takwa dan sarung.

"Ayo, ayo duduk. Kita sarapan dulu. Kebetulan Mama dan Papa sampai subuh tadi," ajak sang Ibu sambil tersenyum lebar.

Saat mereka menuju meja makan, kejutan bagi Langit belum berakhir. Di dapur, ia melihat Senja sedang membantu Umi menyiapkan piring-piring berisi nasi uduk hangat. Senja tampak sudah rapi, wajahnya merona saat matanya bertemu dengan mata Langit.

Senja berjalan perlahan menuju meja makan, membawa nampan berisi teh hangat dan piring lauk. Dengan gerakan yang sangat anggun dan sopan, ia menyuguhkan sarapan itu tepat di hadapan mertuanya.

"Silakan, Pa, Ma... dimakan selagi hangat," ucap Senja lembut sambil sedikit menundukkan kepala.

Mama Langit langsung memegang tangan Senja.

"Duh, menantu Mama pintar sekali masak ya. Makasih ya, Sayang."

Langit duduk di kursinya dengan perasaan yang tak karuan. Ia menatap istrinya yang kini sibuk melayani orang tuanya. Ada rasa bangga dan cinta yang membuncah di dadanya.

Senja yang biasanya cerewet dan galak padanya, kini terlihat seperti menantu idaman di depan orang tuanya.

Sesekali, saat orang tua mereka asyik mengobrol, Langit memberikan kode dengan matanya, seolah bertanya, "Sejak kapan kamu di sini?" Senja hanya membalas dengan senyuman kecil dan kedipan mata yang membuat Langit hampir tersedak nasi uduknya.

Di tengah kehangatan keluarga itu, Langit merasa hidupnya benar-benar telah berputar 180°, dan ia tidak pernah menyesalinya sedikit pun.

Setelah sarapan yang penuh keharuan itu, Pak Alistair meletakkan cangkir kopinya dan menatap sahabat lamanya, KH. Danardi, dengan tatapan penuh rencana.

"Begini, Kyai," buka Pak Alistair dengan suara baritonnya yang tegas namun sopan.

"Kebetulan anak-anak ini sedang libur sekolah. Saya ingin mengajak Langit dan Senja ikut kami ke Bali. Hitung-hitung sebagai hadiah pernikahan yang tertunda karena mereka harus langsung mukim di asrama."

Langit yang sedang meneguk tehnya seketika tersedak. Ia menatap papanya dengan mata membelalak, tidak menyangka Pak Alistair yang biasanya kaku akan memberikan kejutan semenyenangkan ini.

KH. Danardi tersenyum bijak. Beliau melirik Senja yang tampak terkejut sekaligus antusias di samping Mami Retno.

"Senja sekarang adalah tanggung jawab Langit sepenuhnya. Sebagai suaminya, jika Langit setuju, saya tentu mengizinkan. Silakan, bawa istrimu liburan, Lang," jawab sang Kyai sambil mengangguk mantap.

"Beneran, Bah? Makasih ya!" seru Langit girang, nyaris lupa pada image cool-nya.

Mami Retno langsung menepuk tangan dengan semangat. "Nah, gitu dong! Mami sudah rindu belanja bareng menantu cantik. Cepat, kalian berdua bersiap! Pesawat pribadi Papa sudah siap di Juanda siang ini."

Langit dan Senja segera naik ke kamar ndalem untuk berkemas.

Suasana kamar menjadi riuh karena Langit yang terlalu bersemangat memasukkan baju ke koper sambil sesekali memeluk Senja dari belakang.

"Akhirnya, Ja! Kita bebas dari jam asrama buat sementara!"

Setelah siap, mereka turun ke ruang tamu. Senja memeluk dr. Siti Aminah dan KH. Danardi dengan erat, matanya sedikit berkaca-kaca karena ini perjalanan jauh pertamanya setelah menjadi istri.

Langit pun mencium tangan mertuanya dengan sangat takzim, menunjukkan perubahan sikapnya yang luar biasa.

"Jaga Senja baik-baik ya, Lang. Jangan bandel di sana," pesan dr. Siti Aminah sambil mengusap pundak menantunya.

"Siap, Mi! Langit jagain lahir batin," jawab Langit mantap.

Mereka pun berjalan keluar menuju halaman. Sebuah mobil mewah milik Pak Alistair sudah terparkir elegan dengan pintu yang dibukakan oleh supir.

Langit menggandeng tangan Senja dengan bangga, menuntunnya masuk ke dalam kabin mobil yang mewah dan sejuk.

Saat mobil mulai melaju meninggalkan gerbang Pesantren Mambaul Ulum, Langit menyandarkan punggungnya di jok kulit yang empuk. Ia menarik tangan Senja, mengecup punggung tangannya dengan lembut di depan orang tuanya.

"Siap mulai bulan madu yang tertunda, Nyonya Sterling?" bisik Langit penuh arti.

Senja tersenyum manis, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Langit.

"Siap, Tuan Langit."

1
Miramira Kalapung
Alurnya cerita nya sangat bagus
yuningsih titin: makasih kak semoga suka
total 1 replies
Siti Amyati
akhirnya lanjut kak
kalea rizuky
senja np di buat bloon bgt sih heran
kalea rizuky
senja aja goblok
Siti Amyati
lanjut kak
Siti Amyati
kasihan ujian nya kok senja di lecehin gitu smoga langit ngga lansung ambil keputusan yg bikin berpisah tpi bisa buktiin siapa dalang semuanya
Kurman
👍👍👍
Julidarwati
BHSnya baku x dan g eris sebut nm thor
yuningsih titin: makasih koreksinya dan komentar nya
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
yuningsih titin: siap👍
total 1 replies
yuningsih titin
makasih masukannya kak
ndah_rmdhani0510
Senja yng di gombalin, kok aku yang meleleh🤭
Bulan Benderang
bahasanya masih sedikit kaku kak,🙏🙏
Ai Nurlaela Jm
Karyamu luar biasa kereen Thor, lanjutkan💪
rinn
semangat thor
yuningsih titin: makasih kak
total 1 replies
Dri Andri
lanjut kan berkarya tetap semangat
Dri Andri
lanjutkan thour
Dri Andri
awwsshh ceritanya bikin.... 😁😁😁😁
yuningsih titin
ngga kuat deh langit sama senja romantis banget
ndah_rmdhani0510
Benci apa benci Langit? Ntar kamu bucin lho ama Senja🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!