Lusy peri muda yang tidak memiliki sihir seperti peri lainnya. Dia berkeinginan menjadi ratu peri yang melampaui ratu peri generasi sebelumnya.
Lusy di remehkan oleh kaumnya sendiri. Namun, suatu ketika dia menemukan sebuah teknik terlarang dan sebuah pedang leluhur peri yang membuatnya bisa membangkitkan kekuatan sejatinya.
Lusy bangkit menjadi peri terkuat tanpa sihir, tapi banyak orang yang masih tidak menerima sebuah kenyataan kalau Lusy adalah peri terkuat di alam Peri.
Akankah Lusy berhasil menjadi Ratu Peri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Papendang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Ikatan Part 1
Jelas saja semua orang yang ada disana langsung tercengang, mereka yang tadinya meremehkan Lusy.
Kini mereka semua tertegun di tempat mereka sambil melebarkan rahangnya masing-masing.
Frei menatap tidak percaya apa yang dia lihat, hanya dengan satu buah Bola hitam, Golem batunya bisa hancur berkeping-keping seperti itu.
Bola hitam yang tadi menjadi duri-duri panjang, kembali ke bentuk Bola lagi dan langsung ke Lusy.
Dengan santainya dia menangkap Bola itu kembali dan memasukannya ke cincin Dimensi.
"Resa, apa kamu tahu sihir apa itu tadi?" tanya teman Resa yang masih menatap tidak percaya ada sihir seperti itu.
"Entahlah, aku juga baru pertama kali melihatnya.
Seharusnya itu sihir pengendalian benda, tapi yang aku tahu sihir pengendalian benda tidak bisa merubah bentuk benda itu sendiri." jawab resa menyimpulkan.
"Terus sihir apa yang sebenarnya dia gunakan?" teman Resa sangat penasaran dengan jenis sihir yang di gunakan Lusy.
Prok... Prok... Prok....
Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan, semua orang langsung menoleh ke arah orang yang bertepuk tangan.
Frei sengaja bertepuk tangan untuk membuat semua siswanya melihat ke arah dirinya.
"Sihir Molekul! Sihir yang bisa mengubah dan mengendalikan benda semau penggunanya! Aku tidak menyangka kalau kamu sudah menguasai teknik sihir tingkat atas Lusy!" Frei mendekati Lusy.
Lusy mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti maksud Frei, karena Gear miliknya memang bisa di kendalikan menggunakan pikiran.
Semua siswa wanita langsung terkagum-kagum dengan Lusy, dia mendadak menjadi idaman kaum hawa di Akademi Kekaisaran peri.
Para Pria hanya bisa tersenyum getir, termasuk Creid dan Moris, mereka berdua tidak pernah menyangka kalau Lusy bisa menggunakan sihir tingkat tinggi juga sama seperti Resa.
"Bakatmu mungkin sama dengan Nona Resa Lusy.
Andai kamu terlahir dari keluarga bangsawan, pasti kamu akan menjadi saingan Nona resa untuk menjadi ratu peri selanjutnya!" ucap Frei bangga pada Lusy
"Sekalipun aku terlahir dari keluarga bangsawan, aku tidak berniat menjadi ratu peri" jawab Lusy tegas.
Frei pikir kalau Lusy berkata seperti itu karena sudah di terlantarkan semenjak kecil, tidak ada kasih sayang untuknya, dia pun akhirnya membenci kekaisaran.
"Ya sudahlah, mari kita akhiri pelajaran kali ini, besok akan ada sebuah misi untuk kalian! guru akan membuatkan kelompok masing-masing untuk kalian!"
Frei memberikan pemberitahuan langsung, para siswanya yang masih menatap Lusy dengan tidak percaya, mereka seolah mengabaikan seruan gurunya tersebut.
Frei menghela napas berat, perhatiannya kini tidak ada yang menggubris mereka semua tertarik dengan Lusy, akibat kejadian baru saja.
Resa juga memerhatikan pria yang sebenarnya kakaknya tersebut, semakin dia memandangnya, resa merasakan ada sebuah ikatan dengan pria tersebut.
"Apakah ini cuma perasaanku saja?" gumam resa dalam hati.
Mereka semua kemudian kembali ke kelas. di dalam kelas kini tidak ada tatapan sinis lagi pada Lusy, mereka sekarang cenderung sedikit takut dengan Lusy, kecuali Creid dan Moris yang memang sudah membenci Lusy dari awal bertemu.
Padahal Creid sudah tahu status Lusy di kekaisaran, tapi karena egonya dia tidak mau mengakui bahwa Lusy pahlawan perang perbatasan.
Sementara Moris, dia tentu tidak akan melupakan bagaimana Lusy mempermalukan dirinya di depan gerbang Akademi.
"Baiklah semuanya, kalian semua sudah memiliki kekuatan masing-masing, yang sebenarnya semakin berkembang, tapi karena kalian kurang pengalaman bertarung, jadi kalian terlalu terburu-buru merapalkan mantra sihir." Ucap Frei