Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.
Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...
Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Bu Ratna Menemui Zahra
Masih pagi Zahra menerima pesan yang tidak ia duga..!
Bukan dari klien, bukan dari Wulan, bukan pula dari Genta
Nama yang muncul di layar ponselnya membuat jemarinya berhenti bergerak sejenak, Mak Ratna..
Zahra membaca pesan itu perlahan, seolah takut salah memahami setiap katanya.
("Zahra Mak ingin bertemu, tidak sebagai mertua, tapi sebagai sesama perempuan, tolong datang, Mak ingin berdamai")
Pesan itu singkat, bahasanya halus, hampir… rapuh, tidak ada perintah, tidak ada tekanan dan tidak ada ancaman terselubung seperti biasanya.
Justru itu yang membuat Zahra waspada, ia menatap layar lebih lama dari yang seharusnya, mencoba merasakan apakah ada getar manipulasi di balik kalimat-kalimat itu.
Zahra sudah terlalu sering belajar bahwa ibu mertua nya itu jarang berbicara tanpa tujuan...
Ia menghela napas, lalu melangkah ke ruang tengah tempat ibunya sedang melipat pakaian..
"Bu,” panggil Zahra pelan.
Ibunya menoleh.
"Kenapa?”
Zahra menyerahkan ponsel itu.
“Baca ini Bu"
Bu Wati membaca pesan tersebut tanpa tergesa, kerutan di dahinya perlahan muncul, lalu ia menghela napas panjang.
“Menurut ibu gimana?” tanya Zahra hati-hati.
Ibunya meletakkan ponsel di meja..
“Orang yang biasa menguasai, Nak, sulit benar-benar melepaskan kendali, kadang mereka menjadi lembut bukan karena sadar… tapi karena panik.” ucap Bu Wati memberi saran untuk menasehati Zahra
Zahra menunduk, ia tahu itu benar.
“Tapi, kamu juga tidak salah kalau datang, menghindar selamanya bukan jawaban, selama hatimu siap, dan batas mu jelas.” lanjut Bu Wati
Zahra mengangguk pelan.
“Aku tidak mau datang sebagai orang yang ingin dipulihkan… aku datang sebagai orang yang sudah berdiri.”
Ibunya tersenyum bangga.
“Itu perbedaan besar.”
Pertemuan itu akhirnya diatur di sebuah rumah makan yang tenang, jauh dari keramaian..
Tidak mewah, tidak ramai, tempat yang terasa netral dan tidak memihak siapa pun.
Saat Zahra tiba, Bu Ratna sudah menunggu, pemandangan itu membuat Zahra berhenti sejenak di ambang pintu..
Bu Ratna tidak tampil seperti biasanya, tidak ada busana mahal, tidak ada perhiasan mencolok..
Ia mengenakan pakaian sederhana berwarna gelap, rambutnya tidak disanggul rapi hanya diikat seadanya, wajahnya tampak lebih tua, lebih lelah..
"Zahra... Terima kasih sudah mau datang.” ucap Bu Ratna lembut ketika melihat Zahra mendekat
Nada suaranya berbeda, lebih rendah, lebih pelan..
Zahra duduk dengan sikap sopan, punggung tegak.
“Mak ingin bicara apa?”
Bu Ratna terdiam sejenak, seolah sedang mengumpulkan keberanian, ia menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca.
"Mak salah, terlalu keras, terlalu ikut campur.” ucap Bu Ratna akhirnya
Kata-kata itu terdengar seperti pengakuan, namun Zahra, dengan kewaspadaan yang telah terasah, memperhatikan satu hal penting:.
Bu Ratna tidak menyebut apa yang salah, ia hanya menyebut sikapnya bukan tindakannya.
"Zahra kamu ini perempuan baik, ibu hanya takut kehilangan Genta.” lanjut Bu Ratna dengan suara bergetar
Zahra mengangguk pelan, ia tidak membantah...
“Takut itu manusiawi, Mak, tapi cara kita menyikapinya yang menentukan.”
Bu Ratna mengulurkan tangan, menggenggam tangan Zahra tiba-tiba, genggamannya hangat, kuat, hampir memohon..
“Ibu mohon, pulanglah, kembali ke rumah, kita mulai lagi dari awal” ucap Bu Ratna lirih
Hati Zahra bergetar, bukan karena ingin, tapi karena iba.
Wajah di hadapannya bukan wajah perempuan berkuasa, itu wajah seorang ibu yang merasa kehilangan kendali, kehilangan anak, kehilangan posisi.
Namun Zahra mengingat malam-malam panjang penuh tekanan, kata-kata yang melukai..
Fitnah yang dilemparkan dengan dingin, rezeki yang hampir diputuskan..
Ia menarik tangannya pelan, dengan sopan.
"Mak, pulang tidak menyelesaikan luka yang belum sembuh.” ucap Zahra tenang
Senyum Bu Ratna menegang sepersekian detik, lalu kembali lembut, nyaris sempurna.
"Mak janji tidak akan ikut campur lagi.” ucap nya
Zahra menatapnya lama..
“Janji tanpa batas bukan perubahan, Mak, perubahan itu terlihat dari tindakan… dan waktu.”
Untuk sesaat, sorot mata Bu Ratna berubah, dingin, terluka, tersinggung dan ia pergi begitu saja tanpa bicara lagi dengan Zahra..
Zahra hanya menarik nafas panjang melihat itu semua..!
Sementara itu, di luar rumah makan, Genta duduk di dalam mobil, ia diminta Zahra tidak ikut campur, tidak masuk, tidak mendekat dan ia di suruh menunggu tapi hatinya gelisah.
Ia menatap pintu berkali-kali, saat Zahra akhirnya keluar, wajahnya tenang, tidak pucat, tidak tersenyum, sebuah ketenangan yang waspada.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Genta cepat.
"Aku baik,” jawab Zahra jujur.
“Apakah Emak sudah berubah?” tanya Genta
Zahra menatap ke depan, bukan ke arah Genta.
“Emak Ratna hanya belajar bersikap lembut terhadap ku, tapi belum bisa belajar melepaskan kendali.”
Genta terdiam, ia tahu, kalimat itu tidak bermaksud jahat, itu hanya sebuah kejujuran..!
"Kalau begitu ayo kita pulang" ucap Zahra membuyarkan lamunan Genta
***
Bu Ratna yang baru sampai rumah dan ia langsung Ke dapur dan melempar cangkir ke dinding, suara pecahan menggema..
“Dia tidak tersentuh! Dia tidak mau tunduk!” teriaknya
Dini berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat, ia melihat ibunya terengah-engah tangannya gemetar..
"Mak, mungkin memang kita yang salah, apa gak sebaiknya kita berubah dan introspeksi diri" suara Dini bergetar
Bu Ratna menoleh tajam..
“Kamu juga mau meninggalkan Mak mu ini? Seperti kakak mu Genta" teriak Bu Ratna
Dini menunduk, air matanya jatuh.
“Aku mau kita semua berubah Mak karena kita keluarga, kita akhiri saja semua ini, aku capek Mak dan aku malu, semua berita dan fitnahan yang kita sebarkan ternyata berbalik kearah kita" ucap Dini lirih
Kata itu kembali menghantam Bu Ratna.
"Stop Dini, sudah berani kamu melawan dan berbicara seperti itu sama emak" ucap Bu Ratna jengkel
"Apa tugas yang Emak kasih ke kamu sudah kamu laksanakan?" Tanya Bu Ratna
"Rena sudah tidak mau Mak karena dia merasa di permainkan oleh Mas Genta dan emak hanya mengumbar janji manis saja kepada dirinya" ucap Dini menjelaskan ucapan Rena
"Kamu bodoh Dini, kenapa kamu tidak bujuk Rena agar membantu kita lagi" ucap Bu Ratna tajam
"Coba Mak saja yang telpon Rena, mungkin kalau dengan Emak Rena akan baik respon dan mungkin emak bisa membujuk Rena" jawab Dini hati nya sebenarnya sudah lelah harus terus mengikuti ucapan dari ibunya itu..
"Kamu sudah berani melawan Emak Dini" Bu Ratna berang matanya melotot kearah Dini..
Dini langsung tertunduk dan pergi meninggalkan Bu Ratna sendiri..!
"Dini... Dini di ajak bicara malah kabur" teriak Bu Ratna memanggil Dini
Dini yang merasa lelah tidak mendengar ucapan Bu Ratna..!!
"Rena, aku akan coba menelpon nya besok, ya hanya dia yang bisa membantu ku" senyum Bu Ratna mengembang licik